Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto
Alya berdiri di depan sink dapur bersih, memegangi gelas berisi air hangat dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar. Ia meneguk air itu perlahan, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Gila. Pria itu benar-benar gila dan berbahaya.
"Mbak Alya tidak apa-apa?" suara Bik Sum tiba-tiba mengejutkannya dari arah meja konter. Wanita paruh baya itu menatap Alya dengan pandangan cemas. "Wajah Mbak pucat sekali. Apa Tuan Adrian... mengatakan sesuatu yang kasar?"
Alya buru-buru meletakkan gelasnya dan memaksakan sebuah senyuman. "Ah, tidak apa-apa, Bik. Tuan Adrian hanya... mengingatkan saya tentang beberapa aturan rumah. Saya hanya sedikit terkejut dengan auranya yang tegas."
Bik Sum mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi beberapa potong buah potong. "Tuan Adrian memang seperti itu sejak empat tahun lalu, Mbak. Dingin seperti es batu, bicaranya selalu tajam. Tapi percayalah, beliau adalah ayah yang sangat baik. Semua kemarahannya itu sebenarnya hanya bentuk perlindungan untuk Tuan Muda Leon dan Lulu."
Alya mengangguk pelan, teringat potongan percakapan telepon Adrian yang tidak sengaja ia dengar tadi. Ibu kandung si kembar pergi bersama pria lain. Pengkhianatan sebesar itu pasti meninggalkan luka dan trauma yang luar biasa, tidak hanya bagi Adrian sebagai seorang suami, tetapi juga sebagai seorang ayah yang harus membesarkan dua anak sendirian di tengah gunjingan publik.
"Bik," panggil Alya ragu-ragu. "Kalau boleh saya tahu... selama ini apakah si kembar sering menanyakan ibu kandung mereka kepada Tuan Adrian?"
Bik Sum langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada pelayan lain atau bahkan Adrian yang melintas di sekitar dapur. Setelah dirasa aman, ia berbisik dengan nada sangat rendah.
"Sering sekali, Mbak. Terutama kalau mereka sedang sakit atau melihat teman-teman di sekolah mereka diantar oleh ibunya. Tapi setiap kali mereka bertanya, Tuan Adrian selalu mengalihkan pembicaraan atau langsung pergi dengan wajah mengeras. Beliau melarang keras siapa pun di rumah ini menyebut-nyebut nama wanita itu. Jadi, ketika tadi Tuan Muda langsung memeluk Mbak Alya dan memanggil 'Mama', saya merasa seperti melihat mukjizat. Tolong... jangan kecewakan mereka ya, Mbak."
Kata-kata Bik Sum terasa seperti beban emosional baru yang mendarat di pundak Alya. Ia datang ke sini murni karena transaksi bisnis untuk menyelamatkan ibunya. Namun sekarang, ia mendapati dirinya terseret ke dalam pusaran luka emosional sebuah keluarga kaya raya.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak, Bik. Saya janji," jawab Alya tulus.
Sore berganti malam, dan suasana di griya tawang itu kembali menghangat saat Leon dan Lulu terbangun dari tidur siang mereka. Mereka langsung mencari Alya, menolak untuk mandi atau memakai pakaian jika tidak ditemani oleh "Mama" baru mereka. Dengan penuh kesabaran, Alya melayani setiap kebutuhan mereka, mulai dari memandikan, memakaikan baju tidur bermotif dinosaurus yang lucu, hingga menemani mereka belajar membaca di ruang tengah.
Pukul delapan malam, makan malam keluarga kembali digelar. Kali ini, suasana jauh lebih tenang. Adrian duduk di kepala meja, sesekali memeriksa tablet kerjanya, sementara Alya sibuk menyuapi Lulu yang mulai rewel karena mengantuk. Tidak ada lagi sindiran "Mas Adrian" atau tatapan menantang. Keduanya seolah sepakat untuk melakukan gencatan senjata sementara di depan anak-anak.
Setelah makan malam usai dan si kembar kembali tertidur pulas di kamar mereka, Alya memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah melewati hari yang begitu panjang dan penuh drama.
Ia baru saja berganti pakaian dengan piayama satin panjang ketika mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Alya mengernyit heran. Siapa malam-malam begini? Apakah anak-anak terbangun?
Dengan langkah cepat, ia membuka pintu. Sosok tegap Adrian Vasillo berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah mengenakan pakaian santai—kaus hitam polos yang mencetak jelas lekuk dada bidangnya dan celana kain panjang. Rambutnya yang biasa disisir rapi ke belakang kini jatuh sedikit berantakan di dahinya, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda namun tidak mengurangi kesan berbahaya dari dirinya.
