NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Hari terakhir di Pegunungan Aurelia diisi dengan kegiatan penutup berupa hiking ringan menuju air terjun yang terletak tidak jauh dari area penginapan, sebuah agenda yang telah dinanti-nantikan sejak awal perjalanan karena keindahan pemandangannya yang sering diceritakan kakak kelas yang pernah mengikuti study tour tahun sebelumnya.

Seluruh siswa berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang, dipandu beberapa guru dan pemandu lokal yang sudah familiar dengan medan pegunungan tersebut.

"Kamu nggak capek?" tanya Elora, berjalan di sebelah Rean yang sesekali terlihat sedikit terengah mendaki jalan yang menanjak.

"Sedikit," aku Rean jujur, meski senyumnya tidak pernah hilang. "Tapi seru banget."

Mereka berjalan bersama dalam rombongan besar, sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan lembah yang semakin indah seiring ketinggian yang mereka capai. Ketika akhirnya mencapai air terjun yang dituju, seluruh rombongan disambut pemandangan menakjubkan — air terjun setinggi puluhan meter yang jatuh ke kolam alami berwarna biru jernih di bawahnya.

"Ini indah banget," gumam Rean, terpukau menatap pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Beberapa siswa mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, sementara yang lain sekadar duduk di bebatuan sekitar kolam, menikmati suara gemuruh air terjun yang menenangkan.

"Ayo foto bareng!" ajak Lily, mengumpulkan seluruh kelompok untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan perjalanan mereka.

Rean, Elora, Ethan, Lucas, Lily, dan Chloe berkumpul bersama di depan air terjun, tersenyum lebar menghadap kamera yang dipegang salah satu guru pendamping. Momen sederhana itu, meski hanya berlangsung sepersekian detik, menjadi salah satu kenangan yang akan mereka simpan lama dari perjalanan tiga hari yang penuh warna itu.

---

Menjelang siang, seluruh rombongan kembali ke penginapan untuk bersiap-siap pulang. Suasana perpisahan singkat namun hangat terasa di antara para siswa yang telah menghabiskan tiga hari penuh kebersamaan, saling bertukar cerita dan kenangan sebelum akhirnya kembali ke rutinitas sekolah biasa.

"Study tour tahun ini seru banget," kata Ethan, merapikan tasnya di dalam pondok sebelum keberangkatan pulang.

"Iya," Rean mengangguk setuju, membantu merapikan barang-barang terakhir. "Aku bakal kangen suasana pegunungan ini."

Ketika bus-bus mulai berbaris siap membawa rombongan pulang, Rean sempat berpapasan dengan Kieran di dekat pintu bus, keduanya saling bertukar senyum yang lebih hangat dari biasanya.

"Sampai ketemu di sekolah," kata Kieran, nadanya jauh lebih santai dibanding awal perjalanan.

"Sampai ketemu," balas Rean, membalas senyum itu dengan tulus.

Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang dibanding keberangkatan, sebagian besar siswa terlihat lelah namun puas setelah tiga hari penuh kegiatan, beberapa bahkan tertidur di sepanjang perjalanan bus menuju kota.

Rean duduk di dekat jendela, menatap pemandangan pegunungan yang perlahan menjauh, membawa kenangan berharga tiga hari terakhir bersamanya. Ia mengeluarkan buku catatan kecil yang selalu ia bawa, menuliskan beberapa hal yang paling berkesan dari perjalanan itu — pemandangan bintang lewat teleskop, momen di tepi bukit bersama Kieran, tawa bersama teman-teman di depan api unggun, hingga keindahan air terjun yang baru saja mereka kunjungi.

Ia menutup buku catatannya, bersandar di kursi bus sambil memejamkan mata sejenak, merasa bersyukur atas setiap pengalaman baru yang terus ia dapatkan sejak kehidupan barunya dimulai.

Di bus lain, Elora juga menatap keluar jendela dengan perasaan serupa, dadanya dipenuhi kehangatan mengingat berbagai momen berharga yang telah mereka lalui bersama selama tiga hari terakhir — momen-momen sederhana yang, baginya, terasa semakin memperkuat perasaan yang telah lama tumbuh dalam dirinya.

Bus melaju kembali menuju kota, membawa seluruh siswa pulang dengan kenangan masing-masing yang akan mereka bawa jauh melampaui perjalanan study tour itu sendiri — sebuah babak baru yang telah membentuk dinamika hubungan mereka menjadi lebih dalam dari sebelumnya.

