NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Bayangan Emas Menara Aliansi

Sisa-sisa debu pertempuran di jalan pualam perbatasan perlahan-lahan mereda, disusul oleh keheningan yang terasa jauh lebih mencekam daripada suara letupan senjata. Kaelen dan Lyra melangkah meninggalkan reruntuhan pos pemeriksaan, menerobos masuk lebih dalam ke dalam wilayah jantung daratan tengah. Pemandangan di hadapan mereka berangsur-angsur berubah; dari hamparan pos perbatasan yang tandus menjadi sebuah kota megah berarsitektur klasik dengan bangunan-bangunan bertingkat tinggi yang dibangun dari kayu jati purba dan batu pualam putih berkilau.

Namun, yang paling mencolok dari distrik utama aliansi ini bukanlah kemegahan arsitekturnya, melainkan atmosfer spiritual yang begitu padat hingga membuat setiap tarikan napas terasa sarat dengan energi murni. Di atas langit kota tersebut, awan-awan tipis tampak berputar membentuk pola melingkar secara alami, terserap perlahan ke arah sebuah titik pusat yang menjulang paling tinggi di kejauhan—Menara Utama Aliansi Sekte Daratan Tengah. Bangunan raksasa berlapis lempengan emas itu berdiri tegak menembus langit, memancarkan wibawa absolut yang menuntut ketundukan dari seluruh makhluk hidup di bawah naungannya.

Lyra merapatkan langkahnya ke sisi Kaelen, sementara matanya yang jernih menyapu sekeliling jalanan yang kini tampak lengang secara tidak wajar. Toko-toko tertutup rapat, jendela-jendela rumah penduduk terkunci rapat dari dalam, dan tidak tampak satu pun warga sipil berani menampakkan batang hidung di luar ruangan. Hanya angin sore yang berembus pelan, membawa desau dedauning kering menyusuri jalanan pualam yang bersih tanpa noda.

"Kota ini terasa seperti kota mati," bisik Lyra, jemarinya secara refleks menyentuh botol ramuan di pinggangnya untuk memastikan kesiapan pertahanan. "Mereka tidak hanya mengosongkan jalanan karena rasa takut kepada kita, Kaelen. Ini adalah rekayasa ruang. Penduduk sipil telah dievakuasi jauh-jauh hari agar para petinggi aliansi leluasa mengerahkan kekuatan penuh tanpa harus memikirkan korban jiwa."

Kaelen mengangguk pelan. Pandangannya tetap lurus ke depan, menatap bayangan emas menara utama yang semakin lama semakin membesar di ujung jalan raya. "Tian Guan bukan tipe pemimpin yang akan bersembunyi di balik dinding benteng tanpa rencana. Dia menginginkan esensi artefak di dalam dantianku, dan dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan membiarkan kita berjalan langsung ke dalam perangkapnya."

"Lalu, mengapa kita tetap menuruti kemauannya?" tanya Lyra dengan nada suara yang mencerminkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran mendalam. "Jika kita tahu tempat itu adalah sarang singa yang dipenuhi formasi pembunuh tingkat tinggi, bukankah lebih baik kita memancing mereka keluar daripada menyerahkan diri ke dalam kandang?"

Kaelen menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan ketenangan mutlak. "Karena singa tidak akan pernah meninggalkan singgasananya kecuali mangsanya datang menghampiri, Lyra. Daratan tengah ini terlalu luas untuk mencari mereka satu per satu. Memasuki menara itu berarti kita memangkas waktu, sekaligus menuntaskan segalanya dalam satu tempat."

Mereka terus berjalan menyusuri jalan pualam putih yang panjang. Semakin dekat mereka dengan kompleks menara, tekanan spiritual di udara daratan terasa semakin menekan dada. Tekanan itu bukan lagi sekadar beban mental, melainkan gelombang formasi pelindung skala besar yang dirancang untuk menguji mentalitas para kultivator luar. Setiap langkah kaki yang diayunkan seolah harus menembus lapisan air yang berat, membuat aliran Qi di dalam tubuh bergejolak tidak stabil.

Namun, di hadapan Kaelen, tekanan tersebut seolah kehilangan taringnya. Pedang baja gelap di pinggang pemuda itu secara otomatis memancarkan pendaran biru keperakan tipis, menciptakan zona hampa berdiameter satu meter di sekeliling tubuh mereka berdua, menepis seluruh gelombang tekanan spiritual menara sebelum sempat menyentuh kulit.

