"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : DENDAM & JANJI
Ponsel di saku celana Riko bergetar hebat. Pria bertubuh jangkung dan atletis itu masih mematung di depan jendela kaca kantornya, menatap kerumunan lalu lintas Jakarta yang merayap.
"Halo," ucap Riko datar.
"Kakak! Where are you?!" Suara melengking Ami menyambar.
"Jadi jemput enggak, sih? Aku lapar!"
Riko melirik jam tangan—pukul 07.30 WIB.
"Ami? Kalian sudah di Jakarta?"
"Ya iyalah! Cepat, Kak! Udah sejam di bandara nih!"
"Dmn it.*" Riko mengutuk dalam hati. Ia benar-benar lupa hari ini kepulangan keluarganya dari Amerika. Dengan tergesa, ia menyambar kunci mobil dan menembus kemacetan menuju Soekarno-Hatta.
Di ruang tunggu bandara, Mahenra memijit pelipisnya yang berdenyut. Ayah Riko itu menarik napas panjang, menahan kekecewaan pada putra kandungnya.
Sejak Mahenra menikahi Marni ibu kandung Angga hubungan ayah dan anak itu retak sepenuhnya. Bagi Riko, pernikahan itu adalah pengkhianatan atas almarhumah ibunya. Dendam yang berkobar sejak usia tujuh tahun mengubah Riko menjadi sosok dingin, arogan dan penuh amarah. Riko kerap melampiaskan kebenciannya pada Marni dan Angga.
"Sabar, Pak" bisik Marni lembut sembari mengelus punggung suaminya.
"Riko itu anak baik. Dia cuma sibuk"
Mahenra menatap istrinya penuh haru. Marni tak pernah membedakan kasih sayang antara Angga dan Riko, meski Riko selalu membalasnya dengan tatapan jijik. Hanya satu hal yang bisa melunakkan hati Riko yang sekeras batu yaitu Ami, adik bungsu mereka.
"Kak Riko! I'm here!"
Ami melambaikan tangan. Riko yang baru tiba dengan napas terengah langsung tersenyum tipis. Wajah garangnya luluh seketika.
"Maaf ya, Kakak terlambat" ujar Riko gemas sambil mencubit pipi adiknya. Namun saat matanya bergulir ke bangku tunggu, senyum Riko melenyap.
Di sana, Mahenra tengah merangkul Marni. Rasa perih yang familier kembali menghantam dada Rikosebuah pengingat akan pengkhianatan.
"Cih, dibawa lagi" gumam Riko sinis.
"Sama siapa Kakak bicara?" tanya Ami polos.
Riko dengan cepat mengubah raut wajahnya.
"Enggak ada apa-apa."
Ketika Mahenra menyodorkan koper Marni yang tampak lemas akibat kelelahan, Riko sengaja mengacuhkannya. Ia tak sudi menyentuh barang wanita itu. Namun, tatkala Ami bersiap menyeret koper berat tersebut, harga diri Riko tersenggol.
"Biar aku yang bawa" potong Riko dingin, merebut koper dari tangan Ami.
"Aku pria dewasa di sini."
Mahenra menyunggingkan senyum tipis di balik wajah lelahnya. Ia tahu betul, Ami adalah satu-satunya "senjata" untuk menyentil nurani putra tertuanya itu.
Mobil Riko akhirnya membelah jalan menuju kediaman mewah keluarga Mahenra. Di dalam kendaraan keheningan terasa begitu mencekam.
"Riko," panggil Mahenra memecah kesunyian.
"Nanti malam Ayah buat acara kecil di rumah. Ayah harap kamu dan Angga bisa datang bersama"
Mendengar nama Angga, cengkeraman Riko pada kemudi mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Angga bukan hanya saudara tiri yang merebut ayahnya, tapi pria itu juga yang telah merebut Anna wanita yang begitu dicintai Riko.
"Aku sibuk. Jangan panggil nama itu di depanku," desis Riko penuh ancaman.
Setibanya di rumah, Riko bergegas hendak pergi. Namun Ami menahannya di teras.
"Kakak lupa ya? Hari ini hari ulang tahunku!" bisik Ami dengan mata berbinar.
"Aku cuma minta satu kado"
"Katakan. Apapun bakal Kakak belikan" jawab Riko bangga.
Ami menatap lurus ke mata kakaknya.
"Aku mau Kak Riko dan Kak Angga datang ke acaraku bersama" Ucap adik kecilnya tersebut membuat tubuh Riko membeku.
"Minta yang lain. Kakak enggak bisa"
"Kalau begitu, Ami enggak mau menganggap Kakak sebagai kakak lagi! Selamanya!" jerit Ami sebelum berlari masuk sambil menangis.
Kalimat itu menghantam Riko bagai hantaman gada berat.
Riko menyusuri rumah hingga ke kamar almarhumah ibunya di lantai dua yang kini menjadi gudang. Di sana, di dekat balkon Ami meringkuk menangis.
Riko berlutut, menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ditatapnya wajah adik kecilnya yang sembab. Pertahanannya runtuh total.
"Baiklah..." bisik Riko pasrah, mengusap
kepala Ami.
"Kakak akan datang... bersama Angga"
"Janji?" tangis Ami mereda.
"Janji"
Begitu keluar dari gerbang rumah, Riko langsung merogoh ponselnya dan menekan satu nama di daftar kontak.
"Halo, Ivan!" gertak Riko pada asisten pribadinya.
"Y-ya, Pak?" sahut Ivan terbata dari seberang telepon.
Mata Riko menatap tajam ke depan, dipenuhi kilat permusuhan dan dendam yang siap meledak.
"Cari informasi tentang Angga Pradipta. Sekarang!"
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..