Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Nol Rupiah
Rian terbangun di lantai kosnya.
Di dahinya ada handuk basah. Di sampingnya, Bagas duduk bersila sambil memegang kipas angin kecil seperti perawat darurat versi murah.
"Bro," kata Bagas pelan, "lu masih hidup?"
Rian menatap langit-langit.
"Sayangnya."
"Jangan gitu. Orang dapat toko untung 400 miliar biasanya traktir teman, bukan pingsan."
Rian menutup mata lagi.
"Gue dapat laba 400 miliar."
Bagas langsung cerah. "Nah!"
"Tapi Dana Pribadi gue nol."
Senyum Bagas berhenti seperti video kena pause.
"Nol?"
"Nol."
"Maksudnya... nol kecil atau nol konglomerat?"
"Nol yang kalau mau makan tetap harus lihat harga."
Bagas menatapnya lama, lalu menggaruk kepala. "Bro, hidup lu kayak sinetron ekonomi. Gue nggak ngerti, tapi gue kasihan."
Rian tertawa pendek.
Ia juga kasihan pada dirinya sendiri.
Malam itu, ia tidak tidur. Panel biru masih bisa dipanggil kapan saja, dan setiap kali ia melihat laporan penyelesaian, satu baris itu seperti menamparnya lagi.
[Dana Pribadi yang dikonversi: Rp 0]
Semua usahanya gagal.
Bukan gagal membuat bisnis.
Gagal membuat bisnis gagal.
Rian mengambil buku catatan bekas interview dan menulis tiga kesalahan besar.
Pertama: terlalu banyak karyawan.
Ia berhenti, lalu mencoret kalimat itu.
Terlalu banyak karyawan ternyata berarti pelanggan tidak pernah menunggu.
Kedua: harga terlalu murah.
Ia mencoret lagi.
Harga terlalu murah ternyata membuat ibu-ibu datang berkelompok, membeli stok rumah tangga, lalu membawa tetangga.
Ketiga: gaji terlalu tinggi.
Pulpen Rian berhenti lebih lama.
Gaji tinggi membuat karyawan merasa dihargai, lalu mereka bekerja seolah toko itu milik mereka sendiri.
Rian menatap halaman penuh coretan.
Kesimpulannya pahit: semua keputusan bodoh menjadi benar karena manusia yang menjalankannya terlalu bahagia.
"Berarti masalahnya bukan strategi," gumamnya. "Masalahnya... orang-orang ini terlalu niat."
Keesokan paginya, Rian kembali ke kantor Garuda Mart bersama Bagas. Darmawan sudah menunggu dengan laporan baru, wajahnya masih penuh rasa bersalah seolah keuntungan 400 miliar adalah kesalahan pribadi.
"Pak Bos, saya minta maaf kalau laporan kemarin membuat Bapak terkejut."
Rian duduk pelan. "Bukan salah Mas Dar."
Itu benar.
Salahnya ada pada dunia.
Dunia terlalu gampang ditipu oleh strategi bodoh.
Darmawan membuka laporan operasional.
"Kondisi toko sangat stabil. Tingkat keluar-masuk stok cepat, tapi tidak kacau. Karyawan juga makin loyal. Banyak yang bilang ini pertama kalinya mereka kerja dengan gaji layak, jam manusiawi, dan tetap dihormati pelanggan."
Rian memijat kening.
Terlalu sehat.
Darmawan melanjutkan, "Kami juga mulai punya pelanggan tetap. Beberapa ibu-ibu sudah punya grup WhatsApp sendiri untuk daftar belanja mingguan. Mereka kirim daftar ke staf, lalu datang mengambil barang yang sudah disiapkan."
"Mereka bikin sistem sendiri?" tanya Rian lemah.
"Iya, Pak Bos. Kami hanya membantu supaya antrean tidak terlalu panjang."
Bagas menatap Rian dengan mata berbinar. "Bro, pelanggan lu bikin komunitas gratis. Itu marketing, kan?"
Rian tidak ingin mendengar kata marketing.
Kata itu terdengar seperti penyakit yang menyerang semua rencana rugi.
"Kalau kita lanjut, proyeksinya?"
"Bisa naik lagi, Pak Bos. Apalagi reputasi Garuda Mart mulai menyebar ke kecamatan sebelah."
Bagas menepuk meja. "Mantap! Bro, lu tinggal duduk, duit datang sendiri."
Rian menatapnya kosong.
"Itu masalahnya."
Sebelum Bagas sempat menjawab, ponsel Rian berdering.
Pak Slamet.
Rian mengangkatnya.
