NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Suamiku Ternyata Monster Pemeluk

Hujan telah mengecil menjadi gerimis ketika Sebastian membawa Vivi keluar dari kantor polisi.

Mobil hitam menunggu tepat di depan tangga. Sopir membukakan pintu belakang, lalu menyerahkan selimut kasmir begitu melihat pakaian Vivi yang masih lembap.

“Terima kasih,” kata Vivi.

Sebastian masuk sambil tetap menggendongnya. Ia duduk tanpa melepaskan lengan dari pinggang Vivi, seolah kursi di sebelahnya tidak ada.

“Aku bisa duduk sendiri,” protes Vivi.

“Tidak.”

Satu kata itu menutup perdebatan sebelum dimulai.

Sopir membentangkan selimut di atas mereka. Sebastian menarik seluruh kain ke tubuh Vivi sampai hanya wajahnya yang terlihat.

“Sebas, ini berlebihan.”

“Kamu kedinginan.”

“Kamu juga basah.”

“Aku tidak kedinginan.”

Vivi meraba ujung selimut, lalu menarik separuhnya ke bahu Sebastian. Pria itu segera mengembalikannya. Vivi menarik lagi. Sebastian menahan kain dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang diperban tetap diletakkan di pangkuan.

Mereka berebut tanpa suara selama tiga putaran.

Akhirnya Vivi memukul pelan lengannya. “Kalau kamu membuat dirimu sakit, siapa yang akan jadi pemanas manusia saat aku kambuh?”

Gerakan Sebastian berhenti.

Vivi baru menyadari kalimatnya setelah terlambat. Wajahnya langsung panas.

Pria itu membiarkan separuh selimut menutupi bahunya. “Benar.”

Nada puasnya sangat tipis, tetapi Vivi mendengarnya.

Mobil bergerak meninggalkan halaman kantor polisi. Lampu jalan memantul pada aspal basah. Vivi memandangi perban di tangan Sebastian dan teringat suara pukulan, darah di loker, serta jawaban jujur bahwa ia tidak tahu apakah akan berhenti tanpa pelukan Vivi.

Mengerikan.

Namun tangan yang sama tadi gemetar ketika mencari luka di tubuhnya.

Pria ini benar-benar menyukainya.

Kesimpulan itu membuat dada Vivi berdetak lebih cepat daripada saat mobil melewati genangan besar.

***

Pak Yanto sudah menunggu di teras rumah dengan kotak pertolongan pertama dan dua orang staf. Begitu mobil berhenti, Sebastian kembali mengangkat Vivi sebelum kakinya menyentuh tanah.

“Pak Sebastian, dokter keluarga sedang dalam perjalanan,” lapor Pak Yanto.

“Pemeriksaannya sudah selesai,” kata Vivi. “Aku hanya memar sedikit.”

“Periksa lagi.” Sebastian menaiki tangga teras.

“Sebas, polisi sudah memanggil tenaga medis.”

“Periksa lagi.”

Vivi menoleh kepada Pak Yanto. “Apakah dia selalu sekeras kepala ini?”

Pak Yanto menahan ekspresi dengan sangat terlatih. “Saya tidak berwenang menjawab, Bu Vivian.”

Sebastian membawa Vivi ke sofa ruang tamu dan duduk bersamanya, tetapi tidak menurunkannya. Vivi tetap berada di pangkuannya, satu lengan melingkari leher pria itu.

“Kamu boleh melepaskanku sekarang.”

Lengan di pinggangnya justru mengencang.

Vivi hendak kembali protes ketika rasa gatal halus muncul di bawah kulit lengannya. Bukan nyeri hebat seperti di Puncak, hanya kegelisahan yang bergerak dari ujung jari menuju bahu. Tubuhnya mungkin bereaksi setelah ketegangan panjang.

Ia diam-diam menempelkan telapak tangan ke leher Sebastian.

Rasa gatal itu mereda hampir seketika.

Pada saat yang sama, napas Sebastian yang sejak tadi dangkal perlahan memanjang. Bahunya turun. Seolah bukan hanya tubuh Vivi yang membutuhkan sentuhan itu.

Mereka terdiam dalam posisi yang terlalu dekat untuk disebut biasa.

Vivi mengamati wajahnya. Ada setetes air yang tersisa di ujung bulu mata Sebastian. Ia menyekanya dengan jari telunjuk.

Pupil pria itu langsung melebar.

“Suamiku ternyata monster pemeluk,” gumam Vivi.

“Apa?”

“Monster pemeluk. Kalau sudah menangkap orang, tidak mau melepas.”

Sebastian menatap jarinya yang masih dekat dengan mata. “Kamu keberatan?”

Pertanyaan itu membuat Vivi kehilangan bahan lelucon.

“Untuk malam ini, tidak.”

