NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tiga bulan yang dipenuhi oleh pengawasan yang mencekam, laporan harian dari Kevin, serta panggilan telepon tengah malam yang mencekam. Bagi Clara, setiap detik dalam tiga bulan terakhir adalah bukti nyata bahwa ia masih berada di dalam sangkar emas yang sama, hanya saja terpisah jarak belasan ribu kilometer.

Namun, memasuki minggu keempat belas, sebuah anomali terjadi.

Anomali yang dimulai dengan keheningan yang tak biasa.

Hari itu, tidak ada panggilan telepon berdering saat jam menunjukkan pukul dua belas malam waktu London. Tidak ada pesan singkat yang mengingatkannya untuk tidak mengenakan pakaian terlalu terbuka di kampus. Bahkan, layar kontrol pengawasan di sudut kamar Clara yang biasanya memancarkan lampu indikator hijau aktif, mendadak redup dan mati total.

Pada awalnya, Clara mengira Kenzo hanya sedang sibuk dengan rapat direksi atau transaksi akuisisi saham di benua Eropa. Namun, keheningan itu berlanjut hingga hari kedua, hari ketiga dan memasuki hari kelima.

Sama sekali tidak ada kabar dari Kenzo.

Pada hari keenam, rasa cemas yang tak kasat mata mulai merayapi dada Clara. Rasa cemas yang aneh dan kontradiktif. Bukankah ini kebebasan yang selama ini ia harapkan? Bukankah ia harus bersyukur jika predatornya mendadak melupakan keberadaannya?

Namun, ketakutan akan hal yang tidak diketahui ternyata jauh lebih menyiksa daripada teror yang nyata.

Untuk membuktikan ketakutannya untuk menguji apakah jaring-jaring pengawasan Kenzo benar-benar telah terputus, Clara memutuskan untuk melakukan sebuah langkah nekat.

Siang itu, usai jam kuliah berakhir, Clara melangkah ke area parkir kampus. Ia menghampiri SUV hitam yang biasanya dipenuhi oleh pengawal pribadi bentukan Kenzo. Kevin, yang biasanya berdiri tegap dengan wajah dingin seperti patung, kini tampak sibuk menatap ponselnya dengan raut wajah yang penuh dengan keraguan dan kegelisahan yang teramat sangat.

"Kevin"

panggil Clara pelan.

Kevin tersentak kecil, buru-buru menyembunyikan ponselnya dan membungkuk hormat.

"Miss Clara."

"Aku ingin pergi ke Rumah Sakit,"

ujar Clara tegas, matanya mengunci raut wajah Kevin.

"Aku ingin menjenguk Julian."

Biasanya, menyebut nama Julian saja sudah cukup untuk membuat Kevin bertindak tegas, memblokir jalan Clara, atau bahkan menelepon Kenzo detik itu juga untuk memberikan peringatan keras.

Namun kali ini, tidak ada penolakan dari Kevin.

Kevin mematung di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Tatapan matanya tampak linglung, seolah ia sendiri kehilangan komando utama yang selama ini mengendalikan setiap pergerakannya.

"Baik, Miss... saya akan mengantar Anda,"

jawab Kevin pelan, suaranya terdengar sangat datar dan tanpa energi.

Jantung Clara berdegup kencang secara tidak teratur. Konfirmasi itu menghantam dadanya bagai pukulan telak. Kevin tidak menahanku. Kenzo tidak memberikan larangan.

...***...

Di dalam kamar perawatan VIP Rumah Sakit, Clara berdiri di samping pembaringan Julian. Tangan kanan pria itu masih terbalut gips tebal, sementara bekas luka dan trauma psikologis masih terpancar jelas dari mata Julian saat menatap Clara.

"Clara..."

bisik Julian, tubuhnya sedikit gemetar ketakutan saat melihat Kevin berdiri di luar pintu kamar. "Kenapa kau ke sini? Jika bajingan itu tahu—"

"Dia tidak ada, Julian,"

potong Clara lirih. Matanya menatap gips di tangan Julian, namun pikirannya melayang jauh melintasi benua.

"Dia tidak menghubungiku. Dia tidak melarangku datang ke sini. Dia... menghilang."

Julian menatap Clara dengan bingung. "Maksudmu, Kenzo melepaskanmu?"

