NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Penyelamatan di Garis Depan

Rasa takut mencekik tenggorokan Alya saat moncong truk hitam raksasa itu meraung, bersiap menghantam dan memipihkan sedan putihnya ke dinding pembatas jalan layang. Dalam pekatnya malam dan kilatan lampu yang membuai pusing, Alya memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengencangkan cengkeramannya pada sabuk pengaman, bersiap menghadapi benturan maut yang sudah di depan mata.

Namun, di detik-detik paling kritis itu, raungan mesin yang jauh lebih garang membahana membelah heningnya malam!

*CIIIIIIIIIIT!*

Suara decitan ban yang tergesek hebat dengan aspal bergema nyaring. Dari lajur darurat, sebuah mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam meluncur bagaikan kilat. Dengan manuver yang sangat presisi dan nekat, SUV tersebut memotong jalur secara ekstrem, menyelip tepat di celah sempit antara sedan Alya dan badan truk monster itu!

*BAM!*

Dentuman keras memekakkan telinga pecah di udara. SUV lapis baja itu sengaja menabrakkan bagian sampingnya untuk menahan hantaman truk, menyerap seluruh energi benturan demi melindungi sedan milik Alya. Sedan Alya terdorong aman ke bahu jalan, sementara truk hitam itu limbung dan terhenti setelah menabrak pembatas beton.

Alya membuka matanya dengan napas memburu, tubuhnya gemetar hebat. Dalam pandangannya yang masih samar, ia melihat pintu SUV hitam itu terbuka lebar.

Seorang pria melangkah keluar dari kabin SUV. Kemeja putihnya yang tergulung hingga siku memamerkan lengan tegap berotot, dan sepasang matanya menyalakan kebuasan yang sanggup meruntuhkan nyawa siapa saja. Pria itu adalah Reno.

Reno telah mengawasi pergerakan Alya dari jauh sejak awal melalui tim pengawal bayangannya. Begitu menyadari ada bahaya yang mengintai, Reno sendiri yang mengambil alih kemudi demi memastikan keselamatan wanita itu.

Pintu truk hitam terbuka kasar. Tiga pria bertubuh kekar melompat turun. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng taktis yang menutupi separuh wajah. Di tangan mereka, berkilat pisau militer dan tongkat stik baja yang dirancang untuk membunuh secara cepat. Mereka adalah tiga eksekutor dari organisasi *Tengkorak Hitam* utusan Victor Cendana.

"Pria itu target utamanya!" teriak pimpinan pembunuh bayaran dengan suara serak. "Habisi dia sekarang!"

Tanpa membuang waktu, ketiga pembunuh bayaran itu melompat maju secara bersamaan. Dua di antaranya mengayunkan pisau militer dari dua arah berbeda mengincar leher dan dada Reno, sementara yang seorang lagi meluncur dari bawah mencoba melumpuhkan kaki.

Alya yang menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca mobil menjerit histeris. "Reno! Awas!"

Reno sama sekali tidak bergeming. Sepasang matanya hanya menyempit dingin. Saat pisau pertama berjarak beberapa milimeter saja dari tenggorokannya, Reno memiringkan kepala dengan refleks yang teramat sangat cepat.

*TAK!*

Tangan kiri Reno bergerak bagaikan cengkeraman elang, mengunci pergelangan tangan penyerang pertama dan memutarnya 180 derajat hingga tulang lengannya patah berderak. Tanpa jeda satu milidetik pun, Reno merebut pisau militer itu dan mengibaskannya ke arah penyerang kedua!

*Brak!*

Siku kanan Reno mendarat telak di rahang pembunuh bayaran kedua, membuatnya terlempar Hantam pembatas jalan dengan darah menyembur dari mulutnya.

Penyerang ketiga yang mencoba menyerang dari bawah terperanjat hebat melihat dua rekannya tumbang dalam waktu kurang dari tiga detik. Sebelum ia sempat menarik kembali tongkat bajanya, Reno melangkah maju satu pukulan, menendang dada penyerang itu dengan tendangan putar yang sangat bertenaga.

*DUB!*

Tubuh penyerang ketiga melayang beberapa meter di udara sebelum jatuh terjerembap tak sadarkan diri di atas aspal basah.

Pertarungan yang mematikan itu selesai dalam kurun waktu kurang dari setengah menit. Tiga eksekutor tingkat atas yang ditakuti di ibu kota kini terkapar tanpa daya di atas jalan layang, bersimbah darah di bawah pendar lampu jalanan.

