NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 ~ Kau Tau

Keesokan paginya, sinar mentari pagi menembus sela-sela gorden kamar.

Evelyn perlahan membuka matanya. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, seolah mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang telah lama ia hindari.

Hari ini, ia kembali menjadi Evan Harley.

Evelyn menoleh ke samping. Axel masih terlelap pulas sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Napasnya terdengar teratur, membuat senyum tipis menghiasi wajah sang ibu.

Perlahan Evelyn mengecup kening putranya.

"Selamat pagi, Sayang..."

Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Tak lama kemudian, wanita itu kembali berdiri di depan meja rias.

Di atas meja telah tertata rapi jas hitam, kemeja putih, dasi, kacamata, dan wig rambut pendek yang semalam ia lepaskan.

Evelyn menatap semua benda itu cukup lama. Baginya semuanya bukan sekadar perlengkapan. Melainkan identitas yang harus kembali ia kenakan.

Dengan satu tarikan napas panjang, Evelyn mulai mengenakan wig berpotongan pendek itu. Setelah memastikan posisinya sempurna, ia memakai kacamata berbingkai tipis, lalu merapikan jas hitam yang membungkus tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, tak ada lagi sosok Evelyn di depan cermin. Yang berdiri kini adalah Evan Harley.

Tok.

Tok.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Tuan Evan," suara Bi Lusi terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap."

Evan berdeham pelan, kembali menggunakan suara berat yang selama ini menjadi ciri khas Evan.

"Iya, Bi. Saya segera turun."

Sesaat setelah menjawab, ia kembali menatap bayangannya di cermin.

Tatapan itu begitu dingin, begitu asing. Namun itulah wajah yang harus ia tunjukkan kepada dunia.

Evan berbalik dan melangkah keluar kamar. Hari pertamanya di Harley Group.

Evan menuruni anak tangga dengan langkah tenang.

Di ruang makan, Bi Lusi telah menyiapkan sarapan.

"Selamat pagi, Tuan."

"Selamat pagi, Bi."

Evan duduk dan menikmati sarapannya dalam diam. Sesekali pandangannya melirik ke arah lantai atas.

Axel masih tertidur pulas saat ia meninggalkan kamar tadi. Semoga bocah kecil itu tidak mencarinya ketika bangun nanti.

"Bi.. Axel masih tidur, biarkan dia istirahat. Jika dia mencariku nanti.. Bilang padanya aku akan berusaha pulang lebih cepat."

"Baik Tuan."

Tak lama kemudian, Evan meletakkan sendok dan garpunya. Ia meraih tas kerja serta kunci mobil yang berada di atas meja.

"Saya berangkat dulu, Bi."

"Baik, Tuan. Hati-hati di jalan."

Evan mengangguk tipis. Ia melangkah keluar rumah, menuju sedan hitam yang telah terparkir di halaman.

Begitu duduk di balik kemudi, ia menyalakan mesin mobil. Tatapan tenangnya perlahan berubah dingin dan tegas.

Mobil hitam itu pun perlahan meninggalkan halaman rumah, melaju menuju Harley Group.

••••

Sekitar empat puluh menit kemudian mobil hitam milik Evan memasuki area parkir khusus eksekutif Harley Group.

Begitu mobil berhenti, ia turun dengan langkah tenang.

Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa cela. Kacamata berbingkai tipis kembali menutupi sebagian wajahnya, sementara ekspresi dingin yang selama ini dikenal para karyawan kembali menghiasi wajahnya.

"Selamat pagi, Tuan Evan."

"Selamat pagi, Tuan."

Satu per satu karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala memberi hormat. Evan hanya membalas dengan anggukan tipis tanpa menghentikan langkahnya.

Suasana lobi yang semula dipenuhi percakapan perlahan berubah hening saat sosoknya melintas.

Tak ada yang berani menghalangi jalan. Tak ada pula yang berani menatapnya terlalu lama.

Suara sepatu pantofelnya menggema pelan hingga mencapai lift khusus direksi.

Pintu lift terbuka. Evan masuk seorang diri.

Beberapa detik kemudian, lift berhenti di lantai paling atas.

Pintu kembali terbuka.

Begitu keluar, sekretaris yang berjaga di depan ruang direktur utama langsung berdiri.

"Selamat pagi, Tuan Evan."

"Pagi."

Evan menjawab singkat. Tanpa membuang waktu, ia berjalan lurus menuju ruangan di ujung koridor.

