"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Matahari pagi menembus celah-celah ventilasi kamar, membawa cahaya terang yang terasa teramat asing bagi hatiku yang sedang gulita. Semalaman aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali memandang wajah polos Naya yang tertidur lelap, dadaku rasanya sesak luar biasa.
Bekas air mata di pipiku sudah mengering, meninggalkan rasa kaku yang sejajar dengan perasaanku pagi ini. Dingin, hampa, dan penuh luka.
Begitu mendengar deru mesin mobil Bayu menderu meninggalkan halaman rumah tanda bahwa suamiku itu sudah berangkat kerja sangat pagi demi menghindari tatapan mataku aku akhirnya memberanikan diri membukakan pintu kamar.
Aku melangkah lambat menuju dapur. Niatku sederhana, hanya ingin menyeduh air panas untuk membuatkan susu hangat Naya dan menyiapkan sarapan alakadarnya. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai semen dapur yang dingin, sosok Ibu Sumiati sudah berdiri di sana.
Wanita tua itu sedang berkacak pinggang, menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan yang sarat akan dominasi. Tidak ada lagi sisa-sisa wajah ramah seperti saat beliau berkunjung ke Bandung dulu. Yang ada di hadapanku sekarang adalah seorang penguasa rumah yang siap menerkam kapan saja.
"Bagus ya, jam segini baru keluar kamar," tegur Ibu Sumiati, suaranya tajam menembus keheningan pagi. "Kamu pikir di sini kamu masih bisa santai-santai kayak di rumahmu dulu?"
Aku menghentikan langkah, memegang erat pinggiran meja dapur. Aku mencoba menelan ludah yang terasa begitu pahit di tenggorokan.
"Saya baru mau bikin sarapan, Bu," jawabku sehalus mungkin, berusaha menahan getaran di suaraku.
Ibu Sumiati terkekeh sinis. Suara tawa yang menyindir itu membuat dadaku makin bergemuruh.
"Bikin sarapan?" ulang Ibu Sumiati seraya melipat kedua tangannya di dada. "Nggak usah sok-sokan atur menu sarapan. Mulai hari ini, kamu harus ingat posisi kamu di sini. Kehidupan kamu dan anak kamu sekarang sepenuhnya ikut kendali Ibu!"
Kata-kata itu diucapkannya dengan begitu lugas dan tanpa beban, seolah-olah aku dan Naya hanyalah dua beban tambahan yang tidak punya hak untuk bernapas bebas di rumah ini.
"Mulai sekarang, apa yang dimakan di rumah ini, berapa uang yang keluar, semuanya Ibu yang tentukan," lanjut Ibu Sumiati dengan mata menyipit tajam.
"Uang gajian Bayu sudah utuh di tangan Ibu. Jadi kamu nggak usah macem-macem atau bertindak seolah-olah kamu masih pegang kendali atas Bayu!"
Aku mengepalkan kedua tanganku di balik lipatan daster. "Sabar, Maya... Sabar..." batinku menjerit. Ingin rasanya aku berteriak tepat di depan wajahnya. Ingin rasanya aku mengingatkan bahwa aku adalah istri sah Bayu, wanita yang mendampinginya dari nol, bukan seorang budak yang bisa diatur jalannya rezeki dan hidupnya.
Namun, lidahku mendadak kelu. Posisiku yang menumpang di rumah ini membungkam seluruh keberanianku.
Belum sempat aku membalas, Ibu Sumiati kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada yang makin menohok ulu hati.
"Oh iya, soal ulang tahun Naya hari ini... tidak perlu kamu raya-rayakan! Nggak usah ada acara bagi-bagi makanan atau tumpengan segala. Pemborosan!" cetus Ibu Sumiati tanpa perasaan.
Lalu, kalimat berikutnya meluncur mulus dari bibirnya, bagaikan belati yang ditancapkan perlahan ke dadaku.
"Lagian... minimal kalau sudah tidak punya orang tua, jangan merepotkan!"
DEG!
Duniaku serasa berhenti berputar seketika.
Darah di dalam tubuhku mendadak berdesir hebat. Kata-kata itu... perkataan soal almarhum dan almarhumah orang tuaku... benar-benar menusuk jantungku hingga tak tersisa. Air mata mendadak menggenang keras di pelupuk mataku.