Clara tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela kamar rumah sakit. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya ia memanfaatkan momen ini untuk berencana kabur atau menata kembali hidupnya yang runtuh. Namun, alih-alih merasa bebas, dada Clara justru terasa dihantam oleh rasa hampa yang dahsyat.

Ada ruang kosong yang menyakitkan di dalam jiwanya, ruang yang biasanya diisi oleh suara berat Kenzo, sentuhan dominannya, dan kecemburuan gila pria itu yang secara aneh selalu menjadi perisai bagi hidupnya.

Malam harinya, ketegangan menyelimuti ruang makan utama kediaman Mexico.

Fred duduk di ujung meja dengan raut wajah yang sangat buruk. Ponsel di samping piring makannya terus memancarkan panggilan yang tak terjawab ke jaringan holding di London. Ibu Clara duduk di samping suaminya dengan wajah pucat pasi.

"Bagaimana bisa tidak ada yang tahu di mana Kenzo berada?"

bentak Fred murka pada sekretaris utamanya yang berdiri gemetar di samping meja.

"Dewan komisaris di London bilang dia tidak menghadiri rapat umum pemegang saham pagi ini! Seluruh transaksi sahamnya dibekukan!"

"M-maafkan kami, Tuan Besar,"

jawab sang sekretaris gagap.

"Tuan Kenzo keluar dari penthouse Mayfair tiga hari lalu tanpa membawa pengawal, tanpa menggunakan jet pribadi, dan seluruh jejak digitalnya sengaja dihapus dari server pusat. Kami... kami kehilangan jejak beliau."

PRANG!

Fred membanting sendok peraknya ke atas piring porselen.

"Anak itu, apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan? Apakah dia mencoba memeras perusahaan, atau dia sedang menyiapkan jebakan untukku?!"

Ibu Clara memegang lengan suaminya dengan cemas.

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di London? Bagaimana kalau ada musuh bisnis yang menyakitinya?"

"Kenzo bukan orang yang bisa disakiti dengan mudah!"

bentak Fred frustrasi.

"Dia yang sedang bermain-main dengan kita!"

Di ujung meja, Clara menyimak setiap kata dengan jemari yang mencengkeram rok gaunnya erat-erat. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Bahkan ayahnya sendiri, pria yang paling ambisius dan berpengaruh tidak bisa memprediksi di mana Kenzo berada atau apa yang sedang dirancangnya. Kenzo telah berubah menjadi bayangan gaib yang lenyap di tengah kegelapan.

Selesai makan malam, Clara melangkah cepat ke kamarnya di lantai atas. Ia mengunci pintu rapat-rapat, lalu berjalan menuju balkon kamar yang menatap kegelapan taman belakang.

Rasa takut yang merayapi dadanya kini telah berubah sepenuhnya. Itu bukan lagi rasa takut akan kekejaman Kenzo, melainkan rasa takut luar biasa akan hilangannya pria itu.

Clara berdiri di balik pintu balkon, meremas kedua tangannya keras-keras. Ia meraih ponselnya, menekan nomor pribadi Kenzo yang sudah puluhan kali ia hubungi dalam beberapa hari terakhir tanpa hasil.

Panggilan dialihkan ke kotak suara.

Air mata Clara menetes satu per satu, membasahi layar ponselnya. Di dalam keheningan malam yang menindas, Clara akhirnya mengakui kenyataan pahit yang selama ini ia sangkal di dalam hatinya.

Clara meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih, membiarkan tubuhnya bersandar lunglai pada daun pintu. Selama ini, ia selalu mengutuk kehadiran Kenzo yang dianggapnya bagai penjara. Namun, kini saat penjara itu mendadak terbuka lebar dan sang sipir menghilang tanpa jejak, dunia di luar sana justru terasa terlalu asing, terlalu luas, dan sangat mengerikan baginya.

Keheningan ini bukan lagi sekadar ketiadaan kabar, ini adalah siksaan psikologis yang secara perlahan mengikis seluruh akal sehatnya. Clara memejamkan mata rapat-rapat, merindukan kehangatan berbahaya yang biasanya menyelimuti dadanya setiap kali nama pria itu muncul di layar.

Di tengah kegelapan malam yang kian pekat, ketakutan terbesarnya kini bukanlah cengkeraman Kenzo yang mengekang, melainkan kemungkinan bahwa pria itu benar-benar telah melupakannya dan pergi dari hidupnya untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!