NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Pancing dan Lepas Hawa Dingin

Hendra tidak langsung membunuh semua orang yang tersisa.

Ia lebih dulu mencari yang masih harus hidup.

Di bunker perang Utara, suara manusia bertumpuk di balik beton. Ada tawa kasar dari ruang makan. Ada dengkur dari barak. Ada generator. Ada pipa. Ada radio yang memutar musik lama dengan suara kecil.

Dan ada napas ketakutan dari bawah.

Napas itu berbeda.

Terlalu rapat.

Terlalu banyak dalam satu ruang.

Hendra menutup pintu ceruk jenazah perempuan, lalu menatap lorong yang menurun ke kanan. Blacky sudah berdiri di sana, hidung mengarah ke bawah, tubuh tegang.

"Aku tahu," bisik Hendra.

Ia tidak memakai Indra Batin. Ia belum punya hak itu.

Tetapi pendengaran, penglihatan, dan penciuman yang terbuka sudah cukup untuk membaca rasa takut melalui celah ventilasi, bau kain lembap, dan suara rantai kecil yang bergeser.

Tawanan hidup ada di bawah.

Masalahnya, di antara Hendra dan mereka ada belasan kroco Herman.

Membunuh mereka dengan tembakan biasa bisa memicu alarm seluruh gua. Menyerbu lurus bisa membuat tawanan dijadikan tameng. Membuka hawa dingin sembarangan bisa membunuh orang yang justru ingin ia selamatkan.

Maka Hendra membuat urutan.

Pertama, tutup jalur tawanan.

Kedua, pancing kroco menjauh.

Ketiga, biarkan dunia luar menggigit mereka.

Ia bergerak ke panel ventilasi tua di dinding. Peta internal dari Bab sebelumnya menunjukkan sistem udara bunker perang ini sederhana: lorong utama mendapat panas dari ruang genset dan tungku batu bara, sementara jalur servis belakang terhubung ke ventilasi luar yang ditutup pelat baja.

Jika pelat itu dibuka, udara -50°C akan menyerbu seperti pisau panjang.

Jika pintu bawah ke ruang tawanan ditutup dulu, hawa dingin tidak langsung membunuh orang yang tidak bersalah.

Hendra turun tanpa suara.

Di depan pintu besi bawah, dua penjaga duduk di kursi plastik. Satu memainkan kartu. Satu memegang senapan di pangkuan. Dari balik pintu, ia mendengar napas perempuan, batuk kecil, dan seseorang menahan tangis.

Blacky menggeram.

Penjaga kartu mengangkat kepala.

Hendra sudah di depannya.

Pistol berperedam menyalak dua kali.

Dua tubuh jatuh hampir bersamaan.

Hendra menangkap senapan sebelum menghantam lantai. Kunci pintu berada di pinggang salah satu penjaga. Ia mengambilnya, membuka pintu sedikit, lalu langsung mengangkat tangan kosong agar orang di dalam tidak menjerit.

Ruangan itu rendah dan lembap. Belasan perempuan duduk di lantai, tubuh dibungkus selimut tipis, wajah pucat oleh dingin dan kurang makan. Beberapa memegang pipa besi kecil sebagai senjata terakhir. Beberapa bahkan tidak sanggup mengangkat kepala.

Mata mereka menatap Hendra seperti menatap bahaya baru.

Itu masuk akal.

Di dunia ini, penyelamat jarang datang tanpa harga.

Hendra bicara pelan.

"Aku bukan orang Herman. Kalau kalian ingin hidup, jangan bersuara."

Seorang perempuan berambut pendek menatap pistol di tangannya.

"Kau siapa?"

"Orang yang sedang membunuh mereka."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Hendra menunjuk pintu.

"Aku akan mengunci kalian dari luar selama beberapa menit. Itu untuk menahan hawa dingin. Kalau ada yang mengetuk tiga kali, jangan buka. Kalau aku mengetuk dua kali, baru jawab."

Perempuan berambut pendek itu menelan ludah, lalu mengangguk.

Ia takut.

Tetapi ia masih bisa berpikir.

Bagus.

Hendra melepas jaket luar dua penjaga mati dan melemparkannya ke dalam.

"Pakai ini untuk yang paling lemah."

Pintu ditutup lagi. Dengan kendali Logam, Hendra merusak lubang kunci dari luar sehingga tidak mudah dibuka orang lain, tetapi masih bisa ia lepas. Ia juga menutup celah bawah pintu dengan kain dan selimut dari ruang penjaga.

Tawanan hidup terlindungi.

Sekarang giliran kroco.

Hendra naik ke lorong utama dan menyalakan radio salah satu penjaga.

"Ruang bawah ribut," katanya dengan suara dibuat serak. "Ada yang sakit. Butuh dua orang."

Jawaban datang malas.

"Urus sendiri."

Hendra menembak pipa dekat ruang makan.

Logam berdenting keras.

Lalu ia berteriak dengan suara penjaga yang ditahan:

"Ada penyusup!"

Kali ini bunker bergerak.

Langkah berlari datang dari ruang makan. Lima orang pertama muncul dengan senapan dan parang, wajah kesal karena makan mereka terganggu.

Hendra mundur ke jalur servis.

"Kejar!" salah satu berteriak.

Mereka masuk.

Hendra melewati tanda yang sudah ia buat di lantai.

Begitu lima orang itu berada di lorong sempit, ia menarik tuas pelat ventilasi luar dengan kendali Logam.

Pelat baja terbuka.

Hawa -50°C masuk seperti tembok tak terlihat.