Gunting mana yang sanggup melukai hati seorang yatim piatu sekejam ini?
Orang tuaku sudah meninggal dunia. Mereka meninggalkanku dalam keadaan terhormat, memberiku peninggalan rumah yang layak di Bandung, dan membesarkanku dengan kasih sayang. Kami pindah ke sini bukan karena kami melarat atau tidak punya tempat tinggal, melainkan karena permintaan dan tangisan Ibu Sumiati sendiri yang memohon agar Bayu membawanya tinggal di sini untuk menemani masa tuanya.
Jujur, pada detik itu juga, rasa amarah di dalam dadaku sudah berada di puncak ubun-ubun. Ingin rasanya aku meledak, membalas setiap kata-katanya, dan membongkar semua fakta bahwa beliau-lah yang memohon-mohon kami untuk datang ke sini.
Namun, realita pahit kembali menghantam sadarku. Posisi menumpang yang kini melekat pada statusku di rumah ini memaksa otak sehatku untuk menahan diri. Aku sadar, jika aku melawan mertuaku saat ini, aku hanya akan menjadi pihak yang disalahkan. Aku akan dicap sebagai menantu kurang ajar, tidak tahu diri, dan tidak berbakti.
Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di sekujur tubuhku. Aku menggigit bibir bawahku erat-erat hingga terasa perih, menyerap seluruh rasa sakit itu sendirian dalam diam.
Ibu Sumiati menatap wajahku yang memucat dengan senyum puas. Seolah-olah beliau tahu betul bahwa kartu as-nya berhasil mengunci pergerakanku.
"Satu lagi," tambah Ibu Sumiati dengan nada santai, seolah-olah pemberitahuan berikutnya hanyalah masalah sepele. "Nanti siang kamu pindah kamar ya, Maya."
Aku mendongak cepat, menatapnya tidak percaya. "Pindah kamar, Bu?"
"Iya, pindah ke kamar belakang dekat dapur itu," jawab Ibu Sumiati tanpa rasa bersalah. "Soalnya nanti siang Rika sama suaminya mau datang dan tinggal di sini untuk sementara waktu. Kamar utama yang kamu tempati sekarang itu kan paling luas dan ada kamar mandi dalamnya, jadi lebih cocok buat Rika dan suaminya."
Dada rasanya seperti dihantam batu besar secara bertubi-tubi.
Kamar utama yang selama sebulan ini kutempati bersama Bayu dan Naya... harus kami serahkan begitu saja kepada Rika adik kandung Bayu dan suaminya? Dan kami, keluarga inti Bayu, harus tersingkir ke kamar belakang yang sempit, lembap, dan berdekatan dengan area dapur?
"Tapi Bu... barang-barang kami banyak di kamar itu. Naya juga sudah terbiasa tidur di sana..." suaraku terdengar serak dan hampir habis.
"Tinggal dipindahin, apa susahnya sih?" potong Ibu Sumiati cepat, matanya menatapku galak. "Rika itu anak kandung Ibu! Suaminya itu menantu pilihan Ibu, Lagian ini rumah Ibu, terserah Ibu dong mau atur siapa tidur di mana! Kamu kan cuma nempel di sini, masa nggak tahu diri?"
Nggak tahu diri...
Lagi-lagi kata itu. Kata yang digunakan untuk memotong seluruh hak dan harga diriku di rumah ini.
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Pikiran untuk protes dan menolak mentah-mentah keputusan gila ini terus berputar di kepalaku. Aku ingin menunggu Bayu pulang dan meminta suamiku itu membela hak kami.
Namun, bayangan kejadian semalam kembali berputar bagaikan kaset rusak di dalam ingatan.
Bagaimana reaksi Bayu semalam? Bayu hanya membisu saat ibunya menyebutku orang lain. Bayu hanya pasrah dan menyerahkan seluruh uang gajinya tanpa perlawanan. Jika aku memprotes masalah pindah kamar ini pada Bayu nanti, apa yang akan terjadi?
