NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana

Pukul lima lewat empat puluh lima menit pagi. Langit Oxfordshire masih dibungkus warna biru tua yang pekat. Udara pagi terasa luar biasa menggigit, membawa embun tebal yang menempel di sepanjang rumput pelataran utama St. Jude’s College.

Dua ratus mahasiswa baru sudah berbaris rapi dalam formasi kelompok masing-masing. Napas mereka mengembun di udara dingin. Sebagian besar masih terkantuk-kantuk, merapatkan jaket tebal mereka sambil menggigil.

Di depan barisan, Julian Radcliffe berdiri tegap. Ia mengenakan mantel barca komite berwarna hitam pekat dengan potongan kemeja yang tetap rapi di bagian dalam. Di sampingnya, Leo Thorne membawa megan dan papan jalan.

"Pagi ini adalah simulasi pemetaan navigasi lapangan," suara Julian terdengar tegas, membelah kesunyian pagi tanpa perlu pengeras suara elektronik. "Setiap kelompok akan dibekali satu kompas analog dan satu peta buta kawasan hutan di belakang kampus. Tugas kalian adalah menemukan tiga patok penanda dan kembali ke pelataran ini sebelum pukul delapan tepat."

Keluhan halus langsung terdengar serempak dari barisan mahasiswa.

"Hutan belakang? Dalam kondisi dingin begini?" bisik Gemma yang berdiri di sebelah Rory, bibirnya sedikit gemetar karena kedinginan. "Aku melukis pakai cat air, Rory, bukan mau jadi anggota pramuka..."

"Tenang, Gem. Hutan belakang kampus itu luasnya tidak sampai lima hektar. Kalau kita ikuti pola garis kontur di peta, kita bisa selesai dalam satu jam," jawab Rory tenang.

Rory mengenakan windbreaker tipis berwarna biru tua yang sudah agak lusuh pemberian ayahnya dua tahun lalu dan celana training hitam. Pakaiannya jauh dari kata mewah, tapi sangat fungsional.

Julian melangkah menyusuri barisan untuk membagikan kompas. Saat tiba di depan Kelompok 12, langkahnya terhenti sejenak di hadapan Rory. Tatapan mata hazel-nya melirik windbreaker tipis yang dikenakan gadis itu.

"Kompasmu, Miss Vance," kata Julian dingin sambil mengulurkan alat tersebut.

"Diterima, Senior," jawab Rory singkat, mengambil kompas tersebut. Ujung jari mereka berpapasan sebentar, memercikkan kehangatan singkat di tengah udara pagi yang membeku.

Julian menatap mata Rory rapat-rapat. "Medan di hutan licin karena hujan semalam. Pastikan anggota kelompokmu tidak ada yang tertinggal atau cedera. Sebagai ketua kelompok, itu tanggung jawabmu."

"Saya mengerti," balas Rory tegas tanpa ragu.

Leo yang berdiri di belakang Julian tersenyum ramah pada Gemma sambil menyerahkan peta buta. "Semangat ya, Gemma. Kalau tersesat, panggil saja panitia di pos dua."

"T-terima kasih, Senior Leo," jawab Gemma agak tersipu, melupakan rasa dinginnya sejenak.

Satu jam kemudian, gerimis mulai turun kembali, mengubah tanah hutan menjadi lunak dan licin.

Rory memimpin Kelompok 12 di depan. Dengan kecerdasan spasialnya yang tajam, ia dengan mudah membaca peta dan memandu tiga rekannya menembus semak belukar yang basah. Gemma menguntit di belakangnya sambil memegang ujung jaket Rory, sementara dua anggota cowok lainnya mengurus petunjuk arah kompas.

"Patok kedua ada di dekat aliran sungai kecil ini," kata Rory sambil menunjukkan cerukan tanah di peta. "Kita tinggal butuh satu patok lagi di area lereng batu."

Namun, saat mereka mulai mendaki lereng kecil berselimut daun-daun maple basah, kejadian tak terduga terjadi.

Srettt!

"Aww!" Gemma menjerit pelan ketika kakinya tergelincir di atas batuan licin. Ia terjatuh terduduk, pergelangan kaki kanannya terantuk akar pohon yang cukup besar.

Rory langsung berbalik dan berlutut di samping Gemma. "Gem! Kamu tidak apa-apa?"

"Sakit banget, Rory..." ringis Gemma sambil memegangi pergelangan kakinya. Wajahnya meringis menahan sakit, matanya mulai berkaca-kaca. "Kayaknya keseleo"

Dua anggota cowok di kelompok mereka tampak panik. "Gimana nih? Waktu kita tinggal dua puluh menit lagi. Kalau kita tidak sampai di garis akhir sebelum jamnya, kelompok kita didiskualifikasi!"

Rory menatap jam di tangannya, lalu menatap Gemma yang kesakitan. Tanpa ragu sedikit pun, Rory mengambil keputusan cepat dan rasional.

"Kalian berdua, ambil patok ketiga di atas sana. Bawa peta ini," perintah Rory tegas pada dua cowok itu. "Selesaikan tugas kelompok dan lari ke garis akhir duluan."

"Tapi kalian berdua gimana?" tanya salah satu dari mereka.

"Aku bakal bantu Gemma jalan pelan-pelan. Yang penting laporan patok kita lengkap dulu. Cepat pergi!" tegas Rory.

Kedua cowok itu mengangguk dan segera berlari menaiki lereng. Rory kemudian berlutut memunggungi Gemma. "Naik ke punggungku, Gem. Aku papah atau gendong sampai ke pos panitia terdekat."

"Rory, badan kamu kecil, mana kuat gendong aku!" seru Gemma merasa bersalah.

"Jangan banyak protes, Gemma. Pilihannya cuma kamu naik ke punggungku atau kita berdua kena hukuman poin," potong Rory dingin tapi penuh kepedulian.

Gemma akhirnya merangkulkan tangannya di leher Rory. Dengan sekuat tenaga, Rory membopong Gemma, melangkah pelan-pelan menuruni jalur licin hutan di bawah guyuran gerimis yang makin deras. Kaki Rory gemetar menahan beban, sweater tipisnya mulai basah kuyup oleh air hujan, tapi ia menolak untuk menyerah atau melepaskan Gemma.

Di pos pantau dua, Julian berdiri di bawah tenda darurat bersama Leo. Matanya terus-menerus melirik jam tangannya. Sebagian besar kelompok sudah berhasil kembali ke pelataran, namun Kelompok 12 belum juga terlihat.

"Dua cowok dari Kelompok 12 baru saja melintasi pos satu," kata Leo sambil mengecek radio panggil. "Tapi mereka bilang Aurora dan Gemma tertinggal di area lereng karena ada yang tergelincir."

Mata Julian seketika menyempit. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar payung dan jaket tebal cadangan dari atas meja.

"Julian? Mau ke mana?" tanya Leo kaget. "Ada tim medis yang"

"Aku yang periksa," potong Julian cepat dengan suara yang mendadak sangat tegang. Ia langsung menerobos hujan tanpa memedulikan celana kain dan sepatu kulit mewahnya yang mulai terciprat lumpur.

Hanya butuh waktu lima menit bagi Julian untuk menemukan sosok yang dicarinya.

Di belokan lorong hutan yang sepi, Rory tampak bersusah payah memapah Gemma. Pakaian Rory sudah setengah basah kuyup, rambut cokelatnya menempel di dahi, dan napasnya tersengal-sengal karena kelelahan. Namun, tatapan matanya tetap terlihat tajam dan pantang menyerah.

"Miss Vance!"

Suara berat Julian membelah suara gemericik hujan. Pria tinggi itu berlari kecil mendekati mereka, langsung memayungi tubuh Rory dan Gemma.

Rory mendongak dengan napas terengah-engah. "Senior Radcliffe..."

Julian menatap kondisi Rory wajahnya yang pucat karena dingin, bibirnya yang sedikit membiru, namun cengkeramannya pada tangan Gemma sama sekali tidak mengendur. Ada rasa hangat sekaligus jengkel yang aneh menghantam dada Julian melihat betapa keras kepalanya gadis di hadapannya ini.

"Apa yang kamu lakukan?" suara Julian terdengar menekan, berusaha menahan emosi yang bergejolak. "Kenapa tidak pakai sinyal darurat?"

"Sinyal darurat cuma untuk kondisi krisis medis berat. Gemma cuma keseleo ringan, saya masih sanggup memapahnya," jawab Rory dengan napas yang masih tersengal.

"Kamu hampir hipotermia, Aurora!" bentak Julian pelan untuk pertama kalinya ia menyebut nama depan gadis itu, bukan nama belakangnya.

Gemma yang ada di papahan Rory sampai terdiam takut melihat kilat marah di mata Julian.

Tanpa memberi kesempatan bagi Rory untuk membantah lagi, Julian menyerahkan payungnya pada Rory. Lalu, dengan gerakan yang sangat mudah dan cekatan, Julian mengambil alih Gemma dan menggendongnya secara bridal style.

"Senior!" panggil Rory kaget.

"Pegang payungnya dan ikuti saya. Jangan membantah," perintah Julian dingin namun tak tertahankan.

Julian berjalan cepat memapah Gemma menuju pos medis, sementara Rory berjalan di sampingnya sambil memegangi payung besar itu ke arah Julian dan Gemma, membiarkan sebagian bahunya sendiri terkena hujan.

Melihat hal itu, Julian berhenti melangkah sejenak. Dengan tangan luangnya, ia melepas mantel barca hitamnya yang tebal dan beraroma kayu cendana yang menenangkan, lalu melemparkannya ke atas bahu Rory.

"Pakai," kata Julian singkat tanpa menatap Rory, kembali berjalan cepat.

Mantel itu sangat besar di tubuh Rory, hangat, dan seketika mengusir rasa menggigil yang mulai menyerang tubuhnya. Bau khas Julian bersih, dingin, tapi menghangatkan melingkupi Rory sepenuhnya.

Rory merapatkan mantel tebal itu di tubuhnya, menatap punggung tegap Julian yang kini berjalan menembus gerimis hanya dengan kemeja tipis demi menolong sahabatnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang selalu penuh perhitungan logis, Aurora Vance merasakan dadanya berdesir hebat sebuah sensasi aneh yang tak bisa dijelaskan oleh rumus sains mana pun.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!