NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sore itu, semburat jingga merayap di langit desa. Cahaya matahari yang temaram menerpa halaman rumah kayu peninggalan Nek Nilam. Nina sedang memegang sapu lidi, membersihkan dedaunan kering yang berserakan di tanah. Hatinya masih diliputi duka yang mendalam atas kepergian sang nenek, ditambah beban batin melihat sikap Roni yang kian hari kian menyakitkan.

"Permisi..." ucap sebuah suara laki-laki memecah keheningan, menghentikan gerakan tangan Nina.

Nina menoleh. Di ambang pagar halaman, berdiri seorang pria asing berpenampilan rapi dengan pakaian kemeja kain. Nina menyapu pandangannya dengan sopan. "Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?"

"Saya ingin bertemu dengan Pak Roni," kata lelaki itu dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.

"Maaf, Pak. Suami saya sedang keluar mengurus penggergajian kayu. Mungkin sebentar lagi baru pulang," jawab Nina ramah, menganggap pria itu adalah calon pembeli atau rekan bisnis kayu Roni. "Dengan bapak siapa ya?"

Lelaki itu tampak ragu sejenak, lalu membetulkan letak kerah kemejanya. "Saya Reksa. Saya jauh-jauh datang ke sini mau menawarkan pasokan kayu jati berkualitas untuk penggergajian Pak Roni. Bolehkah saya menunggu di teras rumah sebentar? Perjalanan saya cukup jauh dan melelahkan."

Nina ragu-ragu. Namun, mengingat rasa hormatnya pada calon relasi bisnis suaminya, Nina akhirnya mengangguk pelan. "Silakan menunggu di kursi teras, Pak. Saya buatkan teh hangat dulu di dalam."

"Terima kasih banyak, Mbak," jawab pria bernama Reksa itu sembari mendudukkan dirinya di kursi kayu teras.

Tanpa pernah disadari oleh Nina, lelaki asing itu tidak bekerja sendirian. Dari balik rumah kontrakan cat biru seberang jalan, Rukmini dan Hana sedang berdiri mengawasi. Dari kejauhan, Reksa memberikan isyarat menganggukkan kepala yang sangat tipis ke arah Rukmini, sebuah pertanda bahwa rencana mereka akan segera di laksanakan.

Begitu Nina melangkah masuk dapur untuk menyeduh air, Reksa tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dengan gerakan tanpa suara, ia menyusup masuk melewati ambang pintu depan, lalu memutar kunci dari dalam. KLIK.

Di saat yang bersamaan, Rukmini mulai melangkah menyeberangi jalanan tanah menuju pekarangan rumah Nina, berpura-pura seolah dirinya baru saja datang berkunjung dari kota. Sementara Hana berdiri menyandar di sudut dinding kontrakannya, mengamati setiap pergerakan dengan senyum.

Di dapur, Nina sedang membungkuk di depan kompor, memutar sendok mengaduk gula di dalam cangkir seng. Tiba-tiba, sebuah aroma asing merayap di belakang tubuhnya, disusul sepasang lengan kekar yang mendadak melingkar erat di pinggangnya dari belakang!

PRANG!

Sendok di tangan Nina terlepas dan jatuh menghantam lantai semen. Sontak saja Nina terjerat kepanikan luar biasa. Ia memutar badannya secara refleks dan mendapati lelaki asing tadi sudah berdiri begitu dekat dengannya, menyunggingkan senyum menjijikkan yang penuh dengan niat jahat.

"Apa yang Anda lakukan?! Lepaskan! Keluar dari rumah saya!" sentak Nina histeris. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada pria itu hingga terdorong ke belakang.

Dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang, Nina berbalik dan berlari kencang menuju kamar belakang tempat Gendis sedang terlelap. Bayangan trauma masa lalu yang amat kelam, saat Herman, kakak iparnya, hampir melecehkannya di mertuanya dulu mendadak mendobrak memorinya, membuat seluruh persendian Nina seketika gemetar hebat dan melumpuhkan kekuatannya.

BRAKKK!

