Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Lin Xiao mendengarkan semua itu dengan senyum tipis yang penuh dengan ejekan.
'Mereka benar-benar sekelompok anjing rakus yang tidak tahu malu.' batin Lin Xiao.
"Aturan klan dengan jelas menyatakan bahwa setiap anggota harus memberikan kontribusi." ucap Lin Zhen melanjutkan rencananya.
"Oleh karena itu, sebagai Kepala Tetua yang mewakili kepentingan seluruh anggota klan, aku mengusulkan sebuah putusan."
Lin Zhen berdiri dari kursinya dan merentangkan kedua tangannya.
"Aku mengusulkan pencabutan gelar tetua agung terhadap Lin Tianhai, penghentian semua fasilitas medisnya, dan penyitaan kediaman miliknya."
Riuh rendah langsung terdengar dari arah para murid yang menonton di luar balai.
Putusan ini sama saja dengan mengusir Lin Tianhai dan Lin Xiao ke jalanan sebagai pengemis.
"Apakah ada tetua yang keberatan dengan usulan ini?" tanya Lin Zhen sambil menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
Beberapa tetua yang dulu pernah ditolong oleh Lin Tianhai hanya bisa menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Mereka tidak berani menentang kekuatan Lin Zhen yang kini menguasai sebagian besar sumber daya klan.
"Aku keberatan."
Sebuah suara yang sangat tenang dan jernih memotong keheningan pengecut para tetua itu.
Semua orang terkejut dan mencari sumber suara tersebut, yang ternyata berasal dari mulut Lin Xiao.
Lin Jian langsung tertawa terbahak-bahak mendengar bantahan itu.
"Kau keberatan? Dasar sampah bodoh, kau tidak punya hak suara dalam sidang para tetua!"
"Sebagai putra dari orang yang sedang kalian adili, aku berhak untuk berbicara membela hak ayahku." jawab Lin Xiao dengan lugas.
Dia menatap lurus ke arah mata Lin Zhen tanpa berkedip sedikit pun.
"Kau berbicara tentang aturan klan, Kepala Tetua?" tanya Lin Xiao dengan nada yang sengaja ditinggikan.
"Lalu apakah kau lupa dengan pasal ketujuh dalam kitab suci leluhur kita?"
Wajah Lin Zhen sedikit berkerut mendengar pasal tersebut disebut.
Dia tahu betul apa isi pasal itu, namun dia tidak menyangka Lin Xiao akan menggunakannya.
"Pasal ketujuh menyatakan bahwa siapa pun yang pernah menyelamatkan klan dari kehancuran besar, akan diberikan masa tenggang selama lima tahun jika dia terluka dalam tugas." ucap Lin Xiao dengan suara menggelegar.
"Tiga tahun lalu, ayahku mengorbankan kultivasinya untuk menahan serangan dari sekte aliran hitam yang mencoba merampok perbendaharaan klan." lanjut Lin Xiao mengingatkan sejarah yang sengaja dilupakan mereka.
"Jika bukan karena ayahku, kalian semua yang duduk di kursi empuk itu sudah menjadi mayat tanpa kepala!"
Ucapan Lin Xiao itu menampar wajah para tetua dengan sangat keras.
Beberapa dari mereka terlihat sangat malu dan wajahnya memerah karena kebenaran sejarah tersebut.
"Tutup mulutmu, bocah kurang ajar!" bentak Lin Zhen dengan marah karena kebohongannya dikuliti di depan umum.
"Itu adalah masa lalu, kita hidup di masa sekarang!"
"Klan sedang menghadapi krisis keuangan, kita tidak bisa berpegang pada aturan bodoh itu sementara para murid kita kekurangan pil kultivasi!" kilah Kepala Tetua dengan sangat licik.
"Krisis keuangan?" Lin Xiao mendengus sinis.
"Bulan lalu kau baru saja menghabiskan lima puluh ribu koin emas untuk membeli pil penembus batas bagi cucumu yang bodoh ini."
Lin Xiao menunjuk tepat ke wajah Lin Jian yang langsung menjadi pucat pasi.
"Jika kau peduli pada klan, mengapa kau menggunakan kas klan untuk kepentingan keluargamu sendiri?"
"Fitnah! Kau berani memfitnah Kepala Tetua!" teriak Lin Jian dengan panik berusaha menutupi kebenaran.
"Penjaga, tangkap anak ini dan potong lidahnya karena menghina pemimpin klan!"
Dua orang penjaga bertubuh besar langsung melangkah maju dan menghunus pedang mereka ke arah Lin Xiao.
Sring.
Namun sebelum para penjaga itu sempat mendekat, Tetua Lin Mo yang sedari tadi diam tiba-tiba berdiri.
Pria paruh baya itu melepaskan aura kultivasinya dan menekan kedua penjaga itu hingga mundur ketakutan.
"Sidang ini belum selesai, tidak ada yang boleh menggunakan kekerasan fisik di balai utama!" tegas Tetua Lin Mo dengan suara berwibawa.
Tetua Lin Mo kemudian menatap Lin Zhen dengan pandangan tidak setuju.
"Apa yang dikatakan Lin Xiao benar, Kepala Tetua. Lin Tianhai memiliki hak masa tenggang lima tahun sesuai aturan leluhur."
Wajah Lin Zhen berubah menjadi sangat suram melihat campur tangan Tetua Lin Mo.
Tetua Lin Mo adalah instruktur kepala yang sangat dihormati oleh para murid, pendapatnya memiliki beban yang sangat berat.
"Tetua Mo, kau tidak mengerti situasi kita secara keseluruhan." ucap Lin Zhen mencoba menahan amarahnya.
"Jika kau bersikeras, maka kita akan menyelesaikannya dengan cara demokratis sesuai aturan klan."
Lin Zhen memutar tubuhnya dan menatap ke arah deretan para tetua.
"Mari kita lakukan pemungutan suara terbuka." ucap Lin Zhen dengan nada yang dipenuhi ancaman terselubung.
"Siapa yang setuju untuk mencabut hak Lin Tianhai hari ini, angkat tangan kalian."
Suasana kembali menjadi sangat tegang dan hening.
Satu per satu, para tetua yang merupakan pengikut setia Lin Zhen mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi.
Satu, dua, tiga... hingga tujuh orang tetua telah mengangkat tangan mereka.
Lin Xiao menatap kejadian itu dengan tatapan mata yang semakin dingin.
Dia mengenali beberapa tetua yang mengangkat tangan itu adalah orang-orang yang dulu sering berhutang budi pada ayahnya.
Di dunia ini, kesetiaan memang sangat murah harganya jika dihadapkan pada kekuasaan mutlak.
"Bagaimana dengan kalian yang tersisa?" desak Lin Zhen sambil menatap tajam ke arah tiga tetua netral.
Di bawah tekanan dan tatapan membunuh dari Lin Zhen, dua tetua netral akhirnya menundukkan kepala dan perlahan mengangkat tangan mereka.
Mereka memilih untuk mengorbankan Lin Tianhai demi keselamatan keluarga mereka sendiri.