"T-Tuan Adrian?" Alya refleks mundur selangkah, merapatkan piyamanya. "Ada apa? Apa anak-anak terbangun?"
Adrian tidak langsung menjawab. Mata elangnya menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan penampilan kasual wanita itu sebelum akhirnya menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah tua yang sejak tadi ia pegang.
"Pakai ini," perintah Adrian pendek.
Alya menatap kotak itu dengan bingung. "Apa ini?"
"Buka saja," sahut Adrian tidak sabaran.
Alya menerima kotak tersebut dan membukanya. Di dalam kotak itu, sebuah cincin emas putih dengan berlian bermata satu yang sangat indah berkilau di bawah temaram lampu lorong. Desainnya sangat elegan, mewah, namun tidak berlebihan.
Alya terengah kecil. "Cincin? Untuk apa?"
Adrian mendengus pelan, menyandarkan satu bahunya di bingkai pintu kamar Alya dengan gaya yang terkesan intim namun tetap mengintimidasi. "Besok pagi, tim hukumku akan datang ke sini untuk mengurus legalitas pernikahan kontrak kita. Setelah itu, akan ada beberapa kolega bisnis dan pihak media internal yang akan datang untuk sesi foto keluarga kecil."
Alya menatap cincin itu, lalu menatap Adrian dengan ragu. "Foto keluarga?"
"Benar. Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa pernikahan ini nyata. Seorang istri CEO Vasillo tidak mungkin bertangan kosong tanpa cincin pernikahan," jelas Adrian dingin. "Ambil dan pakai di jari manismu sekarang. Aku harus memastikan ukurannya pas."
Alya mengeluarkan cincin itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Ia mencoba memasukkannya ke jari manis tangan kirinya. Cincin itu meluncur dengan sempurna, pas dan sangat cantik melingkar di jarinya.
"Pas, Tuan," ujar Alya sambil menunjukkan tangannya.
Adrian maju selangkah, memasuki batas ambang pintu kamar Alya. Ia meraih tangan kiri Alya, memegang jemari wanita itu dengan sentuhan yang tak terduga—terasa hangat namun tegas. Ia memutar sedikit cincin di jari Alya, memastikan posisinya benar-benar presisi.
Jantung Alya mendadak berdegup kencang akibat kedekatan mereka yang tiba-tiba ini. Ia bisa mencium dengan jelas aroma sabun mint dan parfum Adrian yang maskulin.
"Bagus," ucap Adrian rendah, matanya menatap lekat cincin yang melingkar di jari manis Alya, sebelum perlahan menatap lurus ke dalam netra wanita itu. "Mulai besok, statusmu berubah di mata hukum dan publik. Kamu adalah Nyonya Vasillo. Ingat, mainkan peranmu dengan sempurna. Jangan buat kesalahan sekecil apa pun di depan kamera."
Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. "Saya mengerti, Tuan Adrian. Saya tidak akan mengecewakan Anda ataupun anak-anak."
Adrian menatap intens mata Alya selama beberapa detik, seolah sedang mencari celah kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah binar tekad yang kuat dari seorang wanita yang sedang berjuang demi ibunya.
Adrian perlahan melepaskan genggaman tangannya, mundur satu langkah kembali ke lorong. "Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untukmu, Istriku."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti bisikan intimidasi sekaligus janji itu, Adrian membalikkan badannya dan berjalan menjauh menyusuri lorong yang sepi.
Alya menutup pintu kamarnya dengan perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia mengangkat tangan kirinya, menatap kilauan berlian di jari manisnya. Pernikahan kontrak ini... ternyata jauh lebih nyata dan berjalan jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Bersama cincin ini, babak baru kehidupannya sebagai ibu pengganti sekaligus istri kontrak sang CEO kejam resmi dimulai.
____
Matahari pagi baru saja menyembul di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta ketika Alya sudah terbangun. Tidurnya tidak bisa dikatakan nyenyak; bayangan dokumen hukum, kilatan kamera media, dan tatapan tajam Adrian terus berputar di mimpinya. Setelah bersiap dan mengenakan salah satu pakaian yang disediakan di lemari—sebuah gaun rajut kasual berwarna krem yang sopan namun elegan—Alya melangkah keluar kamar.
"Mama!"
Belum sempat Alya mencapai ujung tangga, dua malaikat kecil sudah berlari menyongsongnya. Leon dan Lulu, yang tampaknya baru saja selesai dimandikan oleh Bik Sum, langsung memeluk kaki Alya dengan erat. Aroma bedak bayi yang harum menenangkan seketika menguar, mengusir kabut kecemasan di kepala Alya.
"Selamat pagi, Jagoan-jagoan Mama," sapa Alya lembut, berlutut untuk mengecup pipi gembil mereka satu per satu. "Sudah wangi sekali. Siap untuk sarapan?"
"Siap! Tapi kata Bik Sum, hari ini akan ada banyak tamu ya, Ma? Kita mau main apa?" tanya Lulu dengan mata bulatnya yang berkedip polos.
Alya melirik ke arah ruang tengah. Di sana, beberapa pelayan sedang sibuk merapikan ruangan, sementara Malik tampak mengarahkan dua orang pria berjas rapi yang membawa beberapa koper hitam besar—yang Alya yakini berisi peralatan kamera atau dokumen penting.
"Hari ini kita mau foto bersama, Lulu. Seperti foto keluarga yang sering kalian lihat di buku cerita," jawab Alya, mencoba memberikan pengertian yang paling mudah dicerna oleh anak seusia mereka.
"Wah! Foto bersama Mama dan Papa?" Leon menyahut, matanya berbinar cerah. Selama ini, foto di rumah mereka hanya berisi foto dirinya, Lulu, dan sang ayah dengan ekspresi kaku. Memiliki foto bersama seorang "Mama" adalah impian yang baru terwujud hari ini.
"Iya, Leon. Jadi hari ini kalian harus jadi anak yang pintar dan penurut, ya?"
"Siap, Kapten Mama!" seru kedua bocah itu kompak sambil memberikan hormat dengan tangan kecil mereka, membuat Alya tidak bisa menahan tawa gelinya.
Pukul sembilan tepat, atmosfer di dalam griya tawang berubah menjadi sangat formal. Adrian keluar dari kamarnya dengan setelan jas tiga potong berwarna biru gelap yang dijahit sempurna, memancarkan karisma mutlak seorang pemimpin tertinggi Vasillo Group. Pria itu berjalan mendekati meja makan tempat Alya dan anak-anak baru saja menyelesaikan sarapan mereka.
"Malik, apakah tim hukum sudah siap?" suara bariton Adrian memecah keheningan, terdengar dingin dan efisien seperti biasa.
"Sudah, Tuan. Mereka sudah menunggu di ruang kerja utama," jawab Malik yang tiba-tiba muncul di belakang Adrian.
Adrian mengalihkan pandangannya pada Alya. Sorot matanya sempat tertuju pada gaun krem yang dikenakan wanita itu, lalu turun ke jemari tangan kiri Alya. Cincin berlian itu terpasang dengan pas di sana. Adrian mengangguk samar, tanda puas karena Alya mengikuti instruksinya dengan baik.
"Alya, ikut aku. Bik Sum, jaga anak-anak di ruang bermain untuk sementara waktu," perintah Adrian tanpa bantahan.
Alya bangkit berdiri, memberikan usapan penenang di bahu Leon dan Lulu yang menatapnya bingung, lalu berjalan mengekor di belakang langkah lebar Adrian menuju ruang kerja.
Di dalam ruang kerja, dua orang pria paruh baya berkacamata dengan rapi menyambut mereka. Di atas meja mahoni, beberapa lembar dokumen tebal dengan meterai resmi sudah berjejer rapi. Prosesnya berjalan jauh lebih cepat dan dingin daripada yang Alya bayangkan. Tidak ada janji suci, tidak ada air mata kebahagiaan. Hanya ada suara gesekan pena di atas kertas dan penjelasan pasal demi pasal mengenai hak asuh anak, kerahasiaan informasi, dan batasan aset.
"Dengan ini, secara hukum pidana dan perdata di hadapan notaris, Nona Alya resmi berstatus sebagai istri dari Tuan Adrian Vasillo," ujar sang pengacara utama setelah membubuhkan cap resmi. "Dokumen pernikahan ini akan didaftarkan secara privat ke catatan sipil tanpa publikasi massal, sesuai permintaan Tuan Vasillo."
Alya menatap tanda tangannya yang bersandingan dengan tanda tangan Adrian di atas kertas ber-meterai. Aku benar-benar sudah menikah, batinnya berbisik, merasa seolah jiwanya baru saja terlepas dari raga. Ia kini terikat sepenuhnya dengan pria asing di sebelahnya ini.
"Kerja bagus. Anda bisa pergi," usir Adrian dingin kepada tim hukumnya. Setelah kedua pengacara itu keluar, Adrian berbalik menghadapi Alya. Ia condong ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja, mengunci pandangan Alya. "Sekarang bagian tersulitnya. Tim media internal Vasillo Group dan fotografer pribadi keluarga sudah menunggu di luar. Mereka adalah orang-orang kepercayaanku, tapi mereka tetaplah jurnalis. Sesi foto ini akan dirilis terbatas untuk kalangan kolega bisnis utama demi meredam isu miring tentang status si kembar."
Alya meremas jemarinya sendiri. "Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
Adrian mendengus pendek, seolah gemas dengan kepolosan wanita di hadapannya. "Berhentilah memanggilku 'Tuan' di depan mereka. Panggil aku 'Adrian' atau panggilan konyol yang kamu sebut kemarin di depan anak-anak." Pria itu menegakkan tubuhnya, merapikan kerah jasnya. "Dan yang paling penting... tersenyumlah seolah kamu adalah wanita paling bahagia di dunia karena telah memilikiku. Jika senyummu terlihat kaku seperti robot, mereka akan curiga."
Alya menelan ludah. "A-akan saya usahakan."
Sesi foto keluarga dimulai di ruang tengah yang menghadap langsung ke pemandangan kaca besar kota Jakarta. Sang fotografer, seorang pria paruh baya yang tampaknya sudah sangat mengenal Adrian, berkali-kali mengarahkan posisi mereka.
"Tuan Adrian, mohon sedikit lebih rileks. Geser tubuh Anda mendekat ke arah Nyonya Alya," arah sang fotografer dengan sopan.
Adrian bergeser. Lengan jasnya yang kokoh bergesekan langsung dengan bahu Alya. Detik berikutnya, tanpa peringatan, tangan besar Adrian melingkar di pinggang Alya, menarik tubuh wanita itu dengan sentakan lembut namun tegas hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Alya tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan kehangatan telapak tangan Adrian yang menembus kain gaunnya.
"Rileks, Wifey," bisik Adrian sangat rendah di dekat telinga Alya, hembusan napasnya membuat bulu kuduk Alya meremang. "Tubuhmu sekeras batu. Tersenyumlah sebelum aku kehilangan kesabaran."
Alya memejamkan mata sekejap, mencoba mengusir rasa gugup yang mematikan sarafnya. Ketika ia membuka mata, ia melihat Leon dan Lulu sedang duduk di depan mereka sambil tertawa riang, memegang mainan mereka. Melihat binar kebahagiaan murni di wajah kedua anak itu, senyum tulus akhirnya terukir di bibir Alya. Ia mendongak sedikit, menatap profil samping wajah Adrian yang tegas, dan entah mengapa, pada detik yang sama, Adrian juga menoleh menatapnya.
Klik!
Lensa kamera menangkap momen langka tersebut. Sebuah foto di mana sang CEO dingin menatap dalam ke arah wanita di pelukannya dengan intensitas yang tampak begitu nyata, sementara sang wanita tersenyum dengan binar mata yang hangat.
"Luar biasa! Tatapan mata yang sangat penuh cinta, Tuan Adrian! Ini akan menjadi foto utama kita," seru sang fotografer puas.
Alya buru-buru memutuskan kontak mata mereka, merasakan pipinya mendadak memanas. Di sisi lain, Adrian perlahan mengendurkan cengkeramannya di pinggang Alya, namun tangannya sempat mengusap lembut sisi pinggang wanita itu sebelum benar-benar terlepas—sebuah tindakan spontan yang membuat jantung Alya kembali berpacu tidak keruan.
Setelah dua jam melelahkan yang dipenuhi dengan berbagai pose dan pergantian pakaian untuk anak-anak, sesi foto akhirnya selesai. Para kru media mulai membereskan peralatan mereka dan berpamitan dengan hormat kepada Adrian dan Alya.
Griya tawang kembali sunyi, menyisakan kelelahan yang kentara. Leon dan Lulu yang energinya sudah habis tampak tertidur pulas di sofa ruang tengah dengan posisi saling tumpang tindih.
Alya berjalan mendekati sofa, berniat memindahkan mereka ke kamar agar tidur mereka lebih nyaman. Namun sebelum ia sempat menyentuh Leon, sebuah tangan besar menahan pergelangan tangannya.
Alya menoleh dan menemukan Adrian sudah berdiri di sampingnya. Sifat dingin pria itu tampaknya telah kembali sepenuhnya setelah kamera-kamera itu pergi.
