NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

[Kalkulator Atribut Lawan Telah Diaktifkan. Fitur ini hanya akan beroperasi secara otomatis saat Anda memasuki mode pertempuran.]

Teks bernuansa hologram emas mendadak mencuat di ruang pandang Repan.

'Menarik... Jadi sistem ini memungkinkanku untuk mengukur kapasitas tempur musuh sebelum bertindak? Fasilitas yang sangat menguntungkan,' batin Repan sembari menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.

'Sistem, kalkulasikan status mereka sekarang,' titah Repan dalam hati.

Tanpa menunggu lama, sebaris bagan status transparan langsung terapung tepat di atas kepala ketiga berandalan itu.

[Target 1 - Kapasitas Fisik: 23]

[Target 2 - Kapasitas Fisik: 19]

[Target 3 - Kapasitas Fisik: 18]

'Cih... hanya berada di level serendah itu? Mereka tidak lebih dari kawanan pengecut yang mengandalkan superioritas jumlah untuk menggertak korbannya,' gumam Repan tenang, seraya mengeratkan kepalan jemarinya.

'Dengan modal parameter fisik bernilai 30 ditambah insting Kick Boxing kelas profesional, keributan ini akan kuselesaikan dalam hitungan detik.'

Berandalan pertama melangkah maju dengan gusar, wajahnya memerah menahan berang.

"Brengsek! Berani-beraninya lo sok pahlawan!" hardiknya kasar sembari menjulurkan tangan, berniat mencengkeram kerah seragam Repan.

Namun, sebelum jemari kotor itu sempat menyentuh serat kain almamaternya...

Buakkk!

Satu hantaman super cepat bersarang telak di rahang bawahnya.

Pemuda berandalan itu langsung terpelanting ke belakang, ambruk di atas tanah sembari mengerang kesakitan.

"Ahhhggg!" pekiknya tertahan, sementara cairan merah mulai merembes dari sela-sela bibirnya yang robek.

"Sialan, dia berani menyerang duluan! Habisi dia bersama-sama!" dari berandalan kedua dan ketiga yang langsung merangsek maju.

Mereka mengepalkan tinju dan menerjang secara simultan dari dua arah.

Wushhh! Wushhh!

Dua bogem mentah melayang cepat mengincar wajah Repan. Namun, di bawah pengaruh modifikasi sistem, pergerakan agresif tersebut justru terlihat teramat lambat di mata Repan. 'Sangat mudah dibaca,' batinnya datar.

Repan hanya perlu memiringkan poros tubuhnya sedikit untuk meloloskan diri dari serangan pertama, kemudian...

Duggg!

Tinju kanannya menghantam ulu hati berandalan kedua, memaksa pemuda itu menekuk tubuhnya seperti udang akibat rasa mulas yang luar biasa.

Plakkk!

Sebuah sapuan tendangan rendah menghajar tulang kering berandalan ketiga, membuatnya kehilangan keseimbangan dan limbung.

Duakkk! Duakkk!

Dua kombinasi pukulan lanjutan mendarat telak di rahang mereka masing-masing. Keduanya langsung roboh mencium tanah, mengerang kesakitan tanpa memiliki daya lagi untuk menegakkan tubuh.

Melihat kedua rekannya tumbang dalam sekejap, berandalan pertama yang sempat terjungkal tadi berusaha bangkit dengan sisa tenaga, wajahnya dipenuhi raut dendam sekaligus gentar.

"Awas lo! gua sudah menandai wajah lo, Keparat! Urusan kita belum selesai! Kami pasti akan kembali dan membuatmu membayar semua ini!" ancamnya kalap sembari memapah kedua temannya untuk bergegas melarikan diri dari lorong tersebut.

Repan hanya mengembuskan napas panjang tanpa sudi menatap punggung ketiga berandalan itu menjauh.

"Terima kasih... Anda sudah menolong saya dari mereka," ucap siswa korban perundungan yang perlahan bangkit berdiri.

Repan hanya menoleh sekilas dengan sorot mata datar.

"Segera tinggalkan tempat ini sebelum mereka membawa bala bantuan. Dan jangan pernah nekat melewati lorong sepi ini sendirian lagi," sahutnya dingin sebelum akhirnya membalikkan badan dan melanjutkan langkah kaki.

