NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Kejatuhan Sang Raksasa Besi

Kepanikan melanda ruang komando Armada Udara.

Jenderal Dewa berseragam emas menendang panel hingga layarnya retak. Matanya membelalak, memancarkan kengerian yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Tembakan meriam pemusnah kelas atas—senjata untuk meratakan gunung baru saja dibelah dua oleh seorang manusia fana.

"Mustahil! Ini...!" Ia mencengkeram kerah komandan di sebelahnya. "Pasang inti kristal! Alihkan seluruh tenaga pendorong ke meriam utama! Tembak lagi! Ratakan lembah menjijikkan itu, berikut kaisar palsu mereka!"

"T-tapi Jenderal, kalau tenaga pendorong dialihkan, kita kehilangan perisai udara—"

"Lakukan!"

Suara meraung di seluruh kapal. Moncong meriam kristal di lambung bawah bersinar lagi, kali ini jauh lebih tak stabil dan menyilaukan. Mereka bersiap meledakkan seluruh area, tak peduli kapalnya sendiri terkena radiasinya.

Di bawah, di atas pilar batu yang hancur, Ye Cangtian mendongak menatap cahaya yang kembali berkumpul.

Dantiannya—kini berevolusi jadi Pusaran Emas padat. Ranah Master Bela Diri bukan sekadar peningkatan tenaga, tapi perubahan cara seseorang berinteraksi dengan alam.

Ahli Persilatan menarik energi ke dalam tubuh. Master Bela Diri memanipulasi energi di luar tubuhnya.

Cangtian memusatkan sebagian cairan Qi ke telapak kakinya. Udara di bawahnya memadat, mengeras jadi pijakan setebal kaca.

Bam!

Ia melompat, menginjak udara yang ia padatkan sendiri, menciptakan pijakan demi pijakan yang meledak di tiap langkah.

Ribuan petir biru ditembakkan bagaikan hujan meteor, mengarah tepat ke tubuhnya.

Tapi kini Pusaran Emas di Dantiannya bereaksi. Energi emas transparan terbentuk dari tubuhnya. Ribuan petir yang menghantam energi prisai itu terpental begitu saja.

Cangtian melesat melewati hujan petir tanpa melambat, lurus menuju celah robekan lima puluh meter yang ia buat sebelumnya di lambung kapal.

Wusshhh!

Ia mendarat di koridor utama. Lorong logam hitam itu penuh prajurit elit klan dewa yang bergegas menuju ruang itu. Melihat manusia fana berdiri di dalam kapal mereka, pedang energi emas menyala di tangannya, mereka berhenti karena terkejut.

"Bunuh dia!" salah satu dari mereka berteriak.

Cangtian tak repot mengangkat pedangnya. Ia hanya melangkah maju, membiarkan auranya meledak keluar.

Tekanan dari Master Bela Diri Tingkat 1 menyapu ruangan. Zirah para prajurit retak seketika, seolah dipukul godam tak kasat mata.

Organ dalam mereka meledak. Puluhan prajurit elit itu memuntahkan darah emas—mati karena tak sanggup menahan tekanan udara dari kehadirannya.

Kurang dari dua menit, ia membantai setiap anggota dewa yang kekuatannya berada di Ahli Persilatan.

Duaarr!

Pintu lapis baja setebal setengah meter menuju ruang komando hancur ditendang.

Di dalam, sang Jenderal sudah menghunuskan pedang anginnya—pemilik Otoritas Angin setara Master Bela Diri Tahap 1. Dengan satu ayunan putus asa, ia melepaskan badai tornado berisi ribuan bilah angin, mengarah lurus untuk mencabik Cangtian.

Cangtian terus berjalan maju. Tornado itu menghantamnya, hanya merobek sisa jubah kainnya, tanpa meninggalkan satu goresan pun di kulitnya.

"Kau—kau monster apa sebenarnya?!" Sang Jenderal mundur, kakinya gemetar melihat serangannya sia-sia.

"Kalian selalu memandang ke bawah dari atas awan," kata Cangtian pelan. Suaranya tak keras, tapi menggema di setiap sudut ruangan. Pedang energi emasnya berdengung pelan. "Sekarang, kalian harus belajar jatuh."

Ia mengayunkan tangannya.

Satu garis cahaya keemasan melintas ruang dengan cepat.

