Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Emma
"Nanti siang aku jemput, ya. Kita fitting gaun pengantin" ucap Arsen via telpon pagi ini. Padahal tadi malam Arsen sudah mengingatkan Ananta juga. Arsen sengaja melakukannya karena dia suka mendengar suara Ananta.
"Iya. Kan, tadi malam kamu sudah bilang." Ananta terpaksa meninggalkan anak didiknya bersama dua gurunya yang lain karena Arsen menelponnya.
"Aku takut kamu lupa," tawa Arsen tanpa rasa bersalah.
"Aku belum tua untuk diingatkan berkali kali," protes Ananta kalem. Tapi mendengar tawa yang masih jernih itu membuat perasaannya jadi tenang. Dia takut Arsen sakit karena terlalu banyak bekerja.
"Ya, aku tau. Kamu masih muda, cantik dan mengg@irahkan."
"ARSEN," interupsi Ananta penuh tekanan mendengar kata kata non sensor itu. Jantungnya tantrum mendengar kata kata tanpa saringan itu.
"Iya, sayang. Benarkan? Pengen ci-um lagi," ucap Arsen dengan suara memelas.
Ananta terdiam mendengarnya. Sisi hatinya yang lain juga menginginkannya.
"Sudah dulu, ya. Aku ngga enak ninggalin kelas lama lama," ucapnya pura pura sibuk padahal dia ingin sebaliknya. Terus mendengar suara Arsen yang memujanya. Jangan jangan ada kelainan dalam sarafnya.
"Oke, sayang. Sampai ketemu nanti siang." Arsen kemudian memutuskan komunikasinya dengan suara kecup@nnya yang cukup keras.
Dia kenapa jadi aneh gini, sih, batin Ananta dengan kuduk yang meremang. Seakan bisa merasakan kecup@n itu di bibirnya, di rahangnya bahkan di lehernya.
Ananta menampar pipinya untuk menyadarkannya dari khayalan vulg@rnya.
Ananta mengambil nafas dalam dalam untuk mengisi paru parunya yang terasa hampa udara. Dia menatap ponselnya dengan debar jantung yang masih sangat berisik. Arsen. Nama itu menimbulkan getar tersendiri saat disebutkan.
*
*
*
Arsen ngga menyangka Pak Sudrajat menyuruh istrinya yang datang menemuinya ke ruangannya dengan membawa berkas yang dibutuhkan.
"Kamu bisa pulang sekarang, aku mau meeting," usir Arsen setelah menerima berkas itu dari Emma.
Tapi Emma Celeste tidak bergeming. Kesempatan ini jarang datang dan mungkin ngga akan datang lagi. Dia akan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Ngga disangkanya suaminya meminta dia mengantarkan berkas ini ke tempat Arsen.
Flashback on
"Kenapa harus aku?" tanyanya pura pura enggan.
"Bukannya ada asistenmu?" Emma tidak mau suaminya curiga kalo dia sudah kegirangan mendapat kesempatan tak terduga.bertemu Arsen. Suaminya sendiri yang memberikannya.
"Bukannya kamu akan pergi mengunjungi mama. Perusahaan Arsen dekat dari rumah mama."
Agar Sudrajat tidak merasa curiga, dia terdiam seolah sedang berpikir beberapa saat lamanya.
"Tidak akan cukup waktu untuk menyuruh Haris," keluh Sudrajat membujuk seolah meminta pengertiannya.
"Baiklah. Apa yang harus aku katakan padanya?"
"Dia sudah tau saat melihat berkas itu," ucap Sudrajat dengan wajah lega.
Emma menganggukkan kepalanya mengerti.
"Oke. Aku akan langsung ke tempat mama setelah mengantar ini," janjinya dengan senyum yang selalu bisa meluluhkan hati Sudrajat
Sudrajat mengangguk dan mendekati istrinya. Mencium bibirnya dengan h@srat yang panas menggelora.
Endflashback
"Arsen, aku ngga menyangka kamu anak Latif Jaffar." Emma ngga peduli dengan pengusiran Arsen. Dia ingin memiliki Arsen kembali walaupun dulu pernah menolaknya.
Dulu Arsen bukan siapa siapa. Hanya laki laki tampan biasa. Dia ngga mau mempertaruhkan hidupnya dengan laki laki yang belum jelas kemapanannya. Tapi sekarang laki laki itu sudah jauh berbeda. Kharismanya sebagai anak konglomerat satu satunya terpancar jelas.
Arsen mengacuhkan. Saat dia akan menelpon sekretarisnya untuk mengusir Emma dari ruangannya, istri Sudrajat menepis halus tangannya.
"Oke, aku salah sudah menolakmu dulu Arsen. Aku harus bersama laki laki kaya karena aku tulang punggung keluarga." Emma buru buru memberikan pengakuan saat melihat tatap marah Arsen yang baru kali ini dia lihat. Nyalinya untuk menggoda Arsen sedikit menciut.
Arsen menyandarkan punggungnya di kursinya dan sedikit memiringkan kursi itu ke belakang.
"Sekarang apa maumu?" Tatapnya dingin.
