NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA

Pemandangan dari jendela kaca berukir di Paviliun Timur menyajikan hamparan Taman Mawar yang luas. Dari sudut tertinggi kediaman calon Putri Mahkota ini, Lady Seraphina Ardent berdiri dengan keanggunan yang sempurna. Tangannya yang lentik terbalut sarung tangan sutra putih, memegang piala porselen berisi teh herbal impor yang asap tipisnya membubung lembut.

Namun, di balik penampilannya yang cantik bagai lukisan dewi, mata Seraphina memancarkan kilatan dingin yang membahayakan.

Tatapan matanya terkunci pada koridor bawah dekat istal kerajaan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Pangeran Adrian yang baru saja keluar dari istal bersama adiknya, Pangeran Theodore. Dan tidak jauh dari sana, sesosok wanita bergaun hijau zaitun memandu seorang anak laki-laki berjalan cepat meninggalkan area tersebut.

Seraphina menyesap tehnya perlahan, membiarkan rasa pahit herbal menyapu lidahnya.

"Kau melihatnya juga, Seraphina?"

Suara berat dan berwibawa bergema dari balik pintu berpanel kayu jati. Duke Darius Ardent melangkah masuk. Pria paruh baya berambut perak berseragam dinas militer perbatasan itu menaruh sarung tangan kulitnya di atas meja, melangkah mendekati putrinya di dekat jendela.

"Adrian tidak pernah pergi ke istal pada jam-jam latihan militer," kata Seraphina, suaranya halus, teratur, namun dingin bagai es musim dingin. "Kecuali jika ada sesuatu... atau seseorang yang menarik perhatiannya di sana."

Darius menyipitkan matanya, mengamati sosok Elian yang menghilang di belokan Paviliun Barat. "Informan kita di Paviliun Barat melaporkan bahwa Adrian sudah tiga kali mengunjungi kediaman Alena secara pribadi. Bahkan kemarin pagi di taman utama, Adrian menggendong anak itu di hadapan para pengawal."

Seraphina meletakkan cangkir porselennya di atas meja dengan dentingan halus yang nyaring. Tangannya mengepal kaku di balik gaun sutra mewahnya.

"Seorang pria seperti Adrian tidak akan membuang waktunya untuk anak dari seorang selir biasa," ujar Seraphina, suaranya kini menajam oleh kebencian yang tertahan. "Adrian adalah calon raja yang paling rasional di Aveloria. Kecuali jika anak itu..."

Seraphina menghentikan kalimatnya. Suasana di dalam ruangan megah itu mendadak menjadi teramat sunyi.

Garis pemikiran yang selama beberapa hari ini dicobanya tolak, kini merekah menjadi sebuah kepastian yang mengerikan.

Tujuh tahun lalu, Alena Virelle melarikan diri dari istana secara mendadak, tepat beberapa minggu setelah pengumuman pertunangan politik antara dirinya dan Adrian. Tujuh tahun kemudian, wanita itu kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia tepat tujuh tahun. Anak yang memiliki mata berwarna abu-abu—warna mata langka yang hanya dimiliki oleh keturunan murni keluarga Valerian.

"Anak itu adalah darah daging Adrian," bisik Seraphina. Kata-kata itu terlepas dari bibirnya bagai racun yang membakar tenggorokannya sendiri.

Duke Darius tidak terkejut. Pria tua yang kenyang oleh asam garam intrik politik istana itu hanya menarik napas panjang, raut wajahnya yang kaku makin mengeras.

"Penyelidikan yang kulakukan melalui jaringan dewan di Bellmare mengonfirmasi bahwa Alena tidak pernah menikah," ungkap Darius dingin. "Tidak ada catatan mengenai suami atau pria lain di sana. Alena mendaftarkan dirinya sebagai janda dari seorang pedagang tanpa nama. Sebuah identitas palsu yang dirancang dengan sangat terburu-buru."

Seraphina membalikkan tubuhnya mendadak, menatap ayahnya dengan mata yang menyala oleh amarah dan ketakutan yang terselubung.

"Ini adalah bencana, Ayah!" kata Seraphina dalam bisikan tajam yang histeris. "Selama lima tahun aku menjadi Putri Mahkota resmi di tempat ini! Aku telah menanggung dinginnya sikap Adrian, aku telah mengabdi pada dewan, aku telah memastikan seluruh keluarga Ardent menyumbangkan perak dan prajurit untuk takhtanya! Namun hingga hari ini, aku belum juga memberinya seorang pewaris!"

Seraphina melangkah mendekati ayahnya, tangannya meremas lengan pakaian dinas Darius.

"Dan sekarang... seorang mantan juru tulis dari keluarga bangsawan rendah kembali membawa seorang anak laki-laki berdarah murni?! Jika dewan tahu... jika para menteri faksi lama tahu bahwa Adrian sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun..."

"Posisi hukummu akan goyah," potong Darius tegas, menyuarakan ketakutan terbesar putrinya. "Rakyat dan dewan tua yang konservatif akan menuntut agar anak itu diakui sebagai darah kerajaan. Dan Alena... bisa saja diangkat menjadi Ratu Pendamping jika anak itu dideklarasikan sebagai pewaris sah."

"Tidak!" jerit Seraphina pendek. "Aku tidak akan membiarkan posisi yang kuperjuangkan selama bertahun-tahun ini direbut oleh wanita pemikat dari desa!"

"Tenangkan dirimu, Seraphina," tegur Darius dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan kepanikan putrinya. "Emosi hanya akan membuat kita melakukan kesalahan fatal seperti yang dilakukan Lord Vincent di Aula Besar kemarin."

Seraphina menarik napas panjang, memejamkan matanya sekilas. Ketenangan dan kecerdikan politiknya perlahan kembali menguasai pikirannya. Ia menegakkan punggungnya, merapikan gaun peraknya.

"Apa rencana Ayah?" tanya Seraphina, suaranya kembali terkontrol.

Darius berjalan ke meja kerjanya, menyalakan sebuah lilin kecil, lalu membakar sebuah dokumen kertas yang dibawanya dari luar.

"Adrian sedang melakukan penyelidikan rahasia melalui Gareth," kata Darius sembari memperhatikan kertas itu berubah menjadi abu hitam. "Adrian mencari bukti hukum dan fisik untuk mengklaim anak itu. Tapi dia melangkah sangat hati-hati karena dia tahu ancaman dari kita."

"Lalu kenapa kita tidak menghabisi anak itu sekarang juga?" desak Seraphina, matanya memancarkan niat membunuh yang tak tertutupi. "Satu tetes racun di makanan Paviliun Barat, atau sebuah kecelakaan di taman—"

"Jangan bodoh, Seraphina!" pangkas Darius keras, menatap putrinya dengan peringatan tajam. "Jika anak itu mati secara misterius saat ini, Adrian akan langsung menuduh kita! Dia akan membawa seluruh pasukan pengawalnya untuk menghancurkan keluarga Ardent, peduli setan dengan aliansi militer perbatasan! Kita akan kehilangan segalanya dalam perang saudara!"

Seraphina menggigit bibir bawahnya, menyadari kebenaran kata-kata ayahnya. Adrian yang sedang dimabuk oleh rasa bersalah dan cinta pada anak itu akan berubah menjadi monster yang tak terkendali jika Elian disentuh secara terburu-buru.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" bisik Seraphina.

Darius menyunggingkan senyum tipis yang amat licik di bibirnya yang kaku.

"Kita tidak perlu membunuh anak itu sekarang," ujar Darius pelan. "Yang perlu kita lakukan adalah membuktikan terlebih dahulu apakah rumor ini benar, tanpa membuat Adrian curiga. Kita butuh bukti tak terbantahkan—sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menekan Alena agar wanita itu mengakui kebohongannya dan pergi selamanya, atau... sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menghancurkan klaim anak itu di hadapan Raja Cedric."

"Bagaimana caranya?" tanya Seraphina, matanya mulai berkilat penuh minat.

Darius mendekati putrinya, membisikkan sebuah rencana rahasia di telinga Seraphina.

"Tujuh tahun lalu, Alena tidak melarikan diri sendirian. Ada seseorang dari dalam istana ini yang membantunya keluar dari gerbang barat. Seseorang yang memegang dokumen dan kunci rahasia masa lalu itu. Cari orang itu, Seraphina. Dan gunakan rahasia itu untuk mengunci Alena sebelum Adrian sempat mendeklarasikan anak tersebut sebagai pewaris takhta."

Seraphina menyunggingkan senyum anggun namun beracun di wajah cantiknya. Rasa takut yang sempat menguasai dirinya kini berganti menjadi tekad dingin yang mematikan.

Ia menatap kembali ke arah Paviliun Barat di kejauhan. Permainan kekuasaan di Istana Valerian telah memasuki babak paling berbahaya, dan Seraphina bersumpah, ia akan melakukan apa saja demi memastikan mahkota Aveloria tetap menjadi miliknya—walau harus menghancurkan kehidupan seorang ibu dan anak yang tak berdosa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!