"Mas Rian," suara Pak Slamet terdengar terlalu ramah. "Saya lihat usaha Mas luar biasa ramai. Selamat, ya."
"Terima kasih, Pak."
"Begini. Karena nilai ruko juga naik, masa sewa berikutnya perlu penyesuaian. Sewa saya naikkan dua kali lipat. Tentu kalau Mas keberatan..."
Rian langsung duduk tegak.
Dua kali lipat?
Biaya naik.
Pengeluaran bertambah.
Sinar kecil muncul di hatinya.
"Saya setuju, Pak."
Di seberang telepon, Pak Slamet terdiam.
"Langsung setuju?"
"Iya. Kirim revisi kontraknya."
"Mas Rian memang cepat ambil keputusan."
"Saya hanya menghargai aset Bapak."
Rian menutup telepon dengan perasaan sedikit lebih hidup.
Darmawan terlihat khawatir. "Pak Bos, sewa naik dua kali lipat akan menambah beban."
"Bagus."
Kata itu keluar terlalu jujur.
Darmawan dan Bagas menatapnya.
Rian cepat menambahkan, "Maksud saya, bagus karena kita jadi terdorong mencari langkah berikutnya."
Bagas menyipit. "Langkah berikutnya?"
"Lu senang sewanya naik?" tanya Bagas.
"Aku senang ada biaya yang bisa dikendalikan."
"Biasanya orang menyebut itu masalah."
"Aku menyebutnya peluang."
Darmawan tampak semakin bingung, tapi ia tetap mencatat. Itulah bagian paling berbahaya dari Darmawan: semakin tidak mengerti, semakin rapi ia menjalankan perintah.
Pada saat itu panel biru muncul.
[Siklus Kedua dimulai.]
[Dana Sistem baru: Rp 500.000.000.000]
[Batas waktu: 90 hari.]
[Gunakan dana melalui aktivitas bisnis legal.]
[Siklus Kedua: 89 hari 23 jam tersisa.]
Lima ratus miliar.
Angka itu berdiri di depan mata Rian seperti gunung yang harus ia buang ke laut.
Kalau ia terus memakai Garuda Mart lama, uang itu akan berubah jadi mesin untung lagi. Darmawan terlalu mampu. Karyawan terlalu loyal. Pelanggan terlalu bahagia.
Toko ini sudah terkontaminasi kesuksesan.
Rian berdiri.
"Mas Dar, Bagas."
Keduanya langsung menatapnya.
"Garuda Mart yang sekarang terlalu stabil. Kita tidak bisa terus bermain aman."
Darmawan tampak tegang. "Pak Bos ingin ekspansi?"
Rian berjalan ke jendela kantor. Dari sana, ia melihat antrean pelanggan, karyawan yang tersenyum, dan truk stok yang masuk tanpa henti.
Pemandangan indah.
Pemandangan mengerikan.
Seorang kasir di bawah bahkan membantu anak kecil mengambil permen yang jatuh, lalu ibunya tersenyum seperti baru menemukan toko keluarga sendiri.
Rian merinding.
Toko ini sudah terlalu dicintai untuk dihancurkan pelan-pelan.
"Bukan sekadar ekspansi," kata Rian. "Kita akan tinggalkan tempat ini sebagai model lama."
Bagas berdiri. "Tinggalkan? Maksud lu tutup?"
"Pindah fokus. Buka toko baru. Lebih besar. Lebih mahal. Lebih mustahil untung."
Darmawan pucat. "Pak Bos, toko ini sedang sangat bagus."
"Justru itu masalahnya."
Rian berbalik. Matanya menyala dengan tekad orang yang baru saja kalah perang tapi menemukan medan bunuh diri yang lebih luas.
"Lima ratus miliar tidak akan habis kalau kita main kecil. Aku mau tempat yang sewanya gila, renovasinya mahal, karyawannya lebih banyak, dan lawannya lebih kuat."
Bagas menelan ludah.
"Bro, itu rencana bisnis atau surat wasiat?"
Rian tersenyum.
"Dua-duanya kalau berhasil."
Ia turun ke depan Garuda Mart. Darmawan dan Bagas mengikutinya dengan wajah campuran antara kagum dan takut.
Di depan pintu toko yang ramai, Rian menatap jalan kota.
"Toko ini jangan jadi batas kita," katanya. "Dengan 500 miliar, aku akan buka tempat yang lebih besar, lebih nekat, dan kali ini..."
Panel biru berkedip di belakang matanya.
[Siklus Kedua: 89 hari 23 jam tersisa.]
Rian mengepalkan tangan.
"Kali ini harus rugi."