NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang

Matahari baru saja naik setinggi galah, namun bayang-bayang keraguan kembali merayap di hati Arya. Kabar buruk datang dari arah yang tak disangka-sangka: salah satu pedagang yang kemarin baru saja menyambutnya dengan ramah, kini menarik kembali kepercayaannya karena mendengar desas-desus lama yang disebarkan oleh sisa pengikut Arga. Desas-desus yang mengatakan bahwa semua kebaikan Arya hanyalah tipu daya untuk menguasai kembali segalanya dengan cara yang lebih licik.

Pagi itu, Arya duduk sendirian di beranda belakang, menatap kosong ke arah lembah. Di tangannya tergenggam kuas yang belum sempat ia goreskan ke kanvas. Rasa lelah yang tak terlihat mulai menyergap—bukan lelah bertarung, melainkan lelah membuktikan diri pada dunia yang sudah terlanjur mencapnya buruk.

"Kau ragu?" suara lembut Nayara terdengar dari belakang. Ia membawa secangkir teh hangat, lalu duduk di samping pria itu tanpa mendesak jawaban.

Arya menghela napas panjang, melepaskan kuasnya hingga tergeletak di meja. "Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang tak akan pernah berubah. Darah yang menumpahkan, ketakutan yang kubangun... semua itu takkan pernah bisa kuhapus hanya dengan memberi bantuan atau senyum ramah. Mungkin aku memang selamanya akan menjadi monster di mata mereka."

Nayara menatapnya lekat, lalu mengambil tangan kasar itu dan menempelkannya di pipinya. "Kau salah. Manusia bukanlah batu yang bentuknya tak berubah. Kau adalah tanah yang sempat terbakar, tapi masih bisa ditanami kembali. Mereka ragu bukan karena kau tak berubah, tapi karena luka yang kau tinggalkan dulu masih terlalu perih untuk sembuh sekejap. Penyembuhan butuh waktu, Arya. Dan kau tak perlu membuktikan segalanya dalam semalam."

"Tapi aku takut," akui Arya pelan, suaranya bergetar. "Aku takut semua usahaku sia-sia. Aku takut pada akhirnya aku akan kembali jatuh ke dalam kegelapan yang sama."

"Selama kau tak berjalan sendirian, kau tak akan jatuh," potong Nayara tegas namun penuh kasih sayang. "Aku ada di sini. Bima ada di sini. Orang-orang yang sudah merasakan ketulusanmu perlahan akan ada di sana juga. Keraguan itu wajar. Itu tanda bahwa kau masih manusia yang punya hati nurani. Jangan biarkan keraguan itu mengalahkan niat baikmu."

Mendengar itu, perlahan beban di pundak Arya terasa sedikit lebih ringan. Ia sadar, keraguan yang datang bukanlah tanda kegagalan, melainkan ujian apakah ia benar-benar pantas mendapatkan jalan yang baru.

Siang harinya, bukannya mundur atau marah mendengar desas-desus itu, Arya justru datang kembali ke pasar. Ia tidak membawa uang atau janji manis. Ia hanya membantu mengangkat keranjang sayur pedagang tua itu, membantu merapikan lapak yang miring, dan bekerja tanpa banyak bicara. Kerja keras dan ketulusan diam itu berbicara jauh lebih lantang daripada ribuan kata pembelaan.

Sore itu, pedagang tua itu kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan yang mulai melebur kerasnya. "Maafkan kami... kami terlalu sering dikhianati sehingga kami takut percaya lagi," ucapnya lirih.

Arya menggeleng pelan. "Saya yang seharusnya minta maaf karena membuat kalian begitu takut hingga tak berani percaya pada perubahan."

Malam itu, keraguan sempat datang menyapa, namun ia pulang dengan tangan kosong. Karena cinta dan ketulusan ternyata lebih kuat daripada rasa takut yang ditanamkan masa lalu.

 

Lanjut ke Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!