Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam itu, ponsel Dominic berdering cukup lama di atas meja kerjanya. Ia yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung meraih benda tersebut. Begitu melihat nama Giselle di layar, alisnya sedikit terangkat. Dominic segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Honey," sapa Dominic sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi, suara Giselle langsung terdengar dari seberang dengan nada tinggi.
"Dominic!"
Dominic menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara itu hampir membuat telinganya sakit. "Ada apa?" tanya Dominic sambil mengernyit.
"Ada apa?" ulang Giselle dengan nada kesal. "Kamu masih bisa bertanya ada apa setelah keluargamu menghabiskan uangku?"
Dominic mengusap keningnya. "Mom dan Grace pergi berbelanja lagi?"
"Berbelanja?" Giselle mendengus keras. "Mereka bukan sekadar berbelanja!"
Dominic terdiam.
"Mereka membeli beberapa potong pakaian, tas, sepatu, dan aksesori kepala!" lanjut Giselle dengan kesal. "Mereka bahkan memilih barang-barang yang harganya tidak masuk akal."
Dominic mengembuskan napas panjang. "Maaf," ucapnya pelan.
"Maaf?" Giselle tertawa pendek tanpa sedikit pun terdengar lucu. "Kamu tahu berapa banyak uang yang mereka habiskan?"
Dominic menekan pelipisnya. Ia sebenarnya sudah bisa menebaknya. "Berapa?" tanyanya akhirnya.
"Puluhan ribu dolar!" jawab Giselle dengan kesal.
Giselle menghentakkan kakinya di lantai apartemennya. "Aku bekerja keras mendapatkan uang itu, Dominic. Bukan untuk membiarkan keluargamu menghabiskannya dalam satu sore."
Dominic memejamkan mata sebentar. "Nanti kalau keuanganku sudah stabil, akan aku ganti," ujar Dominic dengan suara menenangkan.
"Keuanganmu stabil?" ulang Giselle dengan nada sinis.
Dominic terdiam.
Giselle langsung bertanya, "Kenapa istrimu memutus keuangan keluarga kamu?"
Pertanyaan itu membuat Dominic membuka matanya. Ia menatap kosong ke depan sebelum menjawab, "Keuangan perusahaan sedang goyah. Vivienne ingin bayi kita mendapatkan nutrisi terbaik. Dia takut bayi di dalam perutnya mengalami masalah."
Giselle terdiam beberapa detik. Namun, bukannya merasa tenang, wajahnya justru semakin menunjukkan kecurigaan.
"Benarkah?" tanya Giselle.
Dominic mengerutkan kening. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Memangnya ibu hamil akan menghabiskan lima puluh ribu dolar dalam sebulan?" tanya Giselle tajam. "Aku rasa istrimu sedang mengada-ada."
Dominic langsung menggeleng. "Jangan bicara seperti itu tentang Vivi," tegurnya.
"Kenapa tidak?" balas Giselle cepat.
Dominic berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamunya sambil menggenggam ponsel. "Awalnya aku pikir dia hanya ingin mengurangi pengeluaran keluarga. Tapi sekarang aku mulai berpikir ada sesuatu yang lain."
Dominic terdiam.
"Dia tidak mau lagi memberikan uang untuk keluargamu, Dominic," ujar Giselle dengan nada penuh prasangka.
"Itu tidak mungkin," jawab Dominic spontan.
Suaranya terdengar lebih tegas. "Vivi selalu menganggap keluargaku juga keluarganya. Selama bertahun-tahun dia selalu memberikan apa yang mereka butuhkan."
"Justru itu yang membuatku curiga," ujar Giselle pelan.
Dominic mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Giselle menarik napas sebelum menjawab, "Perubahan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan."
Dominic tetap diam.
"Selama ini Vivienne tidak pernah mempermasalahkan uang," lanjut Giselle. "Dia bahkan selalu memberikan lebih dari yang diminta. Tapi sekarang, tiba-tiba semuanya dihentikan."
