"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Anya sibuk memutar-mutar gantungan kuncinya dengan jari yang gemetaran. Langkah kakinya bolak-balik di atas lantai granit kedai kopi yang sepi. Di depannya, Clara sibuk menatap layar laptop, mengetik draf laporan dengan dahi berkerut tajam.
"Clar... please," ratap Anya, suaranya naik satu oktaf. "Gue bisa gila kalau sampai acara malam ini batal."
Clara tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Tinggal ganti sama cewek lain di agen lu. Susah amat."
"Masalahnya Niken tiba-tiba matiin HP dan hilang ditelan bumi! Padahal dia yang dikontrak buat dampingi Klien VIP malam ini!" Anya memukul meja pelan, membuat cangkir americano milik Clara bergoyang. "Ini Elzio Mahendra, Clar! CEO Mahendra Group! Sekali dia complain ke agensi gue, habis karier gue. Bisnis yang gue bangun dari nol bisa rata sama tanah!"
"Terus hubungannya sama gue apa, Anya?" Clara akhirnya mendongak. Matanya menatap Anya tajam, penuh ketegasan yang dingin. "Lu tahu gue paling benci urusan pura-pura begini. Gue punya kerjaan murni yang harus diselesaiin."
Anya langsung berlutut di samping kursi Clara, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Cuma 30 menit! Lu cuma perlu duduk, makan, terus bikin dia ilfiel!"
Dahi Clara makin berkerut. "Ilfiel?"
"Iya! Elzio itu sukanya cewek penurut, anggun, yang manisnya kaya gulali. Lu kan galak, dingin, kalau ngomong ceplas-ceplos kaya kembang api. Pas banget!" Anya berbisik penuh penekanan. "Lu masuk, bikin dia risih sama kelakuan lu yang cuek, bikin dia batalin kontraknya malam ini juga. Setelah itu gue aman, dia yang minta putus kontrak duluan. Selesai!"
Clara menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Gue nggak mau terlibat hal aneh-aneh."
"Gue traktir kopi sebulan! No, tiga bulan! Clar, tolong... cuma lu sahabat gue yang bisa diandalkan." Anya menatap Clara dengan mata berkaca-kaca.
Clara menatap layar laptopnya, lalu bergantian menatap wajah memelas Anya. Dia mendengus kasar. "30 menit. Nggak lebih. Begitu jam delapan malam, gue pergi."
"Siap! Makasih, Clara! Lu penyelamat hidup gue!"
...****************...
Restoran bernuansa gothic-luxurious di lantai atas hotel bintang lima itu terasa terlalu lengang. Hanya ada satu meja yang terisi di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu kota.
Clara melangkah dengan gaun hitam simpel yang agak longgar—jauh dari kata glamor. Dia menolak mengenakan gaun pilihan Anya yang serba terbuka. Rambutnya hanya diikat asal.
Di meja itu, seorang pria bersetelan jas abu-abu gelap sedang menyesap wine. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan rahangnya tegas tanpa cela. Saat Clara mendekat, pria itu menoleh. Matanya yang tajam dan pekat mengunci pergerakan Clara.
Clara menghentikan langkahnya sejenak. Elzio Mahendra. Pria itu memancarkan aura dominasi yang begitu kuat sampai-sampai udara di sekitar terasa makin tipis.
"Niken?" suara Elzio berat, terdengar dingin tanpa ramah tamah.
"Clara," jawab Clara singkat tanpa tersenyum. Dia langsung menarik kursi di seberang Elzio dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.
Elzio meletakkan gelasnya perlahan. Matanya menyipit, memperhatikan cara duduk Clara yang santai dan sama sekali tidak ada gestur canggung. "Nama kamu di berkas agen adalah Niken."
"Nama gue Clara. Niken halangan hadir, jadi gue yang datang," sahut Clara blak-blakan. Dia memanggil pelayan tanpa memedulikan tatapan heran Elzio. "Mas, saya minta air mineral dingin satu. Jangan pakai es."
Elzio bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. "Sikap kamu tidak seperti kriteria yang saya pesan ke agensi."
"Bagus kalau gitu," Clara menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Elzio lurus-lurus. "Soalnya gue emang bukan cewek yang ada di katalog jualan sahabat gue. Gue ke sini cuma mau menyampaikan kalau acara makan malam ini buang-buang waktu."
"Buang-buang waktu?" sudut bibir Elzio terangkat tipis, menghasilkan senyuman dingin yang provokatif. "Saya bayar mahal untuk waktu kamu malam ini."
"Dan uang lu nggak bisa beli ketertarikan gue buat duduk di sini lama-lama," balas Clara cepat, matanya menyala galak. "Gue nggak suka pria yang memandang rendah orang lain cuma karena punya uang. Lu kelihatan arogan, kaku, dan membosankan."
Pelayan datang meletakkan segelas air mineral. Clara langsung meminumnya setengah.
Elzio bukannya tersinggung, dia justru condong ke depan. Tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi intens dan penuh rasa ingin tahu yang berbahaya. Di dunianya, semua wanita berusaha keras menyenangkan hatinya. Tapi wanita di depannya ini? Menatapnya seolah Elzio hanyalah sebuah gangguan kecil.
"Menarik," bisik Elzio suara rendah. "Kamu punya lidah yang lumayan tajam untuk seorang pacar sewaan."
"Gue bukan pacar sewaan lu," potong Clara tegas. "Gue cuma penolong. Dan tugas gue selesai. Waktu 30 menit gue habis."
Saat Clara hendak berdiri, pelayan lain datang membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah terang dengan riasan buah ceri.
"Minuman sambutan dari Chef, Pak Elzio," kata pelayan itu sopan.
"Taruh di situ," ujar Elzio tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara. "Duduk, Clara. Saya belum selesai."
