"Aku melakukan semua ini hanya untuk menguji cintanya. Apa dia dapat bertahan dengan aku yang penderita kanker dan miskin. Kalau tidak dapat bertahan, itu artinya dia tidak tulus. Dan tidak pantas memasuki keluarga Wiguna."
Felicia tertegun mendengar percakapan kekasihnya dengan teman-temannya. Dirinya melakukan dua pekerjaan sekaligus, hanya untuk mengobati kekasihnya yang menderita kanker. Hampir setiap hari memakan mie instan hingga sempat mengalami radang usus.
Tapi dua tahun itu hanya pengujian cinta?
Nona muda yang kabur dari perjodohan hanya untuk kekasihnya ini. Ternyata cintanya dianggap begitu murahan.
Dalam keputusasaan, Felicia mengemasi barang-barangnya. Memalsukan kematiannya agar tuan muda keluarga Wiguna tidak mencarinya lagi.
Dirinya menghubungi keluarganya, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun.
"Ayah, aku bersedia menikah dengan Gabriel."
Wanita yang berkemas, akan ada saatnya meninggalkan segalanya.
"A...aku tidak akan mencintainya lagi..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama
Kalimat demi kalimat yang membuat Citra tertegun. Wanita itu melangkah mundur ketakutan.
“Aku melakukan ini bukan karena sengaja. Aku melakukan ini karena permainan pengujian!” Suara teriakan dari Citra.
“Citra…ikutlah dengan mereka. Nanti biar aku yang mengatur agar kamu dibebaskan.” Romi menepuk bahunya, agar untuk sementara waktu Citra tidak membocorkan tentang semua ini.
Sementara matanya menatap ke arah Felicia. Wanita itu masih gemetar ketakutan, mengenakan jas yang diberikan oleh Tuan muda Gunawan.
Romi hendak mendekat, mendekati kekasihnya yang ketakutan. Tapi, Tommy menghentikannya kemudian menggeleng.
“Yang kita lakukan tadi sudah keterlaluan. Kalau kamu mengatakan sekarang bahwa namamu adalah Romi Wiguna, Felicia mungkin akan marah padamu.” Itulah kalimat yang diucapkan oleh Tommy pelan.
Sedangkan Dwika menghela nafas.”Sekarang lebih baik kita lindungi Citra saja. Bagaimanapun Citra berbuat seperti ini, mempertaruhkan nama baiknya hanya untukmu.”
Namun berbeda dengan Rio yang hanya diam saja dari tadi. Pemuda itu menghela nafas mendekati mereka.
“Romi, ini hanya nasehat dariku. Yang Citra lakukan keterlaluan, sebaiknya kamu membawa Citra minta maaf kepada Felicia. Kemudian bongkar semuanya, minta maaflah secara baik-baik. Kalau tidak cepat atau lambat kamu akan kehilangan Felicia. Jujur saja, dengan kecantikannya, Felicia bisa mendapatkan banyak pria yang lebih sempurna daripada kamu.” Rio memberikan nasehat padanya.
“Romi jangan dengarkan Rio. Pengujian cinta ini benar-benar perlu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau Felicia mendorong Citra saat berada di parkiran. Kalau wanita seperti ini dibiarkan dan tidak dididik, maka suatu saat nanti akan menjadi berbahaya. Lagi pula, di kota ini keluarga Wiguna yang paling berkuasa. Siapa yang berani mendekati atau menikahi wanita kesayangan Romi Wiguna.” Kalimat yang diucapkan oleh Dwika meyakinkannya.
“Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Citra.” Tommy menghela nafas kasar, kemudian mengajak teman-temannya pergi, untuk mengikuti Citra yang tengah di bimbing oleh petugas kepolisian.
Romi pada awalnya menghentikan langkahnya. Matanya menatap ke arah Felicia yang bagaikan menunduk ketakutan seorang diri. Tangannya mengepal, ini adalah kesalahannya karena membiarkan Citra melakukan pengujian cinta yang keterlaluan.
“Aku akan menebusnya nanti…” gumamnya melangkah pergi, mengikuti teman-temannya.
Tentu saja drama ini belum berakhir. Felicia mendekat ke arah Tia, kemudian menunduk memberi hormat.
“Boss, Maaf sudah mempermalukan namamu. Aku bekerja di tempatmu, tapi aku terkadang bolos. Aku bekerja di tempatmu, tapi malah terjadi insiden seperti ini. Karena itu…aku tidak apa-apa jika harus berhenti. Aku hanya harus lebih bekerja keras lagi mencari pekerjaan lain. Mohon maafkan aku atas insiden hari ini.” Felicia menunduk memberi hormat di hadapan Tia.
Bibir dia terkatup, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri bungkam. Benar-benar merasa kasihan dengan wanita ini. Wanita yang benar-benar terlihat tulus kepada putranya.
“Felicia, kamu bisa tetap bekerja di tempatku.” Ucap Tia kepadanya.
Felicia hanya menggeleng pelan.”Teman pacarku salah paham padaku. Beberapa hari lalu motorku ditabrak, tapi sudah tidak apa-apa, aku sudah memperbaikinya. Motornya sudah bisa berjalan, hanya saja untuk mengantar makanan dengan cepat akan sulit. Karena itu juga, maaf aku harus berhenti untuk sementara waktu. Ini juga karena kesalahanku mempermalukan ibu boss.”
