Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
Digo sendiri langsung panik dan mendekat, "Tuan, kalau anda sangat butuh saham itu kita bisa memaksanya untuk menyerahkan saham itu kepada kita. Tanpa harus menyetujui permintaannya," bisik Digo, tetapi Kenzo tak menanggapi. Dia justru terus menatap Mateo dengan tatapan serius dan tak berkedip.
'Sungguh benih Kenzi, kalau sampai aku ketemu dia akan ku hajar itu anak! Berani banget main tanpa pengaman,' batin Kenzo yang terus meronta-ronta.
"Saham kamu itu sebenarnya tidak terlalu bernilai. Karena ada yang lebih bernilai dari saham itu, hanya saja saya bukan orang yang menyerah dan mau kalah. Itu sebabnya saya ingin saham itu, tetapi kalau itu syaratnya, mohon maaf adik kecil. Kamu salah menarget orang, tidak sembarangan orang bisa saya nikahi apalagi masuk ke keluarga De Luca." Pungkas Kenzo dengan tegas, tetapi Mateo hanya menatapnya jenuh, dan mengangkat kedua bahu seakan tak peduli dengan ucapan Mateo.
"Ya sudah, kalau nggak mau. Saya juga nggak maksa," ujar Mateo, lalu berjalan ke arah tempat di mana Alisya menunggu. Namun, tangan Kenzo lebih cepat bergerak dari kaki Mateo yang melangkah, dia berhasil menarik beberapa helai rambut anak itu. Dan lebih tepatnya Mateo menyadari itu tetapi dia diam saja.
"Digo, tolong kamu tes DNA rambut ini dengan Kenzi, kita masih punya sampel darah dia di laboratorium," semua sampel darah keluarga De Luca ada di laboratorium termasuk punya Ara. Semua itu demi kepentingan keluarga.
"Baik, Tuan." Sahut Digo.
"Kenapa harus Tuan Kenzi? Bagaimana kalau kita tes dua-duanya," tanya Digo kemudian. Kenzo menoleh tatapannya menusuk, tetapi tak membantah. Meskipun ingin menyangkal, tetapi saat dia menatap anak itu intuisinya berkata kalau keduanya ada hubungan darah yang sangat kental, tetapi Kenzo tak yakin miliknya atau milik adiknya, Kenzi.
Suara langkah kaki seseorang terdengar beradu cepat dengan lantai marmer saat ia berjalan tergesa-gesa memasuki ruang sekuritas yang luas itu.
Pintu kaca otomatis terbuka, membiarkan sosok tersebut melangkah masuk di tengah hiruk-pikuk para pialang dan investor yang sibuk memantau layar-layar digital penuh angka transaksi. Beberapa orang sempat menoleh, sementara suara dering telepon dan percakapan bernada serius tetap memenuhi ruangan, menambah kesan tegang seolah keputusan penting sedang menunggu untuk diambil.
Namun, fokus wanita itu bukan pada hal itu. Tetapi, pada dua bocah yang terlihat jauh duduk di meja tunggu, di depan bocah laki-laki ada bocah perempuan yang terlihat menggemaskan.
"Mateo, Chacha!" panggil Maya dengan suara yang cemas. Kedua bocah itu menoleh, Kenzo dan Digo yang tengah berbicara juga menoleh saat tahu ada seorang wanita menghampiri mereka.
"Bibi Maya, ngapain di syini?" tanya Alisya.
"Bibi Maya kerja di sini," sahut Mateo, Alisya langsung mengerutkan keningnya.
"Oh, kok aku Ndak tau?" Alisya menatap Mateo dengan raut wajah polosnya.
"Nggak penting juga." Cara bicara Mateo, dan tatapannya serta wajahnya yang tegas, membuat Kenzo semakin yakin memang benih keluarga De Luca. Dia hanya perlu membuktikan ini miliknya atau milik adiknya.
