NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Penemuan tiket pesawat ke pulau pribadi dan catatan mengerikan di ruang kerja Kenzo mengubah seluruh skala prioritas Clara. Waktunya tidak lagi sekadar seminggu, melainkan hanya tersisa hitungan hari. Jika wawancara hari Jumat gagal atau jika rencana pelariannya tercium sebelum Sabtu pagi, Kenzo akan membawanya pergi selamanya ke tempat di mana tak ada seorang pun bisa menemukannya.

Sebelum hari Jumat yang menentukan itu tiba, sebuah interupsi tak terduga terjadi pada Kamis malam. Orang tua mereka, Ayah Kenzo dan Ibu Clara pulang lebih awal dari kunjungan bisnis luar negeri mereka.

Suasana rumah yang biasanya dingin dan hening mendadak penuh dengan hiruk-pikuk kedatangan. Pembantu rumah tangga sibuk mengurus koper-koper mahal, sementara aroma masakan mewah memenuhi ruang makan di lantai dasar.

"Clara, sayang! Kau kelihatan makin kurus,"

ujar Ibunya, Siska, seraya memeluk Clara hangat.

Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu menatap wajah putrinya dengan raut cemas.

"Kau makan dengan benar selama Ibu pergi?"

Clara membalas pelukan itu dengan erat, pelukan pertama yang ia rasakan setelah berminggu-minggu hidup di bawah teror. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk membisikkan kebenaran, untuk menjerit dan mengatakan bahwa Kenzo adalah seorang monster yang telah menyekapnya di lantai tiga.

Namun, saat matanya bergerak melewati bahu sang ibu, ia melihat Kenzo berdiri di dekat tangga. Pria itu mengenakan kemeja santai, menatapnya dengan senyuman tipis yang sarat akan ancaman.

Clara tahu betul posisinya. Ibunya sangat bergantung secara finansial pada keluarga ini. Mengadu tanpa bukti yang mengikat hanya akan membuat Kenzo makin beringas dan merusak posisi ibunya di rumah ini.

"Aku baik-baik saja, Bu,"

jawab Clara parau, memaksa sebuah senyuman tipis di bibirnya.

"Hanya agak sibuk dengan tugas kampus."

"Baguslah kalau begitu,"

sahut Ayah Kenzo, Fred, yang muncul dari ruang tengah seraya menepuk bahu Kenzo dengan bangga.

"Kenzo selalu memastikan adik tirinya terurus dengan baik. Kau beruntung punya kakak yang begitu bertanggung jawab, Clara."

"Iya, Ayah. Kenzo sangat memperhatikanku," balas Clara, menahan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya akibat kepalsuan kata-katanya sendiri.

Makan malam berlangsung di meja makan panjang berlapis marmer. Suasana terkesan hangat bagi orang luar, namun bagi Clara, setiap detik di meja itu terasa seperti berjalan di atas paku.

Fred dan Siska sibuk menceritakan investasi baru mereka di Eropa, sementara Kenzo menanggapi percakapan tersebut dengan sangat dewasa dan cerdas. Di depan orang tuanya, Kenzo adalah sosok putra mahkota yang sempurna, penerus tahta bisnis keluarga yang sopan, rasional, dan penuh kasih sayang.

"Oh ya, Kenzo,"

ujar Fred di sela-sela memotong daging stik miliknya.

"Bagaimana perkembangan proyek resort baru kita di Kepulauan Karibia? Ayah dengar kau secara khusus meminta renovasi vila utamanya diselesaikan minggu ini?"

Clara yang sedang menyendok sup langsung menghentikan gerakannya. Tangannya menegang di atas meja. Vila di Karibia. Jadi di sanalah pulau pribadi yang dimaksud dalam catatan Kenzo.

Kenzo menyesap anggur merah dari gelas kristalnya dengan tenang sebelum menjawab, "Semua berjalan sesuai rencana, Ayah. Renovasi selesai besok. Aku berencana terbang ke sana Sabtu ini untuk meninjau hasilnya secara langsung."

"Wah, cepat sekali,"

puji Siska tersenyum.

"Kau memang tidak pernah mengecewakan dalam bekerja, Kenzo."

"Terima kasih, Ibu,"

balas Kenzo halus. Kemudian, matanya yang tajam bergulir perlahan ke arah Clara yang duduk di seberang mejanya.

"Sebenarnya, aku berpikir untuk mengajak Clara ikut serta akhir pekan ini. Dia kelihatan sangat lelah dengan kuliahnya. Udara pantai mungkin bisa membantunya menyegarkan pikiran."

Siska tampak terkejut sekaligus senang mendengar tawaran itu.

"Benarkah? Wah, itu ide yang sangat bagus, Kenzo! Clara, kau harus ikut! Jarang sekali kakakmu punya waktu luang untuk membawamu berlibur."

