NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Namun sekarang berbeda. Baskara mulai mencarinya saat pulang. Mulai mengeluh jika ia terlalu sibuk dengan anak-anak. Mulai meminta pendapatnya untuk banyak hal. Bahkan diam-diam mulai bergantung padanya. Semua itu membuat hati Vivi hangat. Tetapi juga menimbulkan satu pertanyaan. Pertanyaan yang tidak pernah berani ia ucapkan. Apakah Baskara sudah jatuh cinta padaku?

Vivi memejamkan mata. Lalu menggeleng kecil pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun baginya sangat menakutkan. Karena kalau jawabannya tidak? Apa yang akan terjadi? Bukankah selama ini Baskara memang tidak pernah menjanjikan cinta? Mereka menikah karena keadaan. Karena kebutuhan. Karena lima anak yang membutuhkan sosok ibu.

Yang ditawarkan Baskara awalnya adalah menjadi teman dan mereka ternyata nyaman menjalaninha. Tidak ada kisah cinta yang besar di awal mereka. Dan Vivi tidak ingin merusak kebahagiaan yang sudah ada hanya karena menuntut sesuatu yang mungkin belum mampu diberikan Baskara. Lagipula Bukankah lelaki itu sudah banyak berubah?

Ia mulai tersenyum lagi. Mulai tertawa. Mulai membuka diri. Bahkan malam ini ia menyebut Sean dan yang lain sebagai anak kita. Bagi orang lain mungkin itu hal kecil. Namun bagi Vivi, itu berarti banyak. Sangat banyak. Karena selama berbulan-bulan ia berjuang untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Dan akhirnya ia diterima. Tetapi tetap saja Di sudut hati terdalamnya ada seorang perempuan biasa. Perempuan yang ingin dicintai oleh suaminya. Bukan hanya dihormati. Bukan hanya dibutuhkan. Dicintai.

Vivi menoleh pelan. Melihat wajah Baskara yang tertidur di sampingnya. Pria itu tampak jauh lebih damai dibanding saat pertama kali mereka bertemu. Tidak sedingin dulu. Tidak sekaku dulu. Tanpa sadar senyum kecil muncul di bibir Vivi. "Apa kamu sudah jatuh cinta padaku, Mas?" bisiknya sangat pelan. Begitu pelan hingga bahkan dirinya sendiri nyaris tidak mendengarnya.

Tentu saja tidak ada jawaban. Baskara tetap tertidur. Dan mungkin itu lebih baik. Karena untuk saat ini, Vivi memilih bersabar. Ia tidak ingin memaksa sebuah perasaan untuk tumbuh. Tidak ingin meminta sesuatu yang harus lahir dengan sendirinya. Jika memang cinta itu ada Maka suatu hari nanti Baskara akan mengatakannya sendiri. Dengan keyakinan itu, Vivi akhirnya memejamkan mata.

Tetapi Vivi tidak menyadari bahwa beberapa saat sebelum tertidur, Baskara sempat membuka mata sebentar. Dan mendengar sebagian bisikan yang dikira Vivi tidak didengar siapa pun. Namun lelaki itu hanya tersenyum kecil. Lalu kembali memejamkan mata tanpa mengatakan apa-apa. Karena ada beberapa jawaban yang belum siap ia ucapkan malam ini, meskipun hatinya mungkin sudah mengetahui jawabannya lebih dulu.

***

Perjalanan pulang dari villa berlangsung jauh lebih tenang dibanding perjalanan berangkat. Mungkin karena semua kelelahan. Sean tertidur sambil memegang buku. Yuan tertidur dengan kepala bersandar ke jendela. Saka bahkan tidak sempat menyelesaikan cerita yang sedang ia sampaikan sebelum akhirnya mendengkur. Ella memeluk bonekanya. Sedangkan Lili tidur di pangkuan Vivi sepanjang perjalanan.

Namun sesampainya di rumah, kebahagiaan liburan itu tidak bertahan lama. Malam harinya, Vivi menerima telepon dari Bu Mega. Suara perempuan tua itu terdengar lebih lemah dari biasanya. "Bu, tidak apa-apa?" tanya Vivi.

"Hanya sedikit lelah." jawab Bu Mega.

Meski begitu, Vivi tetap merasa ada yang tidak beres. Keesokan harinya ia mengajak Baskara menjenguk. Dan begitu melihat langsung kondisi mertuanya, perasaan tidak enak itu semakin kuat. Bu Mega memang masih duduk di ruang tamu seperti biasa. Masih tersenyum.nMasih bisa bercanda. Tetapi wajahnya terlihat jauh lebih pucat.nTubuhnya juga tampak lebih kurus. Bahkan berjalan beberapa langkah saja membuatnya harus berhenti sejenak untuk mengatur napas.

"Bu, kita ke rumah sakit." kata Baskara tegas.

"Tidak perlu." Nada suara Bu Mega tetap tenang. Namun keras kepala seperti biasanya. "Baskara." Keduanya saling menatap.nDan seperti yang sudah terjadi puluhan tahunnTak satu pun mau mengalah.

Vivi yang berdiri di samping hanya bisa menghela napas.n"Bu, setidaknya periksa." bujuknya pelan.

Bu Mega tersenyum. "Kalian ini."

"Kami khawatir." kata Vivi jujur.

Perempuan tua itu memandang menantunya cukup lama. Tatapan yang hangat. Namun juga aneh. Seolah sedang menyimpan sesuatu. "Setiap orang akan sampai pada waktunya, Vi."

Jantung Vivi langsung berdegup tidak nyaman.n"Jangan bicara begitu. Aku tidak suka."

Bu Mega tertawa kecil. "Kamu ini." Tetapi kali ini tawanya tidak sepanjang biasanya. Ia malah terbatuk setelahnya. Batuk yang cukup lama hingga Baskara langsung berdiri.

"Lihat? Kita ke rumah sakit sekarang." Untuk pertama kalinya suara Baskara meninggi.

Namun Bu Mega hanya menggeleng. "Aku tahu tubuhku sendiri."nRuangan mendadak hening. Karena ada sesuatu dalam nada suara itu.Sesuatu yang membuat Vivi merinding. Bukan ketakutan.bBukan keputusasaan. Melainkan penerimaan. Seolah perempuan berusia tujuh puluhan itu sudah berdamai dengan sesuatu yang belum siap diterima oleh keluarganya.

***

Esok harinya, Bu Mega benar-benar datang ke rumah Baskara. Bukan untuk berkunjung. Melainkan membawa sebuah koper kecil. Vivi yang membuka pintu langsung terkejut. Bu Mega tersenyum. "Boleh numpang beberapa hari?"

"Tentu boleh." Vivi segera membantu membawa koper itu masuk. Namun perasaannya tetap tidak tenang. Karena ini pertama kalinya Bu Mega meminta tinggal di rumah mereka. Biasanya perempuan tua itu sangat menjaga kemandiriannya. Bahkan setelah usia lebih dari tujuh puluh tahun, ia masih tinggal sendiri dan mengurus banyak hal tanpa bantuan. Kini tiba-tiba ia datang membawa koper.

Baskara yang baru turun dari lantai atas juga terlihat heran. "Bu, kalau mau datang Kenapa tidak bilang dulu?"

"Kalau bilang dulu nanti kamu melarang."

Baskara menghela napas. Sementara Vivi menahan senyum. Ibunya memang masih sama.bKeras kepala. Setelah duduk di ruang keluarga dan menikmati teh hangat, akhirnya Bu Mega mengatakan alasannya. "Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama cucu-cucu dan menantu saya."

Sean yang sedang membaca buku langsung tersenyum. "Nenek mau nginap lama?"

"Aku senang." Ella langsung memeluk lengan neneknya. "Nenek tidur sama Ella aja."

"Wah, rebutan kamar." Semua tertawa.

Namun Baskara memperhatikan ibunya cukup lama. Lalu bertanya pelan, "Dengan cucu? Dengan menantu?" Lalu Baskara bertanya lagi. "Dengan anak nggak?"

Ruangan mendadak hening. Bu Mega memandang putranya Lama. Kemudian perempuan tua itu tersenyum. Senyum yang hangat, tetapi membuat dada Baskara terasa sesak. "Justru yang paling ingin Ibu habiskan waktunya itu dengan anak Ibu." Sean perlahan menurunkan bukunya. Yuan berhenti menulis. Bahkan Saka yang biasanya tidak bisa diam ikut memperhatikan. "Kamu ini."blanjut Bu Mega. "Sudah jadi ayah lima anak. Sudah jadi suami. Sudah memimpin perusahaan." Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi tetap saja..." Ia mengulurkan tangan. Lalu mengusap pipi Baskara seperti saat putranya masih kecil. "Di mata Ibu, kamu tetap anak yang sama."

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!