Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
Jarum jam dinding antik di ruang tengah telah menunjuk tepat ke angka delapan malam. Sesuai dengan tradisi di kediaman mewah keluarga Mahendra, jam delapan adalah waktu sakral di mana seluruh anggota keluarga harus berkumpul untuk makan malam bersama.
Di area dapur, suasana tampak sibuk namun hening. Bik Sumi sibuk memindahkan sup buntut sapi yang masih ngepul ke dalam mangkuk keramik besar, sementara Aluna bertugas menata piring-piring kecil berisi sambal dan lalapan di atas nampan. Kaos biru muda yang dipakainya sejak siang tadi kini sudah tertutup oleh celemek memasak berwarna cokelat, seolah menjadi perisai pelindung bagi dirinya yang masih merasa cemas.
"Nduk, ayo diangkat nampannya. Tuan, Nyonya, sama Den Arsen sudah duduk di meja makan," titah Bik Sumi pelan sembari mengangkat mangkuk sup yang berat.
Aluna menelan ludah, dadanya kembali berdesir mendengar nama terakhir yang disebut sang bibi. "Baik, Bik," jawabnya lirih.
Dengan langkah yang diatur seanggun dan setenang mungkin, Aluna berjalan mengekor di belakang Bik Sumi memasuki ruang makan utama. Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka, kontras dengan atmosfer hangat dari lampu gantung kristal yang berpendar keemasan di atas meja makan.
Di sana, Tuan Mahendra duduk di kursi kepala meja, tampak berwibawa dengan kemeja rumahan yang santai namun rapi. Di sebelah kirinya, Nyonya Mahendra sedang tersenyum menyambut kedatangan makanan. Dan tepat di hadapan sang nyonya—duduk dengan posisi tegap yang dominan—adalah Arsen.
Arsen sudah mengganti kemeja biru gelapnya dengan kaus polo hitam yang pas di tubuh bidangnya, memberikan kesan santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat.
Begitu derap langkah kaki Aluna terdengar memasuki ruangan, Arsen yang tadinya sedang mendengarkan ucapan papanya langsung mengalihkan pandangan. Sepasang mata elangnya langsung mengunci sosok Aluna, memperhatikan bagaimana gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam, menolak untuk membalas tatapannya.
Aluna dengan cekatan mulai meletakkan piring-piring lauk di atas meja, tepat di dekat jangkauan tangan Arsen. Jarak yang kembali mengikis di antara mereka membuat memori tentang bisikan panas di dapur sore tadi seolah kembali terngiang dengan jelas di telinga Aluna, membuat jemarinya bergetar halus saat meletakkan mangkuk sambal.
Setelah semua hidangan tertata rapi di atas meja makan, Bik Sumi dan Aluna segera berpamitan dengan sopan. Aluna menarik napas lega begitu kakinya melangkah melewati pintu pembatas dapur. Berada di dekat Arsen dengan tatapan intens pria itu benar-benar menguras energinya.
Di ruang makan, dentingan sendok dan garpu beradu pelan mengiringi makan malam keluarga yang hangat. Di tengah-tengah makan malam, Tuan Mahendra meletakkan serbetnya, lalu menatap putra tunggalnya dengan raut wajah serius namun bangga.
"Sen, lusa Papa dan Mama harus berangkat lagi ke Surabaya. Tadi Papa baru dapat info kalau ada pertemuan mendadak dengan jajaran direksi dari anak perusahaan kita di sana," ujar Tuan Mahendra membuka obrolan bisnis.
Nyonya Mahendra mengangguk membenarkan. "Iya, Sen. Padahal Mama baru saja mau istirahat beberapa hari di rumah. Tapi proyek di sana sepertinya butuh pengawasan langsung dari Papa."
Arsen hanya mengangguk tenang, menyuap potongan daging supnya tanpa keterkejutan sedikit pun. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak kecil. Lagipula, sejak setahun terakhir, hampir seluruh kendali bisnis operasional dan proyek di dalam kota memang telah sepenuhnya diserahkan ke tangan Arsen. Orang tuanya kini lebih banyak fokus pada ekspansi luar kota dan luar negeri.
"Berapa lama, Pa?" tanya Arsen dengan suara baritonnya yang stabil.
"Mungkin sekitar satu minggu. Papa percayakan rumah dan kantor cabang di sini kepadamu, seperti biasa," jawab Tuan Mahendra tegas.
Mendengar konfirmasi itu, sebuah kilatan aneh yang teramat tipis melintas di mata elang Arsen. Satu minggu. Itu artinya, lusa, kedua orang tuanya tidak akan ada di rumah mewah ini.
Pikiran Arsen langsung melayang ke area dapur belakang, membayangkan sosok pelayan pribadinya yang bertubuh sintal itu. Tanpa kehadiran orang tuanya, jarak dan batasan di antara dirinya dan Aluna dipastikan akan semakin menipis. Arsen tahu, ini adalah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan untuk bisa bergerak lebih dekat dan mengikat gadis itu ke dalam kuasanya.