NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Puing-Puing Kebenaran

Pagi setelah Pengadilan Rakyat, Desa Batu Giok tidak lagi sunyi.

Mobil polisi dari Polres Distrik Surya memenuhi jalan depan balai desa. Warga berdiri di balik pagar, sebagian masih memegang ponsel, memutar ulang potongan siaran semalam. Kata Hakim terdengar di mana-mana seperti nama hantu baru yang semua orang takuti sekaligus cari.

Wisnu Marpaung dibawa keluar dari rumah dengan tangan diborgol.

Wajahnya abu-abu. Matanya cekung. Ia terus menggumam kalimat yang sama.

"Saya yang melakukannya... saya yang melakukannya... jangan tutup mukaku lagi..."

Tidak ada lagi suami sedih. Tidak ada lagi ayah tiri yang berlutut memukul tanah. Topengnya tertinggal di Mimpi Neraka.

Kompol Yudha memimpin penangkapan formal tanpa membiarkan warga mendekat.

"Tersangka dibawa untuk pemeriksaan lanjutan. Semua rekaman pengakuan diamankan. Tidak ada yang main hakim sendiri," katanya kepada petugas.

Seorang warga berteriak, "Pak, dia sudah dihakimi semalam!"

Yudha menoleh. "Negara tetap harus bekerja pagi ini. Minggir."

Raka berdiri di sisi pos bersama Kribo. Ia melihat Yudha menavigasi kekacauan itu dengan wajah keras. Pengakuan Wisnu semalam disaksikan seluruh negeri, tapi hukum tetap butuh bentuk: berita acara, pemeriksaan ulang, pendampingan hukum, bukti fisik, saksi, pasal.

Yudha memerintahkan semua petugas bekerja seperti tidak ada siaran gaib. Rekaman nasional boleh menjadi petunjuk, tapi berkas perkara harus berdiri di atas kaki sendiri. Ponsel Wisnu disita. Pakaian malam kejadian dicari. Saluran septik dipasang garis polisi. Semua saksi dicatat ulang, termasuk tetangga yang mendengar Dewi menangis dan warga yang melihat Marlina membakar sesSatu di belakang rumah.

"Jangan ada satu halaman pun yang cuma menulis karena Hakim bilang begitu," kata Yudha kepada Dimas. "Kalau jaksa bertanya, kita jawab dengan bukti manusia."

Dimas mengangguk. "Siap, Pak."

Di ruang pemeriksaan, Wisnu tidak lagi melawan.

Kamera menyala. Dimas duduk dengan pena siap.

Yudha bertanya, "Saudara Wisnu Marpaung, tanpa tekanan fisik dari penyidik, apakah Anda bersedia memberikan keterangan?"

Wisnu mengangguk cepat. "Saya mau. Saya mau semua selesai."

"Jelaskan malam kejadian."

Wisnu menangis sebelum kalimat pertama selesai.

"Saya tidak mau anak itu. Ratih selalu membela Dewi. Uang dari Bagus tidak cukup. Saya marah setiap kali bayi itu menangis. Saya kasih jelly ke Jono, saya bilang kasih Dewi. Saya tahu Dewi bisa tersedak. Saya pikir... kalau terjadi sesSatu, orang akan menyalahkan Jono atau Bagus."

Dimas berhenti menulis sepersekian detik, lalu melanjutkan.

"Dewi langsung meninggal karena jelly?"

Wisnu menggeleng keras, wajahnya hancur. "Belum. Dia masih bergerak. Masih batuk. Saya panik. Saya ambil boneka. Saya tutup wajahnya. Dia... dia berhenti."

Di balik kaca, Raka mengepalkan tangan.

Yudha bertanya lagi, suaranya dingin. "Siapa membantu membersihkan?"

"Ibu. Marlina. Saya suruh bersihkan kamar mandi bawah. Boneka saya buang, tapi mungkin tersangkut. Ibu kemudian buang lagi waktu tahu boneka itu dicatat polisi."

Pengakuan itu formal. Jelas. Terekam. Tidak lagi bergantung pada siaran misterius.

Marlina ditangkap satu jam kemudian.

Awalnya ia masih menangis dan menyangkal. Tapi saat Yudha memutar ulang pengakuan Wisnu, bahunya runtuh.

"Dia anak saya," bisiknya. "Saya tidak bisa biarkan dia masuk penjara. Saya pikir kalau semua bersih, Ratih akan percaya Dewi dibawa orang. Saya salah... tapi dia anak saya."

Yudha menutup map. "Dewi juga anak seseorang."

Marlina tidak menjawab.

Siang itu, Yudha mendekati Raka di depan pos. Di kejauhan, Wisnu dan Marlina sudah berada di mobil tahanan terpisah.

"Kamu lebih berbakat dari kebanyakan detektif yang kukenal," kata Yudha.

