Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Sore hari di kediaman dua lantai itu terasa menegang. Alexa berdiri di ruang tamu, terkejut mendapati sosok Siena ibu kandungnya sendiri yang mendadak berdiri di ambang pintu. Raut wajah Siena tampak menahan amarah yang membara.
Sejak tadi pagi, Alexa sebenarnya sudah merasa aneh. Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa jadwal dokter kandungannya diundur secara mendadak. Bukan itu saja, Ben juga datang di pagi hari dan berkata tidak bisa mengantarkannya ke rumah sakit karena ada urusan darurat. Ketika Alexa berkata ingin naik taksi online saja, Ben langsung berubah pucat dan dengan suara pelan memohon agar Alexa tidak pergi sendiri karena ia bisa mendapat hukuman berat dari tuannya. Alexa yang tidak ingin membuat orang lain terkena masalah akhirnya mengalah dan memilih menunggu hingga sore.
Namun, yang tidak ia sangka adalah kedatangan Siena. Mereka sudah enam bulan tidak saling menyapa, tepatnya sejak pernikahan Alexa dan Lucas dilaksanakan. Saat itu Siena menentang keras dan mengancam akan membuang Alexa dari keluarga Ebera jika tetap nekat merebut tunangan bibinya sendiri.
Alexa menyuguhkan secangkir rose tea hangat ke atas meja. Dalam hatinya, ada setitik harapan polos bahwa kedatangan sang ibu adalah untuk menjenguk dirinya dan janin di dalam kandungannya.
"Silakan diminum, Mama," ucap Alexa pelan, menyunggingkan senyum hangat yang tulus.
Siena tidak menyentuh cangkir itu sedikit pun. Ia menatap Alexa dengan pandangan sinis dan dingin.
"Apakah kamu merasa sangat bahagia setelah berhasil merebut Lucas dari Catherine?" tawa sinis lolos dari bibir Siena.
"Kamu sangat menjijikkan, Alexa. Bahagia di atas penderitaan Catherine selama ini!"
Senyuman di wajah Alexa seketika lenyap. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Harapan hangatnya pupus seketika. Kedatangan mamanya ternyata hanya untuk memojokkannya kembali.
Namun Alexa berusaha keras menetralkan emosinya. Ia menghela napas panjang, menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan ketenangan yang dipaksakan. Ia menyadari dosanya di masa lalu, dan ia paham bahwa untuk mendapatkan ampunan, ia harus menerima perlakuan pahit ini.
"Apakah Mama baik-baik saja?" tanya Alexa pelan, suaranya terdengar pasrah.
"Aku jauh lebih baik setelah kamu pergi dari rumah!" semprot Siena tajam. Matanya menatap Alexa penuh kebencian.
"Aku datang ke sini hanya untuk memperingatkanmu. Semalam Catherine menelponku sambil menangis. Dia bilang kamu sengaja mengganggu waktunya bersama Lucas di Sydney!"
Tubuh Alexa membeku. Jadi Bibinya Catherine dan Lucas benar-benar menghabiskan waktu berduaan semalam? Hatinya tercubit parah mendengar penegasan itu dari mulut ibunya sendiri.
"Kamu harus sadar diri, Alexa!" lanjut Siena tanpa empati.
"Jangan pernah mengganggu kebahagiaan Catherine lagi. Kamu sudah merusak hidupnya cukup banyak!"
Alexa menatap ibunya dengan binar mata yang terluka, namun raut wajahnya tetap berusaha biasa saja.
"Mama... aku tidak bermaksud mengganggu mereka. Semalam aku menelpon Lucas hanya untuk menanyakan berkas nikah, karena hari ini aku mau ke rumah sakit memeriksa kandunganku."
Siena melirik sebentar ke arah perut buncit Alexa yang memasuki delapan bulan. Ia menghela napas berat tanpa ada raut kebanggaan sedikit pun.
Siena beranjak berdiri dari kursinya, merapikan tas mewahnya. "Aku tidak peduli apa alasanmu. Yang jelas, jangan buat masalah lagi. Aku sangat malu punya anak sepertimu!"
Kata-kata itu menghantam Alexa telak. Ia diam mematung, tak percaya kalimat sekejam itu keluar dari bibir ibu kandungnya sendiri.
Dengan anggukan pelan dan senyum getir, Alexa meremas jemarinya. "Baik, Mama. Aku berjanji... aku tidak akan mengganggu Lucas dan Bibi Catherine lagi ke depannya."
