NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - OTAKKU TIDAK RUSAK

Wulan melihat ekspresi Nalendra dan tiba-tiba merasa tidak yakin. Dosis "obat" yang ia berikan ini sepertinya terlalu keras. Jangan sampai ia menakutinya lagi. Lagi pula, dibandingkan dengan sikapnya sebelumnya terhadap pria ini, sikapnya sekarang bagai langit dan bumi — sama sekali tidak ada yang bisa dibandingkan. Sebelum ia sempat mengubah sikap, pria di hadapannya sudah lebih dulu menarik kesimpulan yang keliru. Wulan menarik napas panjang, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk membuktikan bahwa ia waras.

"Kau—" Nalendra memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Apakah kondisimu menjadi lebih baik?" Pertanyaan itu keluar dengan hati-hati, seolah ia sedang menghadapi sesuatu yang rapuh. Setengah heran, setengah waspada, Nalendra menunggu jawaban yang akan menentukan arah pembicaraan mereka.

Wulan tersedak. ". . Aku tidak sakit, aku normal." Ia segera membalas, berharap bisa menghentikan kecurigaan pria itu sejak awal. Namun kata-kata itu justru keluar seperti tamparan yang tidak meyakinkan.

Lihat, apa yang ia katakan — Nalendra benar-benar mengira ia sudah gila. Wulan ingin memukul dahinya sendiri. Ia tidak menyalahkan Nalendra sepenuhnya — siapa pun yang selama bertahun-tahun dijauhi dan tiba-tiba didekati, pasti akan bertanya-tanya apakah orang itu sudah kehilangan akal.

Wulan sedang memikirkan bagaimana menjelaskan perubahannya sebelum dan sesudahnya, ketika tiba-tiba ia mendengar suara pria yang menyenangkan dari arah pintu, "Nalendra, kau mengurung diri di Puri setiap hari, tidak keluar gerbang, tidak melangkah ke mana-mana. Aku mengira kau sedang hidup dalam pengasingan, kau tahu?" Nada suaranya santai dan akrab, seperti orang yang sudah sangat sering mengunjungi tempat ini. Suara itu begitu akrab di telinga Wulan — hanya satu orang yang berani memanggil Nalendra dengan nada sekendur itu, dan ia tidak pernah salah ingat. Ketika pintu terbuka, bayangan itu terwujud: Pangeran Panji, sahabat karib Nalendra sejak kecil. Suasana di ruangan itu langsung berubah.

Suara terakhir pria itu otomatis terdiam ketika ia melihat ada orang tambahan di dalam ruang kerja, dan digantikan oleh sedikit kebingungan. "Hah? Apakah ini... Nona Ketujuh?" Matanya menyipit, mencoba mengenali sosok di hadapannya.

Wulan mendongak dan melihat seorang pria jangkung berbaju hijau berdiri di depan pintu ruang kerja, menatapnya dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Karena terlalu kaget, kaki yang satunya belum sepenuhnya melangkah masuk, sehingga ia tetap mempertahankan postur aneh dengan satu kaki menggantung — seperti orang yang mengira telah mengenali orang yang salah. Wulan sempat menahan tawa melihat pemandangan konyol itu, tetapi ia memilih tetap diam dan menunggu orang itu sadar.

Nalendra meliriknya. "Masuk atau keluar, ingatlah untuk menutup pintu." Suaranya datar, tetapi jelas-jelas sebuah perintah. Nalendra tidak suka pintu dibiarkan terbuka — angin, suara, dan mata-mata bisa masuk lewat celah yang sama.

Cuaca hari ini agak dingin, dan angin utara yang menusuk masuk melalui celah pintu yang tidak tertutup. Tiupan itu membuat Wulan menggigil, dan Nalendra jelas menyadari reaksinya — tatapannya yang dingin itu sedikit melembut seketika. Angin utara itu seakan punya dua muka — menusuk bagi tamu, tetapi menjadi alasan bagi pemiliknya untuk lebih memperhatikan.