Siswa tersebut hanya bisa memandangi punggung Repan yang kian menjauh dengan ekspresi takjub.

"Sebenarnya siapa dia...? Tapi seragam yang dia kenakan... kita satu sekolah."

Sepanjang rute kepulangannya, Repan tidak bisa menyembunyikan senyum kepuasan yang terus mengembang.

'Luar biasa... Transformasi fisik ini benar-benar nyata. Aku bahkan bisa menguasai seni bela diri Kick Boxing dalam sekejap mata, dengan sensasi refleks yang setara dengan latihan intensif selama sepuluh tahun,' pikirnya bangga.

'Sistem ini terlampau ajaib! Jika mekanismenya seperti ini, aku harus segera memutar otak untuk membelanjakan dana fantatiss ini agar bisa mendapatkan poin sebanyak-banyaknya demi memperkuat diriku sendiri!' Ia sangat paham, di sudut kelam Kota Bogor yang sarat akan gesekan kriminalitas, kekuatan fisik mutlak adalah benteng pertahanan terbaik.

Begitu tiba di depan bangunan kontrakan kecil berkondisi semi-permanen dengan atap seng yang mulai berkarat, Repan melongok ke dalam. Hening. Tidak ada tanda-tanda aktivitas.

'Arinda belum kembali dari sekolah?' gumamnya sembari melirik arloji di pergelangan tangan. Hari sudah merambat cukup sore.

Khawatir terjadi sesuatu, Repan memutuskan untuk menyusul ke sekolah adiknya. Namun baru menempuh setengah perjalanan, tanpa diduga, keduanya justru berpapasan di persimpangan jalan.

Gadis remaja itu tengah melangkah dengan kepala terkulai dalam, ayunan kakinya tampak ringkih disertai sorot mata yang terlihat sayu dan lelah.

"Arinda? Kenapa wajahmu tampak begitu tertekan?" tanya Repan mendatangi adiknya dengan dahi berkerut cemas.

Arinda mendongak lambat.

"Kak Repan..." bisiknya parau. Gadis itu langsung mempercepat langkah, menghambur ke pelukan sang kakak.

"Kak... aku ingin mencari pekerjaan sampingan setelah pulang sekolah. Aku mau membantu Kakak mencari uang. Aku sudah cukup dewasa untuk tidak terus-menerus membebani Kakak."

Repan semakin memperdalam kerutan di keningnya.

"Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?"

Arinda terdiam beberapa saat, menundukkan pandangannya ke arah ujung sepatu.

"Tunggakan uang gedung dan SPP-ku sudah berjalan tiga bulan, Kak. Tadi pihak administrasi sekolah bilang... jika minggu ini tidak ada pelunasan, namaku akan dihapus dari daftar siswa."

Repan tertegun seketika. Rasa bersalah yang teramat pekat langsung menghunjam relung dadanya.

"Adik bodoh... kenapa kamu menyembunyikan masalah sebesar ini dari Kakak?" tanyanya dengan nada suara yang melembut penuh afeksi.

Arinda menggigit bibir bawahnya, menahan bendungan air mata.

"Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Kakak. Setiap hari Kakak sudah membanting tulang siang dan malam demi mencukupi kebutuhan makan kita. Sementara aku hanya duduk belajar di kelas. Rasanya sangat tidak adil bagi Kakak..."

Repan menghela napas panjang, lalu mengacak pucuk rambut Arinda dengan kehangatan seorang kakak.

"Hapus air matamu, kamu tidak perlu mencemaskan hal konyol itu lagi. Kakak sudah menemukan jalan keluarnya. Mari kita selesaikan seluruh administrasi sekolahmu sore ini juga," hiburnya dibarengi senyum hangat.

Arinda menatap wajah kakaknya dengan saksama. Sepasang mata yang semula redup kini kembali memancarkan binar harapan. Repan segera menggenggam jemari adiknya, menuntun langkah gadis itu menuju gerbang sekolah dengan ritme langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Repan sendiri merupakan pelajar tingkat akhir di SMA 09 Cumanggu dan menyisakan waktu kurang dari satu tahun sebelum kelulusan.

Sementara Arinda, adik perempuannya, baru saja menapakkan kaki sebagai siswi kelas satu di SMA Negeri 7 Bogor. Dua bersaudara ini terpaksa berjuang keras mengandalkan peluh mereka sendiri demi bertahan hidup.