Siena berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa memedulikan putrinya lagi.
Klek.
Begitu pintu utama dibuka, Siena mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak kaget. Di balik pintu, berdiri dua orang pria berjas rapi yang tampak membeku dengan aura menekan.
Lucas Damarion Clinton dan Ben.
Wajah Lucas tampak sangat gelap. Mata abu-abu gelapnya berkilat penuh amarah yang tertahan.
Siena tersentak. Apakah Lucas mendengar semua ucapannya tadi? Tapi Catherine bilang semalam Lucas ada di Sydney, kenapa sekarang pria itu sudah berdiri di sini?.
Siena berusaha menutupi rasa gugupnya dan menyunggingkan senyum canggung. "L-Lucas? Kamu sudah pulang dari—"
Belum sempat Siena menyelesaikan kalimatnya, Lucas menyelonong masuk begitu saja melewatinya tanpa memandangnya sedikit pun. Pria itu melangkah tegas menuju dalam rumah, mengabaikan keberadaan Siena sepenuhnya.
Siena terpaku di tempatnya, merasa diabaikan. Namun sebelum ia sempat memprotes, Ben yang berdiri di dekat pintu menatap Siena dengan raut wajah tidak percaya yang sangat dingin.
"Nyonya Siena," panggil Ben dengan nada kaku dan penuh kekecewaan.
"Ada apa, Ben?" sahut Siena ketus.
Ben menatap lurus ke dalam mata ibu Alexa tersebut. "Baru kali ini saya menemukan seorang ibu yang tega mengolok-olok putri kandungnya sendiri, lalu mengancamnya hanya demi kebahagiaan orang lain."
Siena melotot tajam. "Apa katamu?! Berani sekali kamu—"
"Permisi," pangkas Ben kaku. Ia berbalik dan melangkah masuk mengikuti tuannya, meninggalkan Siena yang mengepalkan tangannya erat-erat di halaman dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah.
Di dalam ruang tamu, Alexa yang masih berdiri menunduk terkejut saat mendengar langkah kaki tegap mendekatinya. Ketika ia mendongak, matanya bertabrakan dengan iris abu-abu gelap milik Lucas.
Alexa terpana. "L-Lucas? Kenapa kamu... bukankah seharusnya kamu masih di Sydney?"
Lucas berhenti tepat di hadapan Alexa. Tatapannya tertuju pada raut wajah istrinya yang pucat dan sisa air mata yang mengering di pipinya. Napas Lucas terdengar memburu, menahan gejolak emosi luar biasa akibat kalimat-kalimat kejam yang baru saja ia dengar dari ibu mertuanya sendiri.
"Siapa yang mengizinkan wanita itu menginjakkan kaki di sini?" desis Lucas dengan suara rendah yang sangat berbahaya.
Alexa menggeleng pelan. "Dia mamaku, Lucas..."
"Dia bukan ibu yang baik," potong Lucas kaku dan tegas. Pria itu melangkah satu tindak mendekat, menatap lurus ke dalam mata biru Alexa.
"Dan soal percakapanmu tadi..."
Alexa menundukkan kepalanya, mengelus perutnya yang mendadak bergetar pelan. "Aku sudah bilang pada Mama... aku tidak akan mengganggumu dan Bibi Catherine lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Alexa!" suara Lucas membentak pelan, dipenuhi frustrasi yang mendalam. Tangannya terangkat, bergetar di udara sebelum akhirnya mencengkeram lembut kedua bahu Alexa.
"Dengar aku baik-baik. Aku tidak pernah tidur dengan Catherine. Aku tidak pernah menyentuhnya!"
Alexa mendongak, tertegun menatap mata suaminya yang memancarkan kejujuran dan rasa takut yang teramat sangat.
"Aku pulang dari Sydney naik jet pribadi jam tiga subuh hanya untuk ini," pangkas Lucas dengan nada suara melunak namun kentara terdesak.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke rumah sakit sendirian. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu mendaftarkan anak ini sebagai orang tua tunggal."
Alexa membisu. Di balik ketenangannya, dada wanita itu bergemuruh hebat menyaksikan tatapan mata Lucas yang untuk pertama kalinya tidak lagi memancarkan rasa jijik atau dingin, melainkan sebuah keputusasaan yang begitu nyata.
Bersambung...
Mama Alexa aneh banget yaa? Tau sih sayang sama adiknya tapi kok agak aneh gitu ya? Ada yang bisa berpendapat soal ini?.🫣
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor