Nessa Ibrahim Halana, seorang gadis berjilbab yang baru menduduki bangku SMA. Dipertemukan dengan seorang guru baru yang penampilannya membuatnya selalu mendapat cemooh oleh murid-muridnya sendiri. Berbeda dengan Nessa yang tidak pernah menjelekkan gurunya itu.
Tiba-tiba suatu kejadian yang membuat mereka dinikahkan padahal status Nessa masih anak sekolahan. Berawal dengan ketidaksengajaan tidur bersama malah membuat orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya.
"Menikah dan membina rumah tangga di usia muda bukanlah keinginan dan tujuanku." ~ Nessa Ibrahim Halana.
"Nessa, izinkan saya mencintaimu." ~Dimas Endi Rey.
Sama-sama awam persoalan cinta dan perasaan. Berusaha saling memahami. Mereka hanya mengikuti naluri hati masing-masing. Berjalan sesuai garis yang sudah ditetapkan Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT part 6
Hari pertama tanpa Vella membuat Nessa kesepian. Ya, sahabatnya itu sudah berangkat ke luar kota untuk menghadiri acara keluarganya. Sayang sekali Nessa tidak ikut mengantarkan ke bandara karena dirinya harus sekolah.
Seperti saat ini, Nessa pergi ke kantin sendirian tanpa adanya teman. Gadis itu duduk di pojokan sambil menyantap makanannya. Bahkan rasa makanan itu beda di lidah Nessa. Tidak ada obrolan di saat seperti itu, tidak ada yang membuatnya selalu memutar bola matanya malas, tidak ada lagi yang mentraktirnya makan.
Dengan cepat Nessa meneguk habis minumannya saat bel masuk sudah berbunyi, lalu langsung membayarnya dengan uang pas.
Nessa berjalan dengan sedikit berlari karena lorong-lorong kelas sudah mulai sepi. Oh god, andai saja dirinya tidak kebelet ke toilet, pasti tidak akan terlambat seperti ini.
Bruk
Saking fokusnya bahkan Nessa tidak melihat ada orang di depannya. Tabrakan pun tidak terhindarkan lagi. Membuat buku-buku orang yang ditabraknya habis berserakan di lantai keramik.
Nessa berjongkok untuk mengumpulkan buku-buku tersebut lalu setelah semuanya rapi, Nessa mengembalikannya.
"Maaf." ucap Nessa hanya satu kata.
"Maaf maaf, lain kali kalau jalan itu pake mata." omel siswa laki-laki itu.
"Ya maaf, namanya juga gak sengaja. Sorry, gue balik dulu, udah telat soalnya." balas Nessa sedikit terburu-buru.
"Enak aja woy ganti rugi lah!" teriak pemuda itu tidak terima.
Nessa yang sudah jauh melangkah juga ikut berteriak dengan tetap menahan suaranya agar tidak terlalu nyaring. "Sorry, kalo lo mau minta ganti rugi temuin aja gue nanti di kelas 12 IPS 2." teriak Nessa lalu pergi.
"Ck!" pemuda itu hanya berdecak kesal, memandang Nessa yang sudah tidak terlihat lagi di matanya.
"Menarik!" lirihnya sambil tersenyum.
🌼🌼🌼
"Nessa, tolong bawakan buku-buku ini ke meja saya." pinta Buk Nety saat jam pelajaran bahasa Indonesia sudah berakhir.
"Baik, Bu." jawab Nessa lalu dengan cepat mengambil buku tugas teman-temannya dan mengikuti langkah gurunya berjalan ke luar.
"Kamu langsung simpan saja ya di atas meja saya." ucap Bu Nety berhenti di kelas yang akan dia masuki selanjutnya.
"Iya, Bu." jawab Nessa mengangguk. Jadilah dirinya sendiri yang pergi ke kantor untuk menyimpan buku-buku itu.
Saat sudah sampai di kantor, Nessa langsung menaruh buku tersebut di atas meja Bu Nety dan keluar. Beruntung suasana kantor sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.
Nessa berjalan dengan pelan saat dirinya menuju kelasnya. Di dalam perjalanan Nessa tidak sengaja melihat Pak Endi yang tengah repot membawa barang-batangnya. Mulai dari tas punggung besar, laptop, buku tulis.
Gadis itu berjalan cepat sambil mendekati.
"Pak, butuh bantuan?" tanya Nessa menawarkan.
Terlihat ekspresi terkejut dari wajah Pak Endi saat melihat siswinya datang tiba-tiba.
"Ah ya, boleh. Tolong bawakan buku ini." jawab Pak Endi mengunjukkan tumpukan buku tulis di tangan kanannya.
Nessa mengangguk. "Mau di bawa ke mana, Pak?" tanya Nessa.
"Kelas 12 IPA 1."
"Baik, Pak."
Nessa mulai berjalan pelan menyamakan langkahnya dengan Pak Endi.
"Kamu tidak masuk kelas?" tanya Pak Endi membuka suara.
"Hmm... masuk kok, Pak. Tadi saya disuruh antar buku tugas sebentar dan gak sengaja liat Bapak yang sepertinya repot membawa barang."
Pak Endi hanya berdehem menanggapi. Tidak terasa kini mereka pun sampai di depan kelas 12 IPA 1. Nessa pun ikut masuk untuk menyimpan buku tersebut di atas meja.
"Terima kasih atas bantuannya, Nessa."
"Baik, Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya pamit ke kelas, Pak."
"Silahkan."
"Oy, lo yang nabrak gue tadi kan? Ganti rugi woi." teriak salah satu siswa di dalam kelas itu.
Nessa tersadar, segera mencari arah sumber suara. Tanpa banyak kata ia langsung keluar dari kelas tersebut karena tidak nyaman saat banyak pasang mata melihatnya dengan berbagai macam tatapan.
"Gak punya malu emang itu cowok. Kah udah gue bilang nanti aja. Astaghfirullah." batin Nessa istighfar dengan cepat ia berjalan menuju kelasnya. Beruntung kelasnya dalam keadaan jam kosong, jadi Nessa bernafas lega.
🌼🌼🌼
Sepulang sekolah Nessa teringat akan tugasnya tadi pagi. Bu Nety, guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang memberi tugas mencari sebuah buku kamus istilah dan tugas tersebut akan disalin di buku tulis.
Nessa tidak ingin menunda-nunda tugasnya, kalau sudah yang namanya menunda pasti akan berujung nanti dan tugas akan menumpuk seperti dosa. Jadi, sesudah pulang, makan, beribadah, dan lain-lain, Nessa langsung bergerak menuju perpustakaan umum untuk mencari buku itu. Bisa saja Nessa ke toko lain untuk membelinya, namun Nessa juga ada sedikit perlu yaitu harus memulangkan buku yang seminggu lalu ia pinjam. Memang peminjaman buku tersebut maksimal mengembalikannya satu minggu setelah peminjaman.
Seperti saat ini, Nessa sudah duduk selonjoran di lantai sambil membuka buku. Perpustakaan itu hanya menyediakan meja-meja panjang untuk membaca buku, sedangkan untuk duduk bisa selonjoran di atas lantai.
Dirasa kurang tepat, Nessa langsung mencari lagi. Ruangannya yang cukup luas serta banyak rak-rak buku dan penyimpanannya pun berdasarkan isi buku. Gadis itu berdiri sambil tangannya bergerak menjelajahi buku-buku. Kebetulan saat Nessa menghadap rak lemari, dan di belakangnya tersebut terdapat buku-buku istilah bahasa Arab. Sudah dikatakan bukan, kalau penyimpanan buku sesuai dengan isinya. Seperti contoh saat itu, buku-buku istilah dari berbagai jenis gendre terletak di ruang yang sama, saling berhadapan.
"Allahuma sholli ala Muhammad Ya Robbi sholli alayhi wasallim. Robbi fanfa'na bi barkatihim wahdinal husna bi hurmatihim."
"Artinya apa, Om?"
"Artinya: Ya Allah limpahkanlah rahmat ta'dzim kepada Nabi Muhammad SAW. Wahai Tuhanku limpahkan rahmat dan kesejahteraan padanya."
"Om, kalau buat obat sembuh ada gak?" tanya anak kecil laki-laki tersebut.
"Ada, mau denger gak?"
"Mau, Om."
"Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammadin thibbil qulubi wa dawa ihaa wa'aafiyatil abdaani wa shifaa ihaa wa nuuril abshoori wa dhiyaa ihaa wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa sallim.
" Artinya: "Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya, sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Dan semoga rahmat tercurah limpahkan kepada para sahabat beserta keluarganya."
"Jadi, kalau adek lagi sakit, sering-sering ya bilang itu? Kalau perlu tiap hari."
"Memangnya siapanya yang sakit?"
"Mama, Om. Mama udah lama gak bisa jalan, kata dokter Mama gak bisa jalan sampai kapanpun."
"Astaghfirullah. Semoga Mamanya cepet sembuh ya, Dek? Berdo'a terus, dan jangan lupa sholat gak boleh tinggal, sering-sering ke masjid. Karena masjid itu adalah rumahnya Allah, tempat teraman dari apapun itu. Paham, Adek?"
"Paham, Om. Makasih ya, Om. Sekarang aku udah gak sedih lagi. Kalau gitu aku pulang ya, Om? Semoga rezeki Om lancar, semoga panjang umur dan sehat terus. Semoga Om dapat jodoh yang baik."
"Eh! Udah pandai ya ngomong jodoh-jodohan. Belajar sama siapa, hm? Belajar dulu ya yang rajin, nanti kalau udah sukses dan bikin Mama Papa bangga, baru Adek boleh mikirin jodoh."
"Hehe, iya, Om."
"Ya udah, sana pulang, nanti dicariin Mamanya."
"Oke. Aku pulang dulu, Om. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Nessa yang melihat itu sempat terkesima. Hatinya berdesir mendengar kalimat sholawat tersebut. Tanpa sadar ia termenung di tempat sampai-sampai tidak sadar kalau dirinya dipanggil.
"Loh, Nessa?"