Mereka berdua adalah produk broken home dari perceraian kelam orang tua mereka. Sang ibu memilih angkat kaki bersama pria lain dan secara enggan memikirkan eksistensi mereka lagi.

Pasca-perceraian, sang ayah sempat mengambil alih hak asuh keduanya. Namun, pria itu justru melarikan diri dari realitas dengan menjadi pecandu judi dan alkoholik berat.

Puncaknya adalah lima tahun silam, pria itu lenyap bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak maupun sepeser uang pun untuk mereka.

Sejak lembaran hitam itu dimulai, Repan terpaksa melompati masa mudanya untuk memikul seluruh tanggung jawab domestik.

Bekerja di berbagai tempat tanpa mengenal waktu, hanya demi memastikan sekerat nasi bisa tersaji di meja dan adiknya tetap bisa mengenyam pendidikan.

Kini, langkah kaki mereka telah menginjak area halaman SMA Negeri 7 Bogor.

"Ayo. Kita langsung menuju ruang guru," ajak Repan datar seraya memandu adiknya masuk membelah koridor.

Beberapa gerombolan siswa yang tengah berkumpul di area taman sekolah langsung mengalihkan atensi mereka begitu melihat kedatangan mereka.

"Eh, coba lihat! Bukankah itu si Arinda?"

"Lihat itu! Dia datang bersama seorang cowok!"

"Bahkan mereka berjalan sambil berpegangan tangan begitu!"

"Apa jangan-jangan itu pacar rahasianya?"

"Ha ha ha... Pantas saja kemarin dia berani menolak Drian mentah-mentah dengan dalih ingin fokus mengejar nilai akademik. Ternyata di belakang dia sudah memelihara cowok."

Drian, yang kebetulan sedang nongkrong di dekat area gazebo, langsung memutar tubuhnya dengan tatapan tajam.

Rona wajahnya seketika berubah drastis. Rahangnya mengatup rapat hingga urat lehernya menegang, sepasang netranya membelalak dipenuhi kobaran emosi yang meluap-luap.

Ia masih menyimpan memori segar bagaimana beberapa pekan lalu, dirinya menembak Arinda di koridor utama di hadapan puluhan pasang mata siswa lain.

Namun, Arinda menolaknya tanpa ragu dengan alasan klise ingin memprioritaskan studi.

Dan hari ini... di tempat yang sama, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri gadis itu datang dengan jemari yang tertaut erat pada pria lain.

"Gadis tidak tahu diri... Dia sengaja menjatuhkan harga diriku!" geram Drian dengan nada suara rendah yang sarat akan kemarahan.

Komplotan temannya yang menyadari situasi tersebut mulai menyiramkan bensin ke dalam api provokasi.

"Sepertinya dia sengaja membawa cowoknya ke sini untuk memamerkannya di depan mukamu, Dri."

"Keterlaluan, sih. Ini benar-benar menginjak-injak harga dirimu sebagai anak geng."

"Dia jelas-jelas menantang dan meremehkanmu di ruang publik."

"Seorang Drian yang ditakuti satu sekolah, ditolak dan dipermalukan oleh anak yatim piatu yang miskin. Sungguh ironi yang menggelikan, bukan? Ha ha ha!"

Rentetan kalimat ejekan itu bagaikan pemantik yang membakar sumbu emosi Drian hingga meledak sempurna.

"Bangsat! Aku akan menghabisi cowok itu dan membuat perhitungan dengannya!" bentaknya murka.

Dengan derap langkah lebar dan dada membusung penuh keangkuhan, Drian memotong jalur jalan Repan dan Arinda yang hampir mencapai pintu masuk kantor guru.

"Berhenti di sana!" teriak Drian menggelegar, memotong pergerakan mereka.

Repan menghentikan langkahnya, melirik sekilas dengan ekspresi wajah yang terlampau tenang tanpa riak. Sementara Arinda tampak menunjukkan guratan kebingungan di wajahnya.

"Kak Drian? Ada keperluan apa menghalangi jalan kami?" tanya Arinda heran.

"Gadis sialan! Dasar perempuan murahan!" maki Drian tanpa memedulikan tempat.

Sontak, seluruh siswa yang berada di sekitar area taman langsung mengarahkan pandangan ke pusat keributan.

Beberapa di antaranya bahkan mulai merogoh saku, mengaktifkan kamera ponsel mereka untuk mengabadikan momen dramatis tersebut.

Sepasang mata Repan menyipit tajam. Sorot matanya berubah sedingin es, disertai nada suara yang meremangkan kuduk siapapun yang mendengarnya.

"Jaga lidah kotormu itu... sebelum aku terpaksa memesankan satu kamar rawat inap di rumah sakit untukmu."

Drian meledak dalam tawa meremehkan.

"Apa? Kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa, hah? Ini wilayah kekuasaanku! Kalau kamu mau cari mati, ayo! Kamu mau dikeroyok satu sekolah, hah?!"

Drian bukanlah pelajar biasa; ia adalah salah satu pentolan dari Geng GBA, sebuah akronim dari Gila Berani Anarkis.

Komplotan pelajar brutal ini cukup memiliki nama dan reputasi kelam di kawasan Bogor Timur.

Sel-sel anggotanya tersebar di berbagai sekolah menengah dan kerap memicu bentrokan berdarah antarpelajar di jalanan.

Arinda yang mencium aroma bahaya segera menarik ujung lengan baju kakaknya.

"Kak... jangan diladeni. Mari kita abaikan saja dia."

"Mau lari ke mana kalian?! Memangnya kalian pikir bisa mengacuhkanku begitu saja?!" bentak Drian kalap, tangannya bergerak kasar mencoba merenggut pergelangan tangan Arinda.

Buaakkk!

Satu hantaman keras dan presisi mendarat tepat di tengah wajah Drian. Pukulan telak itu menghantam area hidungnya tanpa ampun.

Tubuh pemuda itu langsung terpelanting ke belakang, jatuh dan bergulingan di atas tanah layaknya sekarung beras yang dilempar dari atas truk.

"Aaaahhhggg!" jerit Drian histeris menahan sakit.

Seluruh siswa yang menyaksikan insiden itu terbelalak tak percaya. Suasana area taman sekolah mendadak senyap seketika, menyisakan keheningan yang mencekam.

Repan melangkah mendekat dengan ritme yang konstan, suaranya terdengar begitu tenang namun menyimpan daya intimidasi yang pekat.

"Jangan pernah membiarkan tangan kotor dan busukmu itu menyentuh seujung kuku adikku lagi."

Usai melontarkan kalimat tersebut, ia kembali menggenggam jemari Arinda dan melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruang administrasi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Brengsek kau!!" raung Drian dari atas tanah, dengan cairan merah kental yang mulai mengucur deras dari lubang hidungnya.

"Aku bersumpah akan membuatmu merangkak memohon ampunan di kakiku!"

Dengan tangan gemetar akibat amarah dan rasa sakit, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan segera menekan sebuah nomor kontak.

"Di mana kalian sekarang?! Cepat merapat ke sekolahku detik ini juga! Ada target segar yang harus kalian buat cacat!"

"Bagaimana dengan urusan bayarannya?" tanya sebuah vokal berat di seberang sambungan telepon.

"Persetan! Datang saja dulu! Aku yang akan melunasi seluruh tarif kalian secara penuh tanpa kurang sepeser pun!" sahut Drian berang, napasnya memburu.

Pria di seberang telepon terkekeh santai.

"Haha... Baiklah. Kami meluncur sekarang juga. Tunggu kami."

Drian langsung memutuskan sambungan secara sepihak, lalu melemparkan pandangan melotot ke arah kerumunan siswa di sekitarnya.

"Apa yang kalian lihat, hah?! Mau aku hajar juga muka kalian?!"

Mendengar gertakan itu, seluruh siswa langsung membubarkan diri dengan teratur. Tidak ada satu pun yang berani mengambil risiko membalas sorot mata Drian yang tengah dirasuki kabut dendam. Ia berdiri seorang diri di tengah taman sekolah, menanggung malu dengan hati yang dipenuhi hasrat pembalasan yang membara.

Sementara itu, Repan dan Arinda terus mengayunkan langkah menyusuri koridor sekolah yang sunyi, berjalan mantap menatap ke depan tanpa sudi menoleh ke belakang lagi.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!