Lapangan Pualam dan Keheningan Sesaat

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam menyusuri jalanan kota yang kosong, Kaelen dan Lyra akhirnya tiba di sebuah lapangan terbuka yang sangat luas. Lapangan tersebut seluruhnya terbuat dari lempengan giok putih yang memantulkan bayangan langit sore layaknya cermin raksasa. Di ujung seberang lapangan itulah berdirinya gerbang utama Menara Utama Aliansi—sebuah pintu gerbang setinggi dua puluh meter yang diukir dengan relief ribuan dewa dan naga surgawi.

Namun, yang membuat langkah mereka terhenti bukanlah kemegahan gerbang tersebut, melainkan pemandangan di tengah lapangan.

Ribuan kultivator elit dari berbagai sekte menengah dan besar di daratan tengah tampak berbaris rapi dalam formasi melingkar. Mereka mengenakan pakaian kebesaran sekte masing-masing: ada yang berjubah biru es, jubah merah menyala, hingga jubah putih bersih dengan sulaman pedang di kerah. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga ribu orang, membentuk barisan pertahanan berlapis yang menutupi seluruh akses menuju pintu masuk menara.

Kendati jumlah musuh begitu melimpah dan memancarkan basis kultivasi di alam pemusatan Qi tingkat lanjut hingga tahap spiritual awal, tidak ada satu pun suara gaduh yang terdengar dari barisan tersebut. Mereka berdiri kaku dalam keheningan total, menatap tajam ke arah Kaelen dan Lyra dengan sorot mata yang dipengaruhi oleh doktrin mutlak aliansi.

Di barisan paling depan, berdiri tiga orang tokoh senior berjanggut putih dengan lencana emas berkilau di dada—mereka adalah tiga tetua agung wakil pimpinan aliansi yang selama ini bertindak sebagai tangan kanan Grand Master Tian Guan.

Salah seorang dari tetua wakil pimpinan itu—seorang pria tua bertubuh kurus kering dengan sorot mata tajam bagai burung bangkai—maju beberapa langkah ke depan. Ia membawa sebuah tongkat kepala naga yang memancarkan pendaran cahaya kuning keemasan.

"Kaelen!" suara tetua itu melengking tajam, memecah kesepian lapangan pualam. "Kau telah lancang menghancurkan pos perbatasan, merobohkan wibawa Legion Surya Abadi, dan membunuh para pengawas setia aliansi. Sebagai hukuman atas kejahatanmu, hari ini kepalamu akan digantung di puncak menara ini sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani melawan hukum daratan tengah!"

Kaelen berhenti berjalan, berdiri berjarak sekitar lima puluh meter dari barisan ribuan kultivator tersebut. Ia menatap datar ke arah pria tua kurus di hadapannya, lalu mendengus pelan.

"Hukum daratan tengah?" suara Kaelen menggema tenang, namun cukup jelas untuk didengar oleh seluruh orang yang hadir di lapangan luas itu. "Hukum macam apa yang kalian junjung tinggi ketika kalian mencemari esensi purba, memperbudak jiwa-jiwa tak berdosa, dan merampas masa depan orang-orang yang tidak bersalah? Kalian bukanlah penegak keadilan, melainkan sekelompok penjahat berjubah suci yang berlindung di balik nama besar aliansi."

Wajah tetua kurus itu langsung berubah menjadi keunguan karena menahan amarah yang meluap-luap. "Mulut lancang! Bunuh dia! Hancurkan tubuhnya berkeping-keping!" teriaknya memberi aba-aba.

Seketika itu juga, ribuan kultivator di belakangnya berteriak serentak, melepaskan gelombang tenaga dalam dari berbagai elemen secara bersamaan. Semburan api, hantaman es, badai petir, dan tebasan pedang astral meluncur bersamaan bagai hujan meteor, menciptakan pemandangan destruktif yang mengerikan di atas lapangan pualam putih.

Lyra menarik napas tajam, tangannya dengan cepat merogoh kantung ramuannya untuk melepaskan pertahanan darurat. Namun, sebelum gadis itu sempat melemparkan botol racunnya, Kaelen mengangkat tangan kanannya perlahan ke udara.

"Biarkan aku yang menyambut keramahan mereka," ucap Kaelen datar.

Pemuda itu menghunus pedang baja gelap dari pinggangnya. Begitu bilah transparan itu terbebas dari sarungnya, cahaya biru keperakan di sekeliling mereka mendadak meledak keluar, membentuk kubah hampa raksasa yang menyelimuti Kaelen dan Lyra sepenuhnya.

Bum! Bum! Bum!

