Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 25_DARAH DI ATAS PUALAM
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 25_DARAH DI ATAS PUALAM
Klik.
Suara pintu kaca yang tergeser pelan mendadak memutus keheningan mencekam di dalam ruang pantri. Sesosok bayangan tinggi tegap melangkah masuk, memotong sisa cahaya dari koridor eksekutif yang sunyi. Cinta yang baru saja menyeka sisa noda merah di jarinya langsung menegakkan tubuh, menatap tajam ke arah pintu. Jantungnya bertalu lebih cepat saat mendapati Tuan Maxim sudah berdiri di hadapannya.
Pria itu melangkah lambat dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana kain gelapnya. Wajah tampan Maxim tampak begitu bersih dari emosi, sekaku batu, seolah-olah dia murni hanya sedang lewat. Namun, sepasang mata hitamnya yang pekat menatap lurus ke arah ujung bibir Cinta yang robek, di mana setitik darah segar kembali merembes keluar.
Di dalam dadanya, Maxim sedang menahan gejolak kemurkaan yang luar biasa dahsyat. Menyaksikan wanita yang dia inginkan ditampar oleh Valen di depan matanya sendiri murni menyulut sisi gelapnya. Namun, ego besar sang penguasa menuntutnya untuk tetap memakai topeng bos es yang tak tersentuh. Dia menolak menyerah pada gairahnya dan membiarkan Cinta tahu seberapa besar kuasa wanita itu atas emosinya.
Cinta mati-matian menguasai ekspresi wajahnya. Dia menolak terlihat menyedihkan atau kehilangan kendali di depan sang target utama, terutama setelah harga dirinya diinjak-injak oleh Valen sebagai penipu rendahan. Dengan gerakan cepat yang diusahakan tetap anggun, Cinta menyugar rambut gelombangnya ke depan bahu, mencoba menyembunyikan pipi kirinya yang mulai membengkak.
"Tuan Maxim... Anda butuh sesuatu?" tanya Cinta dengan nada suara yang diatur seprofesional mungkin, meskipun napasnya masih sedikit memburu karena sisa syok. "Nyonya Valen baru saja pergi beberapa menit lalu."
Maxim tidak langsung menjawab. Dia terus melangkah maju dengan keheningan yang mengintimidasi, mengikis jarak di antara mereka hingga Cinta kembali terdesak mundur, menempel pada tepi meja marmer putih pantri.
Tanpa aba-aba, Maxim menarik tangan kanannya dari saku. Bukannya merengkuh atau membongkar obsesinya, jemari kokoh Maxim bergerak maju, mencengkeram dagu Cinta dengan tekanan yang tegas dan dingin, memaksa wajah wanita itu untuk mendongak menatapnya.
Maxim merogoh saku jas biru dongkernya dengan tangan kiri, mengeluarkan selembar saputangan sutra putih bersih bersulam inisial namanya. Dengan gerakan yang sangat lambat, dingin, namun sarat akan penekanan yang menuntut, Maxim menempelkan kain lembut itu pada luka di bibir Cinta, menyeka tetesan darah segar di sana dengan saputangannya sendiri.
"Saya tidak suka sekretaris pribadi saya kembali ke meja kerja dengan wajah berantakan seperti ini, Nona Cinta," suara bariton Maxim keluar dalam bisikan yang sangat rendah, berat, dan sedingin es, membungkus kemarahan pribadinya dalam bentuk teguran profesional seorang bos besar. "Tindakanmu yang membiarkan dirimu ditampar seperti ini... murni merusak citra profesional yang saya minta di lantai eksekutif."
Cinta menahan napasnya samar, tubuhnya mendadak kaku di bawah cengkeraman tangan kokoh Maxim. Sentuhan saputangan di bibirnya mengirimkan desiran aneh yang hebat di dadanya. Namun, tuduhan dingin Maxim yang menyebutnya merusak citra kantor alih-alih mengkhawatirkannya, mendadak menyulut rasa jengkel dan dongkol di hati Cinta.
"Ini hanya kesalahpahaman kecil dengan Nyonya Valen, Tuan Maxim," kilah Cinta dengan nada ketus yang tertahan, matanya menatap berani ke dalam manik mata hitam sang bos. "Saya bisa merapikan riasan saya dalam waktu HTML lima menit dan kembali bekerja tanpa mengganggu pandangan mata Anda yang terhormat."
Maxim mencondongkan wajah tampannya sedikit lebih dekat, hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint menerpa permukaan bibir berdarah Cinta. Seringai tipis yang sarat akan dominasi terselubung terukir di sudut bibirnya. Dia menikmati bagaimana wanita manipulatif di hadapannya ini mencoba bertahan menggunakan harga dirinya yang terluka.