Belum sempat Nina mengunci pintu kamar dari dalam, lelaki itu mendorong daun pintu kayu tersebut dengan sangat kasar. Tubuh Nina yang kelelahan dan panik tak sanggup menahan dorongan itu hingga ia tersungkur keras di atas lantai kayu.

Gendis yang terbangun akibat suara benturan keras itu seketika menjerit ketakutan. Tangisan melengking bocah itu pecah menggelegar, memenuhi seluruh sudut rumah.

Nina merangkak mundur dengan terisak-isak, mencoba menggapai posisi anaknya. Namun, lelaki asing itu terus melangkah maju, memojokkan tubuh Nina ke sudut ranjang. Dikuasai oleh ketakutan yang teramat mendalam dan trauma parah yang kembali bangkit, Nina hanya bisa terduduk melipat kakinya, menangis terisak-isak tanpa mampu berteriak meminta tolong.

Suara tangisan melengking Gendis yang tak kunjung berhenti di sore hari yang sepi itu akhirnya memancing perhatian warga desa. Beberapa ibu-ibu dan pria yang baru pulang dari hutan mulai menghentikan langkah mereka di luar pagar, saling pandang dengan penuh keheranan.

Rukmini, yang menyadari kerumunan warga di depan pekarangan, segera melancarkan sandiwara ulungnya. Ia berlari-lari kecil menuju pintu depan dengan raut wajah yang dipasang sangat panik.

"Tolong! Tolong, Pak! Bu!" jerit Rukmini berapi-api sembari menggedor-gedor pintu depan yang terkunci dari dalam. "Saya baru saja sampai mau menengok cucu saya, tapi terdengar suara tangisan histeris Gendis dari dalam! Pintu depannya terkunci dari dalam! Tolong bantu saya mendobraknya! Saya takut terjadi hal buruk pada cucu dan menantu saya!"

Warga desa yang keputusannya terdorong oleh rasa kemanusiaan dan keprihatinan tanpa curiga langsung merapat. Dua orang pria bertubuh tegap maju dan menghantamkan bahu mereka ke daun pintu.

DUAK! DUAK! BRAKKK!

Pintu kayu itu jebol dan terbuka lebar. Warga bersama Rukmini langsung merangsek masuk menyusuri rumah, mengikuti arah jeritan tangis Gendis yang kian keras dari dalam kamar belakang.

Saat pintu kamar dihenyakkan terbuka, pemandangan di dalam ruangan seketika membuat semua orang terperanjat. Di lantai kamar, tampak Nina yang lemas terduduk di bawah, sementara tubuh lelaki asing itu berada tepat di atasnya dalam posisi menindih dan menahan kedua bahu Nina yang terus mencoba mendorongnya.

"Hei! Apa-apaan ini?! Apa yang kalian lakukan, Nina?!" bentak Rukmini dengan nada suara melengking yang sengaja dibuat terkejut luar biasa.

Melihat belasan pasang mata warga desa mulai berkumpul dan suasana berubah menjadi sangat panas, lelaki asing itu dengan sangat cepat merancang kebohongan yang telah diskenariokan. Ia melepas cengkeramannya, berpura-pura membetulkan kemejanya dengan raut wajah tanpa dosa.

"Tolong jangan salah paham, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu," ucap lelaki itu dengan suara tegas dan tenang, berusaha meyakinkan kerumunan. "Saya ini kekasihnya Nina. Saya disuruh datang ke rumah ini secara sembunyi-sembunyi oleh Nina karena suaminya sedang tidak ada di rumah!"

Pengakuan palsu yang dilontarkan dengan begitu meyakinkan itu seketika membakar emosi warga desa yang hadir. Ditambah dengan rumor buruk dan fitnah tentang Nina yang belakangan ini gencar disebarkan oleh Rukmini dan Bu Lilik di pos ronda, warga langsung menelan mentah-mentah tuduhan keji tersebut.

"Astaga! Bagaimana mungkin kau melakukan ini, Nina?!" bentak salah seorang warga dengan nada tinggi. "Kami semua mengira kau ini wanita terhormat dan istri yang setia!"

