"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Penyitaan Mutlak.
***
Atmosfer di dalam kamar tidur Freya terasa kian memanas, seolah uap kemarahan dari dua kepala yang keras kepala mengkristal di udara.
Freya mendongak, menantang jangkauan tubuh kekar Galen Danendra yang membungkuk mengurung pergerakannya. Napas remaja gadis itu memburu pendek, dadanya naik turun dengan cepat akibat detak jantung yang berpacu liar disulut amarah.
"Keluar dari kamarku, Kak Galen!". Sentak Freya dengan nada suara yang melengking tinggi, menunjuk ke arah daun pintu kayu jati yang terbuka lebar dengan jemarinya yang lentik namun bergetar. "Aku bilang keluar! Kakak tidak punya hak sedetik pun untuk berdiri di sini dan memakiku dengan kata-kata menjijikkan itu! Keluar!".
Namun, pria berusia dua puluh sembilan tahun di hadapannya sama sekali tidak bergerak setapak pun. Galen tetap mematung di posisinya, menumpu kedua lengan kekarnya yang dipenuhi urat menonjol di atas permukaan kasur yang empuk.
Wajah tampannya sedingin es, kaku, dan acuh tak acuh seolah teriakan Freya hanyalah embusan angin kosong yang lewat. Sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat justru menatap lurus ke arah puncak kepala Freya dengan pandangan menghakimi yang teramat pekat.
Drtttt… Drtttt….
Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara getaran dari atas meja nakas mendadak berbunyi nyaring. Sebuah lampu LED hijau di sudut ponsel pintar Freya kembali menyala, menandakan sebuah notifikasi pesan singkat baru saja masuk.
Mendengar suara getaran tersebut, mata elang Galen seketika bergerak kilat, melirik tajam ke arah benda persegi di atas meja nakas. Insting posesif dan amarahnya langsung aktif dalam hitungan detik.
Ia tahu persis, siapa lagi yang akan mengirimkan pesan di tengah malam buta seperti ini jika bukan bocah laki-laki berjaket denim pemicu badai amarahnya hari ini.
Freya yang menyadari arah pandangan Galen mendadak diserang kepanikan yang teramat sangat. "Jangan sentuh pons—"
Belum sempat Freya menyelesaikan kalimatnya, dan belum sempat jemari lentiknya bergerak untuk meraih benda tersebut, gerakan Galen jauh lebih cepat dan mutlak. Dengan satu ayunan tangan kekarnya yang panjang, Galen merenggut ponsel pintar Freya dari atas meja nakas, mengangkatnya tinggi-tinggi di udara sebelum Freya mampu menjangkaunya.
"Kak Galen! Kembalikan ponselku!". Jerit Freya sejadi-jadinya, wajah cantiknya memerah padam karena geram yang teramat sangat.
Gadis remaja itu merangsek maju di atas kasur, mencoba menggapai tangan Galen, namun tinggi badan Galen yang menjulang membuat usahanya sia-sia.
"Kembalikan! Jangan lancang menyentuh barang pribadiku!".
"Barang pribadi?". Galen mendengus sinis, seulas senyum smirk yang teramat tipis, dingin, dan sarat akan konotasi kejam terukir di sudut bibir tipisnya.
Pria itu menimang ponsel Freya di telapak tangannya yang besar dengan gerakan yang sangat meremehkan.
“Kau lupa aturan di rumah ini, hah? Selama kau hidup di bawah atap saya, memakan makanan dari uang perwalian saya, tidak ada satu pun benda di dalam kamar ini yang bisa kau klaim sebagai milik pribadimu, Freya Anindita."
"Aku tidak peduli!". Balas Freya dengan keras kepala, menolak untuk kalah atau tunduk di bawah intimidasi absolut sang penguasa tunggal. Ia menatap Galen dengan kilat kebencian yang mendalam. "Ponsel itu dibeli menggunakan uang saku dari dana peninggalan Papaku! Bukan uang pribadimu! Jadi itu hak milikku! Serahkan sekarang juga!".
"Kertas-kertas saham papamu saat ini dikunci di dalam brankas kantor pusat saya!". Bisik Galen, merendahkan posisi wajahnya tepat di depan wajah memucat Freya, mengintimidasi gadis itu dengan hembusan napasnya yang memburu panas. "Dan saya, adalah pemegang kunci mutlak atas brankas tersebut. Jadi, apa pun yang dibeli dari sana... berada di bawah otoritas saya. Termasuk benda sampah ini."
"Kakak benar-benar sakit jiwa! Egois! Arogan!". Maki Freya beruntun, dadanya sesak menahan frustrasi yang membumbung tinggi melampaui batas kesabarannya. Air mata kemarahan yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh juga melewati pipinya yang memerah. "Kenapa kakak selalu memperlakukanku seperti tawanan? Aku manusia, Kak! Aku bukan mainan yang bisa kakak rampas hak hidupnya hanya karena kakak cemburu buta!".
