Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Gala Dinner yang Tak Terduga
Malam di Surabaya terasa begitu panjang bagi Arthur. Dia duduk di kursi dekat jendela kamar hotelnya, menatap foto James yang sudah dicetak dari data Aldi. Jari-jarinya bergerak perlahan, mengusap wajah remaja itu di layar ponsel. Mata, hidung, rahang—semuanya adalah cerminan dirinya di masa muda.
"James Fernando..." Arthur menggumamkan nama itu berulang kali, seolah mencoba meresapi kenyataan bahwa dia memiliki seorang anak. Seorang putra.
Namun, semakin lama dia memandang foto itu, semakin besar amarah yang membuncah di dadanya. Bukan kepada James. Bukan juga kepada Helena. Tapi kepada situasi. Kepada takdir yang telah merampas lima belas tahun hidupnya sebagai seorang ayah.
"Kenapa, Hel? Kenapa kau lakukan ini padaku?" Arthur mengepalkan tangannya, hampir membanting ponsel ke lantai. "Kau membawaku pergi, kau menghilang, dan kau menyembunyikan anakku. Kau merampas hakku untuk melihatnya tumbuh besar."
Dia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar hotel. Pikirannya berputar liar. Dia ingin segera kembali ke Jakarta. Dia ingin bertemu Helena, menghadapinya, dan memaksa Helena untuk berbicara jujur. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi penundaan.
Arthur mengambil ponselnya, menekan kontak Aldi. "Aldi, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Jadwalkan penerbanganku kembali ke Jakarta. Besok pagi, aku harus bertemu Helena. Sekarang."
Aldi di ujung telepon terdengar ragu. "Pak Arthur, saya mengerti perasaan Bapak. Tapi ada satu hal yang harus Bapak pertimbangkan. Besok malam, ada acara gala dinner tahunan perusahaan kita. Ini acara besar yang sudah dijadwalkan sejak tiga bulan lalu. Bapak harus hadir. Investor asing akan datang, dan mereka ingin bertemu langsung dengan Bapak."
Arthur berhenti berjalan. "Acara gala dinner? Itu tidak penting! Aku harus menemui Helena!"
"Pak, saya paham. Tapi jika Bapak tidak hadir, citra perusahaan bisa terganggu. Para investor bisa menarik investasi. Dan Helena..." Aldi berhenti sejenak. "...Helena akan tetap di Jakarta. Dia belum pulang ke Surabaya. Besok malam, Bapak bisa bertemu dia setelah acara. Tapi Bapak harus hadir di gala dinner."
Arthur menekan bibirnya erat. Dia tahu Aldi benar. Meski hatinya berteriak, sebagai pemimpin Fernando Group, dia memiliki tanggung jawab besar. Jika dia tidak hadir, bisa timbul spekulasi yang merugikan perusahaannya.
"Baik," jawab Arthur akhirnya, suaranya berat menahan amarah. "Aku akan hadir. Tapi setelah acara selesai, aku ingin bertemu Helena. Apapun caranya."
"Tentu, Pak. Saya akan pastikan itu terjadi," jawab Aldi.
Arthur menutup telepon, menghela napas panjang. Dia kembali menatap foto James. "Bersabarlah, Nak. Ayah akan segera menyelesaikan semua ini."
---
Malam berikutnya, Jakarta bersinar terang di balik lampu-lampu megah sebuah ballroom di hotel berbintang lima. Acara gala dinner Fernando Group berlangsung meriah. Para tamu undangan berpakaian formal: pria mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, wanita mengenakan gaun malam yang berkilauan. Cahaya kristal dari lampu gantung menyinari meja-meja bundar yang dihiasi bunga segar.
Arthur berdiri di dekat panggung utama, berbincang dengan beberapa investor asing. Dia mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih dan dasi sutra berwarna maroon. Wajahnya tampan, tatapannya tajam, dan dia berusaha tersenyum profesional meskipun hatinya gelisah.
"Dinner ini sangat luar biasa, Mr. Fernando," puji seorang investor dari Singapura. "Saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan Anda."
Arthur mengangguk sopan. "Terima kasih, Mr. Tan. Kami juga sangat antusias dengan potensi kerja sama ini. Silakan nikmati hidangan malam ini."
Arthur berbalik, mengambil segelas anggur dari meja. Dia menatap keramaian, mencari-cari wajah Helena. Tapi dia tidak melihatnya. Mungkin Helena belum datang. Mungkin dia tidak diundang.
Namun, beberapa menit kemudian, pintu utama ballroom terbuka.
Arthur hampir tersedak anggurnya.
Di pintu masuk, berjalan masuk sekelompok orang. Di depan, seorang wanita mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang elegan, dengan rambut hitam panjang yang digerai indah di bahunya. Dia tampil anggun, dengan senyuman tipis dan tatapan mata yang berwibawa. Di sebelahnya, ada Dinda, Rangga, dan Andi—teman-temannya yang juga mengenakan pakaian formal.
Helena.
Arthur tidak bisa mengalihkan pandangannya. Helena berdiri di antara para tamu, berbicara dengan beberapa orang yang menyapanya. Dia terlihat sangat berbeda dari saat mereka bertemu di meeting. Di sini, Helena terlihat seperti seorang ratu: percaya diri, elegan, dan memancarkan aura yang sulit diabaikan.
"Kenapa dia ada di sini?" Arthur bergumam pada Aldi yang berdiri di dekatnya.
Aldi menunduk, berbisik. "Sepertinya Helena diundang sebagai perwakilan dari Griya Lestari Group, Pak. Perusahaan mereka adalah salah satu mitra potensial yang diundang ke acara ini. Selain itu, beberapa investor juga ingin bertemu dengannya karena proposal yang dia bawakan kemarin cukup menarik perhatian."
Arthur mengepalkan tangannya. Di satu sisi, dia terkejut dan marah. Helena tidak memberitahunya bahwa dia akan hadir. Di sisi lain, dia merasa dadanya berdegup kencang melihat Helena begitu memukau di hadapan banyak orang.
Arthur berjalan perlahan mendekati arah Helena. Dia tidak berniat menunggu hingga acara selesai. Dia harus bicara sekarang.
Saat Arthur hampir sampai, Helena berbalik. Mata mereka bertemu. Helena terlihat terkejut, tapi dia dengan cepat menguasai diri. Dia tersenyum sopan, mengangguk pelan.
"Selamat malam, Pak Arthur. Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini," ucap Helena, suaranya tenang meskipun hatinya bergetar.
Arthur menatapnya lekat-lekat. "Saya juga tidak menyangka, Ibu Helena. Tapi ini adalah kejutan yang sangat... menarik."
Helena menangkap nada suara Arthur yang berbeda. Ada amarah yang tertahan di balik kata-katanya. Dia mulai merasa cemas. "Apakah ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, Pak?"
Arthur menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Helena. Suaranya berbisik tajam. "Kamu tahu, Hel. Aku sudah tahu tentang James."
Helena membeku. Wajahnya langsung pucat. Anggur di tangannya hampir tumpah. "Arthur... aku..."
"Jangan bicara di sini," potong Arthur, suaranya tetap pelan tapi menusuk. "Aku ingin bicara setelah acara ini selesai. Kamu harus menemui aku, Helena. Tidak ada alasan."
Helena menelan ludah. Dinda yang melihat perubahan ekspresi Helena langsung mendekat. "Hel, kamu oke? Kok wajahmu pucat?"
Helena menggeleng, mencoba tersenyum. "Aku... aku hanya sedikit pusing. Mungkin aku perlu duduk sebentar."
Arthur melihat Helena seperti itu, dan ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Tapi dia tidak bisa mundur. Dia sudah terlalu lama menunggu.
"Sampai jumpa nanti, Hel," ucap Arthur pelan, lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya.
Helena berdiri di antara keramaian, namun rasanya dia sendiri. Dunianya terasa berputar. Arthur tahu. Arthur tahu tentang James. Bagaimana dia tahu?
Malam itu, Arthur tidak bisa menikmati hidangan. Dia hanya menunggu acara selesai agar dia bisa bertemu Helena. Dan di sisi lain, Helena duduk di mejanya dengan tangan gemetar, bersiap menghadapi badai yang akan segera datang.