Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Istri yang Tak Pernah Disentuh
"Mas, kapan pulangnya? Masa sudah jam segini belum juga kembali?"
Milka melirik jam dinding yang tergantung tepat di atas televisi. Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas, sementara jarum panjang telah melewati angka dua belas. Sudah lebih dari satu jam ia mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali melirik layar ponselnya, berharap nama sang suami muncul di layar dengan kabar bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.
Di balik sambungan telepon itu, tanpa ia ketahui, Delvando Argianda, suaminya, sedang bergumul mesra dengan seorang wanita di atas ranjang sebuah hotel.
Wanita itu adalah Irana.
Sahabat Milka sendiri.
Tangan Vando menjelajah tubuh Irana tanpa ragu, sementara bibir mereka saling menuntaskan rindu yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
"Loh? Bukannya kamu juga sibuk? Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini."
Nada suara Vando terdengar santai. Namun, di sela ucapannya, ia mengecup bibir Irana lagi. Wanita itu membalas dengan desahan pelan sambil mengusap dada bidang Vando.
Suara lirih itu samar, tetapi cukup membuat Milka mengernyit.
"Apa?" gumamnya. Ia mencoba lebih fokus mendengar suara aneh yang ada di sekitar suaminya. "Kamu lagi sama siapa?"
"Hah? Maksudmu?" Vando menahan tangan Irana yang terus mengusap beberapa bagian sensitifnya.
"Aku mendengar suara perempuan."
Vando menahan napas sejenak. Irana justru tersenyum jahil, sengaja mengecup lehernya hingga pria itu hampir kehilangan kendali.
"Aku lagi lembur di kantor. Banyak yang belum selesai. Makanya, kamu tak perlu menungguku."
Milka masih terdiam. Kepalanya masih menebak-nebak apa yang sedang dilakukan suaminya.
Entah mengapa, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Oke, ya? Kamu tidur aja dulu. Nanti kalau pekerjaanku sudah beres, aku segera pulang."
"Tapi aku mau video call—"
Tut.
Belum usai Milka menyatakan keinginannya, ternyata panggilan telah diputus secara sepihak.
Milka menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kosong.
Dadanya terasa sesak oleh kekecewaan yang sulit dijelaskan.
Ia sudah meminta cuti beberapa hari demi menghabiskan waktu bersama suaminya. Bahkan sejak siang tadi, ia sengaja menjalani perawatan spa, membeli pakaian tidur baru, lalu menyiapkan makan malam dengan tangannya sendiri.
Semua itu ia lakukan demi menyambut pria yang baru satu bulan lalu resmi menjadi suaminya.
Namun hingga malam selarut ini, pria itu belum juga berniat untuk pulang.
Pandangan Milka beralih ke pantulan dirinya di cermin.
Lingerie berwarna hitam yang membungkus tubuhnya terasa begitu memalukan.
Ia bahkan sempat gugup saat mengenakannya.
"Terlalu berlebihan, ya?" bisiknya pelan, memaksakan senyum yang tak pernah benar-benar terbentuk.
"Tapi ... kami ini kan suami istri."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu menyedihkan.
Sebulan menikah.
Sebulan pula Delvando belum pernah benar-benar menyentuhnya sebagai seorang istri.
Milka selalu mencoba berpikir positif.
Mungkin suaminya lelah bekerja.
Mungkin masih canggung.
Atau mungkin memang membutuhkan waktu.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keraguan mulai merayapi hatinya.
Apa benar Vando hanya sibuk bekerja?
Atau ...
Ada wanita lain yang sedang mengisi tempat yang seharusnya menjadi miliknya?
Milka menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran buruk itu.
"Jangan berpikir macam-macam."
Ia menarik napas panjang, lalu mematikan lampu kamar. Ia menarik selimut menutupi diri dari sejuknya pendingin udara yang sengaja disetting jika memang malam ini akan menjadi malam pertama mereka sebagai suami istri yang seharusnya.
Tanpa ia sadari ...
Di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah mereka, Delvando kembali menenggelamkan dirinya dalam pelukan Irana.
Malam itu ...
Seorang istri menangis sendirian ...
Sementara seorang suami menikmati pengkhianatan yang bukan hanya satu kali dilakukannya.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