NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jaim dan rindu

Mobil sedan warna hitam meluncur mulus di aspal jalanan Jakarta yang masih ramai, sebelum akhirnya berbelok masuk ke kawasan eksklusif di jantung kota.

Gerbang otomatis terbuka lebar, menyambut kendaraan yang dikemudikan Gavin itu hingga berhenti tepat di area drop-off apartemen yang menjulang tinggi, menembus langit sore yang mulai berwarna jingga.

"Kita sudah sampai," ucap Gavin pelan, mematikan mesin.

Pintu belakang terbuka bersamaan.

Dikta turun lebih dulu, dengan langkah yang masih tertatih.

Disusul dengan Sera yang membuka pintu lainnya.

Langkah kaki Sera terhenti sesaat ketika kakinya menyentuh lantai marmer berkilau di lobi depan.

Matanya terbelalak, memandang bangunan raksasa di hadapannya, kaca-kaca jendela yang memantulkan cahaya matahari, desain modern yang terlihat mewah dan dingin, sangat jauh berbeda dari rumah yang dulu pernah mereka tempati bersama.

Dikta berdiri di sampingnya, menatap wajah perempuan itu yang penuh tanya.

"Sejak kapan kau tinggal di sini?" tanya Sera pelan, suaranya terdengar bingung. Matanya tak lepas dari deretan lantai yang tak terhitung jumlahnya. "Dan rumah itu... rumah tempat kita dulu tinggal... ke mana semuanya pergi?"

Hati Sera berdenyut kencang. Rumah itu bukan sekadar bangunan, di sanalah setiap sudut menyimpan kenangan, tawa dan tangisnya, bahkan pertengkaran mereka di masa lalu. Bagaimana bisa semuanya berubah begitu saja tanpa ia ketahui?

Dikta menghela napas panjang, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Ia menatap lurus ke arah gedung tinggi itu, seolah mencari jawaban di balik pantulan kaca yang bening.

"Sudah setahun terakhir ini aku tinggal di sini" jawabnya perlahan. "Setelah... setelah kita berpisah, aku sering berpindah-pindah... Kadang dirumah kita, kadang dirumah mama dan kadang aku menghabiskan waktuku di ruang kerjaku.... "

Sera menatap sisi wajah Dikta yang sendu.

"Kenapa?" tanyanya pelan, nyaris tak terdengar.

Dikta menoleh ke arah Sera dan sebelah alisnya terangkat.

Matanya sedang membaca setiap perubahan dari wajah perempuan itu.

"Karena aku tak sanggup lagi tinggal di rumah itu. Setiap sudutnya selalu mengingatkanku padamu. Pada sikap bodohku yang selalu mengacuhkanmu... Pada keegoisan ku yang tak memperdulikan dirimu..."

Suara Dikta merendah, getir penuh penyesalan yang masih terasa segar.

"Aku menjual rumah itu. Lumayan uang hasil penjualannya bisa beli apartemen ini." kekeh Dikta yang dirasa tak lucu oleh Sera.

"Kenapa... Bukankah rumah itu adalah impianmu dengan Delara?" tanyanya dengan suara tercekat.

"Dulu iya... Tapi setelah kau pergi, aku jadi tak berniat memberikannya kepada Delara... Lebih baik aku jual saja dari pada mubazir... Ya kan...?" sahut Dikta dibuat seringan mungkin agar Sera tak merasa bersalah karenanya.

"Kalian masih mau berdiri disana? Apa kakimu cukup kuat?" seru Gavin jengah dari arah lobi melihat dua mantan suami istri itu.

"Ayo, aku bantu.... Jangan sampai kita membuat Gavin marah" imbuh Sera bercanda dan sembari memegang lengan Dikta dan membantunya menaiki anak tangga.

"Dia memang seperti nenek-nenek jika sedang kesal" tambah Dikta yang diikuti tawa kecil Sera.

Gavin tersenyum kecil melihat interaksi mantan suami istri itu dari arah lift.

Harus dia akui, jika Dikta itu memang keras kepala dan sedikit bebal. Dia tidak akan menyerah jika telah menginginkan sesuatu.

Dan sepertinya merebut hati Sera akan jadi agendanya selanjutnya.

Dan Gavin akan jadi penonton setia pasangan itu.

...****************...

Setelah beberapa hari Dikta keluar dari rumah sakit, kini laki-laki itu sudah kembali beraktivitas seperti biasa.

Sementara Sera juga rencananya akan segera kembali ke kota asalnya dimana semua kehidupan, pekerjaan dan keluarganya berada.

Oh ya... Setelah Dikta keluar dari rumah sakit, laki-laki itu menyarankan agar Sera ikut tinggal dengannya di apartemen.