Dalam dua detik, napas mereka berubah menjadi kabut tebal.

Dalam lima detik, tangan yang memegang senjata mulai kaku.

Dalam sepuluh detik, kulit wajah mereka memucat dan mata mereka penuh panik.

"Tutup! Tutup!"

Mereka mencoba mundur, tetapi Hendra sudah menutup pintu di belakang mereka.

Lorong itu menjadi perangkap dingin.

Hendra berdiri di sisi yang lebih hangat, pelindung wajah tertutup, tubuh Logam menahan suhu yang bagi mereka sudah mematikan.

Ia menembak satu per satu.

Tidak perlu marah.

Tidak perlu boros peluru.

Lima tubuh jatuh di lantai yang mulai berlapis es.

Gelombang pertama selesai.

Gelombang kedua datang lebih pintar.

Mereka tidak langsung masuk. Tujuh orang berhenti di mulut lorong, menembak membabi buta ke arah gelap. Peluru memantul di beton dan batu. Satu hampir mengenai Blacky yang berlindung di balik sudut.

Mata Hendra menjadi dingin.

Ia memanggil granat gas air mata dari Ruang, melemparkannya ke belakang mereka, lalu menembak lampu lorong.

Gelap.

Asap.

Batuk.

Kekacauan.

Hendra bergerak di dalamnya seperti garis putih pendek. Pendengaran memberi posisi napas. Penciuman memberi arah keringat dan mesiu. Penglihatan super menangkap siluet saat mereka menyalakan senter.

Senjata pertama dibengkokkan.

Leher kedua patah.

Pria ketiga mencoba menembak dari pinggang; Hendra menarik magasin dari Ruang yang kosong, melemparkannya sebagai umpan suara ke kanan, lalu muncul dari kiri.

Tujuh orang itu mati dalam waktu kurang dari satu menit.

Alarm akhirnya berbunyi.

Bukan sirene besar. Hanya lonceng tua yang dipukul dari ruang dalam.

Terlambat.

Hendra sudah menguasai setengah lorong.

Ia menutup ventilasi luar, membuka pintu ruang tawanan, lalu mengangkat dua jari.

Dua ketukan.

Dari dalam, perempuan berambut pendek menjawab.

"Kami hidup."

"Keluar satu per satu. Bawa yang lemah."

Mereka keluar dengan kaki gemetar. Melihat mayat di lorong, beberapa menutup mulut. Hendra tidak memberi waktu untuk histeris.

"Ke ruang barak yang sudah kosong. Pintu kayu di atas. Jangan sentuh senjata. Jangan ambil radio. Kalau ada pria masuk selain aku, teriak."

"Mereka masih banyak?" perempuan berambut pendek bertanya.

"Lebih sedikit daripada tadi."

Ia mengambil selimut, jaket, air botol, dan makanan padat dari ruang penyimpanan kecil geng. Untuk tambahan yang tidak cukup, ia menarik beberapa paket dari Ruang di tikungan tanpa terlihat, lalu membawanya seolah mengambil dari ruangan sebelah.

Rahasia tetap rahasia.

Tawanan hidup lebih dulu.

Setelah mereka masuk ke barak kosong, Hendra mengunci pintunya dari luar dengan kunci yang bisa dibuka dari dalam setelah ia patahkan pengunci tambahan. Mereka tidak akan terjebak jika api menyebar, tetapi kroco luar juga tidak bisa mudah masuk.

Blacky duduk di depan pintu beberapa detik, lalu menatap Hendra.

"Jaga mereka kalau ada suara," kata Hendra.

Blacky menggonggong pendek.

Hendra kembali ke lorong utama.

Sekarang suara di bunker berubah.

Tidak ada tawa.

Tidak ada musik.

Yang tersisa adalah perintah, langkah panik, dan kemarahan orang-orang yang baru sadar sarangnya dimasuki sesuatu yang tidak mereka pahami.

Radio musuh menyala di salah satu mayat.

"Bang Leo! Jalur bawah mati! Banyak yang jatuh!"

Suara lain menjawab, dingin dan berat.

"Kumpul di ruang inti. Tutup pintu baja. Jangan kejar sendiri."

Bang Leo.

Letnan Herman akhirnya bicara.

Hendra mengambil radio itu.

Ia tidak menjawab.

Ia hanya mendengarkan.

Suara ketiga muncul lebih jauh, lebih tenang, lebih berbahaya karena tidak panik.

"Siapa pun dia, jangan biarkan keluar hidup-hidup."

Herman.

Nama itu tidak lagi berupa tulisan di peta.

Ia ada di dalam dinding yang sama.

Hendra mengganti magasin pistol, mengambil senapan pendek dari Ruang, lalu memeriksa jalur menuju ruang inti. Di peta, jalan ke sana bercabang dua: lorong utama yang lebar dan lorong ventilasi sempit di atas gudang batu bara.

Musuh pasti menunggu di lorong utama.

Maka Hendra memilih tempat yang membuat mereka salah menunggu.

Di belakangnya, belasan perempuan yang baru bebas duduk gemetar di barak kosong. Di depannya, Herman dan Bang Leo mulai mengurung diri di ruang inti.

Hendra menatap lorong ventilasi sempit.

"Blacky."

Blacky datang tanpa suara.

"Kita naik."

Di radio, Bang Leo berteriak memberi perintah baru.

Hendra mematikan volume.

Ia sudah cukup mendengar.

Sekarang giliran ruang inti mendengar pintunya diketuk dari arah yang salah.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!