"Ternyata benar semua yang dikatakan Bu Rukmini selama ini!" seru Bu Lilik lantang dari barisan belakang. "Dia ini memang wanita murahan yang bermuka dua!"

Nina yang masih terguncang hebat, gemetar, dan ketakutan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan derai air mata yang mengucur deras di pipinya. Suaranya tercekat di tenggorokan, membuatnya tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk membela diri di hadapan pengadilan jalanan yang begitu menghakimi.

Rukmini menyeka sudut matanya yang kering, berpura-pura menangis terisak di depan warga. "Aduh, Gusti... Teganya kamu, Nina! Selama di rumahku kamu juga selalu menggoda kakak iparmu sendiri! Dan sekarang di sini kamu berzina di belakang Roni?!"

Tuduhan bertubi-tubi itu makin menyudutkan Nina hingga ke titik nadir. Tanpa rasa iba sedikit pun terhadap kondisi Nina yang terpukul, beberapa pria warga desa merangsek maju, merenggut kasar lengan Nina dan merebut Gendis dari dekapannya memberikan pada Rukmini. Bukannya menggendong , Rukmini mala meminta warga menyerahkan Gendis ke Nina dengan jijik.

Mereka lalu menyeret Nina bersama lelaki asing itu keluar menuju halaman rumah.

Suasana di pekarangan kian riuh dan mencekam. Warga desa berkumpul memadati pekarangan, melontarkan makian dan cemoohan pada Nina yang terduduk pasrah di atas tanah sembari menangis memeluk Gendis yang terus menjerit.

Di tengah hiruk-pikuk kekacauan itu, deru sepeda motor Roni terdengar mendekat dan berhenti di depan pagar. Roni membelalakkan matanya melihat kerumunan warga yang memadati rumahnya. Dengan perasaan campur aduk dan panik, Roni menerobos kerumunan tersebut.

"Ibu?! Ada apa ini?!" tanya Roni bingung, matanya liar memandang sekeliling.

Namun, sebelum ada warga yang menjawab, pandangan Roni tertuju pada Nina yang terduduk tersungkur di tanah dengan pakaian kusut, menangis sesenggukan sembari mendekap erat Gendis. Roni terpaku, dadanya dihantam rasa terkejut yang amat sangat.

"Kamu kenapa, Dek? Ada apa ini sebenarnya?!" cecar Roni, melangkah mendekati istrinya.

Sementara itu Hana berdiri berdampingan dengan Rukmini. Wajah Hana dipasang setenang mungkin untuk menutupi kebahagiaan dan senyum kepuasan yang membuncah di dalam dadanya.

Sebelum Nina sanggup membuka mulutnya yang gemetar, Rukmini dengan sigap memotong dan menyambar perhatian Roni.

"Roni! Anakku yang malang! Kamu harus lihat sendiri dengan mata kepalamu!" jerit Rukmini dengan drama yang amat apik. "Kami semua menangkap basah istri tercintamu ini sedang bermesraan dengan lelaki itu di dalam kamar! Lelaki itu sendiri yang mengaku di depan semua warga kalau dia adalah selingkuhan Nina yang sengaja dipanggil saat kamu sedang bekerja!"

Kalimat ibunya bagai petir di siang bolong yang menghantam kesadaran Roni. Jiwanya yang memang telah tumpul dan dikuasai oleh pengaruh susuk serta pelet Hana seketika terbakar oleh amarah yang membuta. Logika pria itu mati total. Ia menatap Nina dengan tatapan murka dan kekecewaan yang teramat sangat.

"Apa maksud semua ini, Nina?!" teriak Roni menggelegar, matanya memerah. "Jelaskan padaku!"

Di tengah keriuhan dan perhatian warga yang terfokus sepenuhnya pada Roni dan Nina, lelaki asing bernama Reksa itu memanfaatkan situasi dengan sangat cerdik. Tanpa ada satu pun warga yang menyadari, ia beringsut perlahan ke barisan belakang kerumunan, menyelinap ke balik semak-semak, dan melarikan diri memasuki rindangnya hutan di belakang desa.