Alasannya adalah karena Dikta masih butuh bantuan Sera dan juga karena tidak mungkin juga Sera terus menginap di hotel seorang diri selain akan menguras kantong juga tidak baik untuk keselamatannya.

"Sera... Bantu aku memasangnya...." Dikta keluar dari kamarnya dengan menenteng dasi berwarna navy ditangannya.

Sera yang sedang berada di dapur sedang menyiapkan sarapan cukup dibuat terperangah oleh sikap Dikta.

Sejak kapan laki-laki itu lupa caranya memasang dasi?

Apa benturan di kepalanya membuat Dikta amnesia?

"Seraphina Anastasya? Are okey?"

"Oh... Ya... Kenapa?"

Dikta mengangkat dasi ditangannya ke depan wajah Sera.

Sera membuang nafas pendek dan meraih dasi tersebut.

"Menunduklah..." pinta Sera karena tinggi badan mereka yang cukup signifikan.

Dikta merentangkan kedua kakinya agar menyamakan tingginya dengan Sera.

Ujung jari Sera bergetar pelan saat menyentuh kain dasi berwarna navy bermotif halus yang melingkar di leher Dikta.

Ruang tengah apartemen itu hening, hanya terdengar napas mereka yang berirama berdekatan satu sama lain, dalam jarak yang nyaris tak terukur.

Dikta berdiri diam, membiarkan Sera berdiri di hadapannya, jari-jari perempuan itu sibuk melipat dan menyusun kain itu dengan teliti.

Tatapan Sera tertuju sepenuhnya pada simpul di antara kemeja putih yang rapi itu.

Wajahnya serius, tak sedikit pun teralihkan.

Bibirnya sedikit mengerut, seolah apa yang sedang ia lakukan ini adalah hal paling penting di dunia.

"Jangan bergerak," bisik Sera pelan, saat Dikta tanpa sadar mencoba merapikan posisinya. Suaranya lembut namun tegas, penuh kesungguhan yang membuat dada Dikta berdesir.

Dikta menurut.

Ia membiarkan dirinya dipandu oleh tangan-tangan itu. Matanya tak lepas dari wajah Sera dari alis yang sedikit berkerut karena konsentrasi, hingga bulu mata yang sesekali berkedip pelan.

Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela kaca menyinari sisi wajah Sera, menonjolkan lekukan rahangnya yang lembut dan sepasang mata yang begitu fokus, seolah di hadapannya bukan sekadar dasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

"Kau serius sekali," gumam Dikta, suaranya rendah dan berat.

Sera tak langsung menjawab. Ia menarik ujung dasi perlahan, memastikan simpulnya pas, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat. Baru setelah semuanya terasa sempurna, ia mengangkat wajah, menatap lurus ke manik mata Dikta yang menatapnya dalam.

"Karena aku ingin kau tampil sempurna" sahut Sera lembut.

Dikta menahan napas.

"Andai aku tak pernah menyia-nyiakan mu dulu... Andai kita adalah pasangan yang tak dijodohkan, mungkin saja saat ini kita sudah memiliki 4 orang anak.... Iya kan..." kalimat itu begitu menghantam sisi dada Sera.

"Sudah selesai," ucap Sera pelan, tak menanggapi perkataan Dikta barusan.

"Seraphina....?"

"Hari ini aku akan mengambil mobilku... Dan..." Sera tak melanjut kalimatnya.

"Dan apa Sera...?" potong Dikta.

"Dan setelahnya, kau dan aku sudah tak ada urusan lagi... Tugasku telah selesai... Kita akan berjalan pada sisi yang berbeda seperti sebelumnya...." sahut Sera dingin dan tegas.

Dikta melangkah maju hingga membuat Sera spontan mundur kebelakang.

"Kalau aku tidak mau... Bagaimana?"

Mata Sera membola mendengar perkataan Dikta.

"Jangan begini Dikta... Kita sudah sepakat sebelumnya..."

"Kita? Bukankah aku tidak mengiyakannya...? Bagaimana itu dikatakan sepakat?"

Sera makin terpojok dan b*k*ngny membentur tepi meja makan.

Dikta mengangkat pinggang Sera dan mendudukan perempuan itu diatas meja makan yang daunnya terbuat dari batu alam asli dengan harga puluhan juta sehingga bisa menopang badan mungil Sera.

"Dikta... Kau... Kau mau apa..." gugup Sera ketika wajah Dikta semakin dengannya hingga hangat nafas mint Dikta bisa dia rasakan.

"Mengurungmu diistanaku dan menjadikan mu permaisuri ku..." ucap Dikta sebelum dirinya membungkam bibir Sera yang dingin dengan bibirnya.

Dan keb*dohan Sera terjadi lagi ketika bibir lembut Dikta kembali melum*t bibirnya.

Bersambung.....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!