Melihat Nalendra tidak menyangkal, pria itu akhirnya sadar. Orang di depan matanya ini benar-benar Nona Ketujuh keluarga Ardani. Ia masuk, menutup pintu dengan rapat, lalu menatap Wulan dengan penuh minat, seolah sedang mengamati hewan langka. Ia duduk di kursi terdekat, menyilangkan kaki, dan mengamati Wulan dari ujung rambut sampai ujung kaki, seakan sedang mencoba mengingat kembali siapa gadis ini sebenarnya.

Wulan melirik Nalendra sekilas, lalu dengan patuh memberi hormat. "Wulan memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran Panji." Sikapnya rapi dan penuh tata krama — sesuatu yang jarang terlihat dari mulut Nona Ketujuh.

Pangeran Panji bahkan lebih terkejut lagi. Dengan penampilan yang santun seperti ini, mungkinkah orang ini benar-benar Nona Ketujuh keluarga Ardani yang manja dan keras kepala itu? Ini jauh dari sosok pemberani dalam ingatannya. Ia tidak lupa bahwa gadis kecil ini pernah bertengkar dengan anak keluarga Perdana Menteri Candra beberapa tahun lalu, dan memukulinya dengan sangat keras hingga ia tidak bangun dari tempat tidur selama tiga hari. Pangeran Panji masih ingat betul bagaimana keluarga Perdana Menteri Candra menuntut keadilan, dan bagaimana Adipati Pramana hampir menyerah membela putrinya yang tidak pernah mau mengalah. Ia menggeleng pelan mengingat kenangan itu.

"Apakah kau benar-benar Wulan?" Pangeran Panji mengusap dagunya sambil mengalihkan pandangannya kepada Nalendra, mencari konfirmasi.

"Ya." Wulan menjawab dengan datar. Ia juga tahu bahwa tindakan arogan yang ia lakukan selama beberapa tahun terakhir telah meninggalkan kesan pemberani di mata Yang Mulia. Ia tidak menyesali masa lalunya; yang ia sesali hanyalah cara-cara yang ia tempuh untuk mengejar hal yang keliru.

Identitas Pangeran Panji di hadapannya tidaklah sederhana. Ibunya, Selir Marina, adalah putri sah dari klan Manggala di Kota Waringin — sebuah nama yang membuat siapa pun yang mendengarnya harus berpikir dua kali. Bahkan para menteri senior di istana menimbang-nimbang kata-kata setiap kali berhadapan dengan klan itu.

Di mana klan Manggala di Kota Waringin itu? Itu adalah klan yang hampir berbagi dunia dengan keluarga kerajaan Kesultanan Tirtaloka. Terlebih lagi, Selir Marina yang kedudukannya kedua setelah permaisuri ini memiliki temperamen yang lembut dan berbudi luhur. Ia tidak pernah tertarik untuk memperebutkan kekuasaan. Dalam persaingan di antara para selir, temperamen yang tenang seperti itu justru sangat disayangi oleh Sultan Kanaka, dan kasih sayang itu terus bertahan selama bertahun-tahun tanpa pernah pudar. Kehadirannya di tengah istana menjadi penyeimbang yang membuat persaingan para selir tidak pernah berubah menjadi perang terbuka, dan Sultan Kanaka menghargainya dengan kepercayaan yang langka.

Pangeran Panji dan Nalendra sebaya dan selalu menjadi sahabat baik. Dapat dikatakan bahwa Nalendra tumbuh besar dalam pengasuhan Selir Marina, sehingga ia secara alami memiliki kasih sayang yang berbeda terhadap keluarga pangeran itu dibanding yang lain. Ikatan itu pulalah yang membuat Pangeran Panji bebas datang dan pergi dari Puri Senja kapan pun ia mau.

Di kehidupan lampau, meskipun Pangeran Panji tidak menyukai perbuatan tercela yang dilakukan Wulan bersama Pangeran Cendana, demi Nalendra ia tetap menjaganya dengan baik setelah Nalendra tiada. Wulan masih mengingat — ketika ia wafat, Pangeran Panji sudah ditetapkan sebagai putra mahkota. Jika tidak ada halangan, orang inilah yang akan menjadi Sultan Tirtaloka berikutnya. Menyadari itu, Wulan diam-diam bersyukur — setidaknya di kehidupan ini ia berada di pihak yang benar, dan orang-orang yang ia sayangi memilih jalan yang lurus.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!