--

Sekolah kembali pada rutinitas biasa setelah study tour berakhir, meski gaung kebersamaan tiga hari itu masih terasa di setiap sudut koridor. Siswa-siswa saling bertukar foto kenangan, membahas momen-momen lucu yang terjadi selama perjalanan, menciptakan suasana kelas yang lebih akrab dibanding sebelumnya.

Rean duduk di bangkunya, memperhatikan foto-foto yang dibagikan Ethan lewat grup kelas, tersenyum mengenang setiap momen yang tertangkap kamera selama tiga hari terakhir.

"Foto pas di air terjun bagus banget," komentar Lucas, menunjukkan salah satu foto favoritnya.

"Aku suka yang pas api unggun," tambah Ethan, menggulir galeri foto dengan antusias.

Di tengah obrolan itu, wali kelas mereka memasuki ruangan, membawa kabar baru yang segera mengalihkan perhatian seluruh kelas.

"Selamat pagi, semuanya," sapanya, meletakkan beberapa berkas di meja. "Setelah study tour kemarin, kita akan segera memasuki persiapan ujian akhir semester dalam beberapa minggu ke depan. Tapi sebelum itu, ada kabar baik — tim debat sekolah kita akan bertanding di kompetisi regional minggu ini."

Kabar itu membuat Rean langsung teringat pada kakaknya, yang selama beberapa minggu terakhir sibuk berlatih intensif bersama timnya untuk menghadapi kompetisi tersebut.

"Kakakku salah satu anggotanya," celetuk Rean pada Ethan, sedikit bangga menyebutkan hal itu.

"Serius? Aria Vale kakakmu?" Lucas menoleh terkejut. "Dia terkenal banget sebagai kapten tim debat, lho. Katanya jago banget berargumen."

Rean mengangguk bangga, mengingat kembali cerita-cerita yang pernah dibagikan Aria tentang latihan debatnya yang intensif selama beberapa minggu terakhir.

---

Sepulang sekolah, Rean bergegas pulang lebih awal, ingin menyaksikan latihan terakhir kakaknya sebelum kompetisi besar yang akan berlangsung akhir minggu ini. Ia menemukan Aria di ruang keluarga, dikelilingi tumpukan kertas argumen yang berserakan di meja, wajahnya terlihat sedikit tegang namun penuh determinasi.

"Kakak nggak apa-apa?" tanya Rean, duduk di sofa seberang, memperhatikan kesibukan kakaknya.

"Cuma gugup dikit," aku Aria, mendongak sejenak dari kertas-kertasnya. "Kompetisi minggu ini lawan-lawannya berat banget."

"Kakak pasti bisa," Rean menyemangati tulus. "Kakak udah latihan keras banget selama ini."

Aria tersenyum mendengar dukungan itu, meletakkan kertas-kertasnya sejenak untuk beristirahat. "Makasih, Rean. Ngomong-ngomong, gimana study tour-nya? Seru?"

"Seru banget," Rean langsung bersemangat menceritakan berbagai pengalaman yang ia dapatkan selama tiga hari perjalanan, dari observatorium hingga air terjun yang mereka kunjungi di hari terakhir.

Aria mendengarkan dengan antusias, sesekali menyela dengan pertanyaan jahil mengenai kedekatannya dengan Elora selama perjalanan, yang selalu dijawab Rean dengan polos tanpa menyadari maksud tersembunyi di balik pertanyaan itu.

"Kalian sekamar, kan?" goda Aria.

"Enggak, aku sekamar sama Ethan dan Lucas," jawab Rean santai. "Elora sekamar sama Lily dan Chloe."

"Oh, sayang sekali," Aria berpura-pura kecewa, menahan tawa melihat ekspresi bingung adiknya yang tidak paham arah candaan itu.

Mereka melanjutkan obrolan santai hingga menjelang makan malam, di mana seluruh keluarga berkumpul membahas persiapan terakhir Aria untuk kompetisi debat akhir minggu ini.

"Kalian semua akan datang mendukung, kan?" tanya Aria penuh harap, menatap seluruh anggota keluarganya di meja makan.

"Tentu saja," jawab Darius mantap. "Kami semua akan hadir mendukungmu."

Rean mengangguk semangat, menambahkan, "Aku juga pasti dateng, Kak. Aku mau lihat langsung kakakku beraksi di kompetisi."

Kata-kata dukungan tulus itu membuat kepercayaan diri Aria semakin bertambah, menghadapi kompetisi besar yang akan datang dengan dukungan penuh dari seluruh keluarga yang selalu ada di setiap langkah perjalanannya — sebuah kehangatan keluarga yang, meski sederhana, menjadi fondasi kuat bagi setiap anggota Keluarga Vale dalam menjalani tantangan masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!