NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vanessa Semakin Dipercaya Maya Semakin Dikucilkan

Bab 4

Waktu terus berjalan dan setiap hari yang baru terasa lebih berat dari hari sebelumnya. Vanessa semakin hari semakin menguasai setiap sudut hati orang orang yang dulu sangat menyayangiku. Ia tahu persis apa yang harus dikatakan kepada siapa ia tahu persis kapan harus tersenyum kapan harus menangis dan kapan harus tampak lembut dan penuh pengertian. Tidak ada satu hal pun yang dilakukan secara kebetulan semuanya sudah direncanakan dengan sangat rapi dan sangat teliti seolah olah setiap langkahnya sudah dihitung sejak lama sebelum ia bahkan melangkahkan kakinya masuk ke rumah ini.

Suatu hari Ayah sedang merayakan hari ulang tahunnya dan biasanya kami sekeluarga akan merayakannya dengan makan malam yang hangat dan penuh tawa di rumah. Tahun ini semuanya terasa berbeda. Vanessa yang mengambil alih segala persiapan dengan penuh perhatian. Ia bangun sejak subuh untuk menyiapkan hidangan kesukaan Ayah ia menghias ruang makan dengan tangan sendiri dan ia bahkan menulis surat ucapan selamat yang penuh dengan kata kata yang menyentuh hati. Ayah tampak sangat terharu dan memeluknya dengan penuh rasa bangga sambil berkata bahwa ia merasa sangat beruntung telah memiliki anak perempuan yang begitu perhatian dan berbakti. Kata kata itu diucapkan tepat di hadapan semua orang dan matanya menatap Vanessa dengan sorot mata yang dulu selalu ditujukan kepadaku saja.

Aku juga menyiapkan sebuah hadiah yang aku buat sendiri dengan tanganku selama berhari hari. Itu adalah sebuah lukisan pemandangan matahari terbit yang melambangkan harapan dan semangat. Saat aku menyodorkan hadiah itu kepada Ayah ia menerimanya dengan wajah yang datar dan berkata dengan suara yang dingin terima kasih lalu meletakkannya begitu saja di sudut meja tanpa melihatnya lebih lama lagi. Sementara hadiah dari Vanessa yang berupa sebuah jam tangan mahal yang sebenarnya bukan miliknya sendiri justru dipakai langsung oleh Ayah dengan penuh kebanggaan. Aku tahu dari mana asal jam tangan itu karena aku melihatnya tersimpan di dalam lemari Ibu sejak lama. Vanessa mengambilnya diam diam lalu memberikannya kepada Ayah seolah olah itu pemberian darinya sendiri. Namun tidak ada satu orang pun yang menyadari hal itu atau mungkin mereka hanya tidak mau menyadarinya karena hati mereka sudah terlalu condong ke arahnya.

Setelah acara ulang tahun selesai hal hal semacam itu semakin sering terjadi. Setiap kali ada sesuatu yang baik terjadi di rumah nama Vanessa selalu ada di dalamnya sebagai pelakunya. Setiap kali ada sesuatu yang buruk terjadi nama aku selalu ada di dalamnya sebagai penyebabnya. Jika ada makanan yang lezat di meja maka Vanessa yang memasaknya. Jika ada piring yang pecah maka aku yang memecahkannya. Jika ada bunga yang tumbuh indah di taman maka Vanessa yang merawatnya. Jika ada tanaman yang layu maka aku yang menyiraminya dengan cara yang salah. Pola yang sama terus berulang tanpa henti dan tidak ada satu orang pun yang berhenti sejenak untuk berpikir mengapa hal seperti ini selalu terjadi dengan cara yang persis sama setiap saat.

Suatu sore aku mendengar Ayah dan Ibu sedang berbicara di ruang tengah tanpa menyadari bahwa aku sedang berada di balik pintu yang sedikit terbuka. Ayah berkata Vanessa benar benar anak yang luar biasa. Ia rajin sopan penuh perhatian dan tidak pernah menuntut apa apa dari kami. Seandainya saja Maya bisa sedikit saja seperti dia aku pasti akan merasa sangat bahagia. Ibu menjawab dengan suara yang setuju sekali aku juga sering memikirkannya. Entah sejak kapan Maya berubah menjadi anak yang pemarah pendendam dan tidak pernah puas dengan apa pun yang kami berikan kepadanya. Semakin kami berikan semakin banyak yang ia minta. Sebaliknya Vanessa ia tidak pernah meminta apa pun namun ia selalu memberikan kami banyak hal. Mendengar kata kata itu kakiku terasa lemas seolah olah ada yang menariknya ke bawah tanah. Bagaimana bisa mereka mengatakan hal seperti itu padahal aku tidak pernah berubah sedikit pun? Aku masih anak yang sama yang dulu mereka peluk dan banggakan. Yang berubah bukanlah aku yang berubah adalah cara pandang mereka yang kini tertutup oleh bayang bayang kebohongan Vanessa.

Kepercayaan yang dulu utuh dan kuat kini hancur berkeping keping dan tidak ada satu orang pun yang berusaha menyusunnya kembali. Kakak Dika yang dulu selalu melindungiku kini sering membentakku hanya karena hal hal kecil yang sepele. Jika kami berpapasan di lorong rumah ia akan memalingkan wajah seolah olah melihatku saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman. Kakak Rizky yang dulu selalu menjadi tempatku mencari nasihat kini hanya akan menjawab kata kataku dengan jawaban yang singkat dan dingin seolah olah berbicara denganku adalah hal yang membuang buang waktu. Dan Kakak Arka sahabat masa kecilku yang dulu selalu tertawa bersamaku kini lebih sering tertawa bersama Vanessa di taman tempat yang dulu menjadi tempat rahasia kami berdua. Kadang kadang aku melihat mereka tertawa bersama dan seketika itu juga rasanya seolah ada sesuatu yang menghancurkan bagian terdalam hatiku. Tempat yang dulu milikku kini sudah diambil alih oleh orang lain dan tidak ada satu orang pun yang mengingat bahwa aku pernah ada di sana.