Reno berdiri tegap di tengah arena. Napasnya teratur, seolah baru saja menyelesaikan jalan santai. Satu-satunya jejak pertarungan adalah robekan kecil di lengan kemeja putihnya akibat goresan pisau penyerang pertama, meninggalkan garis merah darah yang mengalir tipis.

Alya menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Tubuhnya membeku di balik kemudi. Ini bukan lagi Reno yang dulu ia kenal sebagai pria serba lemah yang hanya bisa mengalah. Pria di hadapannya saat ini adalah seorang petarung tangguh, seorang penguasa sejati yang memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa yang selama tiga tahun pernikahan mereka disembunyikan dengan amat rapat.

Reno mengacuhkan para penyerang yang terkapar. Ia memungut ponsel pintar milik pimpinan pembunuh bayaran yang terlempar di atas aspal. Di layar ponsel itu, sebuah panggilan video dari nomor ibu kota masih terhubung.

Reno menggeser layar dan mendekatkan ponsel itu ke wajahnya. Di layar kaca, tampak raut wajah Victor Cendana yang tadinya tersenyum picik kini berubah pucat pasi saat melihat Reno berdiri tegap, sementara tiga pembunuh bayaran terbaiknya terkapar tak bernyawa di belakangnya.

"Kamu... siapa kamu sebenarnya?!" suara Victor gemetar hebat dari balik layar, ketakutan yang mendalam membakar keangkuhannya.

Reno menatap layar ponsel itu dengan pandangan sedingin es. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya tekanan kewibawaan mutlak yang membuat udara di sekitarnya terasa membeku.

"Victor Cendana," suara Reno mengalun rendah, memancarkan ancaman yang sanggup mencabut keberanian siapa saja. "Klan Cendana telah berdiri terlalu lama di atas keangkuhan. Mengirim tikus-tikus ini untuk menyentuh wanita milikku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu."

"Pria tak tahu diri! Kamu pikir hanya karena bisa bertarung kamu bisa menantang Klan Cendana?!" jerit Victor dari balik layar, mencoba menutupi rasa takutnya.

Reno menyunggingkan senyum tipis yang amat mengerikan. Tanpa membalas gertakan Victor, jemari tangan Reno mencengkeram ponsel pintar itu erat-erat.

*KRAK!*

Dengan kekuatan genggaman tangan yang luar biasa, ponsel tebal berbahan logam itu hancur remuk di dalam kepalan tangan Reno, memutuskan sambungan komunikasi secara permanen. Reno melempar serpihan ponsel beracun itu ke jalanan.

Reno memutar tubuhnya, melangkah lebar mendekati sedan putih milik Alya. Ia membuka pintu pengemudi secara perlahan, menatap Alya yang masih gemetar di dalam kabin.

"Alya, kamu tidak apa-apa?" tanya Reno, suaranya seketika melunak, kembali menjadi sosok pria yang hangat dan penuh perlindungan.

Melihat Reno berdiri di hadapannya—dengan sedikit jejak darah di lengannya namun menatapnya dengan raut penuh kecemasan—seluruh dinding pertahanan emosi Alya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya merekah deras menyusuri pipinya.

Tanpa memedulikan rasa takut atau status mereka saat ini, Alya melompat keluar dari mobil dan langsung menghambur ke dalam pelukan Reno. Ia memeluk pinggang tegap Reno erat-erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu sambil menangis sesenggukan.

"Reno... Reno..." bisik Alya serak di tengah isak tangisnya. "Maafkan aku... maafkan aku..."

Reno sempat mematung sejenak, terkejut oleh reaksi emosional Alya yang begitu mendadak. Namun, merasakan tubuh Alya yang gemetar hebat dalam dekapannya, perlahan-lahan tangan tegap Reno terangkat, melingkari bahu Alya dan mengelus rambut wanita itu dengan lembut.

"Sudah aman," bisik Reno pelan di samping telinga Alya. "Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu selama aku ada di sini."

Alya makin mempererat pelukannya, menghirup aroma maskulin yang begitu ia rindukan. Di balik kemeja putih Reno yang tergores darah, Alya merasa menemukan kembali tempat berlindung paling aman di dunia—sebuah tempat yang dulu pernah ia abaikan, namun kini siap ia pertahankan dengan seluruh jiwa dan raganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!