Jantung Clara berdegup kencang hingga suaranya bergemuruh di dalam telinganya sendiri. Ini adalah jebakan. Kenzo sedang menggunakan orang tua mereka untuk mengesahkan rencananya tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Jika orang tua mereka memberi izin, tidak akan ada yang mempertanyakan kepindahan atau keberadaan Clara setelah hari Sabtu.

"Aku..."

Clara berusaha mencari alasan, suaranya gemetaran.

"Aku ada ujian susulan minggu depan, Bu. Sepertinya aku tidak bisa pergi akhir pekan ini."

"Ujian susulanmu baru diadakan dua minggu lagi, Clara,"

potong Kenzo cepat dengan nada bicara yang begitu lembut, seolah-olah ia hanya seorang kakak yang sangat perhatian.

"Aku sudah memeriksa kalender akademismu kemarin. Kau tidak perlu khawatir, aku akan memastikan kau punya cukup waktu untuk belajar di sana."

Pernyataan Kenzo membuat Clara membeku. Pria itu menutup setiap celah kebohongan yang coba ia ciptakan di depan orang tua mereka.

"Sudahlah, Clara, ikut saja,"

tambah Fred menimpali.

"Kakakmu sudah berniat baik. Lagipula, kau butuh liburan."

Clara menundukkan kepala, mengepalkan jemarinya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia tidak punya pilihan selain mengangguk pelan.

"Baiklah kalau begitu."

Kenzo tersenyum puas dari balik gelas anggurnya. Kemenangan kecil itu terasa begitu manis baginya.

Malam makin larut. Setelah makan malam selesai dan kedua orang tua mereka kembali ke kamar utama untuk beristirahat, Clara bergegas naik ke lantai atas. Karena kehadiran orang tua mereka, malam ini Clara diizinkan tidur di kamar lamanya di lantai dua untuk menjaga ilusi keluarga harmonis.

Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama.

Saat Clara baru saja selesai membersihkan wajahnya di kamar mandi, ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka dan tertutup pelan.

Clara keluar dari kamar mandi dan langsung menegang. Kenzo berdiri di dalam kamarnya, bersandar pada daun pintu yang sudah terkunci dari dalam.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

bisik Clara panik, melirik ke arah pintu.

"Orang tua kita ada di lantai bawah, Kenzo! Jika Ibu mendengarmu..."

"Ibu dan Ayah sudah tidur lelap karena pengaruh obat tidur yang kumasukkan ke dalam teh mereka,"

potong Kenzo dingin, melangkah maju mendekati Clara.

Mata Clara membelalak horor.

"Kamu... meracuni mereka?!"

"Hanya obat tidur dosis ringan agar mereka tidak mengganggu kita malam ini,"

jawab Kenzo santai. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan Clara, menatap gadis itu dengan intensitas yang pekat.

"Kau bertindak sangat bagus di meja makan tadi. Hampir saja aku percaya kau benar-benar berniat membatalkan rencana liburan kita."

Clara mundur sampai punggungnya merapat ke lemari pakaian.

"Kenzo, tolong hentikan semua ini. Jangan bawa aku ke pulau itu."

Kenzo meraih dagu Clara, menahannya dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakitkan, memaksa Clara menatap lurus ke dalam manik matanya yang kelam.

"Sabtu pagi, kita akan berangkat,"

bisik Kenzo tepat di depan bibir Clara, napas hangatnya beraroma anggur merah.

"Di pulau itu, tidak akan ada Julian, tidak akan ada kampus, dan tidak akan ada orang tua kita. Hanya ada kau dan aku."

"Aku membencimu,"

cicit Clara dengan air mata yang mulai menetes.

"Aku tahu,"

balas Kenzo seraya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang teramat tampan namun menakutkan.

"Tapi kebencianmu tetap membuatmu terikat padaku."

Kenzo melepaskan dagu Clara, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar tanpa menguncinya dari luar, yakin bahwa Clara tidak akan berani lari malam ini dengan keberadaan orang tua mereka.

Begitu pintu tertutup, Clara meluruh ke lantai. Ia mengusap air matanya kasar dan melihat ke arah jam dinding.

Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Ini sudah memasuki hari Jumat.

Hanya tersisa sembilan jam sebelum wawancara beasiswa rahasianya dimulai pada pukul sembilan pagi saat Kenzo menghadiri rapat mingguan. Dan ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki sebelum hari Sabtu mengubah hidupnya menjadi neraka selamanya.

Clara merangkak menuju lemarinya, merogoh ponsel rahasianya dengan tangan yang gemetar hebat. Saat layar ponsel rahasia itu menyala, sebuah notifikasi pesan baru dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.

Ponsel kecil yang menarik, Clara. Apakah kau benar-benar berpikir aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan di dalam lemari?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!