Sebastian berdiri sambil membawa Vivi. Gerakannya begitu mendadak hingga perempuan itu memeluk lehernya lebih erat.

“Kita mau ke mana?”

“Kamar.”

“Aku harus mandi.”

“Aku antar.”

“Tidak sampai masuk kamar mandi.”

“Aku tunggu di luar.”

Nada itu tegas, tetapi tangannya tidak bergerak melewati batas yang disebut Vivi. Di lantai dua, ia menurunkan Vivi di depan pintu kamar mandi, memeriksa lantai agar tidak licin, lalu meletakkan pakaian bersih di kursi.

Boneka beruang sudah berada di atas ranjang, disiapkan Pak Yanto.

“Kamu benar-benar akan berdiri di sini?” tanya Vivi.

Sebastian bersandar pada dinding di samping pintu. “Ya.”

“Aku tidak akan menghilang melalui saluran air.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Mandi.”

Vivi menutup pintu sambil menghela napas, tetapi tidak menguncinya. Untuk pertama kalinya, keputusan membiarkan pintu tanpa kunci bukan lahir dari ketakutan akan kurungan. Ia tahu seseorang menunggu di luar karena takut kehilangannya.

***

Dokter keluarga memeriksa ulang memar dan goresan Vivi, lalu mengganti balutan tangan Sebastian. Tidak ada cedera tambahan.

Sebelum beranjak, dokter menunjukkan memar di siku Vivi yang mungkin berubah warna dalam dua hari. “Kompres dingin malam ini. Kalau pusing, mual, atau nyerinya bertambah, langsung ke rumah sakit. Untuk latihan, istirahat setidaknya dua hari.”

Vivi mengangguk. “Dua hari.”

“Tiga,” kata Sebastian.

Dokter menatap keduanya, lalu memilih kalimat aman. “Evaluasi ulang setelah dua hari. Keputusan latihan mengikuti kondisi Bu Vivian.”

Vivi hampir tersenyum melihat Sebastian gagal memperoleh sekutu.

Dokter kemudian menunjuk balutan tangan pria itu. “Luka Pak Sebastian perlu dibersihkan lagi besok. Jangan terkena air dan jangan digunakan memukul apa pun.”

“Dia dengar?” tanya Vivi.

“Saya dengar,” jawab Sebastian datar.

“Bagus. Karena kalau perbannya rusak, aku tidak akan memasang yang baru.”

Sebastian memandangnya beberapa detik. “Kamu akan memasangnya.”

Keyakinan itu begitu tanpa malu hingga dokter menunduk menyembunyikan senyum.

Saat mereka ditinggal berdua, Vivi menyadari rasa gatal di lengannya telah hilang sepenuhnya. Detak jantungnya juga kembali teratur. Kontak dengan Sebastian telah bekerja lagi, tetapi kali ini ia tidak merasa sedang ditolong sendirian. Pria yang memeluknya pun tampak ikut bernapas lebih mudah.

Hubungan mereka semakin sulit disebut sekadar pengobatan.

Setelah dokter pergi, makan malam disajikan lebih awal di ruang makan kecil.

Vivi hendak duduk di kursi biasa. Sebastian menarik pergelangan tangannya dengan tangan kiri.

“Di sini.”

Ia menunjuk pahanya.

“Aku bisa makan sendiri.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa...”

Sebastian memandangnya. Kekerasan yang tadi memenuhi matanya sudah hilang, menyisakan kelelahan yang hampir membuatnya tampak lebih muda.

“Biarkan aku memelukmu.”

Tidak terdengar seperti perintah. Lebih dekat pada permintaan yang tidak biasa ia ucapkan.

Hati Vivi melunak tanpa izin.

“Hanya malam ini.”

Ia duduk menyamping di pangkuan Sebastian. Pria itu langsung melingkarkan lengan kiri di pinggangnya, sementara tangan kanan yang baru dibalut diletakkan aman di atas meja.

Pak Yanto memberi isyarat kepada staf agar mundur. Ruang makan menjadi sunyi.

Vivi menyendok sup sendiri, tetapi Sebastian tetap mengawasi setiap suapan. Ketika ia berhenti terlalu lama, lengan di pinggangnya bergerak sedikit seolah mengingatkan bahwa ia masih ada.

“Jangan pikir ini menjadi kebiasaan,” kata Vivi.

“Sudah terlambat.”

“Apa?”

“Tidak ada.”

Ponsel Sebastian bergetar di atas meja.

Nama sekretarisnya muncul di layar. Ia mengangkat panggilan tanpa melepaskan Vivi.

“Bicara.”

Vivi merasakan perubahan itu bahkan sebelum suara di seberang selesai memberi laporan. Lengan Sebastian tetap hangat di pinggangnya, tetapi seluruh tubuh pria itu mendadak mengeras.

Tatapannya berubah sedingin lantai studio setelah hujan.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!