Bayu pasti akan membujukku dengan kata-kata manisnya yang beracun. "Mimo... ngalah dulu ya demi Pipo? Nggak apa-apa kok kamar belakang, yang penting kita sekeluarga tetep bareng. Jangan bikin Ibu marah lagi, Pipo capek diapit di tengah-tengah."
Ujung-ujungnya, protesku hanya akan menjadi pemicu pertengkaran baru antara aku dan Bayu. Aku yang akan dinilai sebagai istri yang tidak sabar, tidak bisa mengerti posisi suami, dan membawa keributan di dalam rumah tangga.
Posisi menumpang yang terucap begitu jelas dari mulut Ibu Sumiati pagi ini benar-benar membuatku harus sadar posisi. Di rumah ini, aku tidak punya pelindung. Suamiku sendiri sudah kehilangan keberaniannya di hadapan ibunya.
"Baik, Bu," jawabku akhirnya. Dua kata itu keluar dari mulutku dengan begitu berat, membawa seluruh sisa kekuatan yang kumiliki. "Nanti siang saya rapikan barang-barang saya dan Naya."
Ibu Sumiati tersenyum menang, merasa posisinya sebagai penguasa mutlak di rumah ini tak tergoyahkan. "Bagus kalau sadar. Ya sudah, bersihin dapur ini, terus siapkan makanan sederhana saja buat makan siang nanti."
Setelah mengatakan itu, Ibu Sumiati melangkah pergi meninggalkan dapur dengan dada terbusung bangga.
Tinggallah aku sendirian di dapur yang sepi. Tubuhku mendadak kehilangan tumpuan. Aku tersandar pada tepi meja, menutup wajahku dengan kedua belah tangan. Air mata yang sejak tadi kusembunyikan akhirnya menetes membasahi telapak tanganku.
Rasa sakitnya begitu nyata. Bukan cuma karena perlakuan tidak adil ini, tapi karena kesadaran bahwa aku telah salah menilai tempatku di hati Bayu dan di rumah ini.
"Mimo..."
Suara mungil yang sangat kukenali membuatku cepat-cepat mengusap air mata dan menyunggingkan senyum paksa. Aku berbalik dan melihat Naya berdiri di ambang pintu dapur. Dia mengenakan gaun merah cantiknya, memeluk boneka beruangnya dengan erat.
"Naya... sudah bangun, Sayang?" panggilku, berlutut dan merentangkan kedua tanganku.
Naya berlari kecil menghampiriku, melingkarkan lengan kecilnya di leherku.
"Mimo... hari ini Naya ulang tahun, kan? Pipo mana, Mimo? Pipo janji mau beli kue dan tumpeng mini buat Naya..."
Mendengar pertanyaan jujur dari putri kecilku, dadaku makin hancur keping demi keping.
Anakku... anak sekecil ini harus ikut menanggung dinginnya rumah ini. Ayahnya sibuk mengalah pada ibunya, sementara neneknya sendiri menganggap kehadirannya sebagai beban pemborosan.
Aku merengku tubuh Naya erat-erat, mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. Dalam hisapan napasku yang berat, sebuah ketegangan baru perlahan tumbuh menggantikan rasa sedihku.
Jika rasa sabar dan mengalahku selama ini hanya diinjak-injak... maka aku tidak boleh runtuh. Untuk Naya, aku harus kuat.
"Pipo lagi kerja, Sayang..." bisikku lembut di telinganya. "Tapi Naya jangan sedih, ya? Mimo yang bakal beliin kue paling cantik dan tumpeng mini buat Naya hari ini. Mimo janji."
Naya mendongak, matanya yang bulat berbinar-binar. "Beneran, Mimo? Pakai uang Mimo?"
"Iya, Sayang. Pakai uang Mimo sendiri," jawabku mantap.
Pagi itu, di tengah kehancuran harga diriku yang diinjak-injak oleh mertua dan dibiarkan oleh suami, aku membuat satu janji pada diriku sendiri.
Aku boleh mengalah soal kamar, aku boleh diam saat dihina tidak punya orang tua... tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merusak senyum anakku. Dan dari kamar belakang yang sempit itu nanti, aku akan menyusun langkahku sendiri untuk keluar dari neraka menumpang ini.