"Cemburu?". Galen kembali terkekeh dingin—sebuah tawa kaku tanpa riak kebahagiaan yang terdengar teramat mengerikan di dalam kesunyian kamar.
Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata bulat Freya yang berkilat menantang. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Galen sempat tertegun sesaat. Sudut bibir tipisnya ditarik ke samping, menciptakan seulas senyum smirk misterius yang memancarkan rasa tertantang yang liar.
Gadis kecil berumur sebelas tahun yang dulu gemar meringkuk ketakutan, menangis histeris memeluk jasad ayahnya di rumah sakit, kini benar-benar telah lenyap tanpa sisa.
Di hadapannya saat ini, Freya telah menjelma menjadi seorang gadis remaja yang memiliki keberanian nekat yang luar biasa—gadis pembangkang yang berani memandangnya dengan mata lancang dan memaki egonya di depan muka.
Dan bagi seorang predator berdarah dingin seperti Galen, perlawanan keras kepala ini justru memercikkan rasa gila yang teramat menantang untuk ditaklukkan.
"Kau memiliki keberanian yang cukup besar untuk memaki saya malam ini, Freya Anindita". Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang teramat kejam namun sarat akan penekanan psikologis yang menusuk dingin. "Tapi sayangnya, keberanianmu itu tidak akan pernah bisa mengembalikan ponsel ini ke tanganmu."
"Kak Galen, tolong... Jangan sita ponselku! Aku butuh itu untuk urusan sekolah besok!". Freya mengubah taktiknya, suaranya bergetar menahan frustrasi yang amat mendalam saat melihat Galen mulai melangkah mundur, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kain hitamnya.
"Urusan sekolah? Atau urusan bertukar pesan mesra dengan bocah bernama Rendy itu, hm?". Sindir Galen kejam di depan pintu kamar. "Saya sudah katakan pagi dan sore tadi, Freya. Mulai besok, tidak ada lagi interaksi dengan luar. Dan penyitaan ini... adalah hukuman awal karena kau sudah berani menertawakan perintah saya."
"Aku benci Kak Galen! Aku benar-benar membencimu seumur hidupku!". Raung Freya dengan sisa tenaganya, melemparkan bantal gulingnya secara brutal ke arah punggung tegap Galen yang mulai berbalik menjauh.
BUK.
Bantal itu menghantam punggung tegap Galen sebelum akhirnya terjatuh tak berdaya di atas lantai marmer. Galen tidak berhenti. Pria dua puluh sembilan tahun itu tetap melangkah keluar dari kamar Freya, lalu menutup pintu kayu jati tersebut dengan satu debuman keras yang menutup rapat seluruh pelarian kebebasan masa muda Freya malam itu.
Di dalam kamarnya yang kini kembali sunyi dan temaram, Freya langsung luruh jatuh terduduk di atas kasur. Ia menenggelamkan wajah kacau dan basahnya di antara kedua lutut, menangis sesenggukan menahan rasa frustrasi yang luar biasa hebat akibat ponselnya yang benar-benar disita secara paksa.
Sementara itu, langkah kaki tegap Galen membawanya masuk kembali ke dalam kamar utama miliknya yang bernuansa maskulin gelap.
Pria itu mengunci pintu dari dalam, melangkah mendekati meja nakas yang terletak di samping tempat tidur berukuran besar miliknya.
Dengan satu gerakan kaku, Galen merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar milik Freya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas permukaan meja nakas.
TAK.
Benda persegi itu mendarat dengan bunyi benturan kecil di dekat kacamata bacanya. Galen menghembuskan napas panjang dari balik hidungnya yang mancung, melonggarkan otot-otot leher tegapnya yang terasa kaku setelah seharian memeras otak memimpin negosiasi bisnis dan menahan gejolak amarah yang membakar dadanya sejak pagi.
Rasa lelah yang luar biasa pekat setelah melewati badai emosi sepanjang hari akhirnya mulai menyerang pertahanan fisiknya. Galen merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur yang empuk, menarik selimut hitamnya, dan memejamkan sepasang mata elangnya demi menjemput tidur yang tertunda.
Namun, tepat sebelum kesadarannya perlahan menghilang ditelan kantuk, seulas senyuman smirk yang teramat tipis dan samar kembali terukir di wajah tampannya yang sedingin es.
Entah kenapa, ada sebuah rasa puas tersendiri yang teramat nyata—sebuah kepuasan dominasi yang aneh yang merayap naik menyelimuti rongga dada sang duda tersebut malam ini.
Dengan menyita benda itu, Galen tahu betul bahwa ia telah resmi memutus rantai hubungan antara Freya dan dunia luarnya.
Ia telah berhasil mengunci sang peliharaan kecilnya kembali ke dalam wilayah kekuasaannya, memastikan bahwa besok pagi, tidak akan ada lagi senyuman manis Freya yang dipamerkan secara lancang kepada pria lain di luar sana.
***