Vanessa tidak pernah berhenti menambal kebaikan di atas keburukan yang ia ciptakan sendiri. Setiap kali ia melakukan sesuatu yang menyakitiku ia akan segera datang dengan wajah yang sedih dan meminta maaf sambil berkata bahwa ia berharap kami bisa bersahabat. Lalu ia akan pergi dan menceritakan kepada orang lain bahwa aku yang memarahinya dan menolak kebaikannya sehingga mereka semakin yakin bahwa akulah yang memiliki sifat yang buruk dan tidak bisa berubah. Ia menanam benih benih keraguan satu per satu di dalam hati mereka dan benih benih itu kini sudah tumbuh menjadi pohon yang besar dan rimbun yang menutupi seluruh pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa lagi melihat kebenaran yang ada di belakangnya.

Suatu hari hal yang menyakitkan terjadi lagi. Ibu kehilangan sebuah cincin yang sangat berharga pemberian nenek dari pihak ayah. Sekali lagi semua orang sibuk mencarinya dan sekali lagi Vanessa datang dengan wajah yang takut dan ragu ragu berkata bahwa ia melihat aku berada di kamar Ibu pada waktu yang cincin itu terakhir terlihat. Dan sekali lagi cincin itu ditemukan di dalam laci meja belajarku tersembunyi di bawah tumpukan kertas kertas lama. Kali ini tidak ada pertanyaan tidak ada penyelidikan tidak ada keinginan untuk mendengar penjelasanku. Mereka langsung memandangku dengan tatapan yang penuh kengerian dan rasa kecewa yang tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata kata. Ayah berkata dengan suara yang bergetar karena amarah dan kekecewaan cukup sudah Maya kami sudah terlalu banyak memberimu kesempatan namun kau tidak pernah berubah. Mulai sekarang kau tidak boleh lagi masuk ke kamar kami tanpa izin. Dan kau tidak boleh lagi menyentuh barang barang milik siapa pun di rumah ini tanpa sepengetahuan mereka.

Aku berdiri di hadapan mereka semua dengan air mata yang jatuh membasahi pipiku namun tidak ada satu orang pun yang bergerak untuk menghapusnya atau bertanya mengapa aku menangis. Vanessa berdiri di samping mereka dengan mata yang berkaca kaca seolah olah ikut bersedih namun di balik tatapan yang tampak sedih itu aku melihat kilatan kemenangan yang sangat jelas. Ia sudah berhasil. Ia sudah membuat mereka semua percaya bahwa aku adalah pencuri pembohong dan anak yang tidak tahu berterima kasih. Dan sekarang tidak ada lagi yang akan mendengarkan aku tidak peduli seberapa keras aku berteriak atau seberapa banyak bukti yang aku miliki.

Malam itu aku duduk di atas tempat tidurku dan membuka buku catatanku yang kini sudah semakin tebal berisi catatan kejadian demi kejadian. Aku menuliskan kejadian cincin itu dengan tangan yang gemetar karena kesedihan yang mendalam. Aku menuliskan di mana ditemukan siapa yang menuduh siapa yang menemukan dan bagaimana reaksi setiap orang di hadapannya. Aku menuliskan semuanya dengan jujur meskipun hatiku terasa hancur berkeping kepingan. Aku tahu bahwa semakin banyak hal yang ia lakukan semakin banyak jejak yang ia tinggalkan. Mungkin saat ini mereka tidak melihatnya namun suatu hari nanti saat semuanya terungkap setiap baris tulisan yang ada di dalam buku ini akan menjadi bukti bahwa aku selalu berkata benar dan merekalah yang telah buta dan tuli selama ini.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku mulai diperlakukan seperti orang asing di rumahku sendiri. Ketika makan malam sudah siap mereka tidak lagi memanggilku untuk ikut makan bersama. Ketika ada acara keluarga di rumah mereka tidak lagi mengajakku ikut berkumpul. Ketika mereka pergi berlibur bersama mereka tidak lagi mengajakku ikut serta. Mereka pergi bertiga bersama Ayah Ibu dan Vanessa sementara aku ditinggalkan di rumah sendirian dengan beberapa orang pelayan yang baik hati namun tidak berani banyak berbicara karena takut melanggar perintah tuan rumah. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kehangatan kini terasa dingin dan sepi bagiku seolah olah aku adalah bayangan yang tidak terlihat oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya.

Namun di tengah semua kesepian itu aku menemukan satu hal yang tetap bersamaku dan tidak pernah berubah. Itu adalah tekad di dalam hatiku yang semakin kuat setiap harinya. Aku tahu bahwa aku tidak sendirian meskipun tidak ada satu orang pun yang berdiri di sisiku. Aku memiliki kebenaran di pihakku dan kebenaran itu tidak pernah bisa dikalahkan oleh kebohongan sekecil apa pun kebohongan itu tampak menang untuk sementara waktu. Aku akan terus mencatat setiap gerak geriknya setiap kata yang diucapkannya setiap orang yang disesatkannya sampai hari di mana topengnya akhirnya jatuh dan semua orang yang dulu memalingkan wajah dariku akan datang memohon maaf dengan berlutut di hadapanku. Dan saat hari itu tiba aku tidak akan berkata apa apa karena kebenaran yang tertulis di dalam buku catatan ini sudah akan berbicara jauh lebih keras daripada segala kata yang bisa aku ucapkan.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!