Kepala sang Jenderal tergelincir dari lehernya. Bersamaan, kristal kendali utama di tengah ruangan terbelah dua dengan sempurna.

Cahaya di seluruh kapal padam. Suara mati. Desingan antigravitasi berhenti total. Raksasa besi seukuran gunung itu kehilangan tumpangannya, ditarik keras oleh gravitasi bumi.

Cangtian berbalik, menghancurkan kaca jendela ruang komando, kemudian melompat keluar.

Ia melayang turun perlahan sambil menginjak udara, matanya menatap tanpa ekspresi kapal dewa yang kini terjun bebas.

Boommm!!!

Armada Udara menghantam tebing pegunungan berbatu di luar Lembah Fajar. Gelombang kejut api dan logam menyapu, membakar langit malam jadi kemerahan. Asap hitam raksasa membubung, membentuk pilar kematian yang terlihat dari ujung benua.

Di bawah, di lembah yang tak tersentuh, keheningan mutlak melanda lima puluh ribu manusia.

Mereka menatap langit yang terbakar, lalu sosok tunggal bercahaya keemasan yang melayang turun di alun-alun desa. Ye Cangtian mendarat pelan.

Cahaya emas di tubuhnya memudar, meresap kembali ke dalam, menyisakan pemuda berambut hitam dengan luka bakar yang perlahan menyembuhkan dirinya sendiri.

Lalu, tawa menggelegar seperti guntur memecah keheningan.

Long Zhan melompat dari tebing, berlari menghampiri dan berlutut satu kaki. Ia meninju dadanya sendiri, matanya berkilat penuh pemujaan. "Raja Kita! Kaisar Bela Diri!"

Lima puluh ribu suara meledak serentak, tangisan lega, teriakan euforia, raungan kemenangan mengguncang lembah.

Xing Yun, tangannya gemetar, menunduk dalam. Su Ling'er berlari menerobos kerumunan, memeluk Cangtian dari belakang, lalu menangis di bahunya.

Cangtian menepuk tangan Ling'er pelan, lalu berbalik menghadap rakyatnya.

Ia mengangkat gagang pedangnya yang patah tinggi-tinggi. Sorak-sorai mereda.

"Tebasan hari ini membuktikan satu hal!" Suaranya bergema. "Dewa bisa berdarah! Dan langit bisa dibelah!"

Ia menatap Long Zhan dan Xing Yun bergantian. "Hari ini kita berhenti berlari. Hari ini kita bukan lagi Pasukan Fana yang bersembunyi di balik kabut. Mulai hari ini, biarkan seluruh benua tahu—nama kita Pasukan Pembelah Langit!"

Gemuruh sorak-sorai meledak lagi. Perang yang tak lagi sekadar mimpi; ia resmi dimulai.

Jauh, sangat jauh di atas samudra awan, melayang sebuah benua berselimut taman abadi dan istana putih. Ibu kota mutlak ras penguasa: Surga Tiran.

Di dalam istana suci giok putih dan emas, suasananya membekukan tulang.

Seorang anggota dewa berlutut di lantai kristal, tubuhnya gemetar hebat dan keringat menetes di dahinya. Di ujung anak tangga, duduk sesosok entitas di singgasana—rambut putih bercahaya dan enam sayap cahaya murni terlipat tenang di punggungnya.

Penguasa Di Tian. Dewa tertinggi zaman primordial.

"Tuanku..." suara anggota itu bergetar. "Batu jiwa Jenderal Mu telah hancur. Armada Udara Ketiga musnah di perbatasan Gurun Kematian."

Untuk pertama kali dalam tiga ratus tahun, mata yang selalu terpejam di atas singgasana itu perlahan terbuka. Tanpa pupil—murni pusaran bintang-bintang.

Suhu istana suci anjlok seketika. Pilar-pilar giok mulai membeku dan retak.

"Seorang fana..." Suara Di Tian seperti gemuruh bergesekan—tenang, tapi membawa tekanan yang bisa meremukkan jiwa. "...telah mencuri rahasia surga."

Ia mengangkat satu jari.

"Kumpulkan seluruh Jenderal Pemusnah Utama. Buka segel Gerbang Bencana." Matanya menyipit dengan dingin. "Kita tidak lagi berburu ternak yang lepas. Kita sedang berperang melawan iblis."

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!