NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun

Gerbang obsidian Kota Qilin Hitam menjulang setinggi tiga puluh meter, diukir dengan relief monster dan iblis yang seolah menelan cahaya matahari. Dua baris penjaga berbaju zirah hitam bermotif gerhana berdiri di kedua sisi, memancarkan aura kultivasi Pondasi Awal yang menindas. Mereka bukan tentara kekaisaran, melainkan algojo bayaran dari Perkumpulan Dagang Gerhana.

"Biaya masuk. Lima puluh batu roh tingkat rendah untuk orang luar," ucap salah satu penjaga bertato kalajengking di pipinya, menatap Lin Tian dengan tatapan merendahkan. Bagi mereka, kultivator berjubah abu-abu yang berjalan sendirian dari Hutan Kabut Beracun hanyalah domba gemuk yang siap diperas.

Lin Tian tidak berdebat. Ia mengeluarkan lima puluh batu roh dari cincin spasial Jin Wuya dan melemparkannya ke meja pemeriksaan.

Penjaga bertato itu menyeringai, namun matanya melirik cincin emas di jari Lin Tian dengan keserakahan yang tidak disembunyikan. "Tunggu dulu. Cincin spasialmu terlihat mahal. Buka isinya untuk pemeriksaan barang selundupan, atau kami akan—"

Kalimat penjaga itu terpotong oleh suara retakan tulang.

Lin Tian tidak menarik senjatanya. Ia hanya menatap mata penjaga itu dan melepaskan satu persen dari tekanan lautan qi hitam keemasan di dantiannya, bercampur dengan aura tirani dari darah jantung naga purba.

Udara di sekitar gerbang tiba-tiba menjadi seberat besi cair. Penjaga bertato itu langsung jatuh berlutut, wajah membentur meja kayu hingga hidungnya patah dan berdarah. Napasnya tercekat, paru-parunya terasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Para penjaga lain langsung mencabut senjata, namun tangan mereka gemetar hebat, tidak berani melangkah maju satu inci pun.

"Aku bukan domba yang bisa kalian peras," suara Lin Tian terdengar pelan, namun bergema dingin di telinga setiap penjaga. "Buka gerbangnya."

Penjaga bertato itu mengangguk panik, memukul gong tanda masuk dengan tangan yang gemetar. Gerbang besi berat perlahan terbuka. Lin Tian melangkah masuk ke dalam kota tanpa menoleh, meninggalkan para algojo yang berkeringat dingin dan saling pandang dengan ketakutan.

Di dalam Kota Qilin Hitam, hukum dan moralitas adalah lelucon. Jalanan berlumpur bercampur darah dan limbah alkimia. Di sisi kiri jalan, para pedagang secara terang-terangan menjual racun saraf dan budak kultivator yang merintih di dalam kandang besi. Di sisi kanan, pembunuh bayaran memamerkan kepala target mereka di atas pancang kayu.

Beberapa copet dan preman jalanan mencoba membuntuti Lin Tian, mengira pemuda sendirian ini adalah mangsa yang mudah. Namun, ketika seorang copet mencoba menyentuh saku jubah Lin Tian, jari-jari preman itu langsung patah berantakan seolah membentur dinding baja hitam. Preman itu menjerit tertahan, lalu lari terbirit-birit saat Lin Tian menoleh dengan tatapan kosong.

Berdasarkan peta di buku hitam Jin Wuya, markas utama Perkumpulan Dagang Gerhana terletak di distrik pusat, sebuah gedung megah berlapis marmer hitam dan emas yang sangat kontras dengan kemiskinan dan kebusukan kota ini.

Lin Tian tidak masuk melalui pintu depan yang dipenuhi oleh para pedagang dan kultivator bebas. Ia mengelilingi gedung menuju lorong belakang yang gelap dan sepi, tempat pintu khusus untuk tamu kehormatan dan utusan organisasi gelap berada.

Dua penjaga bertopeng perak berjaga di depan pintu besi. Kali ini, tanpa banyak bicara, Lin Tian langsung mengeluarkan Token Besi Hitam berukir awan gelap dari dalam sakunya.

Melihat token itu, postur tubuh kedua penjaga langsung berubah dari waspada menjadi kaku dan hormat. Mereka membungkuk dalam-dalam, hampir menyentuh tanah. "Hormat kami, Utusan Tingkat Tinggi Istana Langit Hitam. Nyonya Hua sudah menunggu di ruang bawah tanah. Silakan ikuti kami."

Lin Tian mengikuti mereka menuruni tangga batu yang diterangi oleh batu pendar cahaya. Udara di bawah tanah ini wangi oleh dupa cendana mahal yang bercampur dengan aroma samar darah dan besi.

Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan mewah yang dihiasi oleh permadani sutra dan perabotan kayu cendana. Di tengah ruangan, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala sedang duduk sambil menuangkan teh dari teko giok. Wajahnya cantik namun mematikan, dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Aura Pondasi Awal Puncak menguar tipis dari tubuhnya.

"Selamat datang di Kota Qilin Hitam, Utusan," ucap Nyonya Hua, suaranya lembut namun mengandung racun tersembunyi. "Tuan Jin Wuya biasanya mengirim kurir biasa. Tidak disangka kali ini Istana Langit Hitam langsung mengirimkan sosok muda yang luar biasa."

Lin Tian duduk di kursi berhadapan dengan wanita itu, wajahnya tetap datar di balik kerudung jubahnya. "Jin Wuya sudah mati. Aku datang untuk menagih apa yang menjadi hak kami, dan membawa pesan dari atasan."

Tangan Nyonya Hua yang sedang menuangkan teh terhenti sepersekian detik. Matanya menyipit, memancarkan kilatan niat membunuh yang sangat cepat disembunyikan. "Mati? Berita yang mengejutkan. Tapi, di Kota Qilin Hitam, kematian adalah hal yang lumrah. Silakan minum teh ini dulu untuk menghangatkan tubuh, Utusan."

Nyonya Hua menggeser cangkir teh hijau yang mengepul ke hadapan Lin Tian.

Indra spiritual Lin Tian langsung mendeteksi anomali. Teh itu tidak berbau, namun di dasarnya terdapat endapan bubuk Racun Tulang Lunak tingkat tinggi. Racun ini tidak membunuh secara instan, melainkan melumpuhkan meridian dan melelehkan tulang mangsanya dalam waktu satu jam, membuat korban tidak bisa melawan saat diinterogasi.

Wanita ini sedang mengujinya. Atau lebih tepatnya, ia berniat membunuh utusan ini dan merampas token serta cincin spasialnya. Di dunia bawah tanah, pengkhianatan adalah sarapan sehari-hari.

Lin Tian tersenyum tipis. Ia mengangkat cangkir itu dan meminumnya hingga habis dalam satu tegukan.

Nyonya Hua tersenyum puas, menantikan saat di mana pemuda di hadapannya akan mulai kejang dan memuntahkan darah. Namun, sepuluh detik berlalu. Satu menit berlalu. Lin Tian masih duduk dengan santai, meletakkan cangkir kosong itu kembali ke meja.

Di dalam tubuh Lin Tian, Segel Dewa Penelan Langit berputar malas. Racun tingkat tinggi yang mematikan itu langsung diurai, disaring, dan diubah menjadi sedikit nutrisi untuk lautan qi di dantiannya. Bagi Lin Tian, teh racun ini rasanya sedikit lebih pahit dari teh biasa.

"Tehnya kurang manis," komentar Lin Tian datar, menatap lurus ke dalam mata Nyonya Hua yang kini membelalak ngeri. "Sekarang, giliranmu menjawab. Di mana Zhao Yan?"

Nyonya Hua mundur selangkah, tangannya secara naluriah meraih belati tipis di balik lengan gaunnya. "Kau... kau bukan utusan! Kau siapa?!"

Lin Tian tidak memberinya kesempatan untuk memanggil penjaga. Bayangannya berkedip, dan dalam sekejap ia sudah berada di belakang kursi Nyonya Hua. Tangan kirinya mencengkeram leher wanita itu, mengangkatnya dari lantai hingga kaki Nyonya Hua menendang-nendang di udara.

"Aku bertanya sekali lagi," bisik Lin Tian di telinga wanita itu, qi hitam berurat emas mulai merembes ke kulit leher Nyonya Hua, menyebabkan rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum panas. "Di mana Zhao Yan? Jawab dengan salah, dan aku akan membuat jiwamu menjerit selama seratus tahun."

"A-aku bicara! Aku bicara!" Nyonya Hua terengah-engah, pertahanan mentalnya hancur seketika oleh rasa sakit dan ketakutan. "Tuan Zhao... dia ada di kota ini! Dia sedang mengikuti Lelang Bawah Tanah di Gedung Darah malam ini! Dia mencari 'Sumur Darah Yin' untuk menyempurnakan ritual darahnya!"

Lin Tian melepaskan cengkeramannya, membiarkan Nyonya Hua jatuh terbatuk-batuk ke lantai.

"Gedung Darah," gumam Lin Tian. Ia menatap wanita yang kini gemetar di kakinya. "Bawa aku ke sana. Dan jika kau mencoba memberi sinyal pada anak buahmu, aku akan memastikan Perkumpulan Dagang Gerhana butuh pemimpin baru besok pagi."

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!