Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Wush!
Pukulan itu membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengincar rahang Rizal untuk membuatnya pingsan seketika.
Kapten Bima yang melihat itu langsung berteriak panik, "Tuan Rizal! Awas!"
Namun, Rizal bahkan tidak berkedip sedikit pun.
Hanya dalam hitungan sepersekian detik, sebelum kepalan tangan raksasa itu mengenai wajahnya, Rizal memiringkan kepalanya sedikit.
Syuuu.
Pukulan Kobra hanya menyapu angin kosong.
Mata Kobra membelalak lebar. Dia tidak menyangka pemuda kurus itu bisa menghindari serangannya yang secepat kilat.
"Hanya segini kekuatan dari pembunuh bayaran terbaik Tuan Broto?"
Suara Rizal terdengar berbisik tepat di telinga Kobra.
Belum sempat Kobra menarik kembali tangannya, Rizal sudah bergerak membalas.
Rizal mengangkat tangan kanannya yang kini sekeras baja dan melayangkan pukulan telapak tangan ke arah dada Kobra.
Gerakannya terlihat sangat santai dan tidak bertenaga, seperti sedang mendorong kapas.
Bam!
Namun saat telapak tangan itu bersentuhan dengan dada Kobra, sebuah ledakan tenaga dalam yang luar biasa dahsyat tercipta.
Kobra merasakan seolah-olah ada sebuah truk kontainer yang melaju dengan kecepatan penuh menghantam dadanya.
Krrrak!
Suara tulang rusuk yang patah berantakan terdengar sangat jelas di tengah kesunyian jalanan.
"Guaaarrggh!"
Kobra memuntahkan darah segar dari mulutnya dan tubuh kekarnya terlempar terbang ke belakang sejauh lima meter.
Bruk!
Tubuh pembunuh bayaran paling ditakuti itu menghantam aspal dengan keras dan langsung tidak sadarkan diri.
Dada bagian depannya melesak ke dalam secara mengerikan.
Keheningan mutlak seketika menyelimuti seluruh tempat kejadian.
Puluhan tentara bayaran berpakaian serba hitam itu mematung seperti orang bodoh.
Mereka menatap bos mereka yang tumbang hanya dengan satu pukulan ringan, lalu menatap Rizal yang masih berdiri di tempatnya dengan gaya santai.
"B-bos Kobra dikalahkan?!"
"Monster! Dia bukan manusia!"
Kepanikan mulai menyebar di antara pasukan bayaran itu.
"Tembak dia! Tembak bajingan itu sekarang juga!"
Wakil dari kelompok bayaran itu langsung berteriak histeris dan menodongkan senapan otomatisnya ke arah Rizal.
Rat-tat-tat-tat!
Rentetan peluru mematikan dimuntahkan dari moncong senjata tersebut.
Namun, kemampuan bela diri tingkat dewa yang diberikan sistem tidak hanya soal kekuatan, melainkan juga kecepatan dan refleks yang melampaui batas manusia.
Syuuu. Syuuu. Syuuu.
Tubuh Rizal bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Dia melesat menembus rentetan peluru itu seperti bayangan hitam yang menari-nari di tengah badai.
"Di mana dia?!"
"Aargh!"
Jeritan kesakitan mulai terdengar bersahut-sahutan dari kerumunan pasukan bayaran.
Setiap kali bayangan Rizal melintas, satu orang musuh pasti akan jatuh tersungkur dengan tulang patah atau pingsan seketika.
Rizal tidak menggunakan senjata apa pun, hanya tangan kosong dan tendangan kakinya yang lebih mematikan dari peluru kendali.
Prak! Krak! Bug!
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, puluhan tentara bayaran elit yang disewa mahal oleh Keluarga Sanjaya itu kini tergeletak mengerang kesakitan di atas aspal.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri lagi.
Jalanan yang tadinya dipenuhi aura ancaman kini berubah menjadi ladang pembantaian yang dimenangkan oleh satu orang saja.
Kapten Bima dan para pengawal Wijaya Group yang masih terikat tangannya hanya bisa menatap pemandangan itu dengan rahang yang seolah hampir jatuh ke tanah.
Bos mereka, pemuda tampan yang biasanya terlihat elegan dalam balutan jas mahal, ternyata adalah sosok dewa petarung yang tidak terkalahkan.
Rizal berhenti bergerak dan merapikan sedikit kerah kaos polonya yang sama sekali tidak berkeringat.
Dia berjalan mendekati wakil Kobra yang sedang merangkak ketakutan dengan kaki yang sudah patah.
Rizal menginjak punggung pria itu dengan perlahan, menahannya agar tidak kabur.
"Tolong sampaikan sebuah pesan kepada majikanmu, Broto Sanjaya."
Rizal membungkukkan badannya dan berbisik dengan nada yang sangat dingin, sedingin udara perbukitan malam itu.
"Katakan padanya, permainannya baru saja dimulai. Dan aku sendiri yang akan datang menemuinya di pesta perjamuan lusa nanti."
Pria itu hanya bisa mengangguk panik dengan air mata dan ingus yang bercampur debu di wajahnya.
"B-baik Tuan... akan saya sampaikan..."
Rizal menyingkirkan kakinya dan berbalik menghadap Kapten Bima.
"Bebaskan anggota Anda Kapten, singkirkan batang pohon itu, dan mari kita lanjutkan perjalanan."
Kapten Bima langsung tersadar dari lamunannya dan bergegas memberikan perintah kepada anak buahnya yang masih takjub.
"B-baik Tuan Rizal! Segera laksanakan!"
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk menyingkirkan batang pohon yang menghalangi jalan.
Konvoi truk berisi batu hitam berharga itu kembali melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan puluhan pasukan bayaran yang merintih kesakitan di pinggir jalan.
Di dalam mobil SUV, Kapten Bima sesekali mencuri pandang ke arah Rizal yang kembali duduk santai menatap jendela.
Rasa hormat, kagum, dan ketakutan bercampur aduk di dalam hati Kapten Bima.
Dia tahu satu hal yang pasti, mengikuti pria ini adalah keputusan paling tepat dalam hidupnya.
Sementara itu, Rizal menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Broto Sanjaya mengira dia adalah mangsa yang lemah, namun malam ini, Rizal telah membuktikan bahwa dialah predator tertinggi di puncak rantai makanan.
Pertemuan di pesta perjamuan lusa nanti akan menjadi ajang pertunjukan yang paling menarik.