NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salju dan Undangan

Gedung opera Paris dipenuhi kesibukan.

Menjelang pesta akhir tahun, para penyanyi opera, penari, penjahit, serta seluruh pekerja berlalu-lalang membawa kain, pita, topeng, dan berbagai macam perlengkapan pesta. Ruangan-ruangan yang biasanya dipenuhi suara latihan kini berubah menjadi tempat persiapan yang nyaris tak pernah tenang.

Gaun-gaun indah tergantung di sepanjang koridor. Beberapa penari sibuk mencoba kostum mereka, sementara para penjahit berlari kecil dari satu ruangan ke ruangan lain untuk memperbaiki jahitan yang kurang sempurna.

Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, pikiranku tidak benar-benar berada di sana.

Sejak kejadian di bilik lima, bayangan mawar merah itu terus berputar di kepalaku.

Mawar yang muncul entah dari mana.

Mawar yang seolah-olah sengaja ditinggalkan untuk kami.

Aku berusaha mengabaikannya, tetapi semakin keras aku mencoba melupakan, semakin jelas bayangan itu muncul kembali.

Tiba-tiba, suara riuh dari arah jendela membuatku menoleh.

“Lihat! Salju turun!”

Salah seorang penari berlari kecil menuju jendela.

Penari lain ikut mendekat dan melihat ke luar.

“Salju selalu turun sebelum pesta tahunan.”

Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.

“Tapi tahun ini...” Ia berhenti sejenak. “Hei, menurutmu Phantom akan merusak pesta malam tahun baru kita?”

Pertanyaan itu membuat suasana di antara mereka berubah.

Penari pertama menghela napas panjang.

“Aku tidak tahu.”

Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya menundukkan kepala dan kembali pada pekerjaan masing-masing.

Aku berjalan mendekati jendela.

Ketika jendela kubuka, udara dingin segera menyambut wajahku.

Kepingan-kepingan salju beterbangan di udara, beberapa di antaranya jatuh perlahan ke rambutku. Jalanan Paris di luar gedung opera telah tertutup lapisan putih yang tebal. Atap-atap bangunan tampak seperti diselimuti kain sutra putih, sementara cahaya lampu jalan memantul di permukaan salju.

Pemandangan itu begitu damai.

Namun entah mengapa, hatiku justru terasa semakin kacau.

“Christine.”

Aku menoleh.

Meg berdiri beberapa langkah di belakangku dengan sepotong kain di tangannya.

“Kamu akan berdandan menjadi apa untuk pesta dansa nanti?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku belum memikirkannya.”

Meg mengerutkan kening, “Belum memikirkannya?”

Ia mendekat.

“Kenapa kamu tidak menantikannya? Pestanya tinggal beberapa hari lagi.”

“Aku bahkan belum tahu harus memakai kostum apa.”

Meg memandangku seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang sangat mudah dijawab.

“Bukan itu yang kumaksud.”

Ia tersenyum jahil, “Apakah kamu sudah memiliki pasangan dansa?”

Aku terdiam, “Pasangan dansa?”

“Ya.”

Meg menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “Jangan bilang kamu bahkan belum memikirkan hal itu.”

“Aku tidak tahu harus mengajak siapa.”

“Kalau begitu ajak teman dekatmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu senyumnya semakin lebar.

“Viscount Chagny akan menjadi pasangan yang sempurna.”

Aku langsung menghela napas.

“Meg...”

“Apa?”

“Bisakah aku benar-benar melakukan itu?”

Meg menatapku dengan bingung.

Aku menundukkan kepala, “Ada kesenjangan yang sangat besar antara status sosial kami.”

Aku menggigit bibir sebelum melanjutkan.

“Orang-orang di gedung opera sudah mulai bergosip tentang Raoul dan aku.”

Meg mendengarkan tanpa menyela.

“Mereka bahkan mengatakan aku sengaja mendekatinya karena ingin memanfaatkan kaum bangsawan untuk mendapatkan ketenaran di atas panggung.”

Meg langsung mendengus.

“Orang-orang selalu bergosip di gedung opera.”

Ia meraih tanganku, “Jangan dengarkan mereka.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu orang seperti apa kamu, Christine. Dan aku juga tahu bahwa mereka hanya iri.”

Senyumnya begitu tulus sehingga untuk sesaat kegelisahan di dalam dadaku mereda.

Namun, ketika aku kembali teringat pada Malaikat Musik, ketenangan itu perlahan menghilang.

Ia telah berubah akhir-akhir ini.

Suara lembutnya menjadi dingin.

Kata-katanya terkadang terdengar seperti teguran.

Dan yang paling membuatku takut...

Ia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Sejak saat itu, ia belum kembali. Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih mengawasiku dari balik kegelapan atau benar-benar telah meninggalkanku.

“Malaikat musikku...”

Tanpa sadar aku menggumamkannya dalam hati.

Jika aku menghadiri pesta dansa nanti, apakah aku akan melewatkan kesempatan untuk berbicara dengannya?

Apakah ia akan datang ketika aku tidak ada?

“Christine?”

Suara Meg menarikku kembali.

Aku tersenyum kecil, “Terima kasih, Meg. Tapi aku masih perlu memikirkan semuanya.”

“Baiklah.”

Meg mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Tapi jangan terlalu lama berpikir. Kamu harus memutuskan dengan cepat.”

Ia baru saja hendak pergi ketika tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di belakangku.

Senyum jahil kembali menghiasi wajahnya.

“Oh.”