"Biarkan para pelayan yang memindahkan mereka. Kamu, ikut aku ke balkon. Ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai jadwalmu mulai besok," ujar Adrian datar, lalu melangkah terlebih dahulu menuju pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon luar.
Alya mengembuskan napas lelah, namun ia tetap melangkah mengikuti pria yang kini berstatus sebagai suaminya di atas kertas tersebut. Angin sore Jakarta yang berhembus cukup kencang langsung menyambut mereka begitu menginjakkan kaki di balkon luas yang dipenuhi tanaman hias mewah tersebut.
Adrian berdiri bersandar pada pagar pembatas besi, menatap hamparan gedung pencakar langit di hadapan mereka. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menyisakan keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Mulai besok, sebuah mobil dan sopir pribadi akan disiapkan khusus untukmu," kata Adrian tanpa menoleh. "Kamu memiliki jadwal tetap setiap dua kali seminggu untuk mengunjungi ibumu di rumah sakit. Malik yang akan mengatur rutenya agar tidak memicu kecurigaan media."
Alya tertegun. Ia tidak menyangka Adrian akan memikirkan hal mendetail seperti akses untuk mengunjungi ibunya. "Terima kasih, Tuan—maksudku, Adrian."
Adrian menoleh sedikit, menatap Alya dari sudut matanya. "Jangan salah paham. Aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu atau ibumu. Aku hanya tidak ingin ada berita miring yang menyebutkan bahwa istri dari Adrian Vasillo berkeliaran di rumah sakit umum menggunakan taksi online. Itu buruk untuk citra saham perusahaan."
Mendengar penjelasan dingin itu, rasa terima kasih yang sempat muncul di hati Alya menguap seketika. Pria ini benar-benar terbuat dari batu; semua tindakannya selalu didasari oleh angka, kalkulasi bisnis, dan reputasi.
"Saya tahu," jawab Alya dengan nada yang tidak kalah dingin. "Anda tidak perlu mengingatkan saya berulang kali tentang status transaksi di antara kita. Saya memegang janji saya, dan saya harap Anda juga memegang janji Anda untuk kesembuhan ibu saya."
Adrian membalikkan tubuhnya sepenuhnya, bersandar pada pagar pembatas dan melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap lekat ke arah Alya yang berdiri tegak menantang angin sore, rambut panjang wanita itu menari-nari tertiup angin, memberikan kesan kecantikan yang alami dan liar yang belum pernah Adrian lihat pada wanita-wanita sosialita di lingkungannya.
"Kamu berbeda dari wanita-wanita yang pernah aku temui, Alya," gumam Adrian tiba-tiba, suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan spekulatif. "Sebagian besar wanita akan gemetar ketakutan atau justru mencoba merayuku jika berada di posisimu sekarang. Tapi kamu... kamu selalu punya cara untuk menjawab ucapanku dengan berani."
Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung sedikit kegetiran. "Itu karena saya tidak menginginkan apa pun dari Anda selain uang untuk pengobatan ibu saya, Adrian. Ketika seseorang tidak memiliki ambisi untuk merebut hatimu atau hartamu, maka tidak ada alasan baginya untuk merasa takut atau tunduk padamu."
Jawaban Alya menghantam sesuatu yang jauh di dalam dada Adrian. Kata-kata wanita itu begitu jujur, sebuah kontras yang tajam dari masa lalunya yang penuh dengan kepalsuan dan topeng keserakahan.
Adrian melangkah mendekat, menghentikan jaraknya tepat di depan Alya hingga wanita itu terpaksa mendongak untuk menatapnya. Adrian mengulurkan tangannya, menyelipkan sehelai rambut Alya yang berantakan tertiup angin ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan jarinya yang dingin di kulit pipi Alya mengirimkan sengatan listrik yang aneh di antara keduanya.
"Kita lihat saja nanti, Nyonya Vasillo," bisik Adrian dengan seringai tipis yang penuh teka-teki di bibirnya. "Rumah ini memiliki cara tersendiri untuk mengubah prinsip seseorang. Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan untuk tidak menginginkan apa pun dariku."
Alya menahan napasnya, mengunci pandangannya pada mata elang Adrian yang berkilat berbahaya. Di bawah langit sore Jakarta yang mulai meredup, sebuah ikatan tanpa cinta namun penuh dengan ketegangan gairah dan intrik rahasia telah resmi dimulai di antara sang CEO kejam dan sang ibu pengganti.