"Mas... demi Allah, Mas... Aku tidak mengenal lelaki itu!" tangis Nina pecah, suaranya parau menahan kepedihan yang teramat sangat. "Dia datang mengaku sebagai rekan bisnismu... Aku tidak pernah melakukan hal sehina itu, Mas! Tolong percaya padaku..."

"Sudah salah masih saja bersilat lidah!" bentak Bu Lilik dari tengah kerumunan warga.

Roni tidak lagi mendengarkan jeritan hati istrinya. Pengaruh sihir hitam Hana telah mengunci akal sehatnya untuk hanya mempercayai narasi kejahatan Nina. "Aku tidak menyangka kau sekeji ini, Nina! Kau berzina di belakangku di rumah peninggalan Nenekmu sendiri!" seru Roni murka.

Roni menggunakan insiden jebakan ini untuk memvalidasi seluruh tuduhan buruk yang selama ini ditanamkan oleh Hana dan Rukmini di dalam kepalanya, memutarbalikkan kenyataan dan menempatkan Nina sebagai satu-satunya pendosa.

"Lihat sendiri kan, Roni? Ibu dari dulu sudah bilang kalau wanita ini tidak baik untukmu!" kompor Rukmini makin menyiramkan minyak ke dalam kobaran api.

"Wanita pezina yang merusak ketenteraman desa tidak boleh lagi menginjakkan kaki di tanah ini! Dia harus diusir dan diasingkan ke luar desa sekarang juga!" seru Pak Rudi, salah seorang tokoh warga dengan suara lantang.

"Setuju! Usir Nina! Kita tidak sudi desa ini ketimpa sial karena adegan perzinahan!" teriak warga saling bersahutan, terprovokasi oleh kemarahan massa.

Di tengah cercaan dan tatapan jijik warga desa, Nina mencoba berdiri dengan sisa-sisa kemanusiaannya. Ditatapnya Roni lurus-lurus dengan mata yang sembab. "Aku tidak akan pernah meninggalkan rumah peninggalan Nenekku sendiri! Rumah ini milik Nenek!" tegas Nina dengan keteguhan terakhirnya.

Namun Roni menyanggah dengan kasar, melangkah maju memotong ucapan istrinya. "Tapi aku yang merenovasi rumah ini dari hasil keringatku! Rumah ini atas namaku sekarang! Kau yang harus angkat kaki dari sini!"

Kata-kata Roni menggelegar menghantam dada Nina, menghancurkan seluruh sisa rasa cinta dan harapannya pada pria yang pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup.

Di tengah keriuhan itu, Ustadz Imam melangkah maju, berusaha meredakan kemarahan warga. "Tolong, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tenang dulu! Jangan menghakimi sendirian. Kita harus mendengar keterangan dari dua belas pihak secara jernih dan bijaksana. Kita beri kesempatan Mbak Nina menjelaskan.."

"Pak Ustadz jangan membela pezina ya!" potong Hana dengan nada tidak sopan dan kelakuan lancang dari sudut kerumunan.

Ustadz Imam menghela napas panjang, menatap Hana dengan pandangan prihatin. Di tengah kebrutalan massa yang sudah tertutup amarah, ajakan bijak Ustadz Imam tenggelam begitu saja tanpa ada yang mendengarkan.

Nina menatap sekelilingnya. Tidak ada lagi tempat baginya untuk mengadu. Warga desa yang dulu disapanya dengan ramah kini menatapnya dengan tatapan penuh benci dan jijik. Suaminya sendiri telah menjadi algojo yang melempar batu pertama untuk menghancurkannya.

Dengan kepasrahan yang teramat dalam dan dada yang hancur berkeping-keping, Nina merengkuh Gendis ke dalam pelukannya. Ia tidak membawa tas, baju, atau barang apa pun dari dalam rumah itu.

Warga mengarak Nina yang menggendong Gendis masuk ke dalam hutan untuk di asingkan. Tidak ada yang mengasihani mereka, bahkan pada gadis kecil itu.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!