NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Alya tidak tidur malam itu.

Nara dan Arka akhirnya lelap setelah bertanya terlalu banyak tentang rumah baru, sekolah baru, dan "Om tentara" yang muncul di rumah sakit. Nadia menatap Alya dari pintu kamar anak-anak.

"Dia melihat Arka."

"Aku tahu."

"Dan Arka melihat dia."

"Aku juga tahu."

"Kamu mau kabur lagi?"

Alya menutup pintu kamar perlahan. "Tidak."

Nadia menyilangkan tangan. "Bagus. Karena kalau kamu kabur, aku yang harus menjelaskan ke sekolah baru, rumah sakit, dan anak-anak kenapa hidup kita masuk koper lagi."

Alya duduk di sofa. "Aku tidak siap."

"Tidak ada orang yang siap bertemu masa lalu di lorong IGD."

"Dia belum tahu."

"Dia bukan bodoh, Ly."

Alya menutup wajah dengan tangan. "Aku tahu."

Pagi berikutnya, program pelatihan lapangan tetap berjalan. RSUD mengirim tiga dokter dan lima perawat ke area latihan Kodam di pinggir kota. Alya memimpin tim medis. Ia mengenakan rompi lapangan warna biru tua, membawa tas trauma, dan mengikat rambut sekuat mungkin.

Profesional.

Itu kata yang ia ulang dalam kepala.

Begitu tiba di area latihan, kata itu diuji.

Damar berdiri di depan tenda komando, memberi instruksi kepada prajurit. Suaranya tegas, tidak perlu keras. Orang-orang bergerak begitu ia mengangkat tangan.

Alya pernah membenci caranya memerintah.

Hari itu ia melihat sesuatu yang lain.

Kelelahan yang tidak ditunjukkan.

"Dokter Alya," sapa Rendra, kini berpangkat mayor. "Pos medis di sebelah timur. Jalur evakuasi sudah ditandai."

"Korban simulasi berapa?"

"Tiga puluh. Tapi kita tetap siapkan skenario cedera nyata. Kemarin satu anak hampir tertusuk besi."

Alya mengangguk. "Saya butuh akses ambulans tidak terhalang kendaraan taktis."

"Sudah saya atur."

Damar mendekat. "Kalau ada perubahan medan, lapor langsung ke saya."

Alya menatap papan peta, bukan wajahnya. "Saya lapor ke penanggung jawab lapangan."

"Saya penanggung jawab lapangan."

"Kalau begitu saya lapor lewat radio."

Rendra pura-pura membaca daftar nama.

Damar menahan sesuatu di balik rahangnya. "Baik."

Latihan dimulai dengan simulasi evakuasi dari area berbukit. Alya bergerak bersama perawat, menilai korban, memberi label triase, memarahi prajurit yang mengangkat korban cedera leher tanpa penyangga.

"Kalau ini kejadian sungguhan, kamu bisa bikin dia lumpuh," katanya tajam.

Prajurit itu langsung pucat. "Siap, Dok."

Damar melihat dari jauh.

Rendra berdiri di sampingnya. "Masih sama."

"Lebih kuat."

"Kau baru sadar?"

Damar tidak menjawab.

Skenario terakhir melibatkan penyeberangan kanal beton sempit dengan air setinggi dada orang dewasa. Tim medis hanya memantau dari sisi aman. Seharusnya begitu.

Lalu seorang peserta terpeleset. Bukan bagian dari skenario. Tubuhnya menghantam dinding kanal, helmnya lepas, dan ia terbawa arus air buangan yang deras karena hujan malam sebelumnya.

"Stop latihan!" teriak Damar.

Alya sudah berlari.

"Tali!"

Seorang prajurit melempar tali, tapi ujungnya jatuh terlalu jauh. Prajurit yang jatuh meronta, tangannya memukul air.

Alya turun ke pinggir kanal, menahan tubuh di beton licin.

"Jangan turun!" Damar berteriak.

"Dia kehilangan kesadaran!"

Alya mengikat tali ke pinggangnya, menyerahkan ujungnya ke perawat. "Tahan!"

Ia masuk ke air.

Begitu tubuhnya tersentak arus, ingatan datang tanpa izin.

Gudang tua.

Pintu terkunci.

Suara Raka.

Darahmu bukan darah Prameswari.

Air masuk ke hidungnya. Tangannya kehilangan pegangan.

"Alya!"

Damar melompat.

Ia menangkap tali dengan satu tangan dan tubuh Alya dengan tangan lain. Arus menyeret mereka berdua, tapi prajurit di atas menarik bersama-sama.

"Lihat aku," kata Damar dekat telinganya. "Alya, lihat aku."

Alya mencoba bernapas. Dadanya sempit. Bukan karena air. Karena lima tahun yang ia kubur tiba-tiba membuka mata.

"Korban," katanya terputus.

"Sudah diambil Rendra."

"Aku harus..."

"Kau harus bernapas."

Mereka ditarik ke tepi. Alya batuk, air keluar dari mulutnya. Damar memegang bahunya, tetapi begitu ia sadar, ia langsung menjauh.

"Jangan sentuh saya."

Damar menarik tangannya.

Semua orang diam.

Alya berdiri dengan lutut gemetar. Ia memeriksa prajurit yang jatuh, memastikan napasnya kembali stabil, lalu menyerahkan penanganan lanjutan kepada perawat.

"Dokter Alya," kata Rafi yang baru tiba. "Anda harus diperiksa."

"Saya baik."

"Kaki Anda berdarah."

Alya menunduk. Betisnya tergores beton cukup dalam. Darah bercampur air di sepatu.

Damar melihat luka itu, wajahnya berubah.

"Bawa ke pos medis."

"Saya bisa jalan."

"Aku tidak bilang kau tidak bisa."

Alya menatapnya.

Damar menurunkan suara. "Aku bilang lukamu harus ditangani."

Di pos medis, perawat membersihkan luka Alya. Ia menahan perih tanpa suara. Damar berdiri di luar tenda, tidak masuk. Hanya bayangannya terlihat di kain tenda.

Rafi memeriksa tekanan darahnya. "Anda punya riwayat anemia?"

"Tidak."

"Setelah melahirkan?"

Tangan Alya berhenti.

Rafi tidak sadar telah membuka sesuatu. "Maksud saya, ada keluhan pascapersalinan? Nyeri pinggang, pusing, mudah dingin?"

Damar mendengar dari luar.

Bayangannya tidak bergerak.

Alya menjawab terlalu cepat. "Tidak ada."

Rafi menatap hasil tensi. "Tekanan Anda rendah. Istirahat dulu."

Alya menutup mata.

Di luar tenda, Damar menggenggam radio sampai buku jarinya memutih.

Melahirkan.

Lima tahun.

Anak laki-laki di lorong IGD.

Pertanyaan yang ia takutkan mulai memiliki bentuk.

Alya keluar dari tenda dengan perban di betis dan rambut masih basah. Ia melihat Damar berdiri di bawah pohon lontar, menunggu tanpa berpura-pura sibuk.

"Saya sudah diperiksa," katanya sebelum ia bicara.

"Aku dengar."

"Bagus."

"Kau melahirkan."

Alya menutup mata sebentar. "Bukan urusan latihan."

"Bukan."

"Maka jangan dibahas di sini."

Damar mengangguk, tetapi matanya tidak bergerak dari wajahnya. "Siapa yang menemanimu?"

Pertanyaan itu sederhana. Justru karena sederhana, Alya hampir jatuh.

Ia teringat ruang bersalin kecil, lampu terlalu terang, Nadia yang memegang tangannya, suara bidan yang menyuruhnya mengejan, dan rasa sepi yang tidak bisa diisi oleh siapa pun. Ia teringat dua tangisan bayi yang tumpang tindih, lalu tubuhnya yang menggigil sampai selimut basah oleh keringat.

"Ada orang baik," jawabnya.

Damar menelan. "Bukan aku."

"Kamu tidak ada."

"Karena aku tidak tahu."

"Karena aku tidak memberi tahu."

Mereka saling menatap, sama-sama terluka oleh kebenaran yang tidak bisa diputar.

Rafi datang membawa obat pereda nyeri. "Dokter Alya, saya sarankan Anda pulang dulu. Laporan bisa saya ambil alih."

"Saya bisa kerja."

"Saya tidak bertanya."

Damar hampir tersenyum mendengar nada itu. Alya menatap Rafi dengan kesal, tetapi akhirnya menerima obat.

Di kejauhan, Siska berdiri di dekat mobil bantuan, berbicara dengan seorang perwira logistik. Ia melihat Damar menunggu Alya, melihat cara pria itu menahan diri untuk tidak menyentuhnya, dan melihat Alya tetap tidak pergi jauh dari bayangannya.

Siska menggenggam ponsel.

Ia sudah mendengar bisik-bisik tentang dua anak di RSUD. Ia belum yakin. Setelah hari itu, ia hampir yakin.

"Mbak Siska?" panggil perwira logistik. "Dokumen yayasan perlu tanda tangan."

Siska tersenyum lagi. "Tentu."

Ia menandatangani dokumen dengan nama yayasan yang sama seperti lima tahun lalu.

Karsa Bakti Nusantara.

Di mobil pulang, Alya duduk di kursi belakang bersama Nadia. Betisnya berdenyut. Kepalanya lebih sakit karena satu pertanyaan Damar.

Siapa yang menemanimu?

Ia menatap ponsel. Ada pesan dari nomor tidak dikenal.

Jangan biarkan dia mengenali anak-anak.

Alya langsung duduk tegak.

Nadia melihat layar dan wajahnya berubah.

"Nomor baru?"

Alya mengangguk.

Pesan kedua masuk.

Kali ini kami lebih dekat dari sekolah.

Alya langsung menelepon Damar.

Ia membenci dirinya karena nomor itu menjadi pilihan pertama. Namun anak-anak ada di rumah bersama Nadia, dan pesan itu menyebut sekolah.

Damar mengangkat pada dering pertama. "Alya?"

"Aku dapat pesan."

"Kirim tangkapan layar."

"Jangan datang dengan banyak orang."

"Aku datang dengan cara yang tidak terlihat."

"Damar."

"Aku dengar. Aku tidak akan membuat anak-anak panik."

Alya mengirim tangkapan layar, lalu duduk dengan ponsel di tangan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Nadia mengirim pesan dari rumah.

Ada dua orang jaga di ujung gang. Bukan seragam. Anak-anak tidak tahu.

Alya menutup mata.

Rasa lega datang bersama rasa takut yang sama besar.

Karena bila Damar bisa masuk lagi ke hidupnya semudah itu, mungkin yang paling berbahaya bukan hanya Karsa.

Mungkin hatinya sendiri.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!