NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS

Senin sore di SMA Garuda Bangsa diwarnai oleh mendung pekat yang menggantung rendah di atas atap sekolah. Keheningan pasca jam pelajaran terakhir mulai menyelimuti sudut-sudut koridor, menyisakan gesekan dedaunan pohon angsana yang tertiup angin dingin.

Naya duduk sendirian di atas bangku semen taman belakang sekolah—sebuah sudut tersembunyi di balik laboratorium kimia yang jarang dilewati siswa.

Mata bulatnya sembab dan memerah. Kedua tangannya meremas rok abu-abunya yang kusut, sementara bahunya berguncang pelan oleh isakan tertahan yang berusaha ia sembunyikan dari dunia.

Beberapa menit yang lalu, sebuah kesalahpahaman pahit terjadi di dalam kelas 12 IPS 2. Dana kas kelas yang disimpan di dalam laci meja Naya mendadak hilang sebagian. Beberapa teman sekelasnya—yang diprovokasi oleh tuduhan ketus salah seorang siswi—secara tidak langsung menyudutkan Naya. Mereka mengungkit kebiasaan Naya yang sering ceroboh dan terlambat, seolah-olah kekurangan itu menjadikan Naya sosok yang pantas dicurigai.

Meskipun Saskia dan Reno telah pasang badan membelanya habis-habisan, prasangka dan tatapan miring dari teman-teman sekelasnya menghantam dada Naya begitu telak.

"Gue emang cerewet... gue emang suka bikin masalah..." bisik Naya pada dirinya sendiri, suaranya parau dan terputus-putus oleh tangis. "Tapi gue bukan pencuri..."

Naya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke pangkuan, meluapkan seluruh rasa sesak, kecewa, dan amarah yang tertahan di dadanya. Air matanya menetes membasahi kain rok abu-abunya.

Srekk.

Suara gesekan sepatu di atas rumput basah terdengar mendekat. Naya buru-buru menyapu air matanya dengan lengan baju seragamnya, berusaha menata napas agar tidak terlihat menyedihkan di depan siapa pun yang datang.

"Saskia... kan gue udah bilang gue mau sendiri dulu—"

Naya menghentikan kalimatnya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

Arka.

Laki-laki itu berdiri tegap di bawah naungan pohon angsana. Jas OSIS biru gelapnya tersampir di lengan kirinya, sementara tangan kanannya memegang sebuah saputangan kain berwarna putih bersih yang terlipat rapi. Wajahnya yang biasa tenang kini dilapisi oleh ketegangan samar di sekitar rahang dan matanya.

Arka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah mendekat, lalu duduk secara perlahan di ujung bangku semen yang sama, menyisakan jarak sekitar dua jengkal di antara mereka.

Naya buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan memperlihatkan matanya yang bengkak dan hidungnya yang merona merah.

"Ngapain lo ke sini?" suara Naya terdengar serak dan serendah bisikan. "Mau ngetawain gue lagi? Atau mau bilang kalau ini salah gue gara-gara ceroboh naruh uang kas?"

Arka tidak membalas tuduhan tajam itu. Ia hanya menghembuskan napas panjang lewat hidung. Tangan kanannya terulur, meletakkan saputangan putih bersih itu tepat di atas pangkuan Naya.

"Pakai," kata Arka pendek. Nadanya teramat datar, namun tidak ada sedikit pun sisa sarkasme atau kedinginan di sana.

Naya menatap saputangan itu sejenak, lalu mengabaikannya. "Gue nggak butuh kasihan lo, Arka. Pergi sana. Kalau ada anak OSIS atau teman-teman lo yang lihat lo di sini sama cewek bermasalah kayak gue, nanti citra sempurna lo rusak."

Arka memalingkan wajahnya menatap Naya lurus-lurus. Laki-laki yang biasanya paling pandai merangkai kalimat tata tertib itu kini terdiam selama beberapa detik. Manik mata hitamnya yang pekat menyapu raut wajah Naya yang basah oleh sisa air mata.

"Dito sudah menemukan uangnya," ujar Arka tenang.

Naya tersentak kecil, memutar kepalanya menatap Arka dengan pandangan tak percaya. "Hah?"

"Uang kas kelas kamu tidak hilang," terang Arka pelan. "Uangnya terselip di balik lipatan buku presensi yang dibawa bendahara kamu sendiri tadi siang ke ruang OSIS. Dito baru saja menyerahkan uang itu kembali ke kelas kamu dan menjelaskan semuanya di depan anak-anak."

Naya terpaku. Rasa sesak yang memenuhi dadanya sejak tadi mendadak mereda, digantikan oleh gumpalan keharuan yang tak terduga. "B—beneran...?"

"Iya," jawab Arka singkat. "Dan siswi yang menuduh kamu tadi... saya sudah minta dia minta maaf ke kamu besok pagi. Kalau tidak, poin kedisiplinannya akan saya potong."

Air mata baru yang hangat kembali menggenang di sudut mata Naya. Kali ini bukan karena amarah atau kecewa, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Naya menyapu matanya dengan punggung tangan, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona merah.

"Kenapa lo... kenapa lo harus repot-repot ngurusin hal sepele kayak gini?" bisik Naya pelan, dadanya naik turun. "Ini kan cuma masalah sepele di kelas IPS..."

Arka memalingkan pandangannya ke depan, menatap rumput basah yang bergoyang tertiup angin sore. Kedua tangannya menyatu di atas paha.

"Karena ini bukan hal sepele buat kamu," balas Arka dengan suara yang begitu lembut, bergetar tipis di dalam keheningan taman belakang.

Naya menahan napasnya, menatap profil samping wajah Arka dari dekat.

Arka berdeham kaku, mengusap belakang lehernya—sebuah gestur langka yang selalu laki-laki itu lakukan setiap kali rasa canggung dan emosi yang tak terbiasa menguasai dirinya.

"Dan..." Arka jeda sejenak, menoleh kembali menatap langsung ke dalam mata bulat Naya yang basah. "...saya tidak suka melihat kamu menangis."

Kalimat sederhana itu meluncur bebas tanpa tameng aturan, tanpa kiasan hukum sekolah, dan tanpa selubung kebencian yang biasa mereka gaungkan setiap hari.

Jantung Naya melompat liar tak terkendali. Pengakuan jujur dari bibir Arka menghantam dadanya begitu telak hingga seluruh kata-kata sarkas yang biasa disiapkannya lelah dan meleleh tak berbekas.

"Arka..." bisik Naya gelagapan, matanya membelalak kecil.

Arka tidak mengalihkan pandangannya. Manik mata hitamnya memancarkan kejujuran dan rasa protektif yang teramat dalam—sebuah perasaan yang mulai melampaui batas-batas dari surat perjanjian yang mereka buat bersama di ruang OSIS waktu itu.

"Kamu boleh berteriak ke saya, kamu boleh marah-marah ke saya, atau mengejek saya kaku setiap hari di rumah," lanjut Arka pelan, nadanya menusuk sampai ke ulu hati Naya. "Tapi saya tidak suka melihat kamu menangis gara-gara orang lain."

Hujan gerimis tipis mulai merintik turun dari langit kelabu, membasahi dedaunan di atas kepala mereka. Namun baik Naya maupun Arka tidak bergeming dari duduk mereka di bangku semen tersebut.

Naya meremas saputangan putih milik Arka di pangkuannya erat-erat. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kalimat cowok itu, meruntuhkan batu-batu kebencian yang selama ini ia tumpuk tinggi di sekeliling hatinya.

Naya menyapu sisa air mata di pipinya menggunakan saputangan itu, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum kecil yang tulus di tengah sisa kepedihannya.

"Lo emang ketua OSIS yang paling menyebalkan se-dunia, Arka," gumam Naya pelan, walau matanya memancarkan rasa terima kasih yang teramat dalam.

Arka menatap senyum tipis itu. Sebuah sunggingan bibir yang teramat halus dan hangat akhirnya terbit di wajah sang Ketua OSIS.

"Dan kamu adalah istri yang paling tidak bisa diatur," balas Arka datar, namun binar di matanya begitu hangat.

Arka berdiri, lalu merentangkan jas OSIS biru gelapnya di atas kepala Naya untuk melindungi cewek itu dari rintik gerimis yang kian deras.

"Ayo pulang," kata Arka pelan. "Ibu sudah masak di rumah."

Naya mendongak menatap Arka yang berdiri menaunginya dari hujan. Hari itu, mereka memang belum saling mengikrarkan kata cinta secara terbuka. Namun di bawah guyuran gerimis taman belakang sekolah, kedua remaja itu tahu... tembok kebencian di antara mereka telah runtuh sepenuhnya, meninggalkan benih-benih perasaan baru yang kian tumbuh indah di atas puing-puing rahasia mereka.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!