Ratusan serangan energi dari ribuan kultivator menghantam kubah hampa tersebut secara bertubi-tubi. Ledakan demi ledakan mengguncang fondasi lapangan pualam, menciptakan getaran yang terasa hingga ke dalam kota. Namun, alih-alih menembus atau meretakkan pertahanan Kaelen, setiap energi serangan yang menghantam kubah hampa itu justru mendadak tersedot ke dalam pusaran tak kasat mata, lenyap tanpa sisa seolah ditelan oleh jurang ketiadaan.

Para kultivator di barisan depan terbelalak ngeri. Mereka belum pernah melihat teknik pertahanan yang mampu melenyapkan energi serangan secara mutlak tanpa memancarkan getaran balik sedikit pun.

Kaelen tidak memberi mereka kesempatan untuk melancarkan gelombang serangan kedua. Ia mengayunkan pedangnya ke depan dalam satu tebasan vertikal yang anggun dan lambat.

Syuuung!

Garis cahaya hampa berbentuk sabit raksasa meluncur deras membelah udara lapangan pualam. Gelombang itu tidak menghasilkan ledakan dahsyat, melainkan menciptakan keheningan yang mencekam. Ketika sabit hampa tersebut melewati barisan ribuan kultivator aliansi, seluruh senjata di tangan mereka mendadak patah menjadi dua bagian secara bersamaan, dan barisan terdepan tersentak kaku sebelum akhirnya pingsan serentak akibat gelombang kejut spiritual yang langsung menghantam kesadaran mereka.

Tiga tetua wakil pimpinan aliansi terdorong mundur sejauh belasan meter, kaki mereka mencakar lantai pualam hingga meninggalkan goresan dalam. Pria tua kurus yang tadi berbicara dengan nada arogan memuntahkan darah segar dari mulutnya, sementara tongkat kepala naganya patah menjadi serpihan kayu kecil.

"I-ini... kekuatan apa ini..." bisik tetua itu gemetar, menatap Kaelen dengan mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa. Mereka menyadari bahwa jurang perbedaan kekuatan di antara mereka bagaikan langit dan bumi.

Kaelen melangkah tenang melewati barisan kultivator yang kini terkapar lemas di lantai giok putih. Tidak ada niat di hatinya untuk merenggut nyawa mereka secara membabi buta, sebab ia tahu sebagian besar dari para murid sekte itu hanyalah pion-pion bodoh yang didoktrin oleh para petinggi korup. Target utamanya berada di dalam menara.

Ambang Pintu Menara Utama

Dalam waktu singkat, Kaelen dan Lyra telah tiba tepat di depan gerbang raksasa Menara Utama Aliansi. Tiga tetua wakil pimpinan yang berusaha menghalangi jalan kembali bangkit dengan susah payah, namun mereka tidak lagi berani mendekat, hanya bisa memandangi punggung Kaelen dengan tubuh gemetar hebat.

Kaelen menatap pintu gerbang emas yang diukir dengan relief dewa-dewa purba tersebut. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu menempelkan telapak tangannya pada permukaan pintu.

"Tian Guan, keluarlah," panggil Kaelen, suaranya mengandung resonansi hampa yang langsung menggetarkan seluruh struktur menara emas setinggi ribuan kaki itu. "Waktunya bagi para penguasa bayangan untuk membayar seluruh hutang masa lalu."

Kreeek...

Pintu gerbang emas raksasa itu perlahan-lahan bergeser membuka ke dalam dengan sendirinya, seolah menyambut kedatangan tamu yang sudah lama dinantikan. Di balik pintu yang terbuka, terbentang sebuah aula interior yang sangat luas, diterangi oleh ratusan bola api spiritual yang melayang di udara.

Di ujung aula yang paling jauh, tepat di atas sebuah altar batu hitam berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh pilar-pilar api ungu, berdiri sosok pria paruh baya berjubah keemasan dengan rambut putih tersisir rapi—Grand Master Tian Guan. Pria itu berdiri dengan tangan bersidekap di dada, menatap tajam ke arah Kaelen dan Lyra yang melangkah masuk ke dalam aula utama.

"Selamat datang di tempat peristirahatan terakhirmu, wadah takdir," ucap Tian Guan dengan senyum dingin yang menggema di seluruh ruangan luas tersebut. "Altar penyerap jiwa sudah disiapkan. Mari kita akhiri drama panjang ini."

Udara di dalam aula mendadak membeku, menandakan dimulainya konfrontasi puncak antara sang penyelamat sejarah dan penguasa tertinggi daratan tengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!