NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Buang Air Saat Jam Kerja Tetap Dibayar

Dua kilometer dari garis depan.

Komandan bermata satu yang dijuluki Butcher sedang mengamati medan menggunakan perangkat penglihatan malam militer.

Dalam layar bernuansa hijau, pecahan lampu sorot yang ditembak Adrian masih berjatuhan dari puncak bukit pasir.

Tangan Butcher yang memegang pulpen berhenti di udara.

Krek!

Ujung pulpen sampai menembus buku catatannya dan melukai telapak tangannya.

“Fuck...?”

Butcher mengusap mata yang masih berfungsi, lalu kembali menempelkan perangkat penglihatan malam ke wajahnya.

Jarak delapan ratus meter.

Senapan AK tua yang kondisinya hampir seperti barang rongsokan.

Tidak ada teleskop.

Bahkan tidak ada alat bidik khusus.

Dan pemuda itu baru saja menghancurkan lampu sorot dari jarak sejauh itu hanya dengan sekali tembakan.

Butcher perlahan menoleh kepada wakilnya.

“Siapa yang baru saja menembak?”

Sang wakil menelan ludah.

Tangannya menunjuk ke sebuah batu di kejauhan.

“Komandan... sepertinya pemuda Asia tenggara yang memakai celana pendek itu.”

Butcher terdiam.

Dia teringat beberapa saat lalu dirinya melemparkan senjata ke kaki pemuda tersebut.

Bahkan dia sempat mengejeknya sebagai anak baru yang tidak tahu apa-apa.

Kalau pemuda itu tadi sedikit saja salah mengarahkan tembakan, yang hancur mungkin bukan lampu sorot.

Bisa saja kepalanya.

Di sisi lain, pria bertato yang berlindung di balik roda kendaraan masih hidup.

Dia mengintip dari balik ban dengan wajah pucat.

Tubuhnya gemetar hebat.

“Komandan... pemuda itu benar-benar baru direkrut hari ini?”

Butcher langsung menendangnya menjauh.

“Mana aku tahu!”

Dia kembali mengarahkan pandangannya ke medan perang.

“Awasi dia baik-baik!”

Rahang Butcher mengeras.

Sejak saat itu, Adrian bukan lagi sekadar pekerja baru baginya.

 

Garis depan.

Adrian sama sekali tidak peduli dengan reaksi para veteran di belakangnya.

Dia menepuk-nepuk pasir yang menempel di kaus putihnya, kemudian berdiri dari balik batu.

Kemampuan fisik yang telah diperkuat membuat setiap gerakannya jauh lebih efisien.

Kakinya menekan pasir.

Sret!

Tubuhnya langsung melesat ke depan.

Kegelapan menjadi perlindungan terbaik.

Setiap kali kakinya menyentuh tanah, Adrian secara naluriah memilih bagian yang tidak memiliki batu kecil ataupun ranting kering yang bisa menimbulkan suara.

Gerakannya cepat.

Namun hampir tidak menghasilkan suara.

Beberapa peluru melintas di dekat tubuhnya.

Adrian bahkan tidak berkedip.

Pernapasannya tetap stabil.

Jaraknya terus berkurang.

Empat ratus meter.

Tiga ratus meter.

Dua ratus meter.

Bukit pasir itu semakin dekat.

Adrian berniat terus bergerak hingga mencapai posisi yang lebih menguntungkan.

Namun tepat saat itu—

“Grrr... grrrr...”

Suara aneh tiba-tiba terdengar dari perutnya.

Langkah Adrian langsung berhenti.

“...”

Dia menunduk.

Beberapa detik kemudian, rasa mulas yang hebat menyerang perutnya.

Wajah Adrian berubah.

“Kacau.”

Dia menekan perutnya sambil sedikit membungkuk.

Mungkin air yang digunakan untuk membuat mi tadi memang tidak terlalu bersih.

Ditambah perubahan suhu siang dan malam yang ekstrem di wilayah gurun, pencernaannya akhirnya menyerah.

Adrian mengangkat kepala.

Tidak jauh di depan terdapat tembok rendah yang sudah ditinggalkan. Beberapa karung pasir tua berserakan di sekitarnya.

Tanpa membuang waktu, dia berlari kecil menuju tempat tersebut.

Sesampainya di balik tembok, Adrian menarik napas panjang.

“Baru hari pertama kerja.”

Dia melihat ke arah medan perang.

“Buang air saat jam kerja tetap dibayar. Ini juga bagian dari hak pekerja.”

Adrian segera membuka ikatan celana pendeknya.

Tempat itu memang jauh dari kata nyaman.

Tidak ada kamar mandi.

Tidak ada toilet.

Bahkan tidak ada pintu untuk menjaga privasi.

Namun keadaan sudah mendesak.

Adrian jongkok di balik tembok rendah tersebut.

Untuk sesaat, dia bisa bernapas lega.

Suara tembakan masih terdengar dari kejauhan.

Sesekali peluru nyasar menghantam pasir di sekitar mereka.

Puff! Puff!

Adrian memegang AK dengan satu tangan.

Tangan lainnya mengambil setengah bungkus tisu dari saku.

Dia menggeleng pelan.

“Tempat kerja macam apa ini?”

Adrian menarik selembar tisu.

“Besok aku harus meminta tunjangan kerja di lingkungan ekstrem kepada si mata satu.”

Dia menatap sekitar.

“Bahkan fasilitas kamar mandi saja tidak ada.”

Adrian menghela napas.

“Katanya dapat makan dan tempat tinggal.”

“Mana kamar mandinya?”

Namun tepat saat itu—

Srrr...

Adrian berhenti bergerak.

Insting tempurnya langsung memberikan peringatan.

Ada seseorang mendekat.

Dua bayangan bergerak perlahan di sisi lain tembok.

Keduanya mengenakan seragam kamuflase berwarna cokelat kekuningan dan membawa senapan.

Mereka bergerak dari dua arah.

Dua penjaga Black Mamba.

Setelah lampu sorot dihancurkan, mereka dikirim untuk mencari penembak yang tidak diketahui lokasinya.

Salah satu dari mereka adalah pria berjanggut lebat.

Dia berjalan beberapa langkah, kemudian hidungnya bergerak.

“Abu.”

Dia memberi isyarat kepada rekannya dengan suara pelan.

“Kau mencium sesuatu?”

Pemuda bernama Abu mengerutkan kening.

Dia ikut mengendus.

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah aneh.

Ada aroma yang sangat kuat terbawa angin malam.

Aroma mi instan.

Ditambah sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.

Keduanya saling memandang.

Senjata langsung diangkat.

Mereka berjalan semakin dekat.

Kemudian perlahan mengitari ujung tembok.

Suasana seakan berhenti.

Pria berjanggut dan Abu tiba-tiba membelalakkan mata.

Mereka melihat sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.

Seorang pemuda Asia tenggara dengan kaus putih sedang jongkok di balik tembok.

Celana pendeknya masih berada di tangan.

Di tangan lainnya terdapat selembar tisu yang sudah kusut.

Jarak mereka bahkan tidak sampai tiga meter.

Otak pria berjanggut itu seperti berhenti bekerja selama beberapa detik.

Ini garis depan.

Di tengah baku tembak.

Wilayah yang bahkan peluru nyasar beterbangan setiap beberapa detik.

Namun seseorang justru sedang buang air di sini.

“Fuck!”

Pria berjanggut akhirnya sadar.

Dia langsung mengangkat senjatanya.

Namun Adrian jauh lebih cepat.

Dia bahkan belum sempat merapikan celananya.

Satu tangan langsung mengangkat AK.

DOR! DOR!

Dua tembakan terdengar.

Dua penjaga tersebut langsung jatuh ke belakang dan menghantam pasir.

Adrian menyelesaikan urusannya dengan tenang.

Setelah merapikan pakaian, dia berdiri.

Dia berjalan menghampiri kedua orang tersebut.

“Sudah tengah malam masih mengintip orang buang air.”

Adrian menggeleng.

“Tidak punya etika sama sekali.”

Dia menendang tubuh pria berjanggut itu dengan ujung kakinya untuk memastikan tidak ada gerakan.

Kemudian Adrian berjongkok.

Tangannya mulai memeriksa pakaian dan perlengkapan kedua orang tersebut.

Ini bukan pertama kalinya dia melakukan pemeriksaan seperti itu.

Di tubuh pria berjanggut, dia hanya menemukan setengah bungkus rokok murah dan sebuah korek api.

Adrian mengangkat alis.

“Miskin.”

Dia beralih ke Abu.

Tangannya menemukan sebuah kantong kain keras di bagian dalam rompi taktis.

Adrian membukanya.

Matanya langsung berbinar.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang dolar yang kusut.

Jumlahnya tidak sedikit.

Adrian memasukkan uang tersebut ke sakunya.

“Lumayan.”

Dia kemudian menemukan dua pistol Glock 17 yang diselipkan di pinggang kedua orang itu.

Adrian mengambilnya.

Dia memeriksa kondisinya secara singkat.

Keduanya terawat dengan jauh lebih baik dibandingkan senapan tua yang diberikan Black Fox kepada para pekerja baru.

Adrian menyelipkan kedua pistol itu ke pinggangnya.

Dia menepuk saku tempat uang tadi disimpan.

“Ini berarti penghasilan tambahan.”

Senyumnya muncul.

“Selain gaji harian, ternyata ada bonus.”

Adrian memandang kembali ke arah benteng lawan.

“Kalau kerja di dalam negeri, memecahkan satu piring saja bisa dipotong dari gaji.”

Dia mengangkat AK yang tergeletak di dekatnya.

“Di sini malah bisa mendapatkan uang tambahan setelah menyelesaikan pekerjaan.”

Adrian memasang magasin baru.

Klik.

Kemudian dia mengangkat kepala.

Puncak bukit pasir sudah berada tidak jauh di depannya.

Bangunan tanah liat yang menjadi posisi Black Mamba terlihat semakin jelas dalam kegelapan.

Adrian menempel pada dinding rendah dan mulai bergerak maju.

Tujuannya jelas.

Masuk ke dalam markas lawan.

Namun tepat ketika dia baru saja mengintip melewati sisi tembok—

GRUUUUUM!

Suara mesin yang sangat keras tiba-tiba menggelegar dari belakang markas.

Adrian langsung berhenti.

Matanya menyipit.

Suara itu semakin dekat.

GRUUUMMM!

Sesuatu sedang bergerak keluar dari belakang bangunan.

Dan dari suara mesinnya saja, benda itu jelas bukan kendaraan biasa.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!