Sebuah senyuman yang hangat seperti tanpa dendam sama sekali. Benar-benar menusuk hati ini, siapa yang tidak akan terperdaya dan terpikat. Sudah dilukai seperti itu, sudah dituding dan dituduh. Tapi tetap saja bisa tersenyum bagaikan malaikat.
“Tunggu!” Sanjaya Wiguna berkata kepada wanita itu. “Aku sudah salah menuduhmu. Ini adalah kompensasi untukmu, di dalam kartu ini ada uang senilai rp30.000.000. Selain itu, aku bersahabat dengan Jovie Kirana. Bisa kamu tidak mengajukan tuntutan untuk putrinya?” Pertanyaan yang diucapkan oleh pria itu menelan ludahnya.
“Aku tidak tahu, apa aku bisa mencabut tuntutannya. Tapi aku akan berusaha mencabut tuntutannya. Karena tuntutan itu diajukan oleh Tuan muda Gunawan. Dan untuk uang ini, saya tidak bisa menerimanya. Saya benar-benar tidak apa-apa, Ayah hanya meminta doanya agar kekasih saya bisa cepat sembuh.” Wanita yang benar-benar terlihat ikhlas.
Mengembalikan kartu ATM ke tangan Sanjaya Wiguna.
Sanjaya Wiguna diam tertegun, tangannya gemetar ketika kartu itu kembali ke tangannya lagi. Tangan yang tadi dipergunakan olehnya untuk menampar wanita ini.
Wanita yang ternyata tidak bersalah sama sekali. Bahkan dengan mudahnya memberikan kata maaf.
“Saya permisi…sekali lagi saya meminta maaf atas insiden hari ini. Ini semua murni kesalahan saya, bukan kesalahan Nona Citra, yang sudah berbaik hati memberikan pekerjaan ini kepada saya.” Kalimat yang diucapkan sang pelayan pada tamu yang hadir. Kemudian menghapus air matanya sembari melangkah pergi.
Wajahnya yang cantik tetap dapat tersenyum bagaikan cerahnya sinar matahari. Perilakunya yang sopan santun terlihat begitu indah. Siapa yang tega menyakiti wanita ini?
“Dia cukup baik…” tangan Sanjaya Wiguna gemetar, tepatnya masih gemetar hingga saat ini. Meletakkan kembali kartu atm-nya ke dalam saku.
“Sudah aku bilang dia wanita yang baik. Kamu dengar sendiri bukan, Dwika bahkan menghancurkan motornya. Tapi dia sama sekali tidak memandang dendam kepada Dwika dan Citra. Kalau memiliki anak perempuan Aku ingin memiliki anak perempuan yang seperti ini.” Tia menghela nafas, dadanya terasa berat dan sesak karena salah menuduh.
Begitu juga dengan Sanjaya saat ini. Apa dirinya bersalah kepada anak ini?
“Romi memang benar-benar sudah keterlaluan. Dia sudah berbuat salah kepada Felicia, tapi malah lebih memilih menolong Citra yang berada di kantor polisi. Seharusnya dia meminta maaf dan mengantar kekasihnya pulang. Walaupun belum ingin membongkar identitasnya. Kenapa aku bisa memiliki putra semenyebalkan dirinya.” Sanjaya Wiguna mengepalkan tangannya.
“Benar! 2 tahun pengujian ini. Semakin lama terasa semakin menyesakan. Terutama belakangan ini, aku baru mendapatkan bocoran dari salah satu pegawaiku. Felicia sering pulang membawa makanan sisa. Dia juga pernah terkena radang usus karena terlalu banyak memakan mie instan. Katanya itu semua untuk berhemat, supaya bisa mengobati penyakit kanker pacarnya.” Tia tiba-tiba merasa geram sendiri.
Padahal sebelumnya wanita ini ikut membully calon menantunya.
Tapi sekarang keadaan bagaikan berbalik. Sepasang suami istri ini kemudian mengikuti langkah Felicia.
Wanita yang melangkah pelan, setelah membereskan barang-barangnya yang sempat berceceran di ballroom. Wanita itu berjalan pergi, menerima upah yang hanya sedikit dari EO penyelenggara pesta.
Melangkah ke tempat parkir hotel. Di samping mobil Porsche berharga puluhan miliar rupiah. Terlihat sebuah sepeda motor matic yang ringsek, benar-benar motor yang hancur. Tapi masih tidak dapat hidup dan dikendarai.
Gadis itu menaiki motor matic yang rusak itu. Wajahnya masih tetap terlihat ceria, tapi bibirnya bagaikan bergetar menyembunyikan rasa sakit yang tertanam.
Kemudian mengendarai motornya. Bahkan, Sanjaya Wiguna juga melihat, gadis bernama Felicia ini, membawa sedikit makanan bekas pesta. Apa untuk dimakan olehnya?
Akting yang mumpuni, sutradara yang keren, penyusun skenario yang tidak dapat dianggap enteng. Begitu menggugah perasaan sepasang suami istri ini merasakan drama ini.
Sementara Felicia tersenyum mengendarai motor matic nya. Matanya melirik ke arah spion motor. sepasang suami istri yang pastinya merendahkannya. Kini menata penuh rasa bersalah kepadanya..
saya yg tegang