NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat Sejati atau Ular Dalam Selimut ?

Ruang kerja Arga di lantai teratas gedung Pratama Group menyajikan pemandangan lanskap kota yang megah, namun atmosfer di dalamnya terasa begitu dingin dan pekat. Udara berpendingin seolah membeku di sekitar meja kayu mahoni tempat Arga terduduk. Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang mulai dingin tak tersentuh.

Ketukan di pintu memecah keheningan. Sebelum Arga sempat merespons, pintu itu sudah terdorong terbuka dengan gaya santai yang terlalu akrab.

"Arga! ' Happy anniversary' , Bro!"

Reza melangkah masuk dengan senyum lebar, mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama—jas yang dibeli menggunakan bonus dividen dari proyek yang Arga limpahkan padanya tiga bulan lalu. Reza berjalan penuh percaya diri, memegang sebuah kotak hadiah berbungkus kertas perak, lalu meletakkannya tanpa rasa canggung di atas meja kerja Arga.

Arga tidak langsung berdiri. Ia menatap wajah pria di hadapannya. Pria yang sepuluh tahun lalu datang menemuinya dengan pakaian lusuh, memohon bantuan modal usaha saat keluarganya terjerat utang. Pria yang selama ini ia panggil saudara. Wajah itu... tak memiliki sedikit pun raut bersalah. Tidak ada tremor di tangannya, tidak ada kegugupan di matanya. Hanya ada kelicikan yang terbungkus rapi oleh keramahan palsu.

' Bagaimana bisa seseorang berpura-pura seindah ini setelah menghancurkan rumah orang lain?' batin Arga. Sebuah rasa muak membakar tenggorokannya, tapi Arga menahannya dengan hembusan napas halus.

"Terima kasih, Za," jawab Arga. Suaranya datar, namun ia memaksa sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan ilusi senyuman tipis. "Kamu selalu jadi orang pertama yang ingat."

Reza tertawa renyah, merobohkan tubuhnya ke kursi kulit di depan Arga, menyilangkan kaki dengan sangat santai. "Ya jelaslah. Kita ini bukan cuma rekan bisnis, Ga. Kita sahabat sejati. Bahagia kamu, bahagia aku juga. Nabila pasti senang banget hari ini. Tadi pagi dia sempat kirim pesan, bilang kamu kasih dia gelang baru."

Pernyataan itu terlontar begitu mudah dari mulut Reza. ' Tadi pagi dia sempat kirim pesan.' Mereka bahkan masih berkomunikasi di balik punggung Arga, merayakan hadiah yang dibeli dengan uang Arga, seolah Arga adalah lelucon terbesar dalam hidup mereka.

Arga menyandarkan punggungnya, jemarinya bertaut di atas meja. Tangannya sangat tenang, padahal di dalam dadanya, setiap urat sarafnya menegang. "Nabila suka sekali gelangnya. Kamu tahu sendiri, Za... apapun yang Nabila mau, selalu aku usahakan. Karena buat aku, kesetiaan dan kebahagiaan keluarga itu nomor satu."

Arga sengaja menekankan kata ' kesetiaan ' . Ia menatap lurus ke dalam pupil mata Reza, mencari getaran mikro di sana.

Reza sempat tertegun sejenak. Ada jeda seperseribu detik di mana mata Reza berkedip lebih cepat, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali. "Tentu, Ga. Kamu suami idaman. Tapi ya... kadang wanita itu bukan cuma butuh materi, Ga. Mereka butuh kehadiran. Kamu terlalu gila kerja. Jangan sampai kamu lengah, nanti ada orang lain yang ngisi kekosongan itu."

Ucapan Reza terdengar seperti nasihat seorang sahabat, namun Arga bisa merasakan racun yang terselip di balik setiap suku katanya. Reza sedang mengejeknya secara tidak langsung. Reza sedang membanggakan keberhasilannya mengisi "kekosongan" itu di ranjang Arga.

Tekanan darah Arga memuncak, tapi pikirannya yang dingin dan dingin tetap memegang kendali. ' Nikmati kemenangan serumu sekarang, Reza. Karena semakin tinggi kamu memanjat, semakin menyakitkan saat kamu jatuh nanti.'

"Kamu benar, Za," balas Arga dengan nada yang sangat tenang, hampir menakutkan jika saja Reza tidak terlalu percaya diri. "Makanya, malam ini aku mau merayakan ulang tahun pernikahan kami secara spesial. Dan aku mau kamu ikut bergabung."

Reza agak terkejut. "Aku? Ah, enggak usah, Ga. Ini kan momen pribadi kamu sama Nabila. Aku enggak mau jadi pengganggu."

"Pengganggu?" Arga terkekeh pelan—sebuah tawa yang kering dan tanpa jiwa. "Mana ada sahabat sejati yang jadi pengganggu? Tanpa bantuan kamu mengurus anak perusahaan, aku enggak akan bisa sampai di titik ini. Kamu punya peran besar dalam hidup kami, Za. Sangat besar."

Arga berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Reza, lalu mendaratkan tangan kanannya di bahu pria itu. Pegangannya cukup erat—sebuah cengkeraman yang terselubung sebagai kehangatan persahabatan, padahal Arga sedang menyalurkan seluruh kepedihan dan niat membunuh yang ia tahan sejak semalam.

Reza merasa bahunya agak tertekan, namun ia hanya tertawa canggung. "Oke, oke, kalau kamu yang memaksa. Di restoran mana?"

"Restoran biasa. Jam delapan malam," kata Arga, melepaskan cengkeramannya dari bahu Reza dan menepuknya pelan dua kali. "Oh iya, Za... soal ajuan pinjaman dana segar 50 miliar untuk perusahaanmu yang kemarin... aku sudah meninjau dokumennya."

Mata Reza langsung berbinar serakah. "Gimana, Ga? Disetujui, kan? Proyek itu bakal melipatgandakan keuntungan kita!"

Arga tersenyum—senyuman paling beracun yang pernah ia sunggingkan. "Sudah aku tandatangani persetujuannya pagi ini. Uangnya akan segera ditransfer ke rekening operasionalmu."

' Bukan ke rekening operasional,' batin Arga saat menatap binar keserakahan di mata sahabatnya. 'Uang itu adalah umpan pertama dari perangkap yang akan memenjarakanmu seumur hidup.'

"Terima kasih banyak, Ga! Kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku punya!" Reza berdiri dan memeluk Arga dengan erat.

Dalam pelukan sang pengkhianat, mata Arga menatap tajam ke arah dinding kaca ruang kerjanya. Dingin, hampa, dan penuh dendam.

"Sama-sama, Reza," bisik Arga pelan di samping telinga Reza. "Sama-sama."

1
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!