NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 19 PELAJARAN KESABARAN

Suara ketukan pelan menggema di kamar utama Kastil Ravengard yang kini kembali terasa hangat karena sinar matahari pagi masuk melalui jendela-jendela kaca tinggi.

“Permisi, Yang Mulia,” suara Lisa terdengar lembut dari balik pintu. “Saya membawakan air hangat dan handuk kecil untuk menyegarkan diri... seperti biasa.”

Namun saat pintu dibuka perlahan, Lisa tertegun di ambang pintu. Ember air hangat yang ia bawa nyaris terjatuh dari tangannya.

Iris tidak lagi terbaring.

Ia kini duduk tegak, bersandar dengan elegan di kepala ranjang, rambut peraknya tergerai longgar ke samping, matanya menatap langsung pada pelayan setianya itu.

“Lisa,” ucap Iris, suaranya lembut... tetapi datar. Tidak ceria seperti biasanya.

Lisa membuka mulut, tak bisa berkata-kata seketika. Lalu matanya mulai berkaca-kaca.

“Puji dewa... Nyonya... Nyonya sudah sadar,” gumamnya pelan. Ia segera meletakkan ember dengan hati-hati di meja samping ranjang, lalu mendekat dan menjatuhkan diri ke lututnya di sisi tempat tidur.

“Maafkan saya... saya, saya tak bisa menjaga Nyonya dengan baik... saya... saya sempat takut kehilangan Nyonya!”

Iris menatapnya. Ada sorot lembut di balik matanya, namun mulutnya tetap terjaga dalam kendali.

“Bangunlah, Lisa. Kau tidak bersalah.”

Lisa menatapnya, masih terisak. “Tapi... saya... saya meninggalkan Grand Duchess seorang diri di taman. Kalau saja saya tidak meninggalkannya...”

“Berapa kali aku harus berkata kau tidak bersalah, hm?” Iris mengangkat alisnya sedikit. “Kalau ada yang perlu disalahkan, itu hanya satu orang.”

Lisa terdiam. Seolah tahu siapa yang dimaksud.

Lalu Iris melanjutkan, nadanya berubah lebih tegas. “Sekarang... tolong perintahkan Grand Duke keluar dari ruangan ini. Aku ingin mandi.”

Lisa mengedip. “M-maksud Nyonya... Grand Duke... keluar?”

“Aku ingin mandi,” ulang Iris pelan. “Dan aku tidak butuh penonton yang berjenggot dan keras kepala.”

Lisa masih terdiam, menatap wajah Nyonya-nya yang begitu... berbeda.

Ramah, tapi dingin.

Sopan, tapi tegas.

Seolah... Iris kembali menjadi wanita yang sulit ditebak.

Lisa menelan ludah. “B-baik, Nyonya.”

Ia bangkit pelan dan menuju pintu luar kamar, di mana Darian masih berdiri di sudut ruangan dekat jendela, tampak seolah hendak kembali ke sisi ranjang, tapi menahan diri.

Lisa menunduk dengan gugup. “M-maaf, Yang Mulia... Grand Duchess meminta agar Grand Duke... eh, keluar dari kamar. Beliau ingin mandi.”

Darian menoleh. Matanya memantul cahaya matahari pagi, dan wajahnya tampak beku beberapa saat.

“...Dia bilang begitu?” tanyanya pelan.

Lisa mengnoduk cepat.

Darian menarik napas pelan, menatap ke arah ranjang... lalu melangkah keluar tanpa berkata sepatah kata pun. Hanya aura dinginnya yang masih tertinggal di udara ketika pintu ditutup kembali.

Lisa memandangi pintu yang tertutup beberapa detik, lalu menggeleng kecil.

“Suasana di sini... terasa seperti saat musim dingin dan musim kemarau bertengkar,” gumamnya sambil mengambil handuk kecil dari meja.

Iris menyeringai kecil. “Itu baru deskripsi yang cocok.”

Iris duduk di kursi kecil di ruang mandi pribadi, dengan handuk membungkus tubuhnya. Lisa menuangkan air hangat ke dalam bak, lalu mulai membersihkan tubuh Nyonya-nya dengan gerakan terlatih.

Lisa berbicara pelan, takut menyinggung perasaan.

“Grand Duchess... boleh saya cerita sesuatu?”

Iris menoleh sedikit. “Silakan.”

Lisa menunduk sejenak, lalu mulai bersuara.