"Pastikan kamu melakukannya dengan benar," desis Maxim, getaran suaranya begitu berat dan mengikat, mengunci pergerakan Cinta dalam sekejap. "Karena jika saya melihat ada staf lain—termasuk istri saya sendiri—kembali mengusik ketenangan di lantai ini dan mengacaukan konsentrasinya kerja sekretaris saya, saya tidak akan segan-segan mengambil tindakan yang jauh lebih ekstrem dari sekadar teguran. Simpan saputangan ini, obati lukamu, lalu kembali ke mejamu di dalam ruanganku sekarang juga."
Maxim melepaskan cengkeraman tangannya di dagu Cinta secara kasar, melemparkan saputangan sutra bernoda darah itu ke atas meja marmer, lalu berbalik melangkah lebar meninggalkan ruang pantri dengan keangkuhan mutlaknya yang sedingin es.
Cinta terengah-engah di tempatnya berdiri, memegangi dagunya yang masih terasa panas akibat bekas tekanan jemari Maxim. Dia menatap pintu kaca yang bergoyang dengan rasa dongkol, kesal, sekaligus kebingungan yang berlapis-lapis di kepalanya. Pria egois sialan! Dia marah murni hanya karena wajahku merusak pemandangan kantornya? rutuk Cinta habis-habisan dalam batinnya sembari menyambar saputangan putih itu dengan geram. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, getaran bahaya dari sikap protektif terselubung Maxim barusan meninggalkan rasa penasaran baru yang semakin menantang jiwa pemburunya untuk memenangkan perang mental ini.
Setelah merapikan riasannya di cermin pantri dan memastikan bedak tebalnya menyamarkan lebam di pipi, Cinta melangkah kembali ke dalam ruangan CEO. Dia mendudukkan diri di kursi kerja oak barunya yang terletak hanya berjarak beberapa meter di sudut kanan meja kebesaran Maxim. Kotak barang pribadinya dia rapikan kembali dengan gerakan ketat yang sengaja dibuat berisik.
Sisa sore hari itu berubah menjadi panggung perang dingin yang luar biasa tegang dan mencekam. Tidak ada sebaris kalimat pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Ruangan luas yang ber-AC dingin itu murni hanya diisi oleh suara ketukan jemari Cinta yang beradu cepat di atas papan ketik komputer, serta gemeresik lembaran berkas yang dibalik secara ritmis oleh Maxim.
Namun, di balik keheningan yang tampak profesional itu, sebuah permainan psikologis yang melelahkan sedang bergulir tanpa henti. Mereka berdua diam-diam saling mengawasi dan melempar radar pengintaian satu sama lain.
Cinta duduk dengan punggung tegak kaku, matanya menatap lurus ke arah layar monitor dengan dahi berkerut dalam, berpura-pura sangat fokus mengetik laporan kuartal perusahaan. Namun, setiap beberapa menit sekali, sepasang mata jelinya secara samar melirik dari sudut matanya, mengintai pergerakan Maxim di balik meja marmer hitamnya. Rasa dongkol, kesal, dan terhina akibat tamparan Valen siang tadi bercampur baur dengan rasa penasaran gila tentang motif asli di balik ketertarikan bosnya.
Cinta memperhatikan bagaimana Maxim duduk dengan wibawa angkuhnya yang mutlak, membaca dokumen dengan rahang yang masih mengeras sempurna. Dia pura-pura tidak peduli, batin Cinta mendongkol penuh intrik. Tapi dia sengaja mengurungku di ruangan ini agar dia bisa mengawasiku sepanjang waktu. Sikapnya yang sok disiplin itu murni hanyalah kedok untuk menutupi fakta bahwa dia terganggu oleh kehadiranku.
Maxim sendiri bukannya tidak menyadari pengintaian sekretaris pribadinya. Di balik tumpukan berkas analisis pasar properti, sepasang mata hitam sang CEO sesekali melirik tajam ke arah meja oak baru milik Cinta. Dia bisa merasakan dengan sangat jelas gelombang kemarahan, dendam yang membara pada Valen, serta rasa tidak rela yang memancar kuat dari tubuh ramping sekretarisnya itu.
Setiap kali Cinta bergerak, membenarkan posisi duduknya, atau mengembuskan napas panjang karena penat, mata hitam Maxim langsung mengunci siluet tubuh wanita itu dari jauh. Sifat gila kendali dan obsesi posesifnya tersulut hebat melihat bagaimana Cinta tetap mencoba bertahan menggunakan harga dirinya yang tinggi di hadapannya. Luka berdarah di bibir Cinta yang dia seka tadi seolah-olah menjadi cap rahasia yang mengikat kepemilikannya atas wanita itu di dalam ruang tertutup ini.
Ketegangan di antara mereka berdua menggantung pekat di udara sore, sarat akan muatan listrik gairah, dendam, dan intrik sandiwara yang siap meledak kapan saja. Mereka berdua tahu, tidak ada yang benar-benar fokus pada pekerjaan mereka hari ini. Di dalam sangkar emas yang sempit ini, sang serigala posesif dan sang pemburu licik sedang saling mengukur cakar, menanti siapa yang akan terlebih dahulu kehilangan kewarasan dan memecah keheningan perang dingin ini.