"Aku ngga ingin kamu salah mengambil keputusan seperti aku dulu." Seakan dikasih angin, Emma mendekat dan kini berhadapan dengan Arsen yang masih tetap duduk di kursinya.
Dia duduk di atas meja yang ada di depan Arsen. Dres di atas lututnya sedikit terangkat, menampilkan kaki putih, bening dan se-ksinya.
"Kamu bisa mencobanya, Arsen, untuk meyakini perasaanmu. Kalo setelahnya perasaanmu masih ada untukku, aku rela menjadi simpananmu." Emma menawarkan kesepakatan.
Tangannya dengan lincah membuka beberapa kancing dresnya di bagian atas. Dia menunjukkan betapa mengkalnya dadanya yang sekarang sengaja dia busungkan walaupun masih tertutup bra renda tipisnya. Dia sudah p@srah dan siap menyerahkan dirinya untuk Arsen.
Arsen tertawa sinis.
"Harusnya kamu begini di depan Darya."
Emma terkejut, ngga menyangka Arsen tau apa yang sudah dilakukannya bersama Darya.
"Da darya?" Tanyanya gugup. Keringat dingin mulai membasahi punggung dresnya. Padahal ruangan Arsen sangat dingin.
Arsen sempat meminta rekaman cctv saat melihat Darya malam itu. Sangat jelas terlihat ketika Darya menyeret Emma ke toilet dan ngga lama kemudian Emma keluar terburu buru, kabur meninggalkan Darya yang masih berada di dalam toilet.
Arsen menyeringai.
"Yang manjadi istriku itu perempuan mahal. Dia ngga akan gampang tergoda dengan apapun."
Wajah Emma langsung pucat. Tapi di hatinya timbul rasa benci mendengar Arsen memuji perempuan lain di depannya.
"Kamu salah paham Arsen. Harusnya malam itu kamu menolongku. Darya hampir memperkosaku," bantahnya membela diri agar Arsen mempercayai ucapannya. Dia akan memberikan sentuhan dramatis agar Arsen merasa bersalah dan mengabulkan keinginannya.
Arsen kembali tertawa sinis.
"Kalo saling menginginkan namanya bukan pemerkosaan, Emma," sarkasnya.
"Tapi aku tidak bohong. Darya berusaha memperkosaku, Arsen. Kenapa kamu sulit percaya." Emma menjeda ucapannya.
"Kesalahanku padamu karena aku sudah menikah. Hanya suamiku yang bisa menikmati tubuhku. Tidak pernah ada orang lain," tegasnya sambil menatap lekat laki laki yang kini sudah menjadi obsesinya.
Arsen meremehkannya.
"Tapi sekarang aku mau kamu menikmatinya, Arsen. Lakukan sesuka kamu, Arsen." Dengan nekat Emma menurunkan bra berenda tipisnya, hingga dadanya yang bulat terlihat jelas. Puncaknya bahkan sudah menegang terkena dinginnya AC di ruangan Arsen dan juga oleh h@sratnya sendiri.
Arsen masih tertawa sinis. Dia mundurkan kursinya dan bangkit dari sana.
"Aku tidak tertarik dengan bekas orang lain." Arsen menampakkan wajah jijik.
Wajah Emma pucat. Tidak dia sangka Arsen akan menolaknya drngan kasar. Dulu bahkan Arsen selalu menatap dadanya demgan tatapan nakalnya.
"Bukannya dulu kamu menginginkannya?"
"Iya, sebelum kamu menolakku," tegas Arsen.
Emma membeku sesaat
"Maafkan aku. Aku rela melakukan apa pun asal kamu mau memaafkan aku," mohonnya sambil tetap mendekatkan asetnya. Dia masih ngga yakin Arsen mau menolak aset berharganya ini. Darya saja yang ditolaknya berkali kali masih tetap menginginkannya.
Tapi dia terkejut melihat Arsen mendorongkan kursinya ke belakang dan segera berdiri.
Ngga mungkin Arsen sudah melupakannya, batinnya ngga percaya. Sekarang laki laki itu bergerak menjauh.
Arsen? Tidak mungkin, kan?
Emma setengah berlari mengejar Arsen. Kemudian memeluknya dari belakang.
"Rasakan aku Arsen," lirihnya merayu sambil merapatkan dada polosnya pada Arsen.
Hanya sesaat dia merasa sudah bisa menaklukkan Arsen, karena selanjutnya dorongan keras dari Arsen yang dia terima. Membuatnya jatuh terjengkang.
"Aku bisa mendapatkannya dari istriku nanti," jawab Arsen dingin. Dia kemudian melepaskan jasnya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Pergilah sebelum aku panggil satpam untuk memuaskanmu."
Nyali Emma tambah ciut mendengar ancaman Arsen. Perasaan takut menguasainya. Dia pun dengan cepat bangkit dan merapikan pakaiannya. Tatapan penuh benci Emma layangkan pada Arsen sebelum pergi meninggalkan ruangan laki laki itu.
Arsen menghembuskan nafas lega. Hampir saja dia tergoda tadi.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?