“Waktu Grand Duchess... belum sadar... Grand Duke tak pernah meninggalkan kamar ini. Bahkan beliau... memindahkan meja kerja ke sudut ruangan, agar bisa tetap dekat dengan Grand Duchess.”

Iris tak menjawab. Ia hanya mengusap embun dari kaca kecil di depannya.

Lisa melanjutkan, suaranya gemetar.

“Setiap pagi beliau menyisir rambut Nyonya sendiri. Membersihkan tubuh Nyonya dengan sangat hati-hati. Bahkan... mengganti pakaian tidur, dan memastikan tidak ada pelayan yang melihat kulit Nyonya tanpa izin...”

Wajah Iris mulai sedikit melunak. “Dia menyisir rambutku...?”

Lisa mengnoduk. “Dan waktu Grand Duchess... tiba-tiba memanas karena aliran sihir api yang tidak terkendali... Grand Duke menyerapnya sendiri. Beliau terluka cukup parah... terutama di telapak tangannya.”

Lisa mengambil kain kecil, lalu mendekatkan tangan Iris ke wajahnya.

“Lihat... ada bekas luka di sini, sedikit terbakar waktu beliau memegang perut Nyonya dengan sihir.”

Iris menunduk pelan. “...Dia tidak pernah bilang.”

Lisa tersenyum kecil. “Tentu saja tidak. Beliau bahkan tidak ingin pelayan membawakan makan. Beliau memasaknya sendiri... walau rasanya... ehm... ya, tidak seperti masakan dapur utama Ravengard.”

Iris mengerucutkan bibirnya, menahan senyum.

Lisa melanjutkan, “Setiap malam... beliau memandangi wajah Nyonya dan berbisik... ‘Bangunlah, Iris, aku tak tahu bagaimana hidup tanpamu.’ Saya dengar itu. Berkali-kali.”

Iris diam lama. Air di bak mulai mendingin sedikit. Tangan Lisa tetap bekerja, membasuh tubuh dan rambut sang nyonya.

Setelah keheningan panjang, Iris akhirnya bicara.

“Aku tahu dia mencintaiku sekarang... tapi aku ingin tahu berapa lama itu bertahan jika aku tidak sakit.”

Lisa terdiam.

“Dia perlu belajar... bahwa mencintaiku bukan karena takut kehilangan. Tapi karena benar-benar menghargai aku saat aku ada.”

Lisa menarik napas. “Saya mengerti... Nyonya ingin memberinya pelajaran?”

Iris menoleh. Wajahnya kini tersenyum samar, lembut tapi tetap angkuh.

“Ya. Pelajaran bernama ‘kesetiaan tak perlu menunggu kematian.’”

Lisa tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan. “Sungguh... Grand Duchess sudah kembali seperti dulu.”

Iris menyandarkan kepala pada bantal leher kecil di tepi bak.

“Tidak, Lisa. Aku bukan Iris yang dulu... dan juga bukan sepenuhnya. Tapi yang pasti... aku sekarang adalah perempuan yang tahu kapan harus membuka hati... dan kapan harus membuat lelaki mengejarnya lebih dulu.”

Hari ke-10 Setelah Iris Sadar

Suasana istana kini terasa berbeda. Tidak lagi mencekam seperti pekan lalu ketika Grand Duchess belum sadar, tetapi... juga belum kembali benar-benar hangat.

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar ruang utama, memantul pada ubin dan dinding-dinding batu obsidian. Aroma teh herbal dan roti panggang menyebar dari dapur istana, sementara para pelayan mondar-mandir dengan lebih tenang dari biasanya.

Namun semua yang bekerja di sayap timur Kastil Ravengard tahu satu hal, ada badai diam yang masih tertahan di kamar Grand Duchess.

Darian menatap cermin besar di atas wastafel. Dengan jari-jari kokoh, ia mengusap wajahnya, mengelap sisa sabun cukur dari dagunya yang kini bersih tanpa jenggot. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua minggu, wajah Grand Duke Ravengard kembali seperti sedia kala: dingin, tajam, tapi rupawan.

Lisa yang membawakan sarapan pagi sempat tertegun di ambang pintu melihat sang Duke dalam setelan kebesarannya—kemeja putih dengan rompi hitam dan jubah militer abu baja yang berkibar di punggungnya. Rambut hitamnya kembali tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang tegas dan tatapan mata kelabu yang khas.

Namun... di balik ketampanan dinginnya, Lisa tahu, pria itu sedang gugup.

Darian melangkah menuju kamar, tempat Iris sedang duduk membaca surat kabar di sofa dekat jendela. Gaun tidurnya elegan berwarna lavender, rambut peraknya dikepang rapi ke samping.