"Saya cuma beruntung, Pak."

"Aku benci jawaban itu." Yudha menatapnya. "Fenomena semalam. Layar-layar itu. Kamu tahu sesSatu?"

Raka sudah menyiapkan kebohongan, tapi saat bertemu mata Yudha, kebohongan itu terasa terlalu ringan.

"Saya tahu sebanyak orang lain, Pak. Ada yang menampilkan bukti. Bukti itu benar."

"Itu bukan jawaban."

"Saya tahu."

Yudha diam lama. Ia jelas tidak puas. Tapi ia juga tidak memaksa.

"Untuk sekarang, aku akan peduli pada fakta bahwa bayi delapan bulan mendapat keadilan. Tapi Raka... orang yang bisa menemukan kebenaran secepat kamu biasanya punya harga yang harus dibayar. Jangan sampai kamu terlambat sadar."

Raka menunduk. "Saya ingat, Pak."

Di rumah Ratih, suasananya lebih sepi.

Ratih duduk di lantai memegang foto Dewi. Bagus duduk tidak jauh darinya. Tidak ada rekonsiliasi indah. Tidak ada janji kembali bersama. Hanya dua orang tua yang akhirnya punya nama untuk monster yang mengambil anak mereka.

"Terima kasih," kata Ratih kepada Raka saat ia datang berpamitan. "Kamu satu-satunya yang percaya waktu semua orang bilang saya gila."

Raka menggeleng. "Ibu yang baik tidak berhenti mencari anaknya. Saya hanya mendengar."

Bagus berdiri. "Kalau saya lebih berani..."

"Pak Bagus," potong Raka pelan, "rekaman Anda membantu membongkar semuanya. Dewi tidak bisa kembali, tapi suara yang Anda simpan membuat pembunuhnya tidak bisa lari."

Bagus menangis lagi, kali ini tanpa menyembunyikannya.

Di halaman belakang rumah Lina, Jono duduk di bangku bambu. Lina berdiri di sampingnya saat Dimas menjelaskan keputusan polisi: Jono tidak ditahan, tidak dijadikan tersangka. Ia akan dicatat sebagai saksi rentan dan korban manipulasi.

Lina menutup mulut. Air matanya jatuh.

"Jono tidak masuk penjara?"

"Tidak," kata Raka. "Jono tidak jahat."

Jono menatap Raka. "Dewi marah sama Jono?"

Raka berjongkok di depannya.

"Tidak. Dewi tahu Jono tidak ingin menyakiti."

Jono mengangguk pelan, meski mungkin ia belum benar-benar mengerti. Lina menggenggam bahunya lebih erat.

Malamnya, Raka membuka Buku Penghakiman.

Ia menulis entri penutup: Wisnu Marpaung mengaku secara formal; Marlina ditangkap sebagai pembantu kejahatan; Jono dibebaskan dari tuntutan; kasus masuk proses penyidikan Polres Distrik Surya.

Halaman itu menerima tulisannya, tapi tidak ada hadiah turun.

【Kasus formal belum sepenuhnya ditutup.】

【Hadiah ditunda hingga verifikasi akhir.】

Raka menutup buku.

Di luar sana, Indonesia belum berhenti ribut.

#SiapaSiHakim menjadi tagar nomor satu. Potongan wajah Wisnu, suara Jono, dan logo Pengadilan Rakyat tersebar di mana-mana. Pemerintah membentuk tim khusus untuk menyelidiki pembajakan layar nasional. Pakar digital bicara di TV. Polisi siber mencari sumber sinyal. Tidak ada jejak.

Sebagian orang menyebut Hakim penyelamat. Sebagian lagi menyebutnya ancaman yang lebih berbahaya daripada kriminal mana pun, karena tidak ada lembaga, tidak ada alamat, tidak ada tanda tangan yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Komentator berdebat sampai suara mereka pecah. Menteri berjanji akan menemukan pelaku. Ahli keamanan siber mengaku belum pernah melihat serangan yang tidak meninggalkan pintu masuk.

Raka membaca semua itu dengan perut berat. Semalam, ia merasa seperti membuka jendela untuk Ratih. Pagi ini, ia sadar jendela itu terlihat dari seluruh negeri.

Kribo membaca berita dari laptop, wajahnya tegang. "Mereka nyari Hakim."

Raka menatap layar gelap Buku Penghakiman.

"Biarkan mereka mencari."

"Kalau mereka menemukan?"

Raka tidak langsung menjawab.

Keadilan untuk Dewi sudah datang. Tapi di puing-puing kebenaran itu, sesSatu yang lebih besar baru saja bangun dan memperkenalkan dirinya kepada seluruh negeri.

Hakim.

Dan Raka adalah satu-satunya orang yang tahu suara itu tinggal di dalam kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!