[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
“Kenapa aku harus membawa wanita galak itu juga?” George menghembuskan nafasnya malas. Ia tak ingin berurusan dengan wanita itu lagi, entah mengapa keberanian Gabby membuatnya terusik. Ia takut akan menodai pendiriannya yang tak ingin dekat dengan wanita manapun lagi, kecuali gadis kecilnya.
“Tak perlu banyak bertanya! Lakukan saja apa yang aku perintahkan!” desak Davis tak ingin sahabatnya banyak bicara agar cepat sampai di Bali tempatnya berbulan madu. Ia langsung mematikan telefonnya sepihak tanpa menceritakan kondisi istrinya yang tak sadarkan diri akibat fobia yang dimiliki.
Membuat George sangat kesal dengan sahabatnya itu karena tak memberikan penjelasan yang detail dengannya.
“Jika bukan sahabatku, sudah ku tinggalkan kau sejak dulu,” gerutu George.
Meskipun kesal, namun rasa sayang George dengan sahabat jauh lebih besar. Bahkan ia rela lebih mengurus dan memperhatikan Davis dibanding kekasihnya hingga kekasihnya selingkuh. Namun dia tak pernah menyalahkan Davis. Sebab dari kejadian itu ia dapat menilai bahwa wanitanya bukanlah pasangan yang baik.
George langsung menghubungi psikiater yang terkenal di Helsinki dan memintanya untuk segera ke bandara.
Mobil Tesla berwarna abu-abu itu melesat dengan cepat membelah jalanan Kota Helsinki menuju Apartement Cassa De Jule.
George langsung ke unit apatemen milik Gabby, sangat mudah baginya mencaritahu. Hanya bertanya dengan resepsionis yang berada di lobby, masalahnya selesai.
“Sebentar!” seru Gabby yang berada di dalam apartemen itu. Ia berucap dengan sangat kesal, sebab bel dibunyikan secara terus menerus seolah tak sabaran sekali tamunya. Ditambah menggangu dirinya yang sedang asik mendesain.
Gabby membukakan pintu, emosinya langsung naik ketika melihat pria yang tak ingin ia lihat itu. Wajah dingin George membuatnya semakin kesal. Hidupnya sudah cukup tenang dua hari ini tanpa bayang-bayang orang di hadapannya sekarang. Sepertinya ia kurang bersungguh-sungguh dalam memanjatkan doa agar tak dipertemukan lagi dengan George.
“Ada apa kau kemari?” ketus Gabby.
“Menjemputmu.” George langsung masuk tanpa permisi ke dalam.
“Dasar pria tak memiliki sopan santun,” sindir Gabby seraya menjegal kaki pria dingin itu, namun berhasil dihindari oleh George.
George menatap Gabby dan tersenyum mengejek karena tak berhasil menumbangkannya.
Gabby pun mengepalkan tangan menahan emosinya. Ingin sekali dirinya meninju pria yang main duduk saja sebelum dipersilahkan oleh sang pemilik.
“Apa kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu!” raung Gabby menatap George dengan wajah galaknya setelah menghempaskan tubuhnya di sofa dan melipat kedua tangannya di dada.
Mendengar orang tuanya dibawa-bawa, George merasa tak suka. “Jangan kau sangkut pautkan diriku dengan orang tuaku!” Matanya menatap Gabby dengan tajam.
“Cih! Tak perlu kau sok galak dengan menatapku seperti itu! Apa kau ingin beradu kegalakan denganku?” tantang Gabby.
George merasa perdebatannya tak akan berakhir jika terus diladeni, ia langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Bersiap sekarang juga!” titahnya tanpa penjelasan apapun.
“Untuk apa?” Gabby merasa bingung dengan perintah yang tak jelas itu.
“Banyak bertanya akan membuat umurmu lebih pendek!” ancam George menatap tajam wanita cantik di hadapannya.
Gabby tertawa lepas dengan ancaman pria dingin itu.
“Kau lupa aku anak siapa?” Senyum mengejek kini terbit di sudut bibir Gabby.
George melupakan fakta bahwa Gabby Gabriella adalah putri dari Lordeus Gabriel Nostra atau biasa dipanggil Lord di dunia bawah. Bos Cosa Nostra, mafia terkuat di Eropa.
“Memangnya aku perduli,” tampik George tak mau terlihat lemah di hadapan wanita.
“Oh ... mau ku adukan pada papaku jika kau mengancamku?”
“Dasar tukang mengadu!”
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor