"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 14. Tertabrak.
Pintu ambulans terbuka begitu roda berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat.
Suara tandu beradu dengan lantai keramik memecah kesibukan rumah sakit. Para tenaga medis bergerak cepat, seolah waktu adalah benang yang tak boleh putus sedikit pun.
"Perempuan. Sekitar tiga puluh tahun!" seru seorang petugas ambulans. "Penurunan kesadaran, di duga mengalami serangan panik disertai nyeri hebat ada ulu hati. Hampir tertabrak kendaraan saat menyeberang."
Dua perawat segera mendorong tandu menuju ruang penanganan.
Sherly dan pria itu berlari mengikuti dari belakang. Napas Sherly terdengar memburu, rambut ikalnya mulai berantakan, sementara air mata belum juga mengering di pipinya.
"Dok...tolong teman saya..."
Seorang dokter jaga mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sherly tetap tenang.
"Kami tangani dulu, Mbak." Ucapnya.
Tirai ruang tindakan tertutup, Sherly hanya mampu berdiri mematung.
"Saya...ke tempat administrasi dulu." Pamit pria itu.
Sherly mengangguk. "Terima kasih, Mas."
Sedangkan di balik kain pembatas berwarna hijau muda itu, suara-suara tenang medis terdengar saling bersahutan.
"Tekanan darah?" tanya dokter jaga.
"Seratus per tujuh puluh, Dok." Jawab perawat. "Nadi meningkat." Lanjutnya.
"Pasang jalur infus." Titah dokter kepada perawat.
"Baik, Dok."
Anna masih terbaring tanpa membuka mata. Wajahnya pucat bagai bulan yang kehilangan cahayanya.
Seorang perawat dengan cekatan memasang torniket pada lengan kirinya. Jarum infus perlahan menembus kulit yang dingin, kemudian cairan bening mulai menetes melalui selang transparan.
Dokter memeriksa bagian ulu hatinya dengan hati-hati.
"Ada riwayat gangguan lambung?" tanya dokter kepada petugas ambulans.
"Menurut saksi, korban sempat memegangi perutnya sebelum jatuh." Jawabnya lugas.
"Siapkan injeksi untuk lambung."
Beberapa saat kemudian, obat dimasukkan perlahan melalui jalur infus.
Cairan itu mengalir setetes demi setetes, menyusuri pembuluh darah, membawa harapan agar rasa nyeri yang mencengangkan tubuh Anna perlahan mereda.
💞
Di luar ruang tindakan...
Sherly mondar-mandir tanpa arah. Telapak tangannya terus di remas sendiri hingga memerah.
"Ya Tuhan...kenapa sebenarnya sama Anna?"
Baru beberapa jam lalu ia masih membayangkan akan mengajak Anna makan siang sepulang kerja.
Siapa sangka, kini sahabatnya justru terbaring di ruang gawat darurat.
Tiba-tiba pandangannya jatuh pada tas selempang Anna yang sejak tadi ia bawa.
"Oh!" serunya.
Sherly buru-buru membukanya dan langsung mencari ponsel milik sahabatnya. Lalu setelah mendapatkan ponsel itu, buru-buru ia membuka ponsel Anna. Beruntung tidak di kunci, ia pun gegas mencari kontak suami Anna.
Mas Jeevan ❤️
Sherly menelan ludahnya, "Mas Jeevan harus di kasih tahu...."
Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol panggilan. Cukup lama ia menunggu panggilannya di angkat oleh suami sahabatnya.
Hingga panggilan ke tiga akhirnya Jeevan menjawab panggilan yang ia lakukan.
"Halo?"
Suara laki-laki di seberang terdengar tenang seperti biasa.
Sherly justru semakin panik karena dokter belum keluar juga.
"M- Mas Jeevan?" panggilnya.
Di seberang sana, Jeevan tidak menjawab langsung. Suara panggilan dari istrinya sama sekali bukan suara yang ia kenali.
"Ya, siapa?"
"Ini...aku Sherly, Mas."
Jeevan terdiam sejenak. "Sherly? Ada apa? Kenapa kamu yang telpon, Anna mana?"
Nada suara Sherly mulai bergetar. "M-mas..."
"Iya, kenapa Sher?"
"A-Anna...."
Kalimatnya tersedat karena napas yang belum stabil. Jeevan langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa? Kenapa sama Anna?"
Sherly menutup mulutnya sejenak, berusaha menahan tangis. Namun kepanikan telah lebih dulu menguasai pikirannya.
"Anna masuk IGD, Mas!"
Suara itu pecah. "Dan..."