Begitu Maya berdiri dengan benar dan berbalik, dia melihat Kenzo dan asistennya, Digo. Kenzo tentu sangat di kenal di area sekuritas itu. Dirinya memimpin perusahaan investor terbesar yang kini di kenal nama sebagai De Luca.
"Selamat siang, Tuan Kenzo." Sapa Maya sopan sembari membungkuk.
"Emm, itu anak kamu?" tanya Kenzo, hal itu membuat Maya terkejut, lalu menoleh ke arah Mateo dan Alisya.
'Apa yang anak ini lakukan? Apa dia menyinggung orang sebesar Tuan Kenzo? Matilah sudah,' Maya memejamkan matanya sebentar.
"Maaf, Tuan. Apa mereka membuat anda tersinggung? Kalau iya saya meminta maaf. Tolong maafkan mereka," ucap Maya bersungguh-sungguh, dia tak ingin Mateo ataupun Alisya mendapatkan masalah karena menyinggung Kenzo.
"Bibi Maya, aku ingin bertemu dengan pialang ku," ujar Mateo yang mendekat sembari menunjukan layar Ipad-nya pada Maya. Wanita itu menoleh padanya dan tersenyum canggung saat melirik Kenzo.
"Apa kamu menghabiskan tabungan mu lagi?" tanya Maya, Mateo mengangkat kedua bahunya seakan pertanyaan itu tak membuatnya menarik.
"Tolong panggil pialang ini!" titah Mateo lagi dengan kesal.
"Tunggu, biar Bibi cek dulu," ujar Maya, lalu memeriksa akun milik Mateo, betap terkejutnya dia. Ternyata pialang Mateo adalah dirinya sendiri.
"Ini serius? Kenapa kamu bisa jadi pialang Bibi? Harusnya kamu memiliki saham lebih dari sepuluh baru akun kamu dituju padaku," ujar Maya tak percaya dia menatap Mateo yang kini berdiri sembari bersedekap.
"Bibi Maya, terlalu lamban. Aku sudah memiliki saham lebih dari dua puluh," kata Mateo sembari membuat jari dengan angka dua. Kedua mata Maya melebar, pandangan Kenzo juga tak bisa berbohong dia kagum pada Mateo, yang ternyata punya kebiasaan seperti dirinya yang sering diam-diam membeli saham tanpa sepengetahuan Tasya, saat masih kecil, demi ambisinya yang luar biasa.
"Tuan, anak ini tak bisa di remehkan. Dia memiliki saham sedikit kecil di bawah kita. Ini mungkin akan jadi saingan kita," bisik Digo.
"Lakukan apa yang sudah ku perintahkan, dan hubungi Dokter Almond. Minta dia buat memeriksa tes DNA segera!" titahnya Digo mengangguk dan langsung mngeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Permisi," ucap Kenzo mendekat, Maya berbalik dan terkejut melihat Kenzo berbicara dengan mereka. Mateo mengintip dari sisi tubuh Maya, dan Alisya juga terlihat menyukai pria itu, wajah cantiknya terlalu mengemaskan saat dia tersenyum.
"Apa tawaranmu tadi masih berlaku?" tanya Kenzo.
"Maaf, Tuan. Tawaran apa ya?" tanya Maya bingung.
"Saya berbicara dengannya," kata Kenzo menunjuk ke arah Mateo.
"Hah?!" Maya terlihat terkejut, anak sekecil Mateo membuat penawaran dengan orang dingin seperti Kenzo.
'Mati sudah! Apa yang anak ini lakukan?! Tata tolong! Anakmu akan menggali kuburan kita semua!', Maya berteriak dalam hatinya, situasinya tidak baik untuk dia sekarang.
"Tuan, saya rasa mungkin anak ini salah mengenal orang. Dia tidak tahu jika And..." Kenzo mengangkat tangan ke arah Maya dan itu memotong kalimat Maya barusan.
"Bagaimana?" tanya Kenzo pada Mateo.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
"Hah?! Menikah?" teriak Maya dengan terkejut dan langsung membuat kepalanya pusing.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