NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 Batu Merah

Pagi itu, Desa Qinghe terasa berbeda.

Biasanya, suara ayam berkokok akan disusul oleh suara para petani yang mulai keluar rumah. Ada yang membawa cangkul, ada yang menggiring sapi, dan ada pula yang sudah sibuk menjemur hasil panen di depan rumah.

Namun pagi ini, bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut desa.

"Benarkah dia ditemukan di dekat Bukit Timur?"

"Aku dengar mulutnya terus mengatakan sesuatu tentang monster."

"Jangan bicara sembarangan. Kalau benar ada monster, bagaimana kalau desa kita diserang?"

"Mana mungkin monster turun sampai sini?"

"Siapa yang tahu?"

Lian Yue mendengar percakapan itu saat sedang membawa ember air dari sumur. Ia tidak ikut menanggapi, hanya berjalan perlahan menuju rumah.

Namun pikirannya terus mengingat perkataan burung hantu semalam. Batu merah dan itu adalah sesuatu yang membuat hewan menjauh. Lalu sekarang seorang pemburu ditemukan pingsan di dekat Bukit Timur.

Terlalu banyak kebetulan untuk diabaikan.

Sesampainya di rumah, ia meletakkan ember. Nyonya Han yang sedang membersihkan sayuran segera menoleh.

"Kau sudah dengar kabarnya?"

Lian Yue mengangguk. "Yang tentang pemburu itu?"

"Iya." Nyonya Han menghela napas. "Semoga tidak terjadi apa-apa."

Tuan Han yang sedang memperbaiki gagang cangkul ikut berbicara. "Menurutku itu hanya karena dia terlalu jauh masuk ke hutan."

Han Zheng mengangguk. "Beberapa hari lalu kita juga hampir bertemu babi hutan."

Nyonya Han langsung menatap putranya dengan tatapan mata tak suka, "Jangan mengingatkanku."

Han Zheng tertawa kecil. "Baik, Ibu."

Suasana yang sempat tegang kembali sedikit mencair. Lian Yue tersenyum.

Namun hanya sebentar. Karena dari luar rumah terdengar suara burung pipit yang sangat keras.

["Dia datang!"]

["Manusia yang sakit itu datang!"]

Lian Yue segera menoleh. "Apa?"

Burung pipit itu hinggap di pagar. ["Orang yang ditemukan di hutan."]

["Dia dibawa ke desa."]

Lian Yue mengerutkan kening. "Di mana?"

["Rumah kepala desa."]

Lian Yue terdiam. Kalau pemburu itu benar-benar melihat sesuatu, mungkin ada informasi yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di Bukit Timur.

Ia menoleh kepada Han Zheng. "Aku ingin melihatnya."

Han Zheng tampak bingung mendengar perkataan sekaligus permintaan istrinya itu, "Kenapa?"

"Pemburu yang pingsan di hutan itu, aku ingin tahu apakah dia benar-benar terluka."

Han Zheng berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. "Aku ikut."

.

.

Rumah kepala desa sudah dipenuhi warga ketika mereka tiba. Beberapa orang berdiri di halaman. Sebagian lagi berdesakan di dekat pintu.

Kepala Desa Luo berkali-kali meminta warga untuk tidak membuat keributan.

"Berikan dia ruang!"

"Dia baru sadar."

Namun rasa penasaran warga jauh lebih besar daripada rasa takut mereka. Lian Yue berdiri di belakang Han Zheng. Ia bisa melihat seorang pria terbaring di atas dipan kayu.

Wajahnya pucat dan bibirnya kering. Ada beberapa goresan di lengannya. Namun tidak ada luka serius.

Seorang tabib desa sedang memeriksa denyut nadinya. "Dia hanya kelelahan dan ketakutan."

Seorang warga bertanya, "Kalau begitu kenapa dia pingsan?"

Tabib menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu."

Kepala Desa Luo mendekat. "Saudara Zhao."

Pria di dipan perlahan membuka mata. Tatapannya masih kosong. Kemudian ia melihat banyak orang di sekelilingnya.

"Jangan..." Suaranya serak. "Jangan pergi ke bukit..."

Suasana langsung hening. Kepala Desa Luo bertanya pelan, "Apa yang terjadi?"

Pria itu menelan ludah. "Aku... melihat sesuatu."

"Apa?"

"Orang."

Warga saling berpandangan. "Orang?"

Zhao mengangguk. "Ada seseorang di dalam hutan."

"Dia membawa... sesuatu."

"Apa?"

Zhao memejamkan mata. "Batu."

Lian Yue langsung menegang. "Batu merah..."

Kalimat itu keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. Namun Kepala Desa Luo menangkapnya.

"Batu merah?"

Zhao membuka mata. Tatapannya langsung tertuju pada Lian Yue. "Bagaimana kau tahu?"

Lian Yue terdiam. Beberapa warga mulai menoleh kepadanya. Han Zheng segera menjawab. "Istriku hanya menebak."

Zhao masih menatap Lian Yue beberapa detik. Kemudian perlahan mengangguk. "Ya."

"Batu merah."

"Dia menggali sesuatu dari tanah."

"Setelah itu..."

Pria tersebut menggigil. "Aku mendengar suara."

"Suara apa?"

Zhao menatap kosong ke udara. "Seperti binatang. Tapi bukan binatang." Ia kembali menutup matanya. "Aku takut dan lari."

"Setelah itu... aku tidak ingat apa-apa."

Warga mulai ribut.

"Monster!"

"Pasti monster!"

"Kita harus melaporkannya ke kota!"

Kepala Desa Luo mengangkat tongkatnya. "Diam!"

Suara itu membuat semua orang berhenti berbicara.

"Jangan membuat kesimpulan sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Lian Yue tidak mengatakan apa-apa. Namun pikirannya bekerja cepat. Jika Zhao melihat seseorang menggali batu merah...

Berarti orang yang mereka lihat sebelumnya memang nyata. Dan kemungkinan besar bukan penduduk desa.

Pertanyaannya sekarang...

Apa yang sebenarnya dicari orang itu?

.

.

Setelah keluar dari rumah kepala desa, Han Zheng berjalan di samping Lian Yue. "Istriku kau tadi terlihat aneh."

Lian Yue menoleh. "Aneh?"

"Ketika dia menyebut batu merah."

Lian Yue terdiam sebentar. "Aku hanya merasa pernah mendengar sesuatu tentang batu seperti itu."

Han Zheng mengangguk. "Apakah berbahaya?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu jangan dipikirkan."

Han Zheng berkata sederhana. "Kalau memang berbahaya, jangan mendekatinya."

Lian Yue menatap pria itu. "Kau tidak penasaran?"

"Tentu saja penasaran."

"Kalau begitu?"

Han Zheng tersenyum. "Aku lebih penasaran bagaimana caranya membayar pajak musim gugur."

Lian Yue terdiam. Kemudian tertawa. "Masalahmu memang sangat nyata."

Han Zheng ikut tertawa. "Daripada mengejar batu yang belum tentu bisa dimakan."

Lian Yue mengangguk. Itu benar. Apa pun yang ada di Bukit Timur tidak boleh membuat mereka melupakan kehidupan sehari-hari.

Mereka masih harus bekerja. Masih harus menanam dan masih harus mencari makanan. Juga yang paling penting...

Masih harus bertahan hidup.

.

.

Siang itu, Lian Yue kembali ke ladang. Setelah kejadian pagi tadi, ia justru sengaja tidak pergi ke Bukit Timur. Ia memilih memeriksa tanaman kedelai. Beberapa kecambah sudah mulai tumbuh.

Tidak banyak. Namun cukup untuk membuat sudut bibirnya terangkat.

"Bagus."

Ia berjongkok. Dengan jari, ia menggemburkan sedikit tanah di sekitar tanaman. Belalang hijau yang sudah dikenalnya hinggap di atas daun.

["Manusia dari desa tadi takut."]

Lian Yue mengangguk. "Aku tahu."

["Kau juga takut?"]

Lian Yue terdiam. Kemudian menjawab jujur. "Sedikit."

Belalang itu tampak bingung. ["Kau manusia. Bukankah manusia biasanya tidak takut?"]

Lian Yue terkekeh mendengar ucapan belakang itu, "Manusia justru paling sering takut. Yang berbeda hanya cara mereka menunjukkannya."

Belalang itu tidak mengerti. Namun ia tidak bertanya lagi.

.

.

Lian Yue sedang membawa keranjang dari ladang ketika seekor burung gagak terbang turun. Burung itu tidak langsung berbicara.

Ia hanya memandang Lian Yue dengan mata hitamnya.

"Apa?"

Gagak itu mengepakkan sayap. ["Aku melihat sesuatu."]

"Di mana?"

["Bukit Timur."]

Lian Yue langsung diam. "Orang itu?"

Gagak menggeleng.

["Bukan."]

["Batu itu."]

Lian Yue mengerutkan kening. "Batu merah?"

["Ya."]

"Kenapa?"

Gagak itu menatapnya lama. ["Ia berubah."]

Jantung Lian Yue berdegup lebih cepat. "Berubah bagaimana?"

["Kemarin diam."]

["Hari ini..."]

Gagak itu menelan ludah, meskipun burung tentu tidak benar-benar melakukannya. ["Ia membuat pohon di sekitarnya mati."]

Lian Yue langsung berdiri. "Seberapa jauh?"

["Tidak jauh dari mata air."]

Lian Yue teringat perkataan burung pipit pada hari-hari pertama ia datang. Di Bukit Timur terdapat mata air. Tempat kelinci datang. Tempat tumbuhan tumbuh subur.

Kalau sesuatu mulai merusak wilayah itu... Bukan hanya hewan yang akan kehilangan tempat tinggal. Keluarga Han juga mungkin kehilangan sumber makanan.

Lian Yue mengepalkan tangan. "Aku harus melihatnya."

Gagak langsung mengepakkan sayap. ["Jangan!"]

Lian Yue menoleh. Burung itu tampak sangat gelisah. ["Bau itu membuat semua hewan menjauh."]

["Kami tidak tahu apa yang ada di sana."]

Lian Yue terdiam. Benar. Ia tidak boleh bertindak gegabah. Namun ia juga tidak bisa membiarkan sesuatu yang tidak diketahui merusak hutan.

Akhirnya ia menghela napas. "Baik. Aku tidak akan pergi hari ini."

Gagak itu tampak lega. ["Bagus."]

["Manusia yang hidup lebih berguna daripada manusia yang mati."]

Lian Yue tertawa kecil. "Nasihat yang sangat bagus."

.

.

Malam itu, Lian Yue sedang menyiapkan makanan ketika suara ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

Han Zheng membuka pintu. Di luar berdiri seorang pria, pakaiannya basah oleh embun malam. Ia bukan warga Desa Qinghe.

Han Zheng mengernyit dan mulai waspada, "Siapa kau?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menyerahkan sebuah benda kecil kepada Han Zheng.

Sebuah keping logam. Di permukaannya terdapat lambang aneh. Lian Yue yang melihat dari belakang langsung merasa tidak nyaman.

Pria itu kemudian berkata, "Aku mencari seseorang."

Han Zheng menatapnya dengan tatapan tajam yang menyelidik, "Siapa?"

"Seorang wanita muda." Tatapannya melewati bahu Han Zheng. Kemudian berhenti tepat pada Lian Yue. "Namanya..."

Pria itu tersenyum tipis. "Xian Yue."

Suasana di dalam rumah mendadak sunyi. Lian Yue membeku. Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini...

Seseorang menyebut namanya dengan tepat.

Bukan "menantu keluarga Han."

Bukan "istri Han Zheng."

Melainkan... Xian Yue.

Jantungnya berdegup keras. Tangannya perlahan mengepal. Siapa sebenarnya pria ini?

Dan dari mana dia mengetahui namanya?

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!