Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Interogasi
Suasana kamar utama Mansion Vane di pagi hari terasa sangat berbeda. Bau darah tipis dan bekas pecahan lampu tidur besi tadi malam telah dibersihkan sepenuhnya oleh tim pembersih khusus. Tiga pembunuh berdarah dingin yang dilumpuhkan oleh Aura sudah diseret ke ruang tahanan bawah tanah Vane Group untuk diinterogasi lebih lanjut oleh tim intelijen Adrian.
Namun, ruangan yang paling membutuhkan 'interogasi' sebenarnya adalah ruang kerja pribadi Adrian saat ini.
Matahari memancarkan sinarnya yang cerah menembus jendela kaca raksasa, tetapi suhu di dalam ruang kerja tersebut terasa membeku. Adrian duduk di balik meja kayunya yang megah, mengenakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Di depannya, berdiri sebuah papan tulis kaca raksasa yang dipenuhi oleh foto-foto, dokumen riwayat hidup, serta jalur analisis medis atas nama **Aura Valeria**.
Di sofa empuk seberang meja, Aura duduk bersedekah dada. Ia mengenakan gaun santai warna merah marun. Di samping tangannya, ada cangkir teh hangat lengkap dengan sedotan ramah lingkungan—tanda bahwa 'pengawasan kecerobohan' dari Adrian masih berlaku.
Aura melirik papan tulis kaca itu dengan sudut mata yang berkedut. Naluri agen elitnya tahu bahwa Adrian sedang membedah identitasnya hingga ke akar-akarnya.
"Jadi," Adrian memecah keheningan. Suaranya datar, berat, dan dipenuhi oleh aura dominasi dingin yang mampu membuat nyali pengusaha mana pun ciut. "Bisa kamu jelaskan padaku, Aura? Bagaimana bisa seorang gadis yang dalam catatan medisnya dinyatakan mengidap fobia sosial, tidak pernah mengikuti pelatihan fisik, dan bahkan pingsan saat melihat darah... mendadak bisa mematahkan pergelangan tangan pembunuh bayaran dalam kurun waktu kurang dari tiga detik?"
Adrian berdiri, melangkah perlahan mendekati sofa tempat Aura duduk. Setiap langkah sepatunya yang mantap mengintervensi ruang gerak Aura.
"Bukan cuma itu," lanjut Adrian, berhenti tepat di depan Aura dan menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Gaya bertarungmu tadi malam adalah teknik *Close Quarter Combat* (CQC) standar pasukan khusus tingkat tinggi. Siapa kamu sebenarnya? Penyusup dari kartel sainganku? Atau mata-mata yang dikirim untuk menghancurkan Vane Group dari dalam?"
Menghadapi intimidasi sekelas Raja Mafia, Aura justru tidak berkedip. Sebagai mantan agen rahasia yang pernah diinterogasi dalam kondisi terikat di kursi listrik, gertakan verbal Adrian ini terasa seperti dongeng sebelum tidur.
Aura mengambil cangkir tehnya, menyesapnya sedikit lewat sedotan, lalu meletakkannya kembali dengan dentang halus. Begitu bibirnya terbuka, kata-katanya meluncur deras secepat senapan mesin tanpa ada keraguan sedikit pun!
"Mata-mata? Kartel saingan?" Aura terkekeh sinis, bicaranya menyambar secepat peluru. "Tuan CEO, kalau aku ini mata-mata yang mau membunuhmu, buat apa aku cape-cape melompat dari meja nakas dan membuang lampu tidur besimu buat menyelamatkan leher mahalmu tadi malam?! Kalau aku membiarkan pembunuh itu menyayat tenggorokanmu, detik ini juga aku sudah jadi janda kaya raya yang mewarisi separuh aset Vane Group tanpa perlu repot-repot bertarung!"
Adrian menyipitkan matanya. Kalimat secepat kilat itu masuk akal secara logis, tetapi tidak menjawab teka-teki terbesar di kepalanya.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan keahlian mematikan itu?" desak Adrian, suaranya makin rendah dan berbahaya.
Aura memutar otak dengan kecepatan ribuan putaran per menit. Menjelaskan bahwa jiwa agen rahasia bernama Vanya telah masuk ke tubuh Aura setelah mati tersedak air putih tentu saja terdengar seperti kegilaan pasien rumah sakit jiwa.
Aura menatap lurus ke dalam mata gelap Adrian, memasang ekspresi paling misterius namun penuh keyakinan.
"Pernah dengar tentang fenomena manusia yang hampir mati lalu mendadak memicu potensi tersembunyi di otak mereka?" kilah Aura secepat kilat tanpa berkedip. "Saat aku ditenggelamkan di kolam renang oleh Clara, aku merasakan kematian begitu dekat. Dalam kondisi antara hidup dan mati itu, otakku seperti 'terbuka'. Semua buku beladiri, analisis keuangan, dan strategi pertahanan yang pernah aku baca secara tidak sadar terintegrasi penuh ke refleks tubuhku. Kamu mau percaya atau tidak, itu urusanmu! Yang jelas, aku bukan musuhmu!"
Adrian menatap Aura selama beberapa puluh detik tanpa suara. Pria itu mencoba mencari kebohongan atau keraguan di mata bulat wanita itu, tetapi yang ia temukan hanyalah kejujuran yang membara dan keteguhan jiwa yang luar biasa.
Adrian mendengus kekeh pelan dari dalam tenggorokannya. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum dan dominasi terukir di bibirnya.
"Alasan yang sangat tidak masuk akal," gumam Adrian sambil melangkah makin dekat, mengurung Aura di atas sofa dengan meletakkan kedua tangannya di sandaran sofa. "Tapi anehnya... aku menyukainya."
Aura menahan napas saat wajah Adrian mendadak mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma maskulin berkayu milik Adrian kembali memenuhi indra penciumannya.
"Aku tidak peduli siapa kamu di masa lalu atau keajaiban apa yang terjadi padamu di kolam renang itu," bisik Adrian dengan suara rendah yang begitu seksi dan posesif, membuat bulu kuduk Aura berdiri. "Yang aku tahu, saat ini kamu adalah istri sah dari Adrian Vane. Dan di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau membahayakan milikku."
Dada Aura berdesir hebat. Agen elit yang biasanya memiliki pertahanan mental sekeras baja itu kini merasakan jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
"S-siapa juga yang milikmu?!" dorong Aura pada dada bidang Adrian secepat kilat, berusaha menutupi guncangan di dadanya. "Cepat jauhkan wajahmu! Kamu ini suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan tahu!"
Aura berdiri dari sofa dengan cepat, berniat melangkah pergi dari ruang kerja yang mendadak terasa sangat panas itu.
Namun, seperti yang sudah bisa ditebak... sifat ceroboh jiwanya yang mendadak muncul saat ia sedang panik atau malu kembali berulah!
Ujung gaun santainya yang agak melar terinjak oleh tumit sandal rumahnya sendiri!
"Aah, aduh!"
Aura hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke belakang!
*Greb!*
Tentu saja, lengan kokoh Adrian bergerak secepat kilat menyambar pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu kembali rapat-rapat ke dalam dekapannya hingga dada mereka menempel tanpa celah.
Aura mendongak kaget, matanya berkedip-kedip konyol di pelukan Adrian untuk kesekian kalinya.
"Setiap kali kamu mencoba menyangkal perasaanmu dan kabur dariku," bisik Adrian tepat di dekat bibir Aura, kekehan renyahnya bergema halus di dalam dada bidangnya, "tubuhmu selalu memilih untuk jatuh kembali ke pelukanku, Aura."
Wajah Aura seketika memerah panas sampai ke leher!
"I-itu gara-gara sandalnya licin!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar seperti peluru untuk menyelamatkan harga dirinya. "Lagipula lantai kayu ruang kerjamu ini dipel pakai apa sih?! Kenapa licin sekali?! Jangan-jangan kamu sengaja memolesnya supaya aku terpeleset terus ya?!"
Adrian tidak bisa menahan tawa renyahnya lagi. Sang CEO berdarah dingin yang ditakuti seluruh dunia bisnis dan mafia itu tertawa lepas di dalam ruang kerjanya—sebuah pemandangan langka yang membuat asisten pribadinya yang baru saja hendak mengetuk pintu mematung syok di luar ruangan.
"Terserah apa katamu, Istriku," ujar Adrian lembut sambil merapikan helai rambut Aura yang berantakan dengan jarinya. "Tapi mulai besok, kamu ikut denganku ke kantor Vane Group."
Aura membelalakkan mata. "Ke kantor Vane Group?! Mau ngapain?!"
"Proyek investasi besar dengan investor asing membutuhkan analisis cepat darimu," balas Adrian dengan senyum misterius. "Lagipula... membiarkanmu sendirian di rumah dengan segelas air minum terlalu berbahaya bagi jantungku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