Di depan pintu bertuliskan Direktur Operasional, ia berhenti sejenak.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Suara Arlos terdengar dari dalam.

Evan membuka pintu, lalu melangkah masuk dengan tenang. Arlos yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung mengangkat kepalanya.

Tatapannya bertemu dengan adiknya. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

"Akhirnya..." gumamnya. "Selamat datang di Harley Group, Evan."

Evan hanya mengangguk singkat.

Arlos mengambil sebuah map berwarna hitam dari atas mejanya, lalu melemparkannya pelan ke hadapan Evan.

"Baca ini Evan."

Evan membukanya. Di halaman pertama terpampang tulisan besar. Tender Kawasan Bisnis Internasional Emerald.

"Mulai hari ini," ujar Arlos sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, "proyek itu menjadi tanggung jawabmu."

Evan mengangkat pandangannya.

"Nilainya sangat besar. Siapa pun yang memenangkannya akan menguasai kawasan bisnis baru selama bertahun-tahun."

Evan kembali membalik beberapa halaman. "Pesertanya?"

"Hampir semua perusahaan besar akan ikut." Arlos berhenti sejenak. "Termasuk Foster Group."

Gerakan tangan Evan terhenti. Tatapannya perlahan berubah dingin. Arlos menangkap perubahan itu, tetapi memilih tidak berkomentar.

"Ayah ingin Harley Group memenangkan proyek ini." Ia menatap Evan lurus. "Dan orang yang akan memimpinnya... adalah kamu."

Evan menutup map itu perlahan. Tatapannya tetap tenang. "Siapa lawan terberat kita?"

"Foster Group."

Arlos menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Beberapa tahun terakhir mereka berkembang sangat pesat. Bahkan beberapa proyek besar berhasil mereka rebut dari perusahaan lain."

Evan hanya mengangguk. "Kalau begitu, aku akan mempelajari mereka."

"Tidak hanya perusahaannya." Arlos membuka laci mejanya, lalu mengeluarkan sebuah berkas tipis. "Ada satu hal yang mungkin bisa menjadi kelemahan Damian Foster."

Evan mengangkat pandangannya. "Apa?"

Arlos meletakkan berkas itu di atas meja. "Beberapa tahun setelah kau berangkat ke London, aku mendengar sebuah kabar. Damian Foster diam-diam mencari seorang wanita."

Alis Evan nyaris bertaut, tetapi wajahnya tetap datar. "Seorang wanita?"

Arlos mengangguk. "Seorang pelayan. Kabarnya, wanita itu menghilang setelah menghabiskan satu malam bersamanya."

Jantung Evan berdegup sekali. Namun ekspresinya sama sekali tidak berubah.

"Kalau saja identitas wanita itu terbongkar ke publik..." lanjut Arlos sambil menyilangkan kedua tangannya, "itu bisa menjadi skandal besar bagi Foster Group."

"Tapi sayangnya... Aku tidak pernah berhasil menemukan siapa wanita itu."

Ruangan kembali hening. Beberapa detik kemudian, Arlos mengembuskan napas pelan.

"Jujur saja, Van... Aku belum pernah menceritakan ini kepada siapa pun."

Tatapannya berubah serius.

"Malam itu... akulah yang memasukkan obat ke dalam minuman Damian."

Evan mengepalkan jemarinya di balik map yang sedang dipegangnya. Namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Aku ingin menjatuhkannya. Aku bahkan sudah menyiapkan seorang wanita untuk masuk ke kamarnya."

Arlos menggeleng pelan. Tapi ketika wanita itu datang, pintu kamar Damian sudah terkunci dari dalam. Sejak malam itu, wanita yang bersamanya tidak pernah diketahui identitasnya."

Arlos terkekeh pelan.

"Lucu juga.. Sampai sekarang Damian masih mencarinya."

Sementara di hadapan Arlos.. Evan hanya menundukkan pandangannya. Tanpa sang kakak sadari wanita yang selama ini dicari Damian sedang berdiri tepat di hadapannya.

Arlos menatap Evan beberapa saat. Tiba-tiba ia bertanya,

"Evan... Bukankah saat itu kau bekerja sebagai sekretaris Damian?"

Evan mengangguk singkat. "Iya."

"Kalau begitu..." Arlos menyilangkan kedua tangannya di dada. "Apa kau tahu siapa wanita yang keluar dari kamar Damian malam itu?"

DEG.

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!