Giselle berhenti berjalan dan menatap lurus ke depan.
"Menurutku ada sesuatu yang membuat istrimu marah."
Dominic tidak menjawab. Pikirannya mulai bergerak. Ia teringat beberapa hari terakhir. Vivienne semakin lembut kepadanya. Wanita itu tidak pernah bertanya tentang uang, tidak pernah menuntut, dan selalu tersenyum ketika berbicara dengannya.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tuduhan atau sikap marah. Justru ketenangan itulah yang tiba-tiba terasa aneh.
"Atau ...," ujar Giselle sengaja menggantung kalimatnya.
Dominic langsung bertanya, "Atau apa?"
Giselle menatap lurus ke depan. "Dia mengetahui sesuatu."
Jantung Dominic seperti berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang semula memegang pena langsung mengencang.
"Apa yang mungkin dia ketahui?" tanya Dominic dengan suara lebih rendah.
Giselle mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi kalau aku menjadi kamu, aku akan mencari tahu."
Dominic menelan ludah. "Vivi tidak tahu apa-apa."
"Kamu yakin?" tanya Giselle singkat.
Pertanyaan sederhana itu membuat Dominic terdiam cukup lama.
Giselle dapat mendengar keheningan dari seberang sambungan. "Dominic?"
"Hm?" jawab Dominic pelan.
"Kamu yakin istrimu tidak mengetahui hubungan kita?"
Dominic langsung menjawab, "Yakin."
Namun kali ini, suaranya tidak setegas sebelumnya. Giselle menangkap keraguan itu. Ia menyipitkan mata. "Kalau begitu, kenapa dia berubah?"
Dominic kembali diam. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Kenapa Vivienne tiba-tiba menghentikan semua bantuan? Kenapa orang-orang di perusahaan mulai membatasi kewenangannya? Kenapa keputusan yang dahulu bisa ia ambil sendiri sekarang harus melalui beberapa tahap?
Dan yang paling aneh, Vivienne sama sekali tidak menunjukkan kemarahan kepadanya. Justru semakin lembut dan semakin perhatian.
Dominic merasakan bulu kuduknya meremang. "Entahlah," jawabnya akhirnya.
Giselle mengembuskan napas panjang. "Aku tidak suka keadaan seperti ini."
Dominic mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di belakang kita," jawab Giselle. "Dan aku tidak suka menjadi orang terakhir yang mengetahuinya."
Dominic menggenggam ponselnya lebih erat. "Tenanglah," ujarnya singkat.
"Bagaimana aku bisa tenang?" balas Giselle. "Uangku berkurang, kontrakku mulai bermasalah, keluargamu terus meminta uang, sementara istrimu tiba-tiba berubah."
Wanita itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Semua ini terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan."
Dominic tidak mampu membantah.
Giselle kembali berkata dengan nada lebih lembut, "Dominic, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dominic menatap kosong ke depan. "Iya," jawabnya pelan.
"Jangan sampai semuanya terlambat," ujar Giselle sebelum mengakhiri panggilan.
Dominic perlahan menurunkan ponselnya. Ia masih duduk diam dengan pandangan kosong. Matanya tertuju pada sebuah foto keluarga yang berada di atas meja. Foto dirinya bersama Vivienne. Dalam foto itu, Vivienne tersenyum begitu bahagia.
Dominic mengingat kembali senyum tersebut. Dulu, ia merasa senyum itu adalah bukti bahwa Vivienne benar-benar mencintainya. Namun sekarang, entah kenapa, senyum itu justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Dominic bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Dari lantai atas gedung, lampu kota terlihat memenuhi pandangan.
"Vivi ...," panggil Dominic pelan. "Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa-apa?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Tangannya mengepal.
Untuk pertama kalinya, kecurigaan yang selama ini hanya muncul sesaat mulai tumbuh menjadi ketakutan.
***
Jika ada kalimat yang rancu atau typo kasih tau, ya. Aku ngetik sambil menahan kantuk. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