Darian berdiri sejenak. Lalu berkata dengan pelan, “Kau ingin ditemani sarapan?”

Iris bahkan tidak mengangkat wajah dari bacaannya.

“Tidak lapar,” jawabnya singkat.

Darian menunduk sedikit, lalu duduk di kursi seberang. “Aku akan duduk di sini, kalau kau tidak keberatan.”

Iris menjawab dengan mengangkat alis sedikit, lalu kembali pada koran.

Beberapa Hari Kemudian

Darian tak menyerah.

Setiap hari, ia menyempatkan duduk diam di ruangan tempat Iris berada. Entah itu ruang membaca, balkon, bahkan di ruang kerja pribadi sang Duchess.

Saat Iris menulis laporan, Darian hanya duduk beberapa meter darinya, berpura-pura membaca dokumen militer padahal sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Saat Iris menyiram tanaman kecil di balkon, Darian muncul dari balik tirai dengan alasan "kebetulan lewat."

Saat Iris membaca buku di sofa, Darian akan datang diam-diam, duduk di seberang, lalu pura-pura tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman.

Dan setiap kali itu terjadi... Iris hanya bersikap datar.

Namun diam-diam...

Ia terkekeh pelan.

Dalam hati.

Sangat sering.

Iris duduk di sofa panjang dekat perapian. Ia memandangi Darian yang tampak sedang memeriksa surat dari perbatasan dengan kening berkerut. Satu tangannya memegang gelas teh, satu lagi menelusuri huruf-huruf dokumen.

Darian kini duduk jauh lebih tenang, tidak memaksa berbicara, hanya hadir di ruangan.

Iris menghela napas dalam hati.

“Kenapa dia... jadi menyebalkan begini ya.”

Ia menunduk dan membelai perutnya yang semakin membesar.

“Kalau aku benar-benar memaafkannya sekarang, itu tidak seru…”

Lalu tiba-tiba, Darian bicara.

“Besok aku akan mengadakan inspeksi rutin di barak siang hari. Tapi sebelum itu... kau ingin aku belikan puding mangga dari desa selatan?”

Iris menoleh pelan. “Apa?”

Darian menatapnya. “Pudding mangga. Kau bilang waktu itu ingin... sebelum—” Ia berhenti. Nada suaranya menurun.

Iris mengerjap pelan. Ia ingin sekali tertawa, tapi wajahnya tetap datar.

“Jangan beli yang dari desa utara,” katanya akhirnya. “Terlalu manis.”

Darian mengnoduk cepat. “Baik. Desa selatan.”

Lalu... hening lagi.

Satu Hari Setelahnya

Tabib Eldric menyelesaikan pemeriksaan pada Iris di hadapan Darian yang berdiri menunggu dengan gugup.

“Aliran sihir bayi sudah mulai stabil,” kata Eldric sambil menuliskan sesuatu di lembaran. “Grand Duchess juga tidak menunjukkan tanda-tanda komplikasi. Secara medis... beliau sehat.”

Darian tampak lega. “Terima kasih.”

Eldric menoleh ke arah Iris. “Namun, untuk pulih sepenuhnya secara emosi... saya rasa, beliau masih butuh waktu.”

Iris hanya tersenyum tipis. “Waktu adalah sesuatu yang harus dibayar dengan ketulusan, bukan?”

Eldric memiringkan kepala. “Kalimat yang dalam, Yang Mulia Grand Duchess.”

Setelah Eldric pergi, Darian menatap Iris. “Anda tahu... Grand Duchess bisa bicara padaku jika ada yang Anda rasakan.”

Iris menatap Darian lama.

“Dan kau tahu... kadang diamku lebih keras daripada suaramu, Darian.”

Darian menunduk, mengnoduk pelan.

“Kalau begitu, aku akan tetap duduk di sisimu. Diam-diam. Sampai kau mau bicara.”

Iris meliriknya sekali lagi, lalu membuang muka ke arah jendela... tapi kali ini, tanpa kesan marah.

Senyum samar muncul di ujung bibirnya.

“Kalau kau pikir diam itu mudah, Grand Duke... maka kau benar-benar harus belajar menjadi lebih sabar.”

Di Dalam Hati Iris

“Kalau dia terus seperti ini, aku bisa lupa caranya marah.”

“Tapi jangan terlalu cepat, Darian. Aku ingin kau mengejarku seperti dulu kau mengejar posisi panglima... dengan segenap jiwa dan ragamu.”

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!