“Apa?”

“Sepertinya ada seseorang yang datang untuk menemuimu.”

Aku menoleh.

Meg sudah berjalan menjauh.

“Aku sebaiknya tidak mengganggu kalian.”

“Meg, tunggu...”

Namun ia sudah pergi sebelum aku sempat menahannya.

Aku menghela napas dan berbalik.

Seorang pria berdiri beberapa langkah dari tempatku.

Raoul.

Aku sedikit terkejut melihatnya, “Raoul?”

Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Beberapa butir salju masih melekat di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin musim dingin.

“Kenapa kamu di sini?” Aku berjalan mendekatinya.

“Di luar sedang turun salju dengan lebat.”

Raoul tersenyum, “Aku sedang berbicara dengan manajer mengenai persiapan pesta. Jadi... aku mampir untuk menemuimu.”

Ia melirik sekeliling ruangan.

“Apakah aku mengganggu latihanmu?”

Aku tersenyum hambar, “Sejujurnya, aku bahkan belum bisa cukup tenang untuk berlatih.”

Raoul memahami jawabanku.

“Aku tidak menyalahkanmu.”

Ia menghela napas, “Semua orang di gedung opera seolah-olah hidup dalam bayang-bayang Phantom sekarang.”

Aku terdiam.

“Jangan terlalu memikirkan hal itu, Christine.”

“Bagaimana mungkin?”

Aku menatapnya, “Phantom bahkan pernah menodongkan pisau ke leher kita. Bagaimana aku bisa bersenang-senang seolah tidak terjadi apa-apa?”

Raoul tidak langsung menjawab.

Ia menatapku dengan serius, “Kamu terlihat kelelahan.”

Nada suaranya berubah lembut.

“Aku khawatir tentang kesehatanmu.”

Aku menundukkan kepala.

“Phantom memang ancaman. Aku tidak menyangkalnya.”

Raoul berjalan mendekat.

“Tetapi jika kita membiarkan ketakutan menguasai setiap bagian hidup kita, bukankah itu berarti kita sudah kalah sebelum pertempuran dimulai?”

Aku menatapnya, “Kita tidak boleh membiarkan teror mengambil seluruh kegembiraan yang masih kita miliki.”

Ia tersenyum tipis.

“Pesta kostum akan diadakan beberapa hari lagi. Setidaknya ambillah kesempatan itu untuk bersenang-senang.”

Aku memandang salju yang masih turun di luar jendela.

Kemudian aku kembali menatapnya.

“Akankah kamu berada di sana?”

Raoul tiba-tiba terbatuk kecil.

“Uhuk... Tentu saja.”

Aku memperhatikannya.

Ia tampak sedikit gugup.

“Aku mampir karena pestanya.”

Ia berhenti.

“Lagipula... apakah kamu suka menari, Christine?”

Setelah mengatakan itu, Raoul justru memalingkan wajah.

Telinganya perlahan memerah.

Aku mengerutkan kening.

Aneh. Sangat aneh.

Raoul yang biasanya begitu percaya diri tiba-tiba tidak berani menatap mataku.

“Apakah dia...”

Aku segera menghentikan pikiranku sendiri.

(Mungkin dia ingin mengundangku.)

Aku menatapnya diam-diam.

(Tapi bagaimana jika aku salah?)

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Raoul.”

“Ya?”

“Kau bertingkah agak aneh hari ini.”

Raoul menoleh, “Aneh?”

“Ya.”

Aku menyipitkan mata.

“Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menahan senyum, “Benarkah?”

“Benar.”

Raoul mengusap tengkuknya dengan canggung.

“Christine...”

Nada suaranya berubah.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Hanya saja...”

Ia berhenti lagi.

Aku menunggu.

Raoul akhirnya menatapku. Sejak ia datang, matanya benar-benar bertemu dengan mataku sekarang.

“Manajer meminta setiap orang membawa pasangan ke pesta dansa.”

“Oh.”

Aku tidak tahu mengapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih keras.

Raoul menelan ludah, “Dan ketika memikirkan siapa yang ingin kuajak...”

Ia berhenti.

“Entah bagaimana, aku langsung memikirkanmu.”

Aku tidak mampu menjawab.

Raoul terlihat semakin gugup.

Wajahnya memerah, tetapi ia berusaha mempertahankan sikap tenangnya.

Kemudian, seolah takut kehilangan keberanian jika menunggu lebih lama, ia segera berkata,

“Christine...”

Ia sedikit membungkuk.

“Bolehkah aku mendapat kehormatan untuk mengundangmu menjadi pasangan dansaku?”

Aku terdiam.

Raoul segera menundukkan kepalanya, seolah bersiap menerima penolakan.

Untuk sesaat, hanya suara angin musim dingin yang terdengar di antara kami.

Aku memandang pria di hadapanku.

Teman masa kecilku.

Viscount Chagny.

Pria yang beberapa waktu lalu kembali ke kehidupanku setelah bertahun-tahun terpisah.

Dan sekarang ia berdiri di hadapanku dengan wajah semerah salju senja, menunggu jawabanku.

Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirku.

“Raoul...”

Ia mengangkat wajahnya.

Aku belum sempat menjawab.

Namun, entah mengapa, aku merasa bahwa mungkin aku memang pantas mendapatkan satu malam tanpa rasa takut.

Satu malam untuk menari.

Satu malam untuk tertawa.

Dan mungkin...

Satu malam untuk mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi Christine sebelum Phantom memasuki hidup kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!