Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Sinar matahari pagi merayap pelan menembus celah-celah jendela sanggar yang retak, membiaskan cahaya keemasan di atas sisa-sisa kehancuran. Udara tidak lagi terasa tebal oleh bau melati busuk yang mencekik; kini hanya ada aroma tanah basah sisa hujan semalam dan embun pagi yang menenangkan.
Anindiya masih terduduk lemas di lantai . Jemarinya yang berdarah dan bernoda hitam , gemetar saat ia menyentuh sisa-sisa kain putih yang kini tak lebih dari tumpukan benang hancur dan potongan kain yang hangus. Cengkeraman dingin di lehernya telah hilang, namun rasa sesak di dadanya berpindah ke hati—sebuah duka yang dalam untuk mereka yang tak sempat diselamatkan.
"Sudah selesai..." bisik Anindiya pada keheningan ruangan. Suaranya serak, nyaris hilang.
Ia mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, tempat sebuah bingkai foto kecil bertengger di atas meja kerja yang berdebu. Foto dirinya bersama Rina, tersenyum lebar saat pertama kali membuka sanggar ini dua tahun lalu. Air mata Anindiya akhirnya menetes, membasahi pipinya yang kotor, meluruhkan ketegangan yang selama ini ia tahan. Rina, asisten yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri, harus menjadi korban tragis dari keputusan dan ketidaktahuannya membawa pulang gaun kutukan itu.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Anindiya bangkit berdiri. Lututnya gemetar hebat, namun tujuannya jelas. Ia meminjam sebuah kotak kayu tua milik ibunya. Satu per satu, dengan penuh rasa hormat dan hati-hati, Anindiya mengumpulkan setiap helai benang, potongan kain yang robek, hingga abu bekas bakaran ke dalam kotak tersebut. Ia tidak ingin ada satu serat pun yang tertinggal di sanggarnya.
Sore harinya, ditemani ibunya yang menggenggam erat tangannya untuk memberikan kekuatan, Anindiya membawa kotak kayu itu jauh ke luar kota, menuju sebuah tebing tinggi yang menghadap langsung ke lautan lepas. Di sana, di bawah langit senja yang berwarna keunguan, ia membakar sisa-sisa benang itu hingga menjadi abu sempurna, lalu membuangnya ke tengah gulungan ombak.
"Istirahatlah dengan tenang," gumam Anindiya menatap laut lepas, sementara ibunya merangkul bahunya dari samping. "Saskia, Larasati, Rina... dan kau, sang pengantin yang terlupakan. Tidak ada lagi dendam. Tidak ada lagi darah."
Saat angin laut berembus menghempas wajahnya, Anindiya samar-samar mencium aroma wangi mawar yang lembut—bukan melati yang membusuk, melainkan wangi mawar segar yang menenangkan. Sebuah perasaan hangat mendadak menyelimuti dadanya, seolah-olah jiwa-jiwa yang selama ini terikat akhirnya menemukan kedamaian mereka.
Satu bulan kemudian, Sanggar Rias Anindiya kembali dibuka setelah perbaikan total. Cermin-cermin baru yang jernih kini menghiasi dinding, dan kaca-kaca jendela yang retak telah diganti. Namun, tempat manekin kayu di sudut ruangan itu sengaja dibiarkan kosong—tanpa gaun, sebagai pengingat abadi akan masa-masa kelam yang pernah melanda tempat tersebut.
Anindiya kini tidak hanya dikenal sebagai seorang penata rias berbakat, tetapi juga wanita yang memiliki ketabahan luar biasa. Dengan dukungan dan doa dari ibunya yang selalu setia mendampinginya, ia terus melangkah maju. Setiap kali melayani calon pengantin baru, Anindiya tidak lagi sekadar mendandani wajah mereka agar tampak memikat, melainkan menyalurkan doa tulus agar setiap pernikahan yang ia hias dilindungi oleh kasih sayang yang sejati.
Saat malam kembali turun dan Anindiya mematikan lampu sanggar sebelum pulang, ia sempat melirik ke arah cermin besar di lorong utama. Di dalam pantulan kaca yang jernih itu, hanya ada dirinya—berdiri tegak, tenang, dan sepenuhnya bebas.