Sherly mengingat kembali kerumunan di jalan, suara klakson, serta tubuh Anna yang terbaring di aspal. Dalam benaknya, semua tampak seperti satu kejadian utuh.
"Anna ketabrak mobil!"
Di ujung telpon, ruang restoran mendadak terasa sunyi. Garpu yang semula berada di tangan Jeevan berhenti di udara.
Sorot matanya berubah dalam sekejap.
"Apa?" tanya Jeevan mengambang.
"Dia ketabrak mobil, Mas!"
"Sekarang dia di IGD dan belum siuman."
Wajah Jeevan kehilangan seluruh ketenangannya. Ia berdiri begitu cepat hingga kursi di belakang bergeser keras.
Brakkk!
Abimanyu yang sedang meminum es teh sampai tersentak.
"Van?" serunya kaget.
Namun Jeevan sama sekali tidak menoleh.
"Rumah sakit mana?" tanya Jeevan masih dalam sambungan telepon.
Sherly segera menyebutkan nama rumah sakit tempat Anna di rawat. Jeevan menggenggam ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku ke sana sekarang." Ucapnya pada akhirnya mengakhiri sambungan.
Jeevan meraih tas laptop miliknya dan tanpa berkata sepatah kata pun terhadap Abimanyu dan Arumi yang baru saja menikmati dessert penutup makan siang.
"Loh, loh...kamu mau kemana, Van?" tanya Abimanyu heran.
"Rumah sakit." Jawabnya datar dan tergesa.
Abimanyu terkekeh. "Kenapa? Evan minta duit lagi buat bayar pinjolnya? Mau sampai kapan sih, adikmu itu nyusahin kamu terus? Dia udah jadi dokter loh..."
Jeevan menoleh dan menatap sahabatnya. "Bukan Evan." Ucapnya datar.
"Ibumu? Ibumu kolesterolnya kambuh?" tanya Abimanyu lagi.
"Anna, dia tertabrak mobil. Aku harus segera kesana." Ucap Jeevan seraya meneruskan langkahnya.
"Anna siapa, Pak?" tanya Arumi yang tidak tahu apa-apa.
Abimanyu ikut bangkit, ia meraih jas yang ia lepas tadi. Lalu mengeluarkan dompetnya dan menarik sebuah black card dan menyerahkannya kepada Arumi.
"Kamu tolong nanti bayarin semua makanan kita. Aku mau nyusul Pak Jeevan dulu. setelah ini kamu balik kantor saja." Titah Abimanyu.
"Baik, Pak. Tapi...kenapa Pak Jeevan kelihatan panik begitu? Siapa yang di rumah sakit?" tanyanya lagi kepo.
"Istrinya." Jawab Abimanyu.
"Istri? Jadi Pak Jeevan sudah menikah?!" tanya Arumi tidak percaya.
Abimanyu tidak menanggapi ucapan Arumi, ia gegas mengejar sahabatnya yang sudah keluar dari restoran terlebih dahulu.
Ketika itulah, Abimanyu melihat pria tinggi dengan jas abu-abu berdiri di depan lift. wajah datar itu kelihatan tengah khawatir, bagaimana tidak? Sherly mengatakan kalau Anna belum siuman.
"Van, biar aku antar kamu ke RS." Tawar Abimanyu saat ia berdiri di dekat sahabatnya.
"Gak papa, kamu harus ke kantor. Bukannya ada rapat direksi nanti?" tanya Jeevan yang enggan menoleh sahabatnya.
"Masalah rapat aku bisa cancel, biar nanti aku hubungi kakek. Lagian kamu lebih penting, kamu kan wajah perusahaan kita. Udah lah, biar aku anterin. Biar lebih cepet juga." Katanya.
Hingga akhirnya lift pun terbuka, gegas kedua pria matang itu memasuki lift. Saat pintu tertutup, tampak wajah Jeevan semakin khawatir.
"Istrimu pasti baik-baik saja, Van." Bisik Abimanyu.
"Aku belum tenang kalau belum lihat dia," ucapnya menunduk. "Aku takut terjadi apa-apa sama dia," bisiknya membuat Abimanyu menoleh, sepertinya luka lama itu terbuka kembali ketika mendengar kata tabrakan.
"Semuanya pasti baik-baik saja. Kamu harus percaya itu." Ujar Abimanyu seraya menepuk bahu sahabatnya.
...💞💞💞...
Kira-kira ada apa dengan Jeevan? Dan apa yang di ketahui oleh Abimanyu tentang kata "TABRAKAN?" kenapa Jeevan begitu ketakutan?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG ...