Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam membungkus ruang kerja utama di kediaman Carlton dengan keheningan yang menandakan bahwa badai sebentar lagi akan datang.
Di balik pintu kayu jati yang tebal, Pak Ben berdiri tegap di samping meja kerja Arthur Carlton. Di hadapan sang pemimpin keluarga, duduk seorang pria berjas abu-abu dengan kacamata berbingkai tipis.
Beliau adalah kepala tim audit independen yang dipanggil secara rahasia sejak kemarin malam.
Lampu meja memancarkan pendar kuning hangat, menyoroti tumpukan berkas cetakan dan diagram alur keuangan yang tersebar di atas meja kayu yang mahal.
"Bagaimana hasilnya, Pak Leo?" tanya Arthur dengan suara berat. Jemari tangannya saling bertaut di atas meja, menahan ketegangan yang merambat di sepanjang sarafnya.
Pria bernama Leo itu membetulkan letak kacamatanya, memegang sebuah dokumen tebal dengan map bersampul hitam.
"Tuan Arthur, sesuai dengan perintah rahasia yang disampaikan oleh Pak Ben, tim kami telah menyisir seluruh riwayat transaksi pengeluaran pribadi Anda untuk Tuan Muda Alessio selama sepuluh tahun terakhir," ujar Leo dengan nada profesional yang tenang namun tegas. "Dan temuan kami sangat mengejutkan."
Dada Arthur menegang. "Katakan."
"Setiap bulan, dana tunjangan sebesar dua puluh ribu dolar AS secara rutin keluar dari rekening pribadi Anda sesuai instruksi tertulis," jelas Leo seraya menyodorkan lembaran laporan pertama. "Namun, dana tersebut tidak pernah sampai ke rekening Tuan Muda Alessio di luar negeri."
Pak Ben yang berdiri kaku di sisi meja memajukan pandangannya. Raut wajah tuanya yang biasa tenang kini mengeras.
"Ke mana uang itu dialirkan?" sela Arthur, matanya menyipit berbahaya.
"Sekretaris Frans menggunakan perusahaan cangkang atas nama kerabat jauhnya di luar negeri sebagai penampung awal," terang Leo seraya mengetuk salah satu grafik alur dana. "Uang itu diputar melalui tiga lapisan rekening lepas pantai untuk menyamarkan jejaknya, sebelum akhirnya ditarik secara berkala dalam bentuk tunai dan sebagian lagi dialirkan ke akun investasi pribadi milik Sekretaris Frans sendiri."
Brak!
Arthur menghentakkan telapak tangannya ke atas meja hingga cangkir porselen di sampingnya berdenting nyaring. Napasnya memburu, mukanya merah padam oleh kemurkaan yang meledak mendadak.
"Sepuluh tahun..." geram Arthur dengan suara bergetar menahan amuk. "Sepuluh tahun dia memakan uang anakku dan membiarkan Alessio hidup terlunta-lunta di negeri orang?!"
"Bukan hanya itu, Tuan Besar," lanjut Leo tanpa ragu, menyodorkan dokumen tambahan. "Kami juga menemukan bahwa Sekretaris Frans memalsukan tanda tangan dan surat balasan rutin yang seolah-olah dikirimkan oleh Tuan Muda Alessio. Surat-surat laporan perkembangan studi dan tanda terima dana yang selama ini Anda terima... semuanya adalah rekayasa Sekretaris Frans."
Arthur menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lunglai. Pria perkasa yang ditakuti di dunia bisnis itu seketika tampak terpukul hebat.
Bayangan rasa bersalah pada Alessio kini menghantam jiwanya bagai ombak raksasa. Selama sepuluh tahun, ia mengira putranya itu adalah anak pembangkang yang tak tahu berterima kasih meski telah diberi fasilitas mewah, padahal kenyataannya Alessio harus berjuang sendirian di negeri asing tanpa sepeser pun bantuan darinya.
"Pak Ben..." panggil Arthur parau.
"Saya di sini, Tuan Besar," sahut Pak Ben seraya menundukkan kepala penuh empati.
"Di mana Frans sekarang?"
"Sekretaris Frans sedang berada di kantor cabang pusat untuk menyelesaikan laporan keuangan bulanan, Tuan," jawab Pak Ben dingin. "Beliau belum menyadari bahwa tim audit independen ini telah bekerja."
Arthur memejamkan mata sejenak, menghimpun kembali dominasi dan kecerdasan dingin yang menjadi ciri khasnya. Saat matanya kembali terbuka, tak ada lagi raut kesedihan di sana, hanya ada kekejaman untuk balas dendam.
"Amankan seluruh bukti ini. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang bocor ke media atau internal perusahaan terlebih dahulu," perintah Arthur lantang.
"Pak Ben, siapkan tim hukum pribadi keluarga dan panggil kepala kepolisian daerah besok pagi. Kita akan menjemput Frans secara langsung di hadapan seluruh dewan direksi."
"Baik, Tuan Besar," tegas Pak Ben.
Setelah Leo memohon diri dan meninggalkan ruangan, Pak Ben melangkah mendekati meja kerja. "Tuan Besar... apakah Anda akan memberitahukan hal ini kepada Tuan Muda Alessio?"
Arthur menatap foto masa kecil Alessio yang tersimpan rapi di dalam laci mejanya. Senyum tipis yang penuh kepahitan terukir di bibirnya.
"Alessio mungkin sudah tahu sejak awal, Pak Ben," bisik Arthur penyesalan.
*****
Suasana di ruang rapat utama lantai paling atas Menara Carlton terasa begitu formal dan tenang. Jajaran dewan direksi berjas rapi duduk mengelilingi meja oval kayu mahoni raksasa.
Di ujung depan, Sekretaris Frans berdiri anggun dengan senyum profesionalnya, memimpin presentasi laporan keuangan kuartal ketiga.
Pria paruh baya itu tampak sangat percaya diri. Selama belasan tahun, ia merasa berada di posisi yang tak tersentuh sebagai tangan kanan kepercayaan sang pemimpin utama.
"Demikian proyeksi dividen yang telah disusun," ujar Frans seraya merapikan lembaran kertas di tangannya. "Jika tidak ada pertanyaan lagi, kita bisa menyetujui..."
Brak!
Pintu ganda ruang rapat terdorong kasar hingga menghantam dinding. Dentumannya memotong kalimat Frans secara mendadak. Seluruh petinggi perusahaan tersentak dan menoleh serempak ke arah pintu.
Arthur Carlton melangkah masuk dengan jubah jas hitam terpasang gagah di bahunya. Aura kepemimpinannya yang sangat pekat dan menekan memenuhi seluruh ruangan.
Di belakangnya, dua personel kepolisian berseragam lengkap mengapit Pak Ben yang membawa sebuah map tebal bersampul hitam.
"T-Tuan Arthur?" panggil Frans, sedikit kebingungan namun dengan cepat memasang raut wajah semringah yang dibuat-buat.
"Ada apa ini? Mengapa Anda membawa pihak kepolisian ke ruang rapat direksi?"
Arthur tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menelusuri karpet tebal, lalu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Frans.
Tatapan matanya begitu dingin dan tajam, bagai mata pisau yang siap menguliti targetnya hidup-hidup.
"Laporan yang sangat bagus, Frans," bisik Arthur dengan suara berat yang menggelegar tenang namun sarat ancaman. "Terutama bagian di mana kau dengan sangat rapi menyembunyikan dana pencucian uangmu selama sepuluh tahun terakhir."
Wajah Frans seketika menyusut pucat. Senyum profesional di bibirnya membeku secara instan. "A-apa maksud Anda, Tuan? Saya tidak mengerti... Ini pasti ada salah paham..."
"Salah paham?" potong Pak Ben dingin. Ia melangkah maju dan melemparkan tumpukan dokumen audit ke atas meja di hadapan para direksi.
Dokumen itu berisi riwayat alur dana ke perusahaan cangkang, bukti pemalsuan surat, serta transaksi investasi pribadi atas nama Frans.
"Semua bukti transfer dana tunjangan Tuan Muda Alessio yang kau belokkan ke rekening penampungmu sudah terverifikasi secara hukum oleh tim audit independen dan kepolisian."
Bisik-bisik riuh seketika meledak di antara para anggota dewan direksi. Mereka saling menatap dengan pandangan tak percaya.
"Tidak! Ini fitnah! Ini konspirasi untuk menjatuhkan saya!" jerit Frans histeris.