"Gue udah selesai," bisik Clara kesal. Tenggorokannya terasa agak kering karena emosi. Tanpa berpikir panjang, dia meraih gelas siraman merah di atas meja dan mengandaskan furnishes-nya dalam tiga tegukan besar. Dia mengira itu hanya mocktail buah segar.
Elzio membelalakkan matanya sedikit. "Tunggu, jangan—"
"Kenapa? Pelit amat cuma minuman gratisan gini!" tembak Clara, memotong ucapan Elzio dengan napas sedikit memburu.
Namun, hanya dalam selang sepuluh detik, hawa panas mendadak menjalar dari kerongkongan turun ke dadanya. Kepala Clara mendadak terasa seringan kapas. Penglihatannya bergoyang pelan. Rasa manis sirup tadi rupanya melapisi kandungan alkohol tinggi yang pekat.
"Lu... kasih gue apa..." gumam Clara. Matanya yang tadi tajam dan galak kini meredup, berganti sayu. Pipi mulusnya merona merah padam dalam hitungan detik.
Elzio berdiri, menangkap bahu Clara tepat saat wanita itu hampir kehilangan keseimbangan. "Itu cocktail racikan khusus. Alkoholnya sangat tinggi."
"Bohong..." Clara terkekeh pelan. Dia malah maju menubruk dada bidang Elzio, memegang kerah jas pria itu dengan kedua tangan yang tiba-tiba hilang tenaga. "Lu jahat banget... mukanya sok ganteng tapi jahat..."
Elzio terpaku. Aroma tubuh Clara—perpaduan vanila dan kehangatan alami—langsung menusuk inderanya. Clara yang galak dan penuh duri tadi mendadak berubah menjadi sangat manja dan rapuh dalam dekapan lengannya.
"Clara, berdiri yang benar," bisik Elzio, suaranya mendadak serak. Tangannya menahan pinggang Clara agar tidak jatuh.
"Nggak mau," rengek Clara. Dia malah menyandarkan pipinya yang panas ke dada Elzio, menghirup aroma maskulin pria itu. tangannya naik, mengelus rahang tegas Elzio dengan tidak sabar. "Dingin... dada lu dingin, gue suka..."
Sentuhan jemari halus Clara di lehernya membuat pertahanan Elzio retak seketika. Hasrat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya.
"Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, Clara," geram Elzio pelan, menahan napasnya saat bibir Clara tanpa sengaja menyapu garis lehernya.
"Bawa gue pergi..." bisik Clara tidak sadarkan diri, matanya terpejam rapat sambil makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Elzio.
Elzio memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat. Tanpa berpikir panjang lagi, dia melingkarkan tangannya di pinggang dan lipatan lutut Clara, mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya.
Kamar suite di lantai paling atas itu sunyi, hanya dihiasi deru napas yang memburu dan gesekan kain yang saling terlempar ke lantai.
Alkohol membuat Clara benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Dia yang memulainya duluan—menarik dasi Elzio, mencium bibir pria itu dengan impulsif dan berantakan. Namun Elzio, yang sudah terbakar gairah, tidak mampu lagi menahan diri.
Malam itu berlangsung panas, liar, dan penuh kejutan. Di tengah gulungan seprai putih, Elzio baru menyadari satu hal yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak: rintihan rasa sakit Clara dan jeda kaku di antara gerakan mereka. Itu adalah kali pertama bagi Clara. Sebuah kenyataan yang membuat Elzio makin posesif dan memperlakukannya malam itu dengan campuran gairah membara dan kelembutan yang dalam.
Pagi hari, pukul empat subuh.
Cahaya samar remang-remang kota masuk lewat celah tirai. Clara terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di area lipatan paha dan kepalanya yang berdenyut hebat.
Dia membelalakkan mata. Ingatan semalam berputar cepat seperti kilasan mimpi buruk.
Di sampingnya, Elzio tidur terlentang dengan dada bertelanjang yang penuh dengan bekas cakaran halus.
"Nggak... nggak mungkin..." bisik Clara panik. Air mata ketakutan langsung menetes di pipinya. Rasa malu, takut, dan trauma membakar dadanya. Dia panik setengah mati.
Dengan tubuh gemetar dan napas memburu, Clara memunguti pakaiannya di lantai. Dia memakainya dengan terburu-buru tanpa memedulikan rasa nyeri di tubuhnya. Dia tidak boleh ada di sini saat pria itu bangun. Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Saking paniknya, saat meraih tas di atas meja nakas, jam tangan kulit tua vintage peninggalan almarhumah ibunya tersenggol dan terlepas dari tangannya, jatuh di dekat bantal tempat Elzio tertidur. Clara bahkan tidak menyadarinya.
Dengan langkah pincang dan gemetar, Clara melangkah keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu berlari menyusuri lorong hotel yang dingin.
Dua jam kemudian, Elzio membuka matanya.
Sisi kasur di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Elzio duduk dengan cepat, mengusap wajahnya. "Clara?"
Tidak ada jawaban. Hanya ada keheningan.
Elzio mengepalkan tangannya kesal. Namun, saat dia hendak menyingkap selimut, matanya menangkap sebuah benda di atas kasur dekat bantalnya. Sebuah jam tangan analog antik bertali kulit cokelat yang sudah agak aus.
Elzio memungut jam tangan itu. Di bagian belakang logamnya, terdapat ukiran halus bertuliskan: Untuk Clara, dari Ibu.
Elzio memegang jam tangan itu erat-erat di genggamannya. Matanya menatap pintu kamar yang terbuka sedikit dengan tatapan pekat dan obsesif.
"Kamu pikir kamu bisa lari setelah apa yang kita lakukan semalam, Clara?" guman Elzio rendah, suaranya sarat akan janji yang mutlak.