"Tuan Besar, Anda harus percaya pada saya! Saya telah mengabdi puluhan tahun pada Anda!"
"Kau tidak mengabdi padaku, Frans," potong Arthur dengan rahang menegang keras. "Kau memotong urat nadi anakku! Kau membiarkan darah dagingku hidup terlunta-lunta di negeri orang demi memuaskan keserakahanmu!"
"Tidak. Saya tidak bersalah. Saya melakukannya atas perintah Tuan Muda Jordan. Dia bilang..."
"CUKUP!" potong Arthur membentak. Wajahnya memerah saat nama Jordan ikut diseret."Jangan coba-coba untuk mengadu domba kedua putraku!"
"Tapi itu semua benar. Saya punya bukti-buktinya jika Tuan Jordan lah yang selama ini..."
Arthur memberi isyarat pelan dengan jemarinya. Dua polisi di belakangnya segera bergerak cepat, memiting kedua tangan Frans ke belakang punggungnya dan memasangkan borgol besi dengan bunyi klek yang nyaring.
Tidak. Arthur tak bisa membiarkan Jordan terseret masalah lagi. Jika hal itu sampai terjadi, bisa-bisa posisi Jordan sebagai pewarisnya akan terancam.
"Fransiskus Dwi, Anda kami tahan atas tuduhan penggelapan dalam jabatan, pemalsuan dokumen, dan pencucian uang," tegas salah satu petugas polisi.
"Lepaskan aku! Tuan , ampun! Tolong dengarkan penjelasan saya dulu!" jerit Frans meraung-raung saat tubuhnya mulai diseret kasar melintasi ruang rapat.
Di sudut luar pintu kaca ruang rapat yang tembus pandang, Alessio berdiri sambil bersedekap dada.
Pria muda itu menyaksikan seluruh adegan penangkapan Frans dengan raut wajah yang sangat tenang, hampir tanpa emosi. Tak ada rasa puas yang berlebihan, tak ada pula kemarahan.
Ia hanya menatap dingin. Sudah menduga bahwa sang Ayah pasti akan selalu membela Jordan. Mau sebesar apapun kesalahan Jordan, Arthur akan selalu menutup mata.
Saat Frans diseret melewati ambang pintu, matanya yang panik bertabrakan langsung dengan iris mata hitam Alessio. Alessio hanya menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis, menyilangkan jarinya di depan bibir secara menyindir.
"Selamat menikmati nerakamu, Frans," bisik Alessio.
Arthur melangkah keluar dari ruang rapat, mengabaikan kasak-kusuk para direksi. Langkah kakinya terhenti tepat di hadapan Alessio. Pria tua yang perkasa itu menatap putra bungsunya dengan raut wajah yang hancur oleh rasa bersalah yang mendalam.
"Alessio..." panggil Arthur dengan suara parau yang bergetar. "Ayah benar-benar tidak tahu kalau..."
"Tidak perlu meminta maaf, Tuan Arthur," potong Alessio datar, suaranya seperti dinding es yang tak tembus pandang. "Penyesalan sepuluh tahun yang terlambat tidak akan mengubah dinginnya malam yang harus kulewati sendirian di luar negeri. Kau tidak tahu bagaimana penderitaan mu selama ini."
"Ayah tahu. Ayah mengerti semuanya. Untuk itu, Ayah benar-benar meminta maaf secara tu..."
"Kalau kau mengerti, kenapa kau biarkan dalang utamanya bebas begitu saja? Kenapa kau tidak mengejarnya juga?"
Arthur diam. Bingung, harus mengatakan apa.
"Sudah ku duga. Aku tak pernah bisa menang melawan anak pelacur itu. Dihati Ayah, hanya ada dia saja."
"Ayah juga menyayangi mu, Alessio."
"Kalau begitu, kenapa Ayah tega mengubah status ku? Jelas-jelas, aku yang putra sah keluarga Carlton. Tapi, kenapa malah anak pelacur itu yang diakui? Kenapa malah anak pelacur itu yang merebut tempatku? kenapa malah anak pelacur itu yang harus memperoleh semua kehormatan sementara aku harus hidup terhina dengan menyandang gelar anak haram